Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Tekad Khumaira!



Mohon bantuannya dengan klik 👍 untuk support Rose.


jangan meminta lebih karena Rose tidak mampu.


senang bukan Rose Up lagi.


Happy Reading!


****////


Apa yang dia pikirkan? Kenapa meminta berpisah? Apa aku sangat hina sehingga Mbak tidak mau hidup bersamaku?


Tolong katakan apa aku sangat menjijikkan sampai dihina begini. Sesak sekali sampai air mataku tidak kunjung reda.


Dadaku begitu sesak sampai semua terasa hampa. Kenapa amanah Mas Azzam begitu berat?


Andai saja Mas masih hidup pasti aku tidak terluka sedalam ini. Tidak apa dulu cintaku kandas dan tidak bisa memilikinya. Namun, lihat saat kami sudah terikat hatiku malah semakin sakit dan pilu.


Mbak Khumaira benar-benar membuat aku frustrasi. Kalau begini apa yang harus kulakukan?


Ya Allah, hamba khilaf memikirkan terlalu dalam. Hamba ikhlas menerima cobaan dan derita ini dengan lapang. Tolong ampuni Istriku dari kemarahan-Mu. Tolong ampuni Istriku yang terus menyakiti batinku.


Ya Allah, hamba ikhlas dan tolong ampuni Mbak Khumaira. Dalam setiap hembusan aku memohon tolong jangan laknat Istriku karena sering menyakiti hatiku.


Laknat hamba tidak mampu menjadi Suami Sholeh. Sekarang hamba hanya ingin berserah pada-Mu ya Allah. Hamba Suami tidak becus mendidik Istri sampai berbuat demikian. Jika Engkau mau melaknat maka laknat hamba-Mu ini yang penuh dosa.


Tolong berikan aku kesabaran yang melimpah agar tahan menghadapi derita. Hamba akan memulai walau sangat menyakitkan. Tolong berikan hamba sebuah petunjuk agar mampu melewati cobaan ini. Atas rahmat dan kuasa-Mu hamba memohon tolong lapangkan hati kami, Amin.


"Mas Azzam, amanah terakhir Mas begitu berat. Jikalau Aziz terluka dan menyerah apa Mas mau melaknat Aziz? Ternyata sangat sakit menerima cobaan ini, Mas. Kenapa Aziz begitu menderita dan menyedihkan? Aku hanya sampah tidak berguna di matanya. Rasanya Aziz lelah akan sakit."


Jangan begini, Aziz ... kamu kuat menghadapi semuanya. Iya aku kuat dan tidak akan membiarkan sakit hati menggerogoti jiwa.


Aku mampu melewati badai tanpa harus meraung pilu. Semua ini akan terbayar manis jika sudah waktunya.


Lupakan rasa sakit yang di torehkan Mbak Khumaira, sekarang fokus mengurus Tole Ridwan. Jika Mbak hanya menganggap aku sampah maka biarkan aku perlahan menjauh.


Rasa sesak dan hati pilu membuat aku lupa betapa tulus cintaku padamu. Namun, aku sangat lelah sampai ingin rasanya menangis dan berteriak padamu.


Sangat keterlaluan sampai aku ingin lari dari kenyataan. Tetapi, aku bukanlah pria pengecut hanya mendapat perilaku begitu langsung mundur. Tidak, aku Aziz yang pantang menyerah.


Sekarang mari mencoba ikhlas, sabar dan menerima semua ini dengan lapang dada. Aku mengaji tahu agama lumayan banyak. Aku punya kaidah agama islam yang selalu kutegakan. Untuk semua ini aku ikhlas memaafkan Mbak Khumaira sepenuh hati.


Ya Allah, lagi-lagi aku mengadu pada-Mu. Hanya pada-Mu tempat aku mengadu. Tolong ampuni dosa-dosa kami yang lalai pada-Mu. Berikan kesabaran pada hamba agar mampu melewati badai. Aku mencintainya karena-Mu ya Allah. Tolong jaga hubungan rumah tangga kami walau nyatanya sangat menyakitkan.


Aku kembali ingat segalanya membuat dadaku sesak. Aku bersyukur kamarku kedap suara jadi pertengkaran kami tidak terdengar. Sekarang sudah larut malam biarkan aku tidur untuk melupakan sakit hatiku.


***


Tepat di pagi hari, Aziz sudah berangkat kantor tanpa pamit pada Khumaira. Bahkan dia terkesan sangat menghindar tanpa mau bertatap muka. Rasa sakit masih hinggap membuat Aziz tidak kuat menatap Khumaira.


Sedangkan Khumaira tampak sedih melihat Aziz sudah pergi tanpa pamitan. Lagi-lagi air mata luruh deras membuat ia tidak mampu menahan tangis.


"Mas Aziz," lirih Khumaira.


Khumaira memutuskan untuk menjemput Ridwan di Pagerharjo. Sekalian mau bermain bersama kedua orang tuanya. Sekarang hari kamis waktunya bebas, pasalnya dia mengulang di Madrasah tepat di hari Sabtu minggu dan Selasa.


Sampai Pagerharjo Khumaira langsung merengkuh Ridwan dan menciumi wajah rupawan Putranya. Senyum manis terukir indah dibibirnya tatkala Ridwan mengoceh tentang Laila yang mengajari mengaji.


Khumaira menggendong Ridwan masuk dalam rumah. Sesekali dia kecup pelipis Putranya agar rindu terobati. Sungguh Khumaira begitu merindukan si gembul mengemaskan.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."


"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Khumaira menurunkan Ridwan dari gendongan, lalu mengecup punggung tangan sang Ibu. Dia mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru ruangan dan tidak melihat Ayahnya.


"Bapak ke mana, Buk?"


"Seperti biasa Bapak di jam segini masih di Kebun, Nduk. Kenapa wajahmu kusut dan matamu layu begitu, Nduk? Ada masalah dengan, Suamimu?" tanya Maryam setelah duduk di depan Khumaira.


"Nanti Maira ceritakan semuanya, Buk. Tole, gih main bersama meong."


Ridwan menuruti perkataan Ibunya. Dia berjalan menuju teras belakang rumah untuk bermain kucing. Anak tampan bertubuh gembul tampak asyik main bersama kucingnya.


Usai Ridwan pergi Khumaira langsung merengkuh Maryam sembari menangis tersedu. Hanya pada Ibunya Khumaira berkeluh kesah. Tetapi, rahasia besar tentang Aziz ia tutup rapat.


Maryam kaget mendapat pelukan dan tangisan Putrinya. Sebenarnya ada apa? Apa Khumaira dan Aziz bertengkar?


"Ibu, aku melakukan kesalahan yang sangat fatal. Aku membuat Mas marah dan menangis. Aku menyakitinya berulang kali sampai membuat ia murka padaku. Ibu, rasanya sangat sakit melihat Mas marah. Aku harus bagaimana?"


"Astaghfirullahaladzim, kesalahan apa yang kamu perbuat, Nduk? Ya Allah, Suamimu itu orang yang sabar, humoris dan periang lalu kenapa bisa sampai marah? Katakan kesalahan apa yang kamu perbuat, Nduk!"


Pada akhirnya Khumaira bertekad mencari solusi terbaik agar hubungan mereka kembali. Mungkin Ibunya akan sangat marah jika selama ini dia lalai dan terus menyakiti Aziz.


Maryam berharap Khumaira tidak melakukan kesalahan besar. Yang dia tahu selama tiga tahun mengenal Aziz ia kenalnya sosok begitu humoris suka bercanda. Bahkan tidak pernah marah walau masalah besar terjadi. Jika sudah marah pasti kesalahan Khumaira terlampau besar.


"Ibu, selama 2 bulan aku belum pernah melakukan kewajiban sebagai Istri. Aku terus menyakitinya dengan kata-kata tajam. Puncaknya tadi malam, Khumaira minta pisah dan meminta Mas kembali ke Mbak Zahira. Mereka saling suka makanya aku berpikir hanya sebuah penghalang bagi keduanya. Aku ingin mengembalikan Mas pada orang yang sangat dicintai. Aku sangat menyesal akan perbuatan bodoh, Ibu."


Khumaira bercerita singkat agar beban pikiran dan hati terangkat. Air matanya sudah banjir akan semua yang terjadi jika teringat Aziz. Khumaira menangis sesegukan mengatakan kebenaran menyakitkan itu.


Maryam membekap mulutnya erat agar tidak berteriak marah. Kenapa bisa Putri yang sangat tahu agama melenceng jauh? Kenapa bisa Khumaira berbuat dosa sebesar ini?


"Astaghfirullahaladzim, Aastaghfirullah eling Nduk. Allahu Akbar, kenapa bisa kamu jadi serendah ini? Jika tahu nasib Aziz seperti ini lebih baik kami tolak dia agar tidak hidup bersama kamu. Ya Allah, kenapa bisa kamu serendah ini, Khumaira? Zahira lebih tulus mencintai Aziz dan sangat cocok dengannya. Lalu kamu tidak pantas bersanding dengan pria setulus Masmu itu. Teruslah seperti ini agar mendapat laknat Allah terlampau besar ....


... apa selama ini kami mendidik kamu jadi wanita seperti itu? Aziz sudah banyak berkorban, namun kamu balas dengan hinaan. Pantas Aziz marah besar padamu, Nduk. Ingat murkanya Masmu sama dengan murka Allah. Jika memang kamu tidak mau melakukan kewajiban maka ikhlaskan Aziz bersama Zahira. Jangan kamu tekan mental Suamimu sedalam itu. Namun, jika kamu ingin kembali maka rubahlah cara pikirmu. Laksanakan kewajiban dengan cara menghormati, patuhi dan turuti ucapannya jika itu baik. Buat Tole Aziz layaknya Suami seutuhnya ....


... kembali ke rumah biar Tole Ridwan di sini dulu. Habiskan malam ini dengan meminta maaf pada Suamimu. Ingat Zahira masa lalu, Aziz dan kamu masa depan. Ibu mohon jangan ulangi kesalahan yang sama. Jangan berpikir dan meminta aneh-aneh pada Suamimu. Sambut Suamimu dengan lapang dada. Untuk almarhum, ikhlaskan dia dan kenang Masmu sebagai sejarah paling indah. Sekarang Tole Aziz adalah masa depan yang harus kamu pertahankan. Pulang dan sambut hari baru bersama, Masmu yang baru!"


Maryam memang sangat kecewa, tetapi tugasnya mengembalikan Khumaira ke jalan Allah. Semoga Khumaira menjadi wanita Shalehah kembali. Dia memang keras itu demi kebaikan Khumaira.


Khumaira tercengang mendengar penuturan Ibunya. Dia terus mencerna perkataan Maryam tanpa terlewat sedikit pun. Hatinya menjadi tenang mendapat nasihat Ibunya. Khumaira langsung memeluk Maryam erat dan berjanji akan memulai awal baru.


Khumaira mengucap banyak kata terima kasih pada Maryam. Dia akan merentangkan tangan menyambut Suaminya. Dia akan menerima dengan lapang dada hubungan baru ini. Aziz adalah Suami sekaligus Imamnya yang akan mengantar ke Syurga-Nya Allah.


***


Tepat jam 8 malam, Aziz baru pulang dari kantor. Dia Shalat isya dulu di Mushola dan tadi sehabis shalat maghrib melakukan tahlil untuk Azzam. Ia memang mampir ke Mushola agar mengulur waktu bertemu Khumaira.


"Assalamu'alaikum."


"Wa’alaikumussalam."


Aziz diam saja tanpa mau menatap dan membuka suara setelah salam. Dia memilih berjalan melewati Khumaira. Bahkan tidak menerima uluran tangan Istrinya yang hendak salaman. Aziz menuju kamar tanpa menengok belakang. Dia mau mandi pasalnya tubuh lengket semua.


Khumaira menitikkan air mata saat Aziz melengos tanpa mau menatap. Bahkan biasanya Suaminya selalu mengajak salaman ketika pulang kerja. Menerima penolakan Suaminya membuat hati begitu pilu. Sesak sekali, tetapi Khumaira harus ikhlas menerima cobaan. Aziz berhak marah padanya bahkan itu sangat wajar. Kini tugasnya mengawali agar Aziz kembali.


Khumaira beranjak ke dapur guna memanasi makanan yang siap dihidangkan. Cukup lama ia bergelut di dapur untuk menyajikan makanan khusus Suaminya. Usai itu ia masuk kamar tanpa ketuk pintu alhasil dia melihat Aziz hanya memakai handuk.


Wajah Khumaira langsung panas melihat tubuh Suaminya basah tanpa busana. Dia memilih berbalik agar tidak melihat Suaminya. Detak jantungnya terasa menggila melihat Aziz begitu. Khumaira mengutuk kecerobohan asal masuk tanpa ketuk pintu.


Aziz tersenyum tipis melihat kelakuan Khumaira. Lucu juga tingkah Istrinya sampai gemas ingin mencubit pipinya. Dia malu juga di lihat Khumaira nyaris telanjang. Aziz buru-buru memakai pakaian sederhana.


"Mas sudah ganti?"


"Sudah."


"Apa Mas sudah makan?"


"Sudah."


Khumaira mengatupkan bibir rapat menahan laju air mata. Sakit sekali menerima Aziz yang sangat dingin. Jika boleh ia ingin merengkuh Suaminya erat mengadu tindakannya menyakiti hati. Khumaira ingin Aziz-nya kembali penuh kehangatan serta humoris.


Aziz mengatupkan bibir rapat tidak mau membuka suara. Dia memilih berpaling tanpa mau menatap Khumaira. Dia masih betah diam asal agar hatinya sedikit membaik. Aziz mau Khumaira sadar akan perbuatannya.


"Mas, aku sudah masak makanlah sedikit," pinta Khumaira.


"Maaf aku sudah kenyang. Mbak bisa membuang atau makan sendiri!" sarkasme Aziz.


Khumaira menegang mendengar jawaban Aziz yang sangat tajam. Air mata yang dia tahan luruh deras membuat isakan kecil. Sesak sekali hatinya akan perkataan tajam Aziz. Khumaira harus kuat demi memulai awal baru bersama Suaminya.


Aziz memejamkan mata merasa bersalah mengatakan kalimat itu. Hatinya juga berasa lebur mendengar isak tangis sang Istri. Dia memilih berjalan menuju Istrinya dan melewati begitu saja. Hati rapuh Aziz masih sakit dan belum sanggup menatap Khumaira makanya memilih pergi.


Khumaira dengan cekatan mencekal lengan Aziz agar berhenti. Namun, ia mendapat tepisan sedikit kasar sampai tubuhnya mundur beberapa langkah. Khumaira kaget Aziz berubah kasar tanpa ada kelembutan.


"Jangan menyentuh sampah, Mbak. Saya takut Anda jijik menyentuh saya dan meminta sesuatu yang mustahil. Permisi!"


Setelah mengatakan kalimat tajam, Aziz langsung berjalan keluar tanpa memedulikan Khumaira. Sungguh dia sangat sakit mengatakan kalimat menyakitkan itu. Aziz memilih bungkam dari pada mengelurkan sepatah kata yang mampu menghancurkan hati.


Khumaira jatuh di lantai dengan tangis memilukan. Rasa bersalah dan menyesal menyeruak menjadi satu. Tidak boleh lemah ia harus meluruskan masalah. Khumaira bangkit menyusul Aziz di kamar Ridwan.


Aziz duduk di tepi ranjang sembari menutup wajah. Sesak sekali hatinya sampai ia tidak dengar pintu terbuka. Aziz memejamkan mata menahan laju air matanya. Dia hanya pemuda rapuh mampu menangis. Ia tidak kuat seperti pria lainnya. Aziz hanya pria lemah tanpa ada cahaya.


Khumaira berlari ke arah Aziz dan tanpa di duga langsung bersimpuh sembari memeluk betis sang Suami. Dia menyandarkan kepala di paha Suaminya. Biarkan semua lurus dan terselesaikan di malam Jumat. Khumaira bertekad akan menyerahkan hak di malam ini.


Aziz terbelalak melihat Khumaira bertingkah begini. Kenapa bisa Istrinya bertindak di luar dugaan? Sebenarnya Khumaira kenapa sampai begini? Aziz hendak membawa Khumaira berdiri tetapi pelukan Istrinya tambah erat.


"Mbak, hai berdiri kenapa begini tolong lepas," pinta Aziz.


Khumaira menggeleng lemah dan tambah mengeratkan pelukannya. Semua sudah di buka dan harus maju. Dengan mengucap Bismillah dia ingin menjadi Istri Aziz seutuhnya.


"Mas, maafkan aku."