
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh!
Apa kabar semuanya?
Semoga kalian senantiasa dalam perlindungan Allah, Aamiin.
Marhaban ya Ramadhan 1441 H!
Mohon maaf lahir batin jikalau selama ini Rose punya banyak salah sekaligus membuat kalian kurang nyaman atas ucapan dan tindak laku. Atas segala upaya Rose minta maaf telah menyakiti perasaan kalian sengaja atau pun tidak sengaja.
Maaf banyak typo’s bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
***🍂🍁🍂***
Aziz langsung memutuskan ke Kediri setelah diberitahu anaknya sakit. Dia tidak peduli proyek berharga miliaran lantaran Ridwan lebih berharga. Bahkan ia tidak peduli semua harga fantastis itu. Sungguh ia begitu sedih ketika mendengar kabar sakitnya anak sulungnya. Aziz langsung izin pada Herlambang perihal masalahnya lalu memberikan tanggung jawab pada Romli.
Setelah membeli tiket pesawat Aziz bergegas pergi. Setelah dua jam setengah akhirnya sampai juga di bandar udara Juanda dirinya memesan mobil. Dia panik sehingga mengabaikan panggilan Istrinya. Ia akan memberi kejutan pada Istrinya karena membawa Ridwan. Demi apa kini ia begitu pucat pasi dalam mobil memikirkan anak sulungnya. Jelas sangat tahu betapa Ridwan akan susah sembuh tanpa ada Uminya.
Aziz ingat dulu Khumaira sedang ada urusan dan saat itu Ridwan sakit. Dia panik saat anak tampannya sakit walau tenang dalam dekapannya. Namun, anak sulungnya tetap sakit sehingga membuat ia begitu sedih. Sungguh dirinya bisa menjaga anak sulungnya, tetapi apa daya anak kesayangannya tetap sakit. Hingga akhirnya Ridwan sembuh setelah Khumaira datang. Aziz jadi semakin sedih jika ingat itu karena sudah menyerahkan anak sulungnya mondok di pesantren.
Setelah menempuh kurang lebih dua setengah jam akhirnya Aziz sampai juga di depan gerbang Pondok pesantren Lirboyo. Dia menyerahkan uang lalu mengucapkan terima kasih pada sopir. Ia seret koper menuju tempat tinggal orang tuanya. Lihat para Santriwan menyapanya dengan tindak laku sopan yang baik. Aziz tersenyum di kala mereka memanggil dirinya Gus.
Memang benar Aziz adalah Gus yang tidak mau di panggil begitu. Dia lebih senang di panggil Aziz atau kang dari pada begitu. Tanggung jawabnya dulu saat pulang dari Al-Azhar selalu mengajar mereka. Walau sikap acuh dan suka menyeleweng ia dikenal begitu perhatian. Aziz tidak segan terjun membantu para Santriwan membersihkan area pesantren saat ro'an. Tidak ayal mereka begitu akrab pada Aziz kalau sudah kenal begitu humoris.
Aziz mengetuk pintu Ndalem sembari mengucap salam. Saat pintu terbuka menampilkan sosok cantik yaitu Adiknya Hazza atau sering dipanggil Luthfi. Dia tersenyum ketika Adiknya mengulurkan tangan minta salaman. Aziz sambut uluran tangan Adiknya lalu menepuk kepala Hazza.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, bagaimana?"
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh. Ya Allah, Mas datang-datang langsung panggil begitu. Ayo masuk dulu dan Tole Ridwan sedang di kamar Mas Azzam. Kalau Mas sedang pulang untuk beberapa saat."
"Hm."
"Kebiasaan kalau sudah cuek jawab begitu."
"Sshh, Mas sedang panik Nduk. Mana Abah dan Ummi?"
"Kondangan, Abah Mansyur mengundang Abah ke acara pernikahan Mbak Amirah. Sejatinya tidak mau datang karena Tole sedang sakit. Alhasil yang jaga kami sekarang Tole tidur, Mas."
"Hn."
"Ya Allah, Mas kalau kumat nyebelin berasa mau Hazza timpuk."
Aziz tidak peduli ocehan Adik kandungnya terbilang cukup cerewet. Dia bergegas menuju kamar Azzam setelah menyerahkan koper pada Adiknya. Dia tahu sang Adik akan membawa koper ke kamar pribadinya. Secara ia adalah Kakak kesayangan Hazza walau kadang sering cekcok. Aziz dulu begitu jahil sering membuat Adik-adiknya menangis akan kejahilannya.
Sewaktu remaja belum ke Al-Azhar dirinya begitu sering menggoda Shabibah, Najah dan Hazza apa lagi si kecil bungsu Azmi. Maklum saja ia begitu jahil lantaran begitu nakal penuh keusilan. Namun, dia akan marah jika ada yang menyakiti adik-adiknya. Aziz orang pertama akan membela serta melindungi empat Adiknya jika dalam tekanan.
Lihat wanita cantik itu merengut kesal melihat Aziz sudah pergi tanpa mau melihat. Hazza kesal karena koper besar itu sudah di tangannya dan pasti akan berakhir di mana. Dengan mulut komat-kamit ia akhirnya menuruti perintah Kakaknya. Hazza yang baik akan menaruh koper di kamar Masnya.
Menang benar adanya Aziz itu usilnya minta ampun sehingga Hazza kesal. Walau begitu Ia begitu menyayangi Masnya lebih dari apa pun. Dia harap dengan kedatangan Masnya sang keponakan lekas sembuh. Sungguh dirinya tahu Ridwan sakit juga karena ke pikiran Umi dan Ayahnya. Hazza yakin setelah menerima dekapan Khumaira akan sembuh.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz sebelum masuk.
Mendengar suara begitu familier bahkan suara yang paling dirindukan sontak Ridwan bangun. Dia langsung menengok ke arah pintu memastikan sesuatu bahwa pendengaran tidak salah. Namun, tidak ada bahkan sampai satu menit berlalu. Raut wajah senang itu berubah drastis menyendu siap menitikkan air mata. Ridwan berpaling menyembunyikan duka karena rasa rindu menggebu.
Aziz belum jadi masuk karena Khumaira terus menelepon. Dia menghembus napas perlahan lalu berlalu dulu untuk mengangkat telepon. Ia tersenyum manis karena Istrinya ngomel-ngomel panjang lebar dan menceritakan keresahan hati perihal Ridwan. Aziz tahu ikatan batin seorang Ibu tidak akan lepas dalam keadaan apa pun.
Dapat di dengar Istrinya menahan tangis mengatakan itu semua. Karena kasihan serta khawatir ia berikan kata-kata penenang demi Istrinya. Bisa gawat jika sampai wanitanya stres akan berimbas pada calon buah hatinya. Demi apa ia tidak akan sanggup melihat wanitanya tertekan di masa mengandung. Aziz sebisa mungkin menenangkan dan berakhir Khumaira tenang.
Setelah menelepon Aziz kembali menuju depan kamar Masnya. Sebelum itu putar arah untuk cuci tangan, muka lalu cuci kaki baru menemui anaknya. Setelah itu perlahan ia raih handle pintu lalu membukanya hati-hati takut Anaknya bangun. Dia kembali mengucap salam pada penghuni kamar setelah melangkah masuk. Aziz menatap depan di mana Ridwan tidur memunggi.
Ridwan tidak mau berharap lebih sehingga memilih bungkam. Ketika suara familier mengucap salam tentu di jawab lirih. Dia belum berani membalik badan karena sangat takut kecewa. Ia bahkan menitikkan air mata merasa aroma parfum ini begitu familier. Ini aroma maskulin Ayah teramat dirindukan. Ridwan mau berbalik mendekap erat Ayahnya lalu mengatakan segalanya.
Hingga akhirnya Ridwan menerima usapan lembut seseorang di rambutnya. Dia semakin yakin ini nyata karena Ayahnya mengecup pelipisnya. Jadi ini nyata kalau Ayahnya datang ke Kediri? Perlahan ia merubah posisi tidur jadi terlentang lalu membuka mata. Hal pertama Ridwan lihat adalah Ayahnya menatap sendu.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, anak tampan, Ayah," salam Aziz begitu lembut.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Ayah," jawab Ridwan bernada parau.
"Anakku sayang, kenapa begini? Ayah rindu dan sangat khawatir, Nak."
"Hiks, Ayah."
Aziz tanpa babibu lagi mendekap Ridwan sembari mengatakan rindu serta ucapan maaf. Di sela rasa rindu ia menitipkan air mata karena suhu tubuh anaknya sangat panas. Ya Allah, pantas saja hati begitu rapuh ternyata anaknya sakit. Mengingat itu ia begitu sedih ingat anaknya sakit tanpa Umi. Aziz akan bawa pulang Ridwan supaya lekas sembuh.
Ridwan membalas dekapan Ayahnya tidak kalah erat. Dia hirup dalam aroma maskulin Ayahnya demi menghilangkan rasa rindu dan pusing. Ia sangat terharu akhirnya Ayah datang membesuknya. Walau harapan hanya pada Uminya teramat dirindukan. Ridwan rindu pada Umi yang senantiasa memberikan segala cinta saat sakit.
"Ayah minta maaf baru bisa datang, Kak. Sungguh Ayah begitu merindukan Kakak serta begitu khawatir. Ya Allah, sesak sekali melihat Kakak begini. Sekali lagi maafkan Ayah, Nak." Aziz berkata sedih mengutarakan isi hatinya. Sesekali ia kecup pelipis Ridwan lalu kembali mendekap erat.
"Um," respons Ridwan belum bisa berkata banyak.
Aziz mengusap keringat dingin Ridwan lalu memberikan ciuman di kening. Dia hendak beranjak mengambil air hangat untuk mengompres anaknya. Namun, apa daya anak sulungnya menggeleng sembari menahan lengan. Ia yang paham apa yang diinginkan anaknya memilih menyandarkan diri di headboard lalu meletakan kepala anaknya dalam pangkuan. Aziz dengan penuh sayang memijat kepala Ridwan dan sesekali mengusap pipi anaknya.
Ridwan tersenyum menerima kasih sayang Aziz begitu besar. Antah kenapa ia sedikit canggung pada Abinya lantaran jarang bertemu. Apa lagi sedari batita sudah di asuh Ayahnya sampai sebesar ini. Jadi wajar ia agak canggung walau sejatinya begitu mencintai Abinya. Ridwan begitu mencintai Abi sepenuh hati begitu pun dengan Ayahnya. Yang jelas dirinya begitu mencintai keduanya walau tersembunyi.
Mungkin karena lelah akhirnya Aziz dan Ridwan tidur. Sang Ayah tidur bersandar di headboard dengan tangan berada di kening sang anak. Sementara si anak tampak pulas setelah empat hari tidur penuh kesakitan. Mereka tidur lelap seolah lupa akan rasa sedih. Baik Aziz atau pun Ridwan sudah lelap dalam mimpi indah.
Posisi tidur begitu manis di saksikan langsung oleh Azzam. Ada sedikit rasa iri karena tidak bisa sedekat itu bersama Ridwan. Andai saja semua tragedi tidak terjadi otomatis anaknya akan selalu bersama. Walau begitu ia sangat bersyukur karena Allah senantiasa menebar kasih sayang pada anaknya. Walau bukan dirinya yang ada di samping anak tersayang setidaknya ada Adiknya. Azzam tidak boleh egois pasalnya Aziz lebih dari segalanya untuk Ridwan.
***≤🍁🍂≥***
Sudah beberapa jam Azzam diam memikirkan banyak hal. Pertama tentang Khumaira karena belum bisa menghubungi Umi dari Anaknya. Saat itu ia mau menghubungi langsung ingat Umi anaknya sedang mengandung trimester akhir. Memikirkan itu tentu saja Azzam tidak mau membebani apa lagi sampai membuat Khumaira stres memikirkan Ridwan.
Kedua ia memikirkan Ridwan begitu dekat dan sangat mencintai Aziz. Itu sangat menyakitkan sehingga ada sedikit rasa iri dihatinya. Iri karena anaknya begitu dekat pada Adiknya. Ia sedikit marah lantaran Adiknya sudah mengambil Khumaira dan Ridwan sementara dirinya? Ketika sadar apa yang dilakukan salah sontak saja Azzam istighfar banyak kali guna meredam betapa keliru pikirannya.
Mahira menyengit melihat Azzam duduk melamun sembari menatap jauh. Dia hendak menegur, tetapi terurung Kantata Suaminya langsung mengucap istighfar. Sebenarnya apa yang ada dalam pikiran Suaminya ini? Karena tidak mau membuat Suaminya kalut Mahira bergegas membuat kopi untuk Azzam.
Tunggu dulu Mahira ingat Azzam pulang cepat ke rumah padahal baru pergi beberapa saat. Sejatinya apa yang terjadi di Ndalem? Bukanya Ridwan begitu membutuhkan Abinya? Lalu kenapa Suaminya tampak layu setelah pulang dari Ndalem? Mahira jadi sedih memikirkan itu bahkan sampai lupa memberitahu perihal kehamilannya. Setelah selesai membuat kopi ia berjalan menuju kamar tempat Suaminya berada. Ngomong-ngomong ketiga anaknya sedang tidur siang makanya bisa menghabiskan waktu banyak.
"Mas gih minum dulu," pinta Mahira.
"Terima kasih, Dek," sahut Azzam.
Azzam mengucap Bismillahirrahmanirrahim Kemudian menyeruput kopi hitam tanpa gula. Dia masih bungkam bahkan tanpa sadar menghabiskan kopi tanpa sisa. Ia masih ke pikiran anaknya sangat senang Aziz datang. Azzam ingat betapa bahagianya Ridwan tidur lelap dalam pangkuan Aziz.
Mahira terdiam seribu bahasa melihat Azzam begitu beda. Dia sedikit paham betapa berat Suaminya menghadapi Ridwan sudah besar mulai canggung. Pasti itu pokok utama Suaminya berpikir begitu. Ia sangat tahu betapa pentingnya anak manis itu untuk Suaminya. Bagaimana tidak karena Ridwan adalah anak pertama Azzam sehingga Mahira tahu betapa besar cinta sang Suami untuk si sulung.
"Mas, ada masalah?"
"Tidak ada."
"Mas, katakan saja semua karena Adek ini Istri, Mas!"
"Mas cemburu pada Tole Aziz. Dia begitu dicintai Tole Ridwan."
Pada akhirnya Azzam mengutarakan isi hatinya pada Mahira. Ia benar cemburu karena anaknya begitu lengket pada Adiknya. Jika diingat kembali dia merasa sakit jika ingat dulu karena dari awal anaknya lengket pada Adiknya. Azzam ingat betapa Ridwan mencintai Aziz sedari bayi.
Memikirkan itu tentu saja membuat Azzam sedih ke pikiran Ridwan. Dia mau anaknya dekat padanya atau melabuhkan segala keluh kesah akibat rindu. Apa salahnya ia cemburu pada Adiknya? Sepertinya tidak salah karena Ridwan adalah lambang cinta pada masa lalunya. Azzam masih di landa kesedihan menyebabkan agak beda.
Mahira tersenyum lembut mendengar kecemburuan Azzam. Dia mendekat lalu mendekap kepala Suaminya di dada. Ia usap kepala Suaminya dada lalu memberikan ciuman lembut pada puncak kepala. Senyum terukir indah saat Suaminya mengeratkan dekapan. Mahira tidak keberatan menerima pelukan erat asal Azzam tenang dari rasa cemburu.
Di rasa cukup Mahira duduk dalam pangkuan Azzam. Antah kenapa tubuhnya lemah jika berdiri terlalu lama sehingga membuat lemas. Alternatif utama duduk manis dalam pangkuan Suaminya. Sungguh ia begitu senang mengandung buah cinta Suaminya. Walau kini Mahira agak lemah mengandung si kecil.
"Sudah tenang?"
"Hm."
"Mas, itu wajar jika cemburu begitu. Jangan merasa begitu karena Adik ipar sudah memiliki peran penting mengasuh Tole Ridwan. Bayangkan sedari bayi Adik ipar menjaga Tole dengan penuh cinta. Jadi sudah jelas dan untuk kecanggungan itu pasti terjadi padanya. Mas tidak ada untuk Tole akibat tragedi itu. Maka jelas rasa canggung akan muncul. Namun, yakinlah cinta Tole Ridwan sama besarnya untuk Mas. Jangan sedih yakinlah Tole Ridwan begitu mencintai Mas walau tertutup kecanggungan. Jangan sedih ya Mas karena Tole Ridwan begitu cinta."
"....."
Azzam terdiam mendengar penuturan Mahira. Dia perlahan tersenyum manis ketika sadar apa yang diucapkan benar adanya. Benar adanya Ridwan begitu mencintainya begitu pun sebaliknya. Walau canggung, tetapi hati terdapat ribuan kasih sayang serta cinta. Azzam begitu senang akhirnya Mahira membuka hatinya yang gundah.
Setelah hati nyaman kembali Azzam mendekap tubuh Mahira selembut mungkin. Dia tidak salah melabuhkan hati pada wanita tangguh ini. Setidaknya selama tiga tahun pernikahan ini kali pertama dirinya begitu bahagia. Bahagia bisa mendapatkan wanita ini. Azzam janji akan membahagiakan Mahira dalam suka maupun duka.
Mahira tersenyum lembut menerima dekapan Azzam. Inilah kesejukan di mana Suaminya begitu manis setiap hari. Walau belum pernah menerima ungkapan cinta, tetapi ini sangat cukup. Ia tahu dalam hati Suaminya sudah terisi namanya. Walau nama Khumaira masih tersimpan rapi. Ingat itu Mahira tersenyum walau jadi yang terakhir setidaknya inilah kisah cintanya.
Selama apa pun Mahira akan menunggu Azzam katakan cinta. Jika sudah terungkap maka lengkap sudah hidup penuh cinta. Semoga saja ini adalah jalan cinta menuju kebahagiaan sesungguhnya. Dia akhirnya menyandarkan kepalanya di bahu lebar Suaminya sembari menikmati keindahan bersama. Mahira tidak bisa melepas senang menerima segalanya.
"Mas sudah baikkan bukan? Gih temui Tole Ridwan dan Adik ipar."
"Nanti saja karena Mas rindu, Adek."
"Serius nih?"
"Serius, Sayang."
"Mas jangan goda, Adek! Mas ada hadiah terindah untuk Mas, loh. Yakin bakal hapus kegundahan Mas."
"Tidak goda karena itu nyata, Dek. Apa itu?"
"Tunggu Adek ambil dulu. Tunggu ya!"
"Baik."
Mahira turun dari pangkuan Azzam kemudian berjalan ke kamar mengambil kotak kecil berisi test pack . Semoga saja hadiah kali ini berhasil membuat Suaminya senang. Ia akan tunjukan ini agar menghapus duka Suaminya. Walau sesaat setidaknya Mahira ingin Azzam tersenyum lagi.
Azzam menunggu Mahira sembari memainkan rubik milik Zayn. Dia ingat anak-anak sedang istirahat maka dari itu bisa menghabiskan waktu lama. Ngomong-ngomong sudah sehari ia tidak pulang ke rumah karena menjaga putra sulung. Jadi rindu anak-anaknya yang manis terutama teman tidurnya. Azzam tersenyum ketika orang yang dipikirkan datang membawa kotak kecil. Apa Istrinya mau memberikan arloji?
"Untuk Masku Azzam!" Tegas Mahira sembari menyerahkan kotak kecil.
"Apa ini?" Tanya Azzam penasaran.
"Hadiah terindah!"
"Terima kasih, akan Mas buka."
Tangan kekar Azzam membuka kotak itu dengan perasaan campur aduk. Sejatinya apa hadiahnya sampai di bilang terindah? Memikirkan isinya membuat pusing sehingga lebih cepat membuka. Dan terbuka sudah isi dalam kotak berisi benda pipih garis dua. Azzam mengerjap beberapa kali lalu mengambil benda itu dan menatap Mahira begitu dalam.
Tunggu jangan bilang Mahira mengandung lagi? Azzam tidak bodoh tanpa bisa mengartikan itu semua. Detik itu juga ia dekap Istrinya sembari mengucap syukur kepada Allah telah memberikan limpahan kebahagiaan. Dia begitu bahagia Istrinya mengandung lagi dan artinya kebahagiaan akan selalu menyertai. Allahu Akbar, Maha Besar Allah telah berkenan memberikan malaikat kecil untuk di jaga.
Mahira tersenyum lembut mendapat respons Azzam begitu mengharukan. Apa lagi Suaminya begitu romantis setelah mengucapkan syukur pada Allah. Usai itu Suaminya menciumi wajahnya tanpa terlewatkan seinci pun. Hingga Suaminya mengajak berdiri dan hal manis terjadi. Mata Mahira berembun menerima semua takdir yang Azzam berikan.
***'🍂🍁🍂'***
At Berbah Sleman Yogyakarta - 01:30 PM!
Aziz dan Ridwan sudah sampai di rumah setelah melakukan perjalanan kurang lebih empat jam. Keduanya pulang menggunakan mobil Nakhwan setelah di izinkan pulang. Masih ingat ketika Azzam meminta Aziz menjaga Aziz dalam perjalanan. Sedangkan Ridwan merasa tidak enak hati pada Abinya malah pulang ikut Ayah. Namun, apa daya ia ingin sehat dengan alternatif terbaik bertemu Uminya.
Penjaga rumah Aziz turun membantu majikan membawa barang bawaan. Dia tersenyum ketika pemilik rumah tersenyum tipis meminta bantuan. Dia ambil koper dan ransel lalu mempersilakan tuan rumah jalan duluan.
Aziz membantu Ridwan jalan pasalnya sang putra masih lemah. Jika masih umur sepuluh tahun sudah ia gendong koala sang putra. Karena tidak tega melihat anaknya begini dia putuskan menggendong anaknya di punggung. Walau awalnya di tolak halus anaknya, tetapi ia yang keras kepala pasti memaksa. Alhasil kini Ridwan sudah berada dalam gendongan Aziz.
Ridwan tersenyum manis ketika Ayahnya menggendongnya. Ia jadi ingat dulu ketika sakit Ayahnya akan menggendongnya dengan mengatakan banyak kata penenang. Dia sangat rindu di mana Ayahnya begitu perhatian. Ingat itu tentu saja menambah kerinduan yang membludak dihati. Ridwan rasanya mau balik ke masa kecil umur delapan tahun ke bawah di mana Ayah begitu telaten mengurus dikala sakit.
Penjaga rumah Aziz menekan bel pintu beberapa kali. Tidak lama pintu terbuka menampilkan seorang wanita sekitar 40 tahunan. Dia itu asisten rumah tangga yang cukup dipercaya pemilik rumah. ART itu membalas salam Aziz lalu membiarkan pemilik rumah masuk.
Aziz mengedarkan pandangan ke penjuru ruangan, tetapi apa yang di cari tidak ada. Di mana Istri dan anak-anaknya? Ia menatap ART minta kejelasan di mana Istri dan anak-anaknya? Ah ia lupa pasti mereka sedang tidur siang. Aziz tersenyum setelah menerima jawaban ART. Dia bergegas jalan menuju kamarnya yang ada di lantai dasar.
"Ayah, pasti Umi dan Kakak cilik serta Dedek sedang tidur siang," lirih Ridwan.
"Iya, tidak apa kita ikut tidur juga ya, Kak. Gimana apa Kakak semakin pusing?" Terang Aziz lalu menengok samping melihat Ridwan sedang menyandarkan kepala di bahunya.
"Um," lirih Ridwan.
"....."
Aziz tersenyum ketika penjaga rumahnya membantu membuka pintu. Namun, terkunci kebiasaan Istrinya jika sedang tidur selalu mengunci pintu. Dia meminta Paman Paino mengetuk pintu hati-hati supaya tidak mengganggu Istri dan anak-anaknya sedang tidur. Aziz pada akhirnya menurunkan Ridwan karena tidak ada sahutan dari dalam. Yakin seribu persen jika ia yang ketik lalu mendengar suaranya pasti Khumaira langsung bangun.
Benar saja Khumaira langsung membuka mata mendengar ketukan khas serta suara teramat dirindukan. Sudah delapan hari Suaminya pergi ke Pekanbaru untuk urusan kerjaan. Katanya suaminya akan pulang lima hari lagi. Lalu itu apa? Khumaira langsung tersenyum lebar Aziz sudah pulang. Sebelum beranjak ia kecup kening Mumtaaz dan Faakhira yang tertidur pulas.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Dek!" Salam Aziz pelan supaya dua anaknya tidak bangun.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas." Khumaira menjawab lirih.
Khumaira berjalan hati-hati karena langkahnya tidak bisa leluasa. Dia ingat besok adalah jadwal pemeriksaan kandungan. Kebetulan besok usia kandungannya masuk Minggu ke 36. Kurang dua Minggu Insya Allah sang buah hati akan melihat dunia. Ya Allah jika ingat itu tentu saja membuat Khumaira senang sang buah hati akan segara lahir.
Aziz tersenyum saat pintu terbuka menampilkan Khumaira tampak manis menggunakan daster dan hijab Rabbani. Dia mau mendekap atau mencium bibir, tetapi langsung sadar situasi dan kondisi. Ia langsung sadar ketika ingat ada Ridwan di sini apa lagi ada Paman Paino. Masak iya mau gitu bahaya. Aziz tersenyum karena mengatur rasa rindu lalu memberikan senyum misterius karena Khumaira belum tahu ada Ridwan.
"Mas, kenapa tidak memberitahu akan pulang cepat? Lalu kenapa dua hari tidak mengangkat panggilan, Adek? Mas tahu kan Adek ingin bilang betapa resah hati memikirkan Tole Ridwan. Sekarang Mas pulang tanpa memberitahu terlebih dahulu. Sekarang Mas malah menyengir kuda begitu. Ngga lucu!" Omel Khumaira sembari mengulurkan tangan minta salaman.
"Hn, maaf." Aziz menerima uluran tangan Khumaira.
Khumaira tidak ambil pusing pada penjaga seusia Pamannya. Otomatis sudah dekat seperti keluarga jadi tidak pernah canggung. Tunggu ia mencium tubuh Aziz parfum lembut anaknya. Ini parfum juga milik keluarga Suaminya. Apa Suaminya sedang pakai parfum sama seperti mereka? Karena ingin lebih keluar Khumaira bisa melihat Ridwan duduk manis di kursi dekat pintu.
Mata besar Khumaira berkaca-kaca menatap Ridwan ada di depannya. Ia langsung menitikkan air mata melihat anaknya pucat pasi. Tanpa babibu lagi ia berjalan ke arah anak sulungnya. Setelah sampai ia usap wajah tampan anaknya lalu memberikan kecupan setiap jengkal wajah sang anak. Khumaira langsung mendekap Ridwan di dadanya ketika merasakan suhu tubuh Ridwan begitu panas.
Sungguh beribu rasa senang Ridwan rasakan mendengar suara Uminya. Hingga akhirnya Umi tersadar ada dirinya menatap dalam. Dia teramat senang akhirnya bisa menerima usapan dan kecupan lembut Uminya. Dalam hati ia terus mengucap syukur kepada Allah telah memberikan segala kebahagiaan karena bertemu sang Umi. Ridwan sangat terharu sampai tidak bisa berkata apa-apa selain menangis.
Hingga akhirnya Ridwan menerima dekapan hangat Uminya. Tentu saja ia langsung membalas dekapan Uminya tidak kalah erat. Tetapi, tidak sampai menekan perut buncit Umi yang sedang mengandung tua. Sungguh tidak sabar bisa melihat Dedek baru otomatis punya tiga Adik tercinta. Ridwan jadi rindu Mumtaaz dan Faakhira yang sedang tidur lelap.
"Anakku sayang ya Allah. Ya Allah, kenapa bisa begini? Nak, Hiks maafkan Umi tidak bisa menjaga, Tole. Hiks anakku yang malang. Maaf, maafkan, Umi."
"Sstt, Kakak sudah sehat Umi jangan sedih lagi ya. Dengan menerima pelukan Ini sakit Kakak sirna. Kakak sudah sembuh, Umi jangan menangis."
"Hiks, pantas saja Ini begitu gelisah ternyata anakku sakit. Umi tidak sanggup melihat anak Umi sakit. Maafkan Umi tidak bisa leluasa menjenguk, Tole. Ya Allah, Anakku sayang Umi sangat sedih. Umi akan mendekap Tole agar lekas sembuh. Ya Allah, sesak sekali, Nak."
"Kakak sudah sembuh berkat Ayah dan Umi. Jangan sedih Kakak mohon. Ada Abi, Mbah Kakung dan Mbah Uti serta yang lain siap menjaga Tole. Jadi jangan khawatir, Kakak mohon."
Khumaira mengangguk lalu duduk di samping anaknya. Dia dekap anaknya dan sesekali memberikan ciuman di ubun-ubun. Ia begitu sedih walau ada kelegaan bisa meraih putranya. Khumaira akan menjaga Ridwan agar lekas sembuh.
Aziz mendekat ke arah Khumaira dan Ridwan. Dia ikut mendekap dua malaikat yang sangat dicintai. Walau ada tiga Malaikat lagi yang masih lelap. Dia senang putranya bisa tenang dalam dekapan Umi. Kalau begini Aziz yakin besok Ridwan sudah sembuh.
Momen haru itu di saksikan asisten rumah tangga dan penjaga rumah. Mereka terharu akan cinta keluarga kecil teramat harmonis. Kadang mereka iri ingin mendapat keluarga penuh cinta. Dengan adanya Aziz dan Khumaira telah memberikan pintu pembelajaran bagi mereka.
Sungguh rasa haru juga melingkupi Mumtaaz dan Faakhira yang baru bangun karena mendengar suara Umi, Ayah dan Kakaknya. Tentu saja keduanya langsung mengacir melihat apa benar Ayah dan kakak tersayang benar. Senyum merekah melihat Ayah sudah pulang dan senyum tambah lebar melihat Umi mendekap Kakaknya. Mumtaaz dan Faakhira langsung menyempil di antara mereka. Dengan begini mereka saling mendekap.
Ridwan tersenyum haru melihat Mumtaaz dan Faakhira ikut menyempil. Dua Adik kesayangannya yang akan selalu dirindukan. Dua Adik terus dijaganya walau Mumtaaz jahilnya minta ampun. Sedangkan Faakhira Adik paling manis walau kadang usil. Ridwan begitu bahagia melihat mereka sampai rasa sakitnya hilang tanpa dirasakan.
Aziz dan Khumaira mendekap tiga anak-anak manis. Air mata haru karena berkumpul lagi walau hanya sesaat karena Ridwan akan kembali ke pesantren. Demi menghabiskan waktu mereka akan menghabiskan waktu lama. Sungguh keduanya begitu senang tiga anak rupawan berkumpul. Aziz dan Khumaira tersenyum bisa mendekap mereka lalu bergantian mencium ubun-ubun tiga anak tercinta.
***'~💖💞💖~'***
Aziz dan Khumaira sedang menghabiskan malam setelah menidurkan Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira di kamar anak-anak manis. Alhasil kini mereka balik ke kamar inti milik berdua. Keduanya saling menikmati hari yang menyenangkan. Aziz dan Khumaira begitu bahagia bisa menghabiskan waktu bersama Ridwan serta dia anak manis.
Khumaira masih diam sembari memainkan kancing kemeja Aziz. Antah kenapa semenjak hamil ia lebih suka memuat Suaminya pakai kemeja atau pakaian yang memiliki kancing. Intinya ia ingin bermain kancing lalu membuka pakaian Suaminya sampai tuntas. Khumaira merasa mesum lantaran delapan hari tanpa sentuhan Aziz.
Aziz tersenyum saat Khumaira sudah mulai bereaksi pada kancing kemejanya. Bisa-bisa jadi toples kalau sudah di kerjai wanitanya. Dari pada menghentikan akan berakhir merajuk lebih baik menerima saja. Lihat Istrinya semakin turun memijat perutnya yang masih penuh otot. Ingat ini Aziz akan terus menjaga bentuk tubuhnya agar tidak aneh. Membayangkan perut buncit membuatnya meringis ngilu. Jangan sampai perut penuh ABS jadi buncit.
Semua kenakalan terjadi di mana Khumaira sudah melakukan hal gila. Dia pijat pelan inti Suaminya sudah mulai tegang akibat ereksi. Ia mengukir senyum manis di mana Suaminya telah menyentuh tangannya. Dia tahu Aziz ingin lebih oleh sebab itu hanya mengukir senyum. Khumaira hendak melakukan sesuatu, tetapi Aziz hentikan.
"Hm, Mas capek Dek. Besok lagi sampai puas."
"Memang siapa yang mau minta itu?"
"Adek."
"Ya Allah, percaya diri."
"Ya sudah Mas tidur dulu."
"Jangan, temani Adek terjaga."
"Hm."
"Mas Cinta Adek?"
"Hn."
"Cinta karena apa?"
"Hm."
"Aish, serius loh Mas!"
"Hm."
"Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Sungguh atas segala Dzat yang Maha Cinta akan semua kesaksian bahwa Adek sangat mencintai Mas. Adek begitu mencintai Mas karena Allah!"
"Mas juga."
"Yang lengkap, Mas masak cuma itu!"
"Mas juga sangat mencintai Adek sepenuh hati dan atas nama Allah cinta Mas akan selalu bersinar selamanya. Hanya pada-Nya akan Mas labuhkan cinta untuk sang Pencipta alam semesta. Sementara untuk hamba-Nya akan Mas labuhkan selamanya cinta itu pada, Adek!"
"Mas Aziz."
Aziz tersenyum manis menerima respons Khumaira. Dia perlahan mendekap tubuh Istrinya sebelum memberikan ciuman sayang. Ia sangat bahagia di hari penuh cinta ini telah datang kebahagiaan. Sungguh demi segala cinta Aziz akan labuhkan semua kasih sayang walau sedari. Awal selalu memberikan kasih sayang.
Mendapatkan Khumaira adalah suatu kebahagiaan terbesar. Walau banyak halang rintang menghadang, tetapi dirinya kuat menghadapi. Atas semua kesabaran, keikhlasan, ketawakalan dan semua diserahkan kepada Allah di landasan ikhtiar maka semua akan mudah. Walau awalnya begitu pelik namun hasil akhir begitu memuaskan. Aziz begitu bersyukur Allah berkenan senantiasa memberikan segala cinta untuknya.
Bagi di padang taman yang begitu indah telah terhias banyak sekali bunga, tanaman ikonik, pepohonan dan segala keanekaragaman terasa menyejukkan. Itulah yang dirasakan Khumaira perihal datangnya Aziz dalam hidupnya. Walau awal bersama layaknya Padang tandus tanpa ada sebuah harapan. Namun, lihat kini semua terasa indah layaknya irama melodi yang menyejukkan. Khumaira begitu senang serta sangat bersyukur Allah begitu pemurah memberikan limpahan kebahagiaan.
Tiada daya upaya yang Allah janjikan pada hamba-Nya senantiasa menyembah begitu tulus. Yakin akan ada pelangi seta tempat paling indah untuk orang-orang begitu mencintai serta menaati peraturan Allah. Itu yang akan mereka rasakan dan semoga saja Kita senantiasa berserah diri kepada Allah dan semoga Allah berkenan mempertemukan pada Baginda Rasulullah Saw, Aamiin.
Pada akhirnya Aziz dan Khumaira memutuskan tidur. Keduanya berharap saat terbangun nanti ada pancaran baru karena kedatangan Ridwan. Anak sulung yang begitu dirindukan oleh mereka. Keduanya senantiasa merindukan anak sulung begitu pun dengan anak-anak yang lainya. Aziz dan Khumaira akan selalu bersyukur atas apa yang diberikan Allah untuk mereka.
Aziz dan Khumaira begitu bersyukur Allah telah berkenan memberikan kebahagiaan. Terlihat bahagia itulah yang dirasakan keduanya atas karunia-Nya. Semoga besok pagi saat pemeriksaan si kecil akan berjalan lancar. Terlebih Faakhira akan senang Ridwan pulang apa lagi si tampan Mumtaaz tidak akan main. Alhasil besok bisa dating romantis berdua, asyik. Kesempatan ada Ridwan bisa di ambil Aziz dan Khumaira kencan menghabiskan waktu di Jonggol eh bukan maksudnya di tempat syahdu.
Cut .....!!!!
Asli ini Chapter paling panjang dan paling romantis menurutku. Eyakkkk!
Mau panjang kayak gini lagi?
Cus vote, like, komen yang banyak ok.
Maaf belum tak koreksi jadi kalau banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.
Sayang kalian semua!
Semoga puasa hari ini lancar ya All.
Semoga ibadah puasa pertama diterima dan penuh berkah.
Semoga kalian senantiasa dalam perlindungan Allah.
Semoga kita semua tetap sehat sampai datangnya hari kemerdekaan yaitu saat Allah ganjar puasa kita dengan cinta. Kurang 29 hari kita merdeka jadi tetap kuat dan senantiasa berbuat kebaikan!
"Berbanggalah pada diri sendiri karena membuat karya sendiri. jangan sedih jika karya hanya segelintir viewers karena orang sukses itu berasal dari nol.
Tetap optimis dalam berkarya Insya Allah akan membuahkan hasil memuaskan!
Dan ingatlah jika kamu terkenal karena curang misal plagiat maka itu semua kebohongan belaka. Kalian sukses di balik kepedihan air mata diri sendiri.
Maka terus berjuang dari nol maka lihat hasil akhir tidak akan mengingkari."
Tembus 700+++ update cepat.
Komentar harus 70+ ya.
Mode maksa eyak!
I love you Guys!
See you again.
Rose!
24*04*20