Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Hati Menangis!



...Aziz POV On!...


Entah kenapa sikap Mbak Khumaira semakin beda. Apa salahku sehingga membuatnya bungkam? Kenapa Mbak terlihat lebih pendiam? Aku ingin Mbak selalu menatapku walau sekilas. Tetapi, kenyataannya pasti sulit melupakan mendapat atensinya.


"Mbak."


"Iya."


"Mbak, ada masalah dengan pekerjaan?"


Aku mohon jangan diamkan aku seperti ini. Mbak, tolong jangan siksa hatiku lebih banyak. Aku memang mampu, tetapi diam mu membuat hatiku meronta ingin menangis.


"Tidak."


"Mbak, besok Aziz antar ya."


"Tidak perlu."


Apa yang harus kulakukan? Baiklah aku diam berniat ke ruang kerja soalnya mau lembur untuk proyek besok. Aku tidak mau mengganggu waktu istirahat, Mbak. Aku memilih keluar kamar dari pada terdiam seribu bahasa tanpa di anggap.


Sampai ruang kerja, aku putuskan untuk membuat kopi. Minuman hitam pekat ini adalah minuman paling kusuka. Kopi adalah perpaduan yang sangat unik membuat siapa saja menggila karenanya. Baunya yang harum membuatku selalu nyaman saat minum.


Contoh kecil pecinta kopi adalah aku. Ya aku sangat menyukai kopi tanpa gula. Aroma wangi ciri khasnya membuat aku tenang. Dan aku sangat membenci atau paling tidak menyukai makanan atau minuman manis.


Baiklah mari mulai kerja jangan sampai besok loyo. Dengan telaten aku menggambar sebuah gedung untuk bangunan mall baru.


Aku akan bercerita, dulu sewaktu kuliah tepatnya S1 aku mengambil fakultas Ekonomi dan Bisnis. Lalu S2 aku ambil Ilmu Manajemen dan terakhir di penutup aku ambil Teknik Arsitektur. Terlalu menggegas biarkan saja.


Dulu di Kairo aku juga belajar giat soal agama tanpa pernah berhenti belajar. Aku terus mencari ilmu agama agar punya bekal di kelak. Kita hidup untuk pulang ke Rahmatullah makanya setiap saat aku mencari bekal akhirat.


Ilmu dunia juga penting, makanya aku berusaha keras meraih itu semua dan mengimbangi ilmu akhirat dan dunia. Aku terus berusaha keras meraih bekal di akhirat dan dunia tanpa lelah.


Sudah kita sekarang bekerja keras dulu jangan ganggu. Ingat jangan ganggu orang ganteng bekerja. Baiklah jika tetap mengganggu jangan harap bisa melihat cowok ganteng sedunia.


...Aziz POV Off!...


...***...


...Khumaira POV On!...


Rasa ini begitu sakit menerima semua. 1 bulan kita menikah, namun aku belum bisa menyerahkan hak pada Mas Aziz. Tolong maafkan aku Mas membuatmu tersiksa akan tingkahku.


Aku tahu dosaku pasti sangat besar, tetapi Mas Aziz tidak menuntut hak. Malah dia menyuruh diriku untuk menjaga aurat dan kehormatan. Kalau begitu rasanya sangat bahagia aku bebas dari tanggung jawab. Namun, aku harus lekas menyerahkan diri pada Mas Aziz agar menjadi Istri sesungguhnya.


Aku merasa sangat bersalah pada Mbak Zahira, pasti dia sangat terluka karena pernikahan kami. Gara-gara aku dua hati saling mencintai terpisah. Tolong maafkan aku memisahkan kalian karena adanya diriku.


Aku ingin Mas Aziz dan Mbak Zahira seperti dulu. Mereka saling cinta dan aku jadi penghalang. Mas Aziz, maaf membuat Mas terikat denganku. Mbak Zahira tolong maafkan aku merebut Mas Aziz darimu.


Mas Azzam, aku harus bagaimana? Cintaku, perasaan ini dan seluruh tubuh dan hati hanya untukmu. Sampai kapan pun hanya milikmu. Namun, sampai kapan aku menjaga ini semua? Sampai kapan Mas Aziz diam tidak meminta haknya?


Sampai kapan aku terus menghindar dari tugas istri sesungguhnya? Tolong maafkan aku Mas belum berani melangkah sejauh itu. Aku mohon tolong maafkan semua kesalahanku


Aku sangat berdosa menelantarkan Suamiku. Maaf tetapi Mas sendiri yang bilang tidak masalah. Mas pria yang sangat baik maka dari itu tolong bersabar sebentar lagi agar aku ikhlas.


Ada sebuah rahasia yang ku simpan selama ini. Cinta pertamaku bukan Mas Azzam melainkan orang lain. Pria itu sangat baik sampai aku tidak mampu menolak akan cintanya.


Dalam hatiku namanya tersimpan rapi selama 3 tahun. Aku mencintainya karena Allah dan itu petunjuk dari sang Khalik. Semua tentang dia selalu aku rasakan bahkan saat suara berat memanggilku lembut.


Aku tidak mau menyebut siapa dia karena aku sangat takut cinta 3 tahun sirna muncul kembali. Biarkan aku bungkam agar tidak mendapat cintaku kembali. Bagiku cinta ini hanya milik Mas Azzam seorang bukan untuknya.


Hanya Mas Azzam cinta terakhirku karena dia Imam bagi kami. Mas Azzam adalah sosok sempurna di utus Allah untukku. Maka tidak akan ada cinta pertama lagi itu semua sudah sirna.


Cintaku begitu suci untuk Masku. Seperti di awal, aku mulai mencintai Mas Azzam karena budi pekerti yang baik, sopan, ramah, berakhlak mulia dan sangat indah saat mengaji. Semua tentang Mas Azzam aku sangat mencintainya sepenuh hati.


Allah menurunkan yang nyata bukan mimpi. Perlahan aku tutup cinta pertamaku datangnya dari Allah melalui mimpi. Lalu, aku buka hatiku pada yang nyata.


Aku sangat mencintai Mas Azzam karena Allah. Sangat cinta dan kumohon jangan buka cinta pertamaku lagi padanya.


Aku menangis seorang diri di kamar. Rasa ini, cinta ini semuanya hanya untuk Mas Azzam. Tetapi, sampai kapan?


Pertama bertemu aku melihatmu dengan perasaan campur aduk. Sekarang aku harus menikah dengan takdirku. Kulihat engkau yang terakhir sebelum sepenuhnya aku milik Mas Azzam. Wajahmu selalu menemaniku dalam suka maupun duka telah hadir di depan mataku. Mas ini yang terakhir saat aku menatap wajahmu tanpa halangan.


Jangan sampai cinta itu datang kembali, hanya Mas Azzam yang aku cinta hanya Masku Azzam. Ya Allah, kenapa takdir begitu kejam padaku? Kenapa? Tolong jangan permainkan hatiku yang malang.


Apa dayaku sehingga tidak mampu bertahan. Tidak boleh, cinta itu sudah mati dan cintaku hanya untuk Mas Azzam. Hanya Suamiku yang aku cintai. Bukan dia melainkan Mas Azzam yang akan selalu kucintai.


Mas Aziz, kamu berhak bahagia bersama Mbak Zahira. Kalian saling mencintai dan di sini aku jadi penghalang. Rasanya sesak hidup begini. Tolong maafkan aku Mas Aziz dan Mbak Zahira telah hadir di antara kalian.


6 tahun yang lalu saat aku baru masuk kelas XII, Ibu menyuruh Shalat Istikharah karena aku sudah cukup umur. Pada akhirnya aku menuruti perkataan Ibu untuk melaksanakan Shalat Istikharah.


Apa yang kulihat sangat aneh dalam mimpiku. Ada dua pria yang sangat tampan. Satu hanya lewat sekelebat sembari tersenyum tulus dan terakhir yang menjadi cinta pertamaku.


Pria itu selalu datang dalam mimpi sembari tersenyum tulus. Wajah tampan saat tersenyum begitu indah membuatku bergetar penuh kebahagiaan. 1 kali melihatnya dalam mimpi hatiku bergetar, dua kali melihat jantungku tidak mampu ku bendung dan 3 kalinya cinta hadir laksana bintang.


Aku sangat mencintainya dalam 3 tahun terakhir, walau semua mimpi. Pada akhirnya aku lupakan cinta itu untuk yang nyata dan luar biasa indah. Mas Azzam cinta terakhir yang di kirim Allah untukku.


Kalian tahu, sebuah rasa campur aduk ketika pertama bertemu dengannya. Mata cokelat bak emas itu menenggelamkan aku dalam rasa. Aku bergetar melihat matanya juga membulat menatapku. Ku lirik dia menangis, kenapa?


Saat itu juga di hari pernikahan aku di hadapkan dengan dua cinta. Cinta pertamaku yang sangat aku kagumi serta kucinta dan cinta penutup. Aku menangis dalam diam ketika menatap punggung Mas Azzam dan menatapnya. Tanpa terasa mata kami bersirobok dan aku melihat luka begitu besar. Kenapa apa engkau terluka? Maafkan aku semua sudah terlambat karena aku sudah mencintai Mas Azzam.


Mas Azzam adalah Imamku saat semua mengatakan SAH maka cinta pertamaku hilang. Selamat tinggal wahai cinta yang selama ini menemaniku. Sekarang aku sudah bersama Imam yang sangat aku idamkan.


Hal paling lucu dan paling menyakitkan yaitu saat kutahu dia Adik iparku. Ya Allah, permainan apa ini? Kenapa bisa dia jadi Adik iparku? Pasti kalian tahu siapa dia, iya cinta pertamaku yang akan selalu terpendam adalah Mas Aziz.


Aku tidak mau cinta itu kembali hadir. Hanya Mas Azzam yang berhak akan cintaku karena dia adalah segalanya. Hanya Mas Azzam dan hanya Mas Azzam yang sangat aku cintai.


Aku tidak mau Mas Aziz semakin menderita bersamaku karena sebuah amanah. Mulai sekarang aku akan jadi wanita kuat untuk mengasuh Putraku Ridwan. Mulai detik ini aku akan belajar untuk menjadi wanita tangguh tanpa belas kasihan.


Mas dan Mbak Zahira harus bersama. Tetapi apa aku ikhlas melepasnya? Tidak, aku tidak mau Mas pergi. Tetapi, aku juga tidak mau menjadi benalu. Aku harus bagaimana menghadapi situasi ini? Aku juga tidak mau di madu oleh Mas Aziz. Namun, aku juga tidak mau menjadi benalu antara mereka yang saling cinta.


"Mas Aziz, maafkan aku."


Aku ini benar-benar bodoh, kenapa bisa mengambil pria yang mencintai wanita lain? Mereka saling cinta, lalu kenapa aku hadir di antara keduanya? Kenapa aku malah merusak kebahagiaan mereka?


Mulai sekarang aku harus lebih menghindar dan bersikap dingin agar Mas tidak suka padaku. Biarkan aku lebih dingin agar jarak di antara kita semakin jauh.


Mas, aku minta maaf.


...Khumaira POV Off!...


***


Khumaira masih betah menangis tanpa tahu Aziz sudah masuk kamar. Dia tidak sadar ada hati yang terluka melihatnya menangis memilukan.


Aziz memejamkan mata menahan sakit. Kenapa dengan Khumaira? Rasa sakit langsung menghantam dirinya ketika ingat keterpurukan Khumaira. Mungkin Istrinya teringat Masnya Azzam.


"Mbak, ada apa?" tanya Aziz sembari menepuk bahu Khumaira.


"...."


Khumaira langsung diam tanpa suara. Dia berbalik memunggungi Aziz. Hatinya bergejolak tinggi ingin menangis keras dalam dekapan Suaminya.


"Mbak, bukanya aku pernah bilang jika Mbak terpuruk, sedih dan butuh sandaran maka bersandar lah padaku. Kemari, dan luapkan semua."


Khumaira menenggelamkan diri di bawah selimut. Dia tidak mau menatap Aziz, hatinya terasa pilu mengingat semuanya. Ia ke pikiran dengan ucapan karyawan kantor tempat Aziz bekerja. Mereka menghinanya seakan janda adalah sampah. Khumaira terus berpikir makanya memiliki pikirkan macam-macam.


Memang benar dia hanya perusak kebahagiaan Aziz dan Zahira. Rasa sakit membuat Khumaira tidak tahan untuk menghindar. Tolong jangan ditegaskan karena ia tidak sanggup bertahan jika terus dihina begitu sadis.


Walau sadar Aziz sangat tulus, tetapi Khumaira tidak mau menjadi benalu. Walau dia tidak mencintai Aziz, tetapi tetap saja sakit mendengar perkataan mereka.


Mungkin rasa sakit ini karena cinta yang pernah singgah di hati Khumaira. Namun, itu sudah lama terkubur tanpa ia buka. Khumaira sudah menutup pintu hati untuk cinta pertamanya.


"Mbak, aku mohon katakan masalah, Mbak."


"Maaf, aku mengantuk. Aku hanya teringat Mas Azzam, maaf membuat Mas khawatir."


Aziz tersenyum, tetapi tidak percaya karena nada bicara Khumaira mengatakan kebohongan. Sebenarnya ada apa? Aziz memilih bungkam lalu mengerjakan tugas kantor.