
Siapkan diri membaca chap ini!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
🙏👇👇👇🙏
0.*.*.*.0
Aziz di bawa ke paviliun belakang dalam keadaan dituntun. Dia tenang saja saat mereka menodong senjata ke Kepalnya. Sampai dalam ruang paviliun belakang tubuhnya kaku melihat Istrinya. Napas Aziz memburu melihat Khumaira ada di sana menatapnya.
Khumaira yang sedari tadi bungkam serta menunduk akhirnya mendongak. Dia tatap Suaminya dikala sang Suami menantinya dalam. Ya Allah, ia sangat bersyukur setidaknya Suaminya tidak kenapa-napa. Khumaira ingin lari lalu mendekap tubuh kekar Aziz seraya menangis keras.
"Mas Aziz," lirih Khumaira.
Aziz menggeleng seolah mengatakan jangan mendekat. Dia memberikan tatapan penuh cinta supaya Khumaira tenang. Selagi ia masih bernapas maka Wisnu tidak akan aman. Maka dari itu Aziz terus menatap Khumaira penuh cinta demi menenagkan.
Khumaira menatap Aziz penuh arti dikala Suaminya menatap dalam. Dia maksud maka harus melakukan apa yang di perintahkan sang Suami. Hati dan jiwa telah tenang bisa melihat Suaminya baik-baik saja. Sangat senang sampai Khumaira tidak kuasa menangis haru melihat Aziz.
Wisnu mendesis melihat Aziz terkesan sangat memuakan. Memang pria gila itu sangat mencintai khumaira. Tetapi, dia lebih cinta pada wanita cantik itu. Ia yakin wanita ini tidak mencintai pria abnormal ini. Terserah apa dikata yang jelas Wisnu akan meraih Khumaira dari tangan Aziz.
"Sayang, kamu datang menolong, Suamimu? Oh, Mas terharu Istriku karena Dek Syafa begitu manis. Tahu Mas ini ngangenin jadi Adek ngga kuat tidak melihat, Mas," cetus Aziz seraya tersenyum manis.
Khumaira hanya menggeleng mendengar ucapan Aziz. Dia hendak berjalan ke arah Suaminya. Namun, sebuah cekalan membuat ia berhenti. Khumaira berusaha lepas, tetapi ia tidak bisa lepas sampai rasanya sakit.
Aziz mendelik horor melihat Wisnu menyentuh pergelangan tangan Istrinya. Berani sekali menyentuh Khumaira? Apa mau tangan itu ia patahkan. Demi Allah jika kehilangan kesabaran Aziz bisa menghancurkan Wisnu karena berani menyentuh Syafa nya.
Khumaira berusaha melepas cekalan tangan Wisnu. Dia hempas tangan pria gila itu, tetapi tidak kunjung berhasil. Bahkan wisnia dengan licik mencengkeram lengan atssnya sedekit kasar. Khumaira berusaha lepas tetapi dengan hina pria itu malah membelai pipinya. Jijik rasanya sampo ia ingin menampar atau mandi najis besar.
Rahang Aziz semakin mengerat melihat kelakukan Wisnu terhadap Istrinya. Berani sekali menyentuh Khumaira di depannya tanpa tahu malu. Jika saja bisa sudah jelas dirinya hajar pria itu sampai babak belur. Aziz mendesis murka melihat Khumaira menangis akan sentuhan Wisnu pada pipi tembem itu.
"Jangan sentuh, Istriku!" seru Aziz.
Wisnu tertawa mengerikan mendengar seruan Aziz. Dia melepas cengkeramannya dan beralih mencekal pergelangan tangan Khumaira. Bahkan ia perlihatkan cekatan itu tepat di depan pria malang. Masa bodoh yang pasti Wisnu akan miliki Khumaira apa pun yang terjadi.
"Kenapa aku tidak boleh menyentuh, wanitaku? Aku akan menjadikan Dik Maira sebagai Istriku. Karena kamu tidak akan selamat jika Maira menolak!"
"Dia Istriku, ********! Jangan bermimpi, Sialan! Selagi aku masih hidup Istriku akan selalu ada bersamaku!" raung Aziz.
Aziz yang marah sontak melepas diri dari cekalan para Bodyguard Wisnu. Dengan cepat Dia hantam wajah seseorang di sampingnya lalu menghajar mereka. Sudah cukup bersabar menahan hasrat ingin memukul mereka. Aziz tidak akan sudi pura-pura lemah maka lihatlah sejauh keperkasaannya meraih Syafa nya.
Khumaira terpaku saat Aziz memukul mereka dengan kasar. Dapat di lihat Suaminya begitu mahir berkelahi. Ia jadi takut menatap perkelahian sengit itu. Hati Khumaira sakit melihat Aziz penuh kasih sayang, lucu dan narsis kini menjelma sebagai sosok lain. Prianya yang baik saat berbicara tidak pernah mengumpat kini keluar umpatan kasar. Sangat mengerikan saat melihat Suaminya sedang marah. Khumaira tidak kuat melihat Aziz berubah jadi sangar begini.
Aziz penuh kenarsisan terganti dengan sosok lain. Dia tidak akan peduli seberapa banyak lawan asal Wisnu sekarat di tangannya. Ia tunjukan bagaimana caranya menghabisi tanpa ampun. Aziz akan memukul Wisnu tanpa ampun jikalau Khumaira lebih menerima sentuhan.
Wisnu sedikit mendecih pasalnya Aziz begitu lugas menghajar anak buahnya. Tidak di sangka orang itu kuat sekali menghadapi musuh. Padahal pria itu baru sembuh melakukan fisioterapi. Namun, apa yang di lihat Wisnu sungguh diluar dugaan Aziz sangat kuat.
Aziz menendang perut lawan, lalu menyikut tulang rusuk orang di belakangnya. Semua terasa ganas ketika ia semakin bruntal. Dia mendecih sinis anak buah Wisnu semakin banyak yang datang. Aziz harus lebih giat menghajar mereka jikalau ingin lekas selamat.
"Tolong, jangan lagi. Suamiku baru sembuh dari masa trapinya. Tolong Wisnu jangan sakiti, Masku!" pinta Khumaira tidak kuasa melihat Aziz melawan banyak musuh.
Wisnu menyeringai iblis mendengar permintaan Khumaira. Ide bagus jika Khumaira menyerah pada Aziz. Kita lihat seberapa kuat Aziz bertahan dari mereka. Lalu ide cemerlang terlintas di pikiran kotor Wisnu melihat Khumaira sangat menyedihkan sampai memohon.
"Kamu punya dua pilihan menyelamatkan atau meninggalkan, Aziz?"
Aziz mengusap sudut bibirnya yang terkena bogem mentah. Dia menggeleng sebagai respons dari jawaban Khumaira. Lebih baik ia pergi dari pada Istrinya meninggalkan sendiri. Yakinlah Aziz bisa bertahan demi Khumaira dan anak-anaknya.
"Dek, yakin pada Mas ... Allah selalu melindungi kita. Mas sangat mencintai Adek karena Allah, maka hanya Allah yang bisa memisahkan kita. Jangan takut Mas begini, teguhlah berpendirian!" seru Aziz di sela pertarungan melawan anak buah Wisnu.
Khumaira terjatuh di lantai dengan tangis tersedu. Dia tidak sanggup melihat Aziz terus melawan mereka dengan kekuatan penuh. Suaminya masih belum pulih tetapi tenaga bertarung itu sangat mengerikan. Susah payah Khumaira melihat Aziz sata bernapas terengah-engah. Keringat bercucuran di tubuh kekar Suaminya. Harus bagaimana sekarang menyikapi tindakan kejam?
Wisnu menggeram murka karena Aziz terlalu sok kuat. Manusia hina itu harus menerima akibatnya. Dia akan menghabisi Aziz tanpa peduli Khumaira. Toh sekarang ia sudah mendapatkan wanita ini tanpa persetujuan.
"Aku akan selalu bersama Suamiku sampai ajal menjemput. Kamu tahu Wisnu ... Masku orang yang sangat baik. Aku sangat mencintainya, sangat cinta. Jangan kamu pikir dengan gertakan menjijikkan itu kami takut. Allah selalu bersama kami di setiap langkah. Jangan sombong karena karma akan segera datang!" tegas Khumaira seraya tersenyum penuh arti.
Aziz dan Wisnu membisu mendengar perkataan Khumaira. Apa benar Istrinya mengatakan cinta? Senang sekali Aziz mendengar itu semua. Sementara Wisnu mearsa berang akan ucapan Khumaira.
Wisnu mengepalkan tangan erat dengan rahang mengerat. Dia tidak terima menerima kekalahan lagi. Jika Khumaira pilih Aziz maka semua berakhir. Kini keputusan bulat terjadi Wisnu akan membunuh Aziz segera.
Senyum haru terukir di bibir Aziz yang sensual. Demi Allah, ia akan bangkit penuh keteguhan membara. Ia akan berjuang keras mendapatkan haknya untuk keadilan. Kini Aziz akan terus berusaha melawan Wisnu walau berat.
"Dek, dengar ... Mas kuat. Dengar Sayangku setelah masalah ini selesai Adek harus cium, Mas. Tenang Mas kuat melawan tikus curut seperti mereka. Orang kuat tambah ganteng, Asyik. Mas mencintai Adek dari Sabang sampai Merauke berjajar Pulau-Pulau. Tetapi, cinta Mas lebih besar dari itu semua. Jangan menangis Adek nanti jelek Masmu ini jadi ingin mencium. Ish, mereka benar-benar menyebalkan!" seru Aziz malah asyik ngoceh seraya menghantam pukulan telak di perut lawan.
Khumaira tersenyum lebar mendengar perkataan Aziz. Apa Suaminya sedeng, di kala berkelahi dengan lawan sempat-sempatnya menggoda penuh kenarsisan. Ya Allah, begini amat punya Suami ajaib.
Aziz menangkis tendangan lawan. Lalu mengendo segera saat kaki hendak menghantam wajahnya. Dia cekal kaki salah satu dari mereka lalu langsung menariknya dan melempar ke arah mereka. Ugh, nyeri sekali tangan dan bahunya. Tidak boleh lemah, Aziz kuat menghadapi ini semua.
Wisnu hendak mengarahkan pistol ke arah Aziz. Tetapi, Khumaira langsung mencekal lengannya erat. Dia menyeringai saat wanita cantik ini menyentuh tangannya. Kulit lembut itu terasa hangat melingkupi kulit tangan. Wisnu jadi ingin merasakan setiap sentuhan Khumaira pada tubuhnya.
Wisnu tersulut mendengar perkataan Khumaira. Berani sekali mengatainya pecundang. Kita lihat saja apa Aziz mampu menghadapinya. Dia pastikan akan menghabiskan pria itu tanpa senjata. Wisnu akan menghajar Aziz sampai titik terendah.
"Kalian berhenti, biar aku yang hadapi manusia hina itu!" seru Wisnu.
Mereka mundur dan kini Wisnu berhadapan dengan Aziz. Dia lihat Aziz cukup tenang berhadapan dengan dia. Tubuh pria itu penuh keringat dan lihat sudut bibir pecah. Wisnu mudah mengalahkan Aziz seorang diri. Wisnu yakin bisa menumbangkan pria ini tanpa susah payah.
Aziz menyeringai penuh kemenangan saat Wisnu melawan. Dia menggerakkan tangan seolah menantang Wisnu untuk berkelahi bersamanya. Dengan begini dia akan tunjukan betapa sangar dirinya. Aziz akan menghajar pria gila ini atas izin Allah.
Wisnu menyerang Aziz terlebih dahulu, tetapi pria itu malah menghindar. Karena terus menghindar Wisnu berbalik menendang Aziz.
Aziz langsung berputar, saat di belakang Wisnu. Dia dengan segera menyikut tengkuk lawanya. Saat Wisnu tersungkur Aziz berbalik menghantam perut Wisnu sampai terpelanting. Ugh, tubuh atasnya terasa berdenyut akibat terlalu extra bertarung.
Wisnu bangkit kembali untuk menyerang Aziz. Sialan pria itu kuat juga walau baru keluar dari fisioterapi. Tetapi, tunggu seprtinya Aziz kesakitan karena mimik wajah itu menggambarkan semua. Wajah itu tampak pucat dengan keringat dingin mulai keluar.
Aziz memejamkan mata menahan nyeri pada tubuhnya. Tidak boleh tumbang karena Khumaira membutuhkan kekuatannya. Jangan sampai Istrinya di bawa Wisnu gila itu. Aziz harus kuat setidaknya sampai seseorang menolong.
Wisnu kembali bangkit untuk menyerang Aziz. Walau banyak pukulan ia terima bahkan terkesan kalah setidaknya ia terus maju. Berhasil Wisnu mampu menghantam rahang Aziz dan menendang perut.
Aziz tersungkur dengan keadaan cukup mengenaskan. Dia muak mendengar tawa iblis Wisnu yang menertawakan kondisinya. Ingin sekali dia melawan tetapi, semua terasa menyakitkan.
Khumaira langsung berlari ke arah Suaminya saat tahu keadaan prianya. Dia sangat ketakutan melihat Aziz di pukul Wisnu begitu kuat. Sontak ia merengkuh Aziz ketika pria kejam itu hendak memukul kembali Suaminya.
Aziz tersenyum tipis merasakan dekapan hangat khumaira. Dia memejamkan mata untuk menerima kehangatan sang Istri. Rasanya sangat nyaman tatkala sang Istri mencium keningnya. Aziz akan bangkit lagi demi Khumaira apa pun yang terjadi.
"Mas, ya Allah. Maafkan Adek karena semua ini salah, Adek. Hiks, tolong bertahan demi kami. Mas, jangan takut karena Adek selalu melindungi Mas dari mereka yang jahat. Semua akan berakhir dengan baik, Insya Allah."
Khumaira terus menciumi kening Aziz supaya kuat. Dia tidak akan membiarkan siapa pun melukai Suaminya. Dalam benaknya muncul banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan. Kenapa Wisnu kejam sekali pada Suaminya? Khumaira ingat ada CCTV maka ini kesempatan menjebak Wisnu supaya lekas menerima bantuan untuk menyelamatkan Aziz.
Wisnu tidak jadi menghantam Aziz ketika Khumaira merengkuh erat tubuh rivalnya. Dia sangat marah menerima kekalahan ini. Ia man bisa menghancurkan wanitanya dikala melingkupi si sialan. Wisnu harus sabar agar Khumaira menyingkir dari hadapan Aziz.
"Kenapa Anda begitu kejam pada, Masku? Apa salah Masku sehingga membuat kamu malakuka ini semua? Lalu kenapa Anda ingin saya menjadi tawanan?"
Khumaira bertanya di sertai isak tangis. Dia tidak kuat menahan beban hatinya karena pria itu begitu kejam. Dia ingin tahu sumber kebencian Wisnu untuk Aziz. Sekalian menjebak pria gila itu. Semoga saja semua lekas selesai agar Khumaira bisa membawa Aziz keluar ruangan ini.
"Karena aku sangat membenci, Aziz. Aku sangat muak karena sering kali mengalahkan aku. Dia dengan berani merebut tender besar dan mempermalukan aku di depan banyak kolega bisnis. Bahkan dia dengan sombong mengutarakan pendapat hinanya. Dua kali kamu menjatuhkan harga diriku saat merebut tender besar. Aziz. Mempermalukan diriku di depan banyak orang dengan kemenangan itu. Pria sialan yang sangat menjijikkan ...,
... kamu ingin tahu, karena aku sangat mencintai kamu. Apa tidak sadar sedari dulu aku cinta kamu? Saat kamu kelas X di situ aku mulai menyukaimu. Aku selalu datang ke rumah kamu dengan alasan kerja bersama Bahri. Kami berbagai iinformasi seputar bisnis. Kami bersahabat dekat sejak masuk universitas. Aku selalu memperhatikan kamu yang sangat manis. Hingga 5 tahun kemudian kamu malah menikah dengan pria lain ...,
... awalnya aku biasa saja tidak terlalu mempermasalahkan karena Azzam sosok sempurna. Aku tahu kalian sangat mencintai makanya sejak saat itu pindah ke luar Negeri. Hingga 3 tahun kemudian aku kembali ke Indonesia. Saat aku bekerja keras untuk jadi CEO andalan perusahan semua terasa manis. Hingga sebuah hal paling menyedihkan terjadi saat 1 tahun aku di kalahkan olah ******** itu. Berkali-kali aku kalah sampai aku muak padanya ...,
... 1 tahun setelah tender besar pertama di rebut. Sebuah kata menyakitkan terjadi ketika tahu Aziz Suamimu yang gila. Mulai detik itu juga aku akan menghancurkan Suamimu tanpa ampun. Segala upaya aku lakukan demi menghancurkan Aziz. Dari konspirasi menggelapkan uang perusahaan di bantu sahabatnya sendiri. Sabotase kecelakaan sampai penculikan hari ini. Aku akan membunuh Aziz di depan matamu, Khumaira ...,
... aku sudah melangkah sejauh ini maka dia harus mati di tanganku. Semua bukti kejahatanku sudah lenyap maka hanya kurang satu lagi yaitu membunuh, Aziz. Aku tidak akan sudi melihat dia bahagia barang sedetik saja. Kamu harus jadi milikku, Khumaira!"
Wisnu mencetuskan semua tanpa tahu semua sudah terekam. Dengan begini semua selesai. Dia terlihat tertawa penuh kemenangan mengatakan semua kebenaran itu. Ia tidak tahu saja semua telah terekam jelas dengan begini tamat sudah riwayat Wisnu.
Khumaira dan Aziz terpaku mendengar penjelasan Wisnu. Sebegitu gila pria di depan mereka. Aziz langsung mencerna perkataan Wisnu tentang konspirasi menggelapkan uang perusahaan. Sahabatnya di perusahaan adalah Romli. Jangan bilang dia di tusuk dari belakang olehnya.
Terakhir hanya hal sepele pria ini itu dengki. Ya Allah sampai sini Aziz simpulkan Wisnu benar-benar gila. Perlu perawatan intensif untuk psikis atau tidak melakukan konsultasi dari Kiai agar kembali ke jalan yang benar. Aziz harap Wisnu dapat hidayah, laku Romli harus bagaimana? Rasanya sakit saat ingat sahabatnya sendiri berani menusuk dari belakang.
Khumaira menangis tersedu mendengar ucapan Wisnu. Sebegitunya pria ini melangkah tanpa peduli konsekuensi. Pria ini benar-benar sakit jiwa. Sepertinya harus di taruh di RSJ bila perlu melakukan rehabilitasi. Khumaira sangat shock hanya karena kalah tender merubah Wisnu jadi Psychopath gila.
Aziz tidak tahu harus bagaimana menghadapi kebenaran? Dia memilih merengkuh Khumaira erat untuk menyalurkan rasa sakit. Demi apa rasanya menyakitkan ketika ingat Romli telah mengkhianati kepercayaan. Aziz sedih tentu saja karena Romli sahabat sedari dulu.
Tepat 5 menit kemudian terdengar suara derap kaki terus bersahutan menuju tempat mereka berada. Romli dan para polisi sudah datang untuk menolong Aziz dan Khumaira. Mereka langsung beranjak usai Wisnu mengakui kesalahannya.
Wisnu terbelalak saat pintu terbuka memperlihatkan para polisi mengacungkan pistol ke arah mereka (Wisnu dan anak buahnya). Dia langsung menatap bengis Romli yang telah menusuk dari belakang. Berani sekali bermain api padanya maka Wisnu akan memberi pelajaran Romli apa pun caranya.
Khumaira dan Aziz saling melempar senyum haru. Mereka bersyukur bala bantuan datang. Semyum terukir indah tatkala melihat para Polisi siap siaga meringkus para penjahat dan Wisnu tentu saja. Khumaira sangat senang Romli datang menyelamatkan nyawa mereka tepat waktu. Sementara Aziz tampak diam tanpa bisa berkomentar apa-apa.
Romli bersyukur setidaknya ia bisa tepat waktu datang ke sini. Dia akan segara tersenyum dikala Khumaira tersenyum tulus. Ia balas senyum itu seolah mengatakan semua berhasil. Saat Romli menatap Aziz semua terasa menyakitkan. Secara sahabatnya bungkam tanpa arti.
Lain halnya Aziz merasa kalut mau bagaimana lagi? Romli datang bersama para polisi. Lalu Istrinya tersenyum cerah membisikan bahwa ini sudah di atur oleh sahabatnya. Kenapa sangat membingungkan untuk di cerna. Secara Aziz sudah terlanjur kecewa pada Romli akibat menusuk dari belakang.
Khumaira elus lengan kekar Aziz seraya mengatakan kata-kata teduh. Biarkan saja ini jadi pengalaman sulit mereka. Ini akan menjadi ujian paling menyenangkan karena berkat Wisnu setidaknya ia tambah lengket pada Suaminya. Kisah cinta mereka semakin kukuh tanpa terpisahkan. Khumaira sangat bahagia setidaknya Aziz selamat laku Wisnu mendapat ganjaran setimpal.
*.*.*.*.*
Alhamdulillah, konflik selesai!
Seneng ngga Kuy?
Rose_Crystal_030199