Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Tiada!



...At Mayak Tonatan Ponorogo!...


Bagai disambar petir di siang bolong itulah keadaan Zainal sewaktu tiba dikediaman orang tuanya. Banyak santri serta banyak sekali warga dan wali santri bertandang di rumahnya.


Tubuhnya luruh kala tahu bahwa Umminya telah tiada. Padahal Zainal berharap Umminya menyambut kedatangan mereka penuh suka cita.


Degup jantungnya sangat sakit kala turun dari pesawat mendapat berita bahwa Ummi telah pulang ke Rahmatullah. Hancur lebur hati Zainal, tetapi berusaha tegar.


Walau merapal kata tegar, tetapi air mata Zainal terus mengucur deras bak anak sungai. Menyesal rasanya kala permintaan Umminya ia acuhkan.


Teringat jelas permintaan itu adalah:


"Tole kan anak ketiga dari empat bersaudara, sudah semestinya mengabdi di sini. Abah meminta kamu mengulang di sini. Mereka butuh kamu, Le. Sudah belasan tahun kamu di Al-Azhar, tetapi masih kukuh di sana. Ummi minta kamu beserta anak dan Istrimu pulang mengajar di sini. Dua Mbak mu ikut Suami, sedangkan Tole Ilham tidak mau mengajar di pesantren dengan dalih ingin berdakwah di luar sana ....


... Tole harapan kami meneruskan dakwah Abahmu. Jadilah penerus Abahmu, itu harapan Ummi. Sungguh tahu Tole Zain mampu mengemban tanggung jawab ini. Tole di sana juga sudah menjadi Ustadz dan mengamalkan ilmu. Apa salahnya jika Tole pindah ke sini dan melanjutkan perjuangan Abah, Le. Memang di sana keuangan kalian terjamin, tetapi di sini juga terjamin. Ummi mohon lanjutkan perjuangan, Abah."


Saat itu Zainal belum menjawab masih ingin bermusyawarah dengan Aisyah. Sang Istri setuju pulang setelah wisuda di laksanakan.


Zainal sebenarnya ingin memberi tahu kepada Umminya tepat di hari Ibu, tetapi semua terlambat. Tepat di hari Ibu sendiri Zainal telah kehilangan wanita hebat sangat dihormatinya.


Aisyah mengusap bahu Zainal berusaha memberi kekuatan. Sedangkan Emran dan Zaviyar masih termangu menyaksikan Zainal menangis.


Ibu mertuanya adalah sosok wanita hebat penuh kasih sayang tidak pernah menuntut atau pun berkata kasar pada Aisyah. Beliau teramat baik membuatnya begitu menyayangi Ibu mertua layak sebagai Ibu kandung.


Sama hancur hati Aisyah, tetapi tetap tegar. 15 tahun silam ia juga mengalami hal yang sama kehilangan Ibu kandung dan rasanya begitu menyiksa.


Maka dari itu saat Ummi Kulsum begitu menyayanginya membuat Aisyah terharu. Dia merasakan kasih sayang Ibu lagi meski pun punya Ibu tiri, tidak pernah merasakan sesayang Ibu mertua.


Semua menatap pada Zainal sekeluarga dengan pandangan sendu. Gus telah pulang, tetapi harus dalam situasi begini.


Tatapan kasihan tercurah untuk Zainal karena almarhumah begitu menginginkan kepulangan sang Gus. Nasi telah menjadi bubur. Waktu tidak bisa diputar ulang.


Dengan langkah gontai Zainal masuk menggendong Emran, sedangkan Aisyah menggendong Zaviyar. Tas mereka biarkan begitu saja seolah percaya ada yang membawa masuk dan benar saja ada salah satu Kang ndalem membawanya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Zainal sekeluarga.


"Wa'alaikumussallam warahmatullahi wabarokatuh," jawab salam orang yang ada di dalam.


Abah Mad (Ahmad Fadil Zailani) beserta sanak saudara menyambut kedatangan Zainal sekeluarga kecil dengan haru. Mereka semua menunggu kedatangan Zainal oleh sebab itu almarhumah belum dikebumikan.


Zainal langsung mencium tangan Abah Mad takzim lalu mendekap erat seraya menangis pilu. Dia merasa teramat kehilangan, tetapi harus ikhlas demi Umminya.


Setelah berpelukan Zainal menyalami Kakak, Adik, ipar, kerabat serta beberapa orang diikuti Aisyah dan anak-anak. Saat berhadapan dengan Umminya rasa pilu merajalela.


"Ummi," lirih Zainal melihat Umminya sudah siap untuk diberangkatkan.


"Ikhlaskan, Le," bisik Budenya.


"Enggeh, De," lirih Zainal..


Ingin rasanya Zainal menciumi lalu mendekap erat Umminya untuk yang terakhir kali. Namun, keadaan kurang bersih kasihan Ummi jika ada noda padahal siap dikebumikan.


Aisyah memandang Ibu mertuanya dengan tatapan sendu. Semua kebaikan beliau semasa hidup membuatnya tergugu.


Abah Mad menepuk pundak Zainal seolah paham putranya ingin mendekap serta mencium Umminya untuk terakhir kali. Lagi pula jenazah Istrinya belum di sholat kan lantaran menunggu Zainal.


"Mandi dan wudhu lah, Le. Ummi-mu belum di sholat kan karena kami menunggu kedatangan kalian. Nduk Aish serta anak-anak juga mandi jika ingin menyentuh Ummi terakhir kali!" Tegas Abah disertai senyum bersahaja.


"Abah," lirih Zainal dan Aisyah sangat senang. Mereka pikir Ummi akan segera dikebumikan nyatanya masih menunggu mereka.


Tanpa membuang waktu Zainal dan Aisyah membawa kedua anaknya untuk segera mandi. Tidak butuh waktu lama bagi mereka untuk kembali dan siap melaksanakan sholat jenazah untuk almarhumah Ummi Kulsum.


Untuk yang terakhir kali sebelum dishalatkan Zainal menciumi wajah teduh nan pucat Umminya. Tidak lupa dia juga mendekap sembari mengatakan kata menyayat hati.


"Zain pulang, Ummi. Bukannya kepulangan Zain beserta anak dan Istri begitu Ummi harapkan? Sekarang kami ada dekat Ummi, tetapi Allah berkehendak lain. Sebelum kami datang Ummi malah sudah menghadap pada Sang Khaliq. Apakah ini balasan untuk Zain lantaran selalu menolak pulang sebelum waktunya? ....


... Zain, minta maaf atas segala dosa yang telah diperbuat selama ini. Zain mohon maaf sebesar-besarnya, Ummi. Sungguh hati Zain begitu hancur kehilangan sosok wanita terhebat penuh kasih sayang, tetapi Allah tidak menyukai hal yang berlebihan. Zain akan berusaha ikhlas, Ummi. Istirahat dengan nyaman di sisi-Nya dan semoga Ummi berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan Husnul khatimah, Aamiin. Zain sangat menyayangi Ummi karena Allah ....


... Ummi telah kembali ke sisi-Nya, maka dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim ... Zain ikhlaskan kepergian Ummi. Sebelum itu Zain mau memperkenalkan anak kami bernama Zaviyar. Putra kedua kami Fa Insya Allah akan senantiasa dirahmati oleh Allah. Ummi telah Allah panggil ke sisi-Nya, tetapi Allah juga menghadirkan sosok pelipur lara. Semoga saja Ummi senantiasa berbahagia di alam sana. Sekali lagi Zain ingin katakan bahwa ... Zain sangat menyayangi Ummi karena Allah."


Usai mengatakan kalimat panjang Zain mencium kening almarhumah Ummi Kulsum lama. Segera ia tegakan tubuh karena sadar air mata akan berlinang. Dengan senyum bersahaja Zain menatap Ummi, meskipun air mata terus berlinang.


Aisyah membimbing kedua anaknya untuk mencium pipi dan dahi almarhumah Ummi Kulsum dan meminta untuk mengatakan kata-kata sayang. Setelah usai baru dia mendekap almarhumah dengan penuh kasih.


"Ummi, terima kasih atas segala kasih sayang yang engkau curahkan kepada, 'ku. Aish menantu, tetapi dengan segala ketegasan Ummi katakan bahwa Aish adalah Putri, 'mu. Sungguh beruntung Aish memiliki mertua hebat seperti engkau, Ummi. 15 tahun Aish kehilangan Ibu, dan sekarang untuk yang kedua kalinya Aish kehilangan lagi. Allah sangat menyayangi Aish lantaran kembali merasakan kasih sayang seorang Ibu walau sesaat ....


... Ikhlas tidak ikhlas memang harus ikhlaskan, Ummi? Maka dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim Aish ikhlaskan kepergian Ummi menghadap pada-Nya. Takdir memang sangat membingungkan serta begitu mengharukan. Saat Aish kehilangan datang pelipur lara. Ummi, Tole Emran dan Tole Zaviyar meminta doa semoga menjadi anak Sholeh dan menjadi anak yang berguna bagi Nusa dan Bangsa ....


... sekali lagi terima kasih atas segalanya, Ummi. Terima kasih telah hadir memberikan kasih sayang layaknya seorang Ibu kandung. Aish menyayangi Ummi laksana Aish menyayangi Ibu kandung. Semoga amal ibadah Ummi diterima di sisi-Nya dan semoga Ummi berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan Husnul khatimah, Aamiin Allahumma Aamiin."


Aisyah berurai air mata mengucap kata demi kata. Karena tidak tahan dia langsung mendekap kedua anaknya. Takut jika Aisyah menangis dalam dekapan hangat Umminya akan mengotori kain terakhir yang dibawa.


Semua orang meniti air mata haru campur sedih menyaksikan kasih sayang Zainal dan Aisyah pada almarhumah Ummi Kulsum. Mereka berharap harapan keduanya diijabah oleh Allah, Aamiin.


...****...


...At Baghdad Iraq, 03.30 PM!...


...1 Minggu setelah tragedi terjadi!...


Namun, semua bagai halilintar di siang hari menyambar dan meluluh lantakkan tanpa perasaan. Tepat di jam 03.30 PM Nenek Buyut menghembuskan nafas terakhir.


Bagai angin memporak-porandakan alam semesta sehingga keadaan tidak terkendali. Keadaan keluarga besar Abah Hasyim begitu hancur lebur berlipat ganda.


Kurun waktu satu Minggu musibah datang sili berganti. Belum puas kah Sang Khaliq mentakdirkan semua ini? Pertama mereka harus kehilangan tiga orang sekaligus dalam tragedi, walau ada kemungkinan yang satu masih selamat.


Jangka satu Minggu Allah coba lagi mereka dengan meninggalnya Nenek Buyut. Bagaimana tidak pedih jika Allah melimpahkan cobaan yang sangat besar kepada mereka?


Ummi Safira pingsan berkali-kali akibat Ibunya tiada, sedangkan mereka semua bagai patung, tetapi air mata berlinang. Aziz yang notabenenya kuat ikut tumbang tidak sanggup menerima cobaan dahsyat.


Khumaira yang harus tegar menguatkan iman dan mental demi anak-anaknya. Suaminya tumbang kini gilirannya yang merangkul serta memberikan dukungan penuh pada ketiga anaknya.


Meski berat setidaknya mereka harus ikhlas menerima takdir Allah. Mau murka pada siapa? Mau menyalahkan Pencipta Alam Semesta itu tidak mungkin lantaran takdir telah di tulis dalam Lauhul Mahfudz.


Setelah berdamai serta berusaha ikhlas akhirnya mereka bangkit kembali. 3 jam mereka terpuruk kedalam lembah kepiluan tidak dianjurkan oleh Allah.


Pada akhirnya mereka ikhlas dan mengantarkan Nenek Buyut ke peristirahatan terakhir. Usai dari pemakaman tepatnya tiga hari setelah Nenek Buyut wafat Steve datang untuk takziah.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarokatuh," salam Steve kepada keluarga besar almarhumah Nenek Buyut.


"Wa'alaikumussallam warahmatullahi wabarokatuh," jawab mereka semua.


Steve baru pulang tugas satu hari yang lalu. Saat kembali bekerja di rumah sakit ia terkejut karena mendapat kabar bahwa salah satu pasiennya tiada. Steve tentu sangat terkejut atas kepergian Nenek Buyut dan berpikir apa ini salahnya?


Cukup lama Steve bertandang di kediaman Nenek Buyut sampai Aziz mengajak mengobrol di halaman belakang. Tidak banyak yang dibicarakan sampai juga kepada titik pembicaraan paling sensitif.


"Aku lihat Dik Bibah dan Suaminya tidak ada, kemana mereka?" Tanya Steve hati-hati sedikit mengurangi rasa curiga Aziz.


"...." Aziz terpaku beberapa saat mendengar pertanyaan Steve mengorek luka.


"Ah, maaf kawan bertanya tidak pas. Aku ingat sebelum pergi dinas berbicara pada Dik Bibah bahwa mereka akan pulang ke Indonesia secepatnya. Apa mereka sudah pulang terlebih dahulu?" Steve tersenyum kikuk karena Aziz memandangnya datar.


"Iya, Nduk Bibah dan Mas Khalid telah pulang." Aziz berusaha mencari sesuatu dalam mata Steve, tetapi hanya kekosongan serta kesakitan.


"Apa mereka tidak datang kemari setelah tahu Nenek Buyut wafat?" Antahlah Steve begitu lancang mengutarakan banyak pertanyaan.


"Bagaimana mau ke sini jika mereka telah pulang ke sisi Allah? Katakan padaku bagaimana cara orang datang kemari jika sudah pulang ke alam baka?" Cerca Aziz.


...Deg...


Steve membisu mendengar jawaban Aziz diluar ekspektasi. Dia pikir akan menjawab sedih atau kalem, tetapi kenapa berapi-api? Steve menelan ludah kasar kemudian berusaha membuat ekspresi wajah seterkejut mungkin.


Manipulatif itulah Steve yang pintar memanipulasi segala kondisi dan situasi. Dia paling ahli merubah ekspresi serta memainkan peran. Meski demikian Steve orang yang segan serta hormat pada Aziz.


Aziz tahu ada sesuatu yang disembunyikan Steve seolah berusaha menghindar. Dari ekspresi beberapa detik ia paham ada skenario epik yang disembunyikan. Apa mungkin Steve dalang dari tragedi tersebut?


Jika benar Steve ada kaitannya maka Aziz pastikan tidak akan memberi ampun. Tidak peduli siapa Steve yang jelas akan memberi perhitungan. Hukum mati akan Steve terima jika terbukti bersalah itu janji Aziz.


"Innalilahi wa inailaihi roji'un. Ma-maaf, a-aku tidak tahu bahwa mereka tiada," lirih Steve.


"Dari gelagatmu sepertinya ada yang kamu sembunyikan, Steve. Jangan sampai kamu ada kaitannya dengan kepergian Adik dan iparku!" Tegas Aziz.


"Kamu mengatakan itu karena apa, Ziz? Aku tahu pernah melenyapkan orang 18 tahun silam, tetapi itu dalam keadaan tidak sadar. Apa sekarang kamu berpikir bahwa aku tega membunuh mereka? Apa aku tega menjadi psychopath? Apa karena masa lalu kamu menuduh orang yang tidak tahu apa, 'pun? Ingat, aku dinas di perbatasan Irak-Iran untuk menjadi relawan. Aku juga baru tahu Nenek tiada, begitu halnya dengan mereka!" Tegas Steve tidak mau disalahkan oleh Aziz.


"Maaf, karena terlalu banyak tekanan serta gelagat aneh membuat aku tanpa sadar menuduh hal buruk. Maaf kamu jadi mengingat masa lalu, sekali lagi maafkan aku," tutur Aziz.


"Aku tahu perasaan, 'mu. Maaf juga aku tidak ada saat kamu membutuhkan teman. Kalau aku lihat kamu memendam derita begitu mendalam. Coba ceritakan apa yang terjadi selama ini aku pergi?"


"Banyak hal kesakitan yang aku alami, Steve. Dalam satu Minggu aku kehilangan empat orang sekaligus."


"Astaghfirullahal'adzim. Empat orang? Siapa saja?"


"Pertama aku kehilangan Adik, Ipar beserta anakku dalam tragedi kecelakaan tunggal dan terakhir Nenek."


Aziz menunduk pedih mengingat semua yang terjadi. Namun, lagi-lagi ia harus beristighfar guna mengendalikan diri agar tidak lalai. Aziz berharap semoga saja cobaan mereka tidak membuat diri lupa akan kekuasaan Allah.


Sementara Steve terdiam mencerna setiap kata yang diucapkan Aziz. Anaknya, bukankah Zaviyar anak Bibah dan Khalid? Memikirkan itu membuat Steve ingin kembali bertanya.


"Ya Allah ya Tuhanku, kenapa bisa Allah melimpahkan cobaan sebesar itu pada kalian semua? Anak, 'mu? Maksudnya anakmu tiada dalam tragedi kecelakaan tersebut?"


"Allah mencintai kami semua, Steve. Mau menyalahkan itu tidak akan bisa karena takdir hanya Allah yang tahu. Iya, anak bungsu kami, Tole Zaviyar. Namun, jasadnya belum ditemukan ... besar kemungkinan bahwa anak kami masih selamat. Selama 10 hari terakhir kami masih berharap keajaiban dari Allah."


"Innalilahi wa innailaihi roji'un, Astaghfirullahal'adzim. Sabar, Ziz Allah tidak akan menguji hamba-Nya melebihi batas kemampuan. Kalian orang pilihan Fa Insya Allah mampu melewatinya. Ya Allah, jadi anak kalian ikut serta dalam kecelakaan itu. Kenapa bisa kalian membiarkan anak kalian ikut bersama mereka?"


"Aamiin. Saat itu Tole Zavi terus menerus memaksa ikut bersama Bibi dan Pamannya. Kami tidak setuju, tetapi karena Tole selalu merengek membiarkan ikut belanja. Namun, takdir berkata lain yang awalnya kami kira mereka akan pulang selamat, tetapi nyatanya tidak."


"Ya Allah, Ziz. Pilu sekali, semoga saja anakmu segera ditemukan dalam keadaan sehat walafiat. Segala doa terbaik untuk Tole Zaviyar, Ziz. Sekali lagi maaf karena aku kamu bercerita hal menyakitkan."


"Iya tidak apa, Steve. Aamiin, semoga saja apa yang diharapkan diijabah oleh Allah."


Steve memberi pelukan pada Aziz seraya mengatakan kata-kata penuh semangat. Namun, siapa sangka dalam hati berkecamuk pikiran jika Aziz tahu siapa dalang dalam tragedi itu. Apa Aziz mau memaafkan Steve jikalau tahu Zaviyar hilang karena, 'nya?


Sedangkan Aziz sangat bersyukur memiliki kawan baik hati. Dia merasa sedikit baikkan usai menceritakan sedikit kepedihan. Harapan Aziz saja pertemanannya dengan Steve abadi.


"Maaf, Ziz karena aku Adik dan Ipar tiada serta anakmu hilang. Aku yang memisahkan Zaviyar dari, 'mu. Apa kelk jika kamu tahu mau memaafkan aku, Ziz? Sekali lagi maafkan aku," batin Steve.


"Tole, di mana pun berada semoga saja Allah senantiasa melindungi, 'mu. Walau kita berpisah ingatlah Nak bawah kami senantiasa mendoakan, 'mu. Ayah sangat merindukan, Le. Ya Allah ya Tuhanku, terima kasih setidaknya beban hati sedikit terobati karena bercerita dengan sahabat. Semoga saja persahabatan kami selalu begini, ya Allah. Semoga kesejahteraan, kesuksesan, limpahan rezeki senantiasa ada untuk, Steve," batin Aziz terharu.