Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Saling Menjaga Dedek Mumtaaz!



Khumaira terjaga karena Mumtaaz belum juga tidur. Dia bersandar di headboard dengan anaknya ia susui. Ia lihat Aziz kelelahan sehingga tertidur pulas. Biasanya sang Suami menemani di kala terjaga. Untuk sekarang Suaminya sangat lelah sehingga tidak kuat terjaga.


Aziz sangat lelah pasalnya tujuh hari ini pekerjaan numpuk membuatnya lembur. Pria ganteng ini tertidur pulas guna mengembalikan stamina tubuh. Untuk besok ia akan menemani Istrinya menjaga anak gantengnya. Untuk sekarang biarkan Aziz tidur lelap karena kondisi tubuhnya benar-benar lelap.


Wanita beranak dua itu mencium pelipis anak tampannya. Dia dekap Mumtaaz dengan menciumi pipi gembul anaknya. Putra menisnya menatap dirinya lalu berceloteh aneh. Ia menanggapi apa yang diucapkan si ganteng lucu.


Anak ganteng itu masih aktif mengemut Ibu jarinya. Tangan kecilnya langsung meraih jari telunjuk Uminya dan tersenyum manis. Dia berusaha meraih wajah Uminya guna menepuk pipi sang Umi.


Khumaira tersenyum teduh melihat Mumtaaz begitu menggemaskan. Dia sejatinya lelah mengantuk, tetapi anak tampannya belum mau tidur. Alhasil terjaga lagi untuk anak manisnya tidur. Khumaira dengan berusaha agar tidak tidur. Suaminya capek biarkan dirinya terjaga walau lelah menggerogoti tubuh.


Tangan lentik Khumaira terulur untuk mengusap pipi tirus Aziz. Dia tahu Suaminya begitu lelah makanya sangat lelap. Ia terus mengusap rambut coklat gelap Suaminya beberapa kali. Melihat wajah damai Suaminya hati lembutnya merasa sangat senang.


Khumaira tidak pernah menyangka menikah dengan Aziz. Bahkan dulu saat jadi ipar prianya sangat jahil bahkan terkesan tidak pernah serius. Kini pria yang dulu menjadi Adik ipar telah menjadi imam keduanya. Khumaira tidak memungkiri perasaan itu kembali, pasalnya Aziz adalah cinta pertamanya.


Aziz bangun setelah merasakan baikan. Dia melihat Istrinya masih terjaga demi menjaga Mumtaaz. Ia merenggangkan otot sebelum duduk di samping Istrinya. Dia merasa kasihan membuat Istrinya belum tidur padahal sudah jam tiga pagi. Aziz jadi merasa bersalah telah meninggalkan Khumaira sendirian menjaga Mumtaaz.


"Mas, kenapa sudah bangun?"


Khumaira tidak enak Suaminya bangun padahal sangat tahu satu Minggu terakhir sang Suami kurang tidur. Dirinya merasa sangat bersalah jika ingat Suaminya kurang tidur gara-gara menemani terjaga.


"Mas tidak bisa tidur nyenyak, Dek. Maaf ya Mas tidak bisa menemani Adek jaga Baby Mumtaaz. Mas malah tidur nyenyak tanpa peduli Adek terjaga."


"Mas, tidak perlu berbicara penuh penyesalan. Dengar Adek sangat ikhlas terjaga untuk menjaga Dedek Mumtaaz. Adek sangat tahu Mas capek di kantor dan di rumah malah ikut terjaga. Jaga kondisi Mas karena Adek tidak mau Masuk sakit. Nah, sekarang saatnya kita shalat tahajud. Lagian Dedek sudah tidur, tunggu dulu."


"....."


Aziz hanya diam mendengar jawaban Khumaira yang manis. Dia melihat Istrinya menidurkan Mumtaaz di tengah ranjang. Dengan lembut ia kecup pipi anaknya lalu mengulurkan tangan agr Istrinya menarik kuat.


Khumaira yang patuh meraih uluran tangan Aziz. Namun, hal mengejutkan terjadi saat Suaminya menarik kuat tubuhnya. Sehingga terjatuh di atas Suaminya.


"Mas sangat mencintai Adek," bisik Aziz menggulingkan Khumaira sampai terlentang di pinggir ranjang.


"Adek tahu ugh sudah Mas," desah lirih Khumaira saat Aziz mengigit kecil lehernya.


"Sshh, Mas sangat rindu Adek. Mau bermain sebentar?"


"Shalat tahajud dulu Mas dan iya nanti pagi kita ke Pagerharjo untuk jemput Dedek besar."


"Baiklah, ayo kita shalat tahajud dulu lalu bermain sebentar. Terimakasih banyak Sayangku dan maaf Mas maksa Adek."


Khumaira menangkup rahang Aziz dalam lalu memberikan ciuman pipi. Dia dengan sayang melingkarkan tangan di leher kokoh Suaminya. Ia tidak boleh menolak lagian Suaminya ingin itu.


Sebagai Istri yang baik sudah seharusnya melakukan kewajiban. Walau lelah Khumaira akan tetap memberikan apa yang diinginkan Aziz. Dia akan berikan selagi bisa karena rindu sentuhan Suaminya.


Aziz terdiam menerima belaian Khumaira yang lembut. Mata tajamnya terpejam menikmati sentuhan lembut Istrinya. Dia tetap diam menikmati sentuhan di pipinya.


Hingga dirinya sadar Khumaira memberikan kecupan singkat di bibir. Perlahan ia balas ciuman Istrinya sedikit panas. Dia yang sadar Khumaira belum istirahat menghentikan ciuman mereka.


"Mas, dengan senang hati Adek akan melayani Mas. jika Mas mau jangan sungkan katakan karena itu kewajiban Adek melayani Mas. Tidak usah sungkan karena Adek milik Mas!"


"Ya Allah, Mas sangat terharu mendengarnya. Ayo kita berjamaah lalu melakukan itu mumpung Dedek kecil tidur."


Aziz beranjak dari atas Khumaira, tetapi dengan teduh mengangkat sang Istri. Dia gendong Istrinya menuju bathroom untuk wudhu. Usai itu dirinya akan mendapat jatah sebelum bangun di pagi hari. Melakukan kegiatan panas akan menambah semangat kerjanya.


Khumaira dengan manja merebahkan kepalanya di bahu Aziz. Tangannya melingkar sempurna di leher kokoh Suaminya. Dengan teduh ia mengukir senyum manis saat Suaminya duduk di kloset. Khumaira mengukir senyum manis tatkala Aziz membelai pipinya.


Dan terjadilah sedikit aksi rayu merayu sebelum semua terjadi. Kini semua hal manis terjadi dikala bibir mereka saling menyatu. Keduanya sadar sebelum terbawa arus berakhir menuju lebih intim.


❤️🖤❤️


Pagi harinya Khumaira belum bisa masak karena sedari tadi Mumtaaz rewel. Dia menatap Aziz menyesal saat Suaminya ada meeting jam 9 nanti. Namun, sampai sekarang belum makan apa pun. Khumaira mau minta bantuan Aziz untuk menenangkan Mumtaaz.


Wajah Mumtaaz menyendu melihat Khumaira diam. Dia kembali menangis keras tidak mau di tinggal barang sebentar saja. Tangan kecilnya berusaha meraih wajah Uminya agar tenang.


Aziz melepas jasnya dan menggulung lengan kemejanya. Dia tersenyum saat Istrinya bertanya banyak hal. Dengan langkah lebar ia mendekat ke arah Istrinya. Dia menunduk dalam untuk mencium kening Istrinya. Tangan kekar Aziz terulur untuk mengusap pipi gembul Mumtaaz.


"Mas, kenapa lepas kemeja dan malah izin tidak kerja. Adek akan cepat tunggu biar Dedek tenang."


"Mas izin pada Bos lagian meeting bisa di gantikan. Dek, mana bisa Mas pergi meninggalkan Adek bersama Dedek Mumtaaz. Tunggu sebentar biar Mas yang masak Adek kelinci Dedek kecil agar tidak rewel."


"Mas ...."


"Jangan bantah atau merasa tidak enak hati. Mas menikahi Adek itu untuk hidup bersama dalam suka duka. Adek butuh Mas karena pekerjaan itu dibagi agr terasa ringan. Masalah di bawa bersama dan jangan sungkan karena kita satu. Sstt, Mas sangat mencintai Adek dan jangan nakal!"


Aziz langsung melangkah pergi tanpa mau mendengar balasan Khumaira. Dia langsung siap menuju dapur untuk menyiapkan makanan. Dengan gesit ia menyiapkan bahan yang di masak. Tujuannya mau membuat makanan sederhana untuk dirinya dan Khumaira.


Khumaira menunduk menyembunyikan air matanya. Demi apa ia sangat beruntung mendapat Suami sebaik Aziz. Dengan wajah sendu sekaligus bahagia Khumaira sangat senang bisa memiliki Suami setulus dan sebaik Aziz.


30 menit kemudian masakan tersaji. Aziz membuat sayur bening tanpa minyak. Oseng bayam dan memakai lauk tempe serta telur. Setelah semua tersaji Aziz menghampiri Khumaira.


Khumaira masih merengkuh Mumtaaz agar tenang. Tetapi, masih saja rewel tidak kunjung mau tenang. Jik sakit Mumtaaz memang sangat rewel. Alhasil Khumaira tidak bisa beranjak barang sedetik saja.


"Dek, biar Mas yang gendong Dedek kecil. Adek makan saja dulu biar Mas yang gendong Dedek Mumtaaz."


"Mas, ya Allah maaf ya nyusahin Mas. Kita makan bersama saja biar Dedek tak pangku."


Aziz hanya tersenyum mendengar perkataan Khumaira yang panik. Dia dengan sayang menggendong bayi kecilnya. Dia timang sebentar dengan banyak kata supaya Mumtaaz tenang. Aziz melangkah duluan kelaut kamar di ikuti Khumaira.


Khumaira merasa sedih karena Suaminya begitu perhatian. Bahkan terlihat jelas bagaimana Suaminya sangat mencintainya dan anak-anak. Begitu tulus menyayangi bahkan tanpa segan memberikan segala kasih sayang untuk mereka. Aziz tidak malu masak atau melakukan kegiatan rumah saat dirinya sakit atau anak-anak rewel.


Aziz menimang Mumtaaz dengan hidung selalu menggesek pipi. Dengan sayang ia tepuk bokong putranya yang tampan. Sesekali ia kecup lalu mengatakan banyak kata sayang. Dirinya tidak tega melihat anaknya rewel padahal sudah diberi perawatan.


Khumaira duduk di samping Aziz untuk menyuapi Suaminya. Setelah membaca doa ia meneguk air putih tiga teguk lalu memberikan pada Suaminya. Dengan wajah manis ia bantu Suaminya untuk minum.


Aziz tersenyum teduh saat Mumtaaz mau berhenti rewel. Dengan begini ia bisa makan tenang bersama Khumaira. Dia senang Istrinya menyuapi dengan telaten. Dia tidak keberatan saat Istrinya begitu romantis.


"Maaf ya Mas karena tidak bisa masak. Mas yang masak dan Adek hanya di kamar. Tolong maafkan, Adek." Khumaira menunduk usai makan dan mencuci piring kotor.


"Adek ini bicara apa? Jika Adek repot tidak bisa masak itu tugas Mas yang gantiin Adek. Mas akan bantu Adek begitu pun sebaliknya jika Mas kerepotan Adek bisa bantu dengan doa. Jika Adek yang kerepotan tidak bisa mengerjakan tugas rumah atau masak maka Mas akan gantikan posisi Adek. Mas sangat mencintai Adek, maka percayalah Masmu ini bisa melakukan apa pun. Tersenyum lalu mandi biar Mas jaga Dedek Mumtaaz. Mungkin setelah di bawa ke rumah Bapak Ibu, Dedek tidak rewel lagi."


"Mas Aziz," lirih Khumaira tidak bisa menjawab perkataan Aziz. Dia memilih mendekap Suaminya haru. Ia juga memberikan usapan sayang untuk pipi gembul Mumtaaz. Demi apa ia sangat bahagia Suaminya sangat perhatian. Khumaira sangat bahagia hidup bersama pria multitalenta yang sangat pengertian. Lebih utama sangat mencintai dia dan anak-anak. Khumaira merasa paling beruntung bisa mendapatkan Suami sebaik Aziz dari segi apa pun.


Aziz membalas pelukan Khumaira lalu memberikan ciuman di pelipis. Dia angkat tubuh gemuk Mumtaaz dan mencium pipi anaknya. Begitu pun dengan Istrinya mencium pipi gembul Mumtaaz. Aziz sangat bahagia memiliki banyak waktu walau putranya sedang rewel.


"Adek mandi dulu ya, Mas. Dedek Mumtaaz sama Ayah, ya jangan rewel dulu. Kita akan ke tempat Mbah Ukhti dan Mbah Kakung. Pasti Dedek kangen Kakak Ridwan, benar kan? Mas tunggu dulu bareng Dedek, ya."


"Iya, jangan khawatir dan berhenti mengatakan maaf berulang kali,Dek Syafa. Mas tunggu di kamar."


Khumaira menarik pelan dagu Aziz lalu memberikan ciuman di bibir. Dia juga memberikan ciuman sayang di pipi gembul Mumtaaz. Setelah itu berjalan cepat menuju kamar mandi. Khumaira akan cepat mandi antisipasi kalau Mumtaaz menangis.


Sementara Aziz melangkah ke kamar untuk membenahi penampilan. Sebelum itu menenangkan sang putra tersayang. Lihat anak kecilnya begitu rewel tidak mau ditinggal. Alhasil Aziz gendong Mumtaaz tanpa mau melepas.


Mumtaaz merengek dengan menepuk pipi tirus Ayahnya. Dia mengerucut siap menangis saat Ayahnya tidak menimangnya. Ia mau Uminya tentu mau susu untuk mengurai dahaganya. Mumtaaz yang gemas meraung histeris sukses membuat Ayahnya kelimpungan.


Khumaira buru-buru keluar kamar mandi jaya menggunakan selembar handuk. Dia lupa tidak pakai bra dan CD alhasil kalau menyusui si kecil akan polos tanpa busana. Khumaira duduk di samping Aziz untuk menenangkan Mumtaaz.


"Mas maaf ya, um Mas bisa bantu Adek?"


"Iya Mas paham, Dek."


Khumaira menyusui Mumtaaz dan memberikan tepukan lembut. Dia kecup kening putranya lalu memberikan ciuman di pipi. Dia sangat gemas anak gembulnya sangat hiperaktif dan sangat rewel. Alhasil Khumaira harus ekstra menenangkan Mumtaaz yang sangat rewel jika sedang sakit.


Aziz mengambilkan seperangkat pakaian untuk Khumaira. Dia berpaling melihat tubuh Istrinya sangat menggoda saat memakai handuk. Payudara besar itu ingin ia jamah dan tubuh mulus membuatnya bergetar. Sadar jangan mesum ini tidak waktunya berpikir begitu.