Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Terharu Akan Anugerah Allah!



Aziz mengacak rambut cokelat gelapnya. Dia senantiasa terus berdoa pada Allah agar Khumaira baik-baik saja. Dia berjalan bak setrika dilakukan untuk menghalau pilu. Aziz berharap Khumaira baik-baik saja di dalam sana.


"Ya Allah, sebenarnya istriku kenapa? Tolong maafkan Mas, Dek yang tega membuat begini. Mas sangat khawatir pada kondisi, Adek. Tolong jangan sakit Mas tidak sanggup jika melihat Adek terluka."


Setelah menunggu cukup lama akhirnya Dokter keluar. Sontak Aziz menghadang dengan jawaban sama. Dia begitu panik sampai bertanya berulang kali. Aziz ingin mendengar apa Khumaira baik-baik saja atau tidak.


Dokter wanita itu tersenyum ramah lalu meminta Aziz untuk ikut ke ruangannya. Dia adalah Dokter yang memeriksa Khumaira kemarin. Jadi ini Suami Pasien mungil itu. Dokter jadi iri akan keberuntungan Khumaira mendapat Suami setampan ini. Apa lagi ketara sekali bahwa pria ini sangat mencintai sang Istri.


Aziz mengikuti Dokter itu agar mendapat penjelasan yang pasti. Dia berharap Khumaira baik-baik saja, Amin. Sampai ruangan Dokter tadi, Aziz langsung duduk dan menanyakan pertanyaan yang sama. Hatinya sakit dan jantung terasa menyesakkan.


"Jawab, Dokter ... Istriku sakit apa? Kenapa dia pingsan dengan rasa kesakitan di perut? Istriku baik-baik saja, bukan? Dokter tolong jawsb Istriku tidak kenapa-napa, bukan?"


"Alhamdulillah, atas perlindungan Allah Istri dan calon anak Anda baik-baik saja. Memang sekarang masih sangat lemah membuat Istri Anda begitu. Syukurlah, Bapak membawa Ibu tepat waktu, jika tidak saya tidak mampu memprediksi. Bu Khumaira mengalami tekanan pikiran yang berat sehingga berdampak pada janin dan kesehatan. Lain kali tolong jangan sampai Istri Anda mengalami stres berat karena sangat berisiko bagi janinnya."


Aziz membisu mendengar pemaparan Dokter. Anak? Janin? Itu artinya Khumaira hamil dan karena tekanan batin sebab dirinya, nyaris dua nyawa melayang. Ya Allah, Aziz merasa sangat berdosa pada Khumaira.


"Alhamdulillah ya Allah, atas kebesaran-Mu Istri dan anakku baik-baik saja. Anda serius, Dokter? Istri saya hamil? Berapa minggu, apa semua aman?"


"Anda dari mana? Kenapa tidak tahu Istri sedang mengandung? Seperti yang saya jelaskan, janin itu selamat walau keadaannya sangat lemah. Lalu fisik Istri Anda lemah makanya saya sarankan jaga betul keduanya. Kandungan Bu Khumaira masuk minggu ke 6, Pak. Tolong lebih di jaga agar mereka baik-baik saja, Amin."


“Allahu Akbar Walillaahil-Hamd, terima kasih banyak ya Allah atas kebesaran-Mu menganugerahi hal paling membahagiakan. Saya dari Hongkong baru pulang hari ini, Dokter. Sekali lagi terima kasih banyak.”


Aziz menitikkan air mata haru mendengar penjelasan Dokter. Dia langsung mengucap takbir dan pujian pada Allah. Sungguh Aziz sangat terharu akhirnya punya anak dan berjanji akan melindungi mereka sepenuh hati.


Hatinya di lingkupi rasa bahagia atas karunia Allah. Dia izin pamit setelah mendapat wejangan panjang kali lebar. Teringat kembali pada Khumaira membuat Aziz buru-buru ke ruangan Istrinya di rawat.


Air mata berlinang melihat Khumaira terkulai lemah dengan beberapa alat melingkupi tubuh. Dia duduk di kursi lalu meraih tangan mungil Istrinya. Aziz kecup tangan Khumaira penuh sayang.


"Dek, tolong maafkan, Mas. Tolong maafkan, Mas lalai menjaga, Adek," lirih Aziz.


Aziz menciumi punggung tangan Khumaira dan sesekali meremasnya pelan. Rasa bahagia melingkupi hati tatkala tahu Istrinya mengandung buah hatinya. Dia sangat bersyukur Allah melindungi mereka sepenuh hati. Andai saja Khumaira kenapa-napa pasti Aziz merasa sangat bersalah. Gara-gara dia Istri dan calon anaknya kenapa-napa.


"Ya Allah, terima kasih sudah menyelamatkan Istri dan anakku. Tolong lindungi dan jaga mereka ya Allah dari mara bahaya. Ya Allah, aku sangat mencintainya sepenuh hati dan sangat menyayangi calon anak kami. Tolong ya Allah semoga engkau jaga mereka di kala bahaya mengancam."


Aziz berdiri untuk mengecup kening Khumaira dengan perasaan campur aduk. Dia juga menciumi wajah pucat Istrinya penuh kerinduan. Aziz tidak sanggup melihat Khumaira lemah begini.


"Dek, maafkan Mas. Maaf sudah membuat Adek jadi begini. Mas sangat mencintai dan merindukan Adek sepenuh hati. Mas mencintai Adek karena Allah. Maafkan kesalahan, Mas."


Aziz mengusap perut Khumaira yang datar. Dia menunduk untuk mengecup perut rata Istrinya. Dengan tangis dia mengucap syukur pada Allah. Hatinya berdegup kencang mengingat dirinya akan menjadi Ayah.


"Dedek tumbuh sehat ya, Nak. Jangan nakal dan harus kuat. Ayah, akan selalu menanti kedatangan, Dedek. Maafkan Ayah baru bisa menyapa dan maafkan Ayah membuat Umi dan Dedek tertekan. Ayah sangat mencintai, Dedek dan berharap Dedek lahir dengan selamat. Jangan nakal kasihan, Umi."


Usai melakukan itu Aziz kembali duduk dengan tangis haru. Dia melihat jam menunjuk angka 07:40 AM. Ia berdiri untuk mengambil air wudhu guna melaksanakan Shalat Duha. Aziz akan shalat dulu baru menemui Khumaira lagi.


"Mas, Shalat dulu, Dek. Mas sangat mencintai Adek karena Allah dan semoga lekas sembuh. Mas sangat rindu membuat hati terasa penuh."


***


4 jam berlalu, Aziz begitu sedih karena Khumaira tidak kunjung siuman. Sudah 4 jam ia menunggu namun Istrinya tidak mau membuka mata.


"Dek, ayo bangun Mas sangat khawatir," pinta Aziz.


Aziz merebahkan kepalanya di tepi brankar. Tangan kekarnya masih setia menggenggam tangan mungil Khumaira. Dia sangat lelah, tetapi demi Istrinya rela menanggung beban. Aziz berharap Khumaira lekas bangun agar rasa lelahnya sirna.


Perlahan mata besar itu terbuka. Dia mengerjap beberapa kali untuk menetralkan pandangannya. Khumaira menyengit dalam untuk menghalau pusing dan sakit di perutnya.


Aziz belum sadar kalau Khumaira sudah siuman. Dia masih betah menyembunyikan wajah di balik telapak tangan. Miris sekali nasibnya karena banyak rintangan menghadang. Aziz terus berdoa semoga Allah lekas menyadarkan Khumaira dari tidur lelapnya.


Khumaira terpaku merasa dingin di telapak tangan kanannya. Dia menengok ke kanan untuk melihat siapa yang menangis. Hatinya sakit melihat Aziz sangat rapuh karenanya. Lagi-lagi ia melukai Suaminya tanpa perasaan. Khumaira mengulurkan tangan kirinya untuk mengusap rambut Aziz.


"Mas," lirih Khumaira seraya mengusap rambut Aziz menggunakan tangan kiri.


Aziz terbelalak mendengar dan merasakan usapan lembut Khumaira. Dia menghapus air mata kasar lalu duduk dengan tegap. Sebelum memeluk Aziz menekan tombol agar Khumaira di periksa Dokter.


Khumaira tersenyum tipis melihat Aziz begitu bahagia. Hingga dia merasa pelukan erat dan sangat hangat. Pelukan yang sangat dia rindu selama 1 bulan tidak mendapatkannya.


Dokter dan Suster bersemu melihat Aziz merengkuh Khumaira erat penuh makna. Mereka datang pada waktu kurang tepat. Pasangan ini serasi sekali sampai membuat bersemu merah.


Mendengar pintu terbuka Aziz menghapus air mata lalu beranjak untuk melepas pelukannya. Dia tersenyum minta maaf menunjukan drama romantis. Ia menyingkir memberi ruang untuk memeriksa sang Istri. Aziz jadi tersipu melihat godaan mereka akan Khumaira.


Khumaira berpaling karena sangat malu. Wajahnya merona parah, tetapi saat Aziz mau pergi. Buru-buru ia genggam tangan besar Suaminya dan meminta menemani.


Dokter tersenyum ramah pada mereka, lalu memeriksa kondisi Khumaira. Dokter tersenyum lembut karena kondisi pasien perlahan membaik. Setelah memeriksa mereka keluar meninggalkan Aziz dan Khumaira sendiri.


Aziz ikut merebahkan diri di brankar bersama Istrinya. Dia bawa Khumaira agar bersandar di dadanya. Sementara Khumaira menyamankan diri dalam dekapan Aziz. Sang Istri tampak senang bisa merasakan pelukan hangat ini kembali.


"Mas, apa kabar?" tanya Khumaira mengawali obrolan.


Aziz menunduk untuk mengecup kening Khumaira. Dia tersenyum tipis lalu kembali mengecup pipi bulat Istrinya. Aziz jadi gemas mendengar Khumaira mengumam rindu.


"Alhamdulillah, bagaimana sekarang kondisi, Adek?"


"Alhamdulillah, sudah merasa baik berkat doa, Mas."


Aziz tersenyum mendengar jawaban Khumaira. Dia memilih duduk agar leluasa menatap Istrinya. Dengan hati-hati Aziz bawa Khumaira agar duduk dengan benar.


Khumaira menunduk tidak mampu menatap Aziz. Dia jadi teringat kejadian sebelum masuk ke sini. Rasa sesak kembali hadir dan air mata luruh kembali. Khumaira takut Aziz pergi dari hidupnya walau sesaat.


Aziz mengangkat dagu Khumaira, kemudian menghapus air mata itu. Dia tahu apa yang dipikirkan Istrinya saat ini. Aziz tangkup pipi gembil Khumaira lalu memberi kecupan di seluruh wajah cantik sang Istri.


"Semua salah paham, Dek. Mbak Zahira pesan Hanfu pada Mas, soalnya di butik habis. Kami tidak berhubungan lagi Dek. Mas tidak ada maksud apa-apa, sungguh. Hanfu mau di pakai di acara yang mulai jam 9. Mas meminta agar mengambil lebih awal karena Mas tidak ada waktu lagi. Mas hanya ingin menghabiskan waktu bersama kalian tanpa di ganggu. Mas sangat rindu pada kalian, makanya selagi ada waktu Mas minta ambil lebih awal. Mas minta maaf, Dek. Maafkan Mas atas semua kesalahan yang Mas perbuat. Gara-gara Mas, Adek jadi di sini. Mas Sungguh sangat menyesal melakukan pembuatan itu. Maaf dan jangan menangis lagi, Mas mohon."


Aziz meluruskan masalah lebih cepat agar Khumaira tidak tertekan. Dia tidak akan membiarkan Istrinya sakit kembali karenanya. Biarkan Aziz yang sakit asal bukan Khumaira.


Khumaira memejamkan mata rapat mengingat tindakan bodohnya sangat emosional. Dia membahayakan diri sendiri karena tertekan. Andai saja ia menemui Suaminya lebih dulu mungkin kejadiannya tidak seperti ini. Mereka sama-sama salah terutama dirinya. Tunggu dulu, bagaimana kondisi janinnya?


"Mas, maafkan aku yang kekanakan. Maaf, aku selalu salah paham pada, Mas. Aku sudah memaafkan Mas tanpa Mas meminta maaf. Lalu, bagaimana dengan anak kita? Apa buah hati kita baik-baik saja, Mas? Mas, maaf aku terlalu ceroboh membuatnya terluka. Maafkan aku, Mas."


Khumaira panik sendiri mengingat buah hati mereka. Air mata tambah berlinang deras membuat dia tertekan. Apa yang harus Khumaira lakukan jika kehilangan lagi?


Aziz langsung mengecup bibir Khumaira dalam. Dia ***** lembut dan mengusap punggung Istrinya agar lebih tenang. Di rasa tenang, Aziz menyudahi ciuman sepihaknya. Dia tersenyum tipis pada Khumaira lalu menciumi seluruh permukaan wajah manis sang Istri.


"Alhamdulillah, Allah masih memberikan karunia dan Kekuasaan-Nya untuk menitipkan makhluk suci pada kita, Dek. Allah masih percaya pada kita untuk menjaganya sepenuh hati. Alhamdulillah, calon Dedek bayi selamat atas perlindungan, Allah. Terima kasih banyak Sayangku sudah memberikan Mas hadiah terbesar. Mas sangat bahagia, sungguh Mas begitu bersyukur karena Adek akan memberikan sebutan baru untuk, Mas. Mas sangat senang akhirnya Istriku memberikan segala kebahagiaan."


Aziz meluapkan isi hatinya dengan menciumi wajah cantik Khumaira. Dia bahkan langsung merengkuh Istrinya erat dengan derai air mata haru. Semua terasa sangat manis untuknya.


Khumaira tersenyum seraya mengucapkan takbir pada Allah. Dia sangat bahagia karena Allah masih memberikan karunia dan anugerah padanya. Dia balas merengkuh Aziz erat seraya menangis haru.


Cukup lama mereka berpelukan dan Khumaira melepas diri. Dia tatap setiap jengkal wajah rupawan Aziz. Tangan kanannya terulur untuk mengusap air mata Suaminya. Khumaira menangkup pipi tirus Aziz kemudian mengecupi seluruh wajah rupawan sang Suami penuh suka cita.


"Mas, aku sangat bahagia. Terima kasih banyak atas kesabaran, Mas. Mas ... Adek sangat merindukan Mas sepenuh hati. Maaf membuat Mas jadi jelek karena menangis."


"Mas juga sangat bahagia, Dek. Sama-sama Dek ... Mas juga berterima kasih atas semuanya. Mas juga sangat merindukan Adek sepenuh hati. Mana ada, wajah Mas sangat tampan. Walau sedang menangis orang tampan tetap tampan."


"Narsis, muka jelek saja bangga, dasar Monyet."


"Astagfirullahaladzim, tarik Dek. Mas itu sangat tampan coba tanya semua orang pasti akan di jawab Mas itu sangat tampan. Bebekku jauh lebih jelek, ngga usah merengut sok manis."


Khumaira mencubit gemas perut Aziz dengan keras. Dia pukuli paha Suaminya menggunakan tangan kanannya.


"Mas, Monyet jelek narsis saudaranya Gorila. Jangan menghina lagi, Adek manis kok dan berhenti jangan panggil aku Bebek!"


Aziz menahan tangan kanan Khumaira lalu menarik pelan tubuh mungil Istrinya. Dia kecup pergelangan tangan sang Istri penuh sayang. Aziz lalu membawa tangan mungil Khumaira untuk di genggam di depan dadanya.


"Bagaimana dengan Sayangku? Boleh Mas memanggil Adek dengan panggilan, Sayangku," bisik Aziz seductive.


Khumaira meremang mendengar bisikan Aziz. Hingga sebuah ciuman manis dia dapatkan dari Suaminya. Ciuman manis itu terganti dengan ciuman panas. Khumaira memejamkan mata rapat menikmati ciuman sayang Aziz untuk dirinya.