Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Pekerjaan Baru serta Siasat Baru!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini


🙏🙏🙏


👇👇👇


*.*.*.*


Aziz meminta Polisi yang datang ke kantor untuk menemaninya ke Bank. Tujuannya satu untuk mencairkan tabungan guna membayar semua tagihan uang kantor. Dia tersenyum saja ketika para Polisi menatap tidak percaya padanya. Aziz tahu isi pikiran para polisi yang sangat terkejut.


Para polisi tidak percaya orang di depannya punya uang sebanyak itu. Sebenarnya siap pria dewasa di depan mereka ini? Kenapa rasanya mereka tidak percaya ada seorang yang mau membayar denda sebanyak itu? Sepertinya pria ini difitnah oleh seseorang agar lengser.


"Saya tidak korupsi, tetapi kalian menuduh tanpa mencari kebenaran. Saya yakin kebenaran akan segera terungkap. Jika saya terbukti tidak bersalah, saya mohon beri keadilan!" tegas Aziz pada polisi.


Para Polisi mengaguk dan akan menguak kasus ini sampai tuntas. Belum sempat terkejut mereka terbelalak ketika apartemen di Kulon Progo tidak terjual. Bahkan pria itu mampu melunasi hutang tanpa menjual rumah. Ya Tuhan, seberapa kaya pria ini sampai bisa mengembalikan uang kantor tanpa menyenggol apartemen dan rumah?


"Saya akan menguak siapa yang bersalah atas kasus ini. Lalu Anda mendapat uang dari mana?" tanya inspektur Polisi menggali rasa penasaran.


"Saya mulai menabung dari masa Kuliah. Sudah sampai, mari kita ke ruang komisaris untuk menyerahkan uang ini."


"Baiklah, tunggu Anda santai sekali kehilangan banyak uang saat Anda sendiri di tuduh korupsi?" celetuk salah satu Polisi.


Aziz tersenyum tipis mendengar celetukkan salah satu dari mereka. Sungguh jika dia tidak punya penyemangat mana bisa bertahan dan santai. Berkat Khumaira dan anak-anak ia mampu berdiri kokoh. Aziz patut bersyukur Istri dan dua anaknya telah menjadi pelangi meneduhkan untuknya.


"Uang itu bisa di cari lagi, tetapi saya tidak akan mampu kehilangan keluarga. Saya santai seperti ini karena ada sosok Istri dan anak-anak yang menyemangati di kala duka. Mereka begitu baik memberikan dukungan dan yakin bahwa saya tidak bersalah. Saya ikhlas di tuduh tidak adil, tetapi saya malah bahagia karena dengan masalah ini saya mendapat banyak cinta. Dukungan selalu saya raih oleh orang yang tulus. Saya yakin entah kapan orang yang menuduh saya akan tersadar dari perbuatannya. Semoga Allah, menyadarkan mereka dari sikap iri dengki dan kembali ke jalan yang lurus, Amin."


Aziz tersenyum teduh mengingat Khumaira dan anak-anak. Sungguh kekuatan terbesarnya adalah keluarga. Dia ikhlas melewati badai asal bersama mereka yang setia menggenggam tangan. Dia tidak peduli akan masalah rumit karena yang dipedulikan hanya mereka. Aziz tidak peduli bagaimana sulitnya cobaan asal ada Khumaira pasti dirinya tetap kukuh.


Para Polisi terperangah mendengar jawaban Aziz. Mereka semakin yakin bahwa orang di depannya tidak bersalah. Dari keterangan Herlambang, pria ini sangatlah baik dan pekerja keras. Mereka akan membantu Herlambang dan Aziz menyelesaikan kasus ini sampai tuntas. Apa pun caranya merek akan cari dalang DARI Fitnah yang menimpa Aziz.


Dalam ruangan khusus komisaris, Aziz datang bersama 5 Polisi. Dia menyerahkan satu koper uang miliar-an pada komisaris. Semua telah ada di koper ini sehingga ia akan bebas dari semuanya. Toh Aziz tidak peduli uang sebanyak itu telah raib dari tangannya.


Dalam ruangan ada Direktur yang sangat marah padanya. Aziz tidak masalah atas tatapan nyalang Bima. Toh dirinya tidak salah kenapa merasa ciut? Sedari awal ia berani karena komisaris percaya padanya. Aziz akan tunjukan pada semua orang dirinya tidak salah atau berani mengambil uang karyawan.


"Pak komisaris saya sudah membawa uangnya. Saya berharap semua ini cukup membebaskan saya. Pak, terima kasih sudah percaya pada saya. Oh iya, apartemen mewah yang di beli atas nama saya akan menjadi aset perusahan. Satu bulan lagi akan ada proyek di Kalimantan. Saya sudah mendesain dan merancang semua di dokumen ini. Semoga perusahan tetap terjaga dari orang jahat serta selalu sukses. Semua sudah selesai, saya undur diri."


Aziz menyeruakan semua agar lurus tanpa ada kesalahpahaman. Mata tajam berpupil cokelat itu terasa sangat damai seolah itu hal biasa. Dia tersenyum ketika Herlambang dan dewan penting perusahan menatap dirinya tidak percaya. Rasa haru melingkupi hati ketika Bosnya menepuk bahunya. Aziz tidak akan pernah melupakan kebaikan Herlambang yang sangat baik.


Herlambang tidak mampu menjabarkan betapa bangganya pada Aziz. Pria ini sangatlah tulus, jujur dan sabar menghadapi semuanya. Dia tidak akan mengampuni orang yang tega menghancurkan Aziz. Ia akan menegakan keadilan atas nama pria ini. Semoga Allah selalu menjaga Aziz dalam segala mara bahaya.


Bima dan para petinggi perusahaan terdiam kaku mendengar penjelasan Aziz. Mereka tidak percaya pemuda ini begitu luar biasa. Mana ada seorang koruptor mau mengeluarkan uang sebanyak itu. Lebih mencengangkan masih mau menyumbangkan ide untuk proyek dan apartemen itu tetap aman. Apa mereka salah paham?


"Saya sangat salut pada Anda yang sabar menerima ini semua. Saya janji jika Anda terbukti tidak bersalah maka uang ini akan kembali ke tangan Anda. Saya tahu seberapa keras Anda menabung uang sebanyak ini. Bahkan dengan senang hati saya akan berikan apartemen itu untuk Anda. Jangan khawatir Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Allah akan memberikan keadilan untuk hamba-Nya yang taat. Saya sangat salut pada Anda, Pak Aziz. Sekarang berjuanglah bersama kami untuk mencari tahu kebenaran itu. Saya menunggu Anda kembali ke kantor saya. Jangan pernah berhenti berdoa pada Allah untuk semuanya. Saya tidak mampu menahan karena ini sudah menjadi konsekuensi. Tetapi, jika bukti sudah ada maka Anda harus kembali!"


Herlambang memberikan pelukan agar Aziz kuat. Semoga dengan ucapan tadi pria ini mampu menjalani hari berat. Dia akan selalu berdoa agar pengusaha kebanggaannya bebas dari jeratan fitnah. Herlambang melepas pelukannya dan kembali menepuk bahu Aziz penuh arti.


Aziz tersenyum haru mendengar perkataan Herlambang. Sungguh Bosnya ini sangatlah baik untuk ukuran Bos. Dia akan berjuang agar kembali ke sini. Berusaha keras agar Herlambang tidak kecewa. Pria paruh baya yang sudah Aziz anggap Ayah sendiri sangat dihormati. Semoga Allah memberikan kesehatan selalu pada Herlambang, Amin.


Bima dan yang lainnya terpaku melihat Aziz dan Herlambang. Mereka merasa tertohok akan sebuah kesalahan besar yang mereka lakukan. Apa lagi Herlambang sangatlah tegas mampu berucap begitu artinya semua benar. Mungkin benar adanya bahwa Aziz telah terjebak dengan fitnah kejam. Mereka hanya bisa diam seraya menyimpan kata maaf. Semoga kebenaran segera terungkap maka Bima dan para petinggi perusahaan meminta maaf.


Usai melakukan itu semua Aziz pamit di iringi para polisi. Toh dirinya sudah bebas dari semuanya itu artinya lembaran baru telah terbuka. Kini tujuan satu bekerja keras demi anak-anak dan Istrinya. Aziz tidak akan menyerah bekerja serta menabung dari nol. Semua itu demi mencukupi kebutuhan keluarga terutama Khumaira dan dua Anaknya.


*,*,*,*


Aziz kembali menjadi Dosen di Universitas Gadjah Mada setelah tiga tahun keluar. Dia tersenyum tulus ketika mereka menerimanya dengan senang hati. Ia tidak percaya ada tempat untuknya kembali ke tempat ini. Aziz akan bekerja keras demi universitas serta anak-anak didiknya.


Para Dosen dan dewan Kampus begitu senang akhirnya Aziz kembali. Walau mereka tahu Aziz hanya sementara bekerja di sini. Tetapi, mereka begitu senang Dosen muda berbakat telah datang kembali. Siapa yang tidak bangga Aziz datang bekerja kembali? Semenjak kedatangan pria ini kampusnya dulu maju pesat akan metode baru bahkan pria itu begitu gigih mendidik para Mahasiswa dan Mahasiswi.


Lain sisi ada dua orang yang merencanakan kejahatan. Pria itu sangat berang mendengar Aziz tidak di penjara dan apa itu si bodoh telah berhasil melunasi hutang kantor tanpa menjual rumah. Parahnya Aziz sudah mendapatkan pekerjaan baru. Ya Tuhan, dia sangat marah mendengar itu semua.


Beda halnya dengan orang yang memfitnah Aziz tampak senang. Temannya bisa kembali bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Jujur saja ia merasa bersalah sekaligus bangga pada temannya itu. Hanya saja ia tidak bisa melakukan hal lebih selain bekerja sama dengan pria gila didepannya.


"Aku tidak terima dia bahagia barang sedetik saja. Aku akan merencanakan lebih parah lagi yaitu sebuah sabotase untuk melenyapkan ******** itu seolah terjadi kecelakaan. Aku tidak akan membiarkan dia lolos kali ini. Khumaira harus jadi milikku tanpa kecuali. Jika si sialan itu hidup maka semua terasa menyedihkan. Dia harus mati dalam sabotase kali ini," pungkas pria itu sangat kejam.


"Astaghfirullahaladzim, Anda jangan gila melakukan itu, Tuan. Aziz teman saya mana tega saya melihat dia meninggal. Jangan main-main dengan kematian, Tuan," geram orang yang jadi partner.


"Diamlah, kamu hanya butuh diam karena saya yang akan melakukan sabotase itu. Saya akan membuat Aziz mati dan tidak akan selamat dalam kecelakaan. Kamu jangan sok jadi teman dari ********. Ya, walau kamu temannya tetapi kamu sudah menusuk dari belakang. Terima saja kenyataan kalau kamu juga terlibat melakukan konspirasi ini. Lihat aku akan mendapatkan Khumaira dan kamu melihat kematian temanmu!"


Pria itu langsung pergi setelah mengatakan kalimat tajam itu. Dia berlalu begitu saja dengan tawa iblis. Semua akan indah jika Khumaira menjadi miliknya. Ia akan menghancurkan Aziz sampai akar jikalau hidup maka semua kekalahan menyertainya.


Orang itu jatuh ke tanah dengan pandangan kosong. Dia menyesal telah terpengaruh oleh orang kejam itu. Dia harus bagaimana untuk menolong Aziz? Tidak mungkin dia muncul dan mengatakan segalanya. Orang itu belum mau di penjara atas dosanya. Tetapi, nyawa temannya dalam bahaya.


"Maafkan aku, Aziz. Semoga Allah selalu melindungimu dari kejahatan pria itu. Aku menyesal tetapi belum berani mengatakan kejujuran. Sekali lagi maafkan aku."


Pria itu menghapus air matanya merasa berdosa telah terjebak. Dirinya harus bisa menyelamatkan sahabatnya dari si bengis. Namun,apa yang harus ia lakukan jikalau ia jujur? Dia belum mau dipenjara atas konspirasi itu. Kini harapan pria itu agar Aziz bertahan atau lolos dari rencana orang gila itu.


*.*.*.*


Aziz mengajar para Mahasiswa fakultas Ekonomi dan Bisnis secara gamblang. Saat bekerja ia merasa sangat senang pasalnya ditemani si kecil gembul. Senyum terukir ketika Mumtaaz meminta permen pada salah satu dari mereka. Iya si kecil merengek minta ikut kerja tadi pagi. Dan di sinilah Mumtaaz sedang duduk manis seraya mengemut permen lollipop. Aziz senang anaknya tidak rewel malah terkesan menjadi penyemangat sekaligus boneka hidup yang sangat menggemaskan.


Para Mahasiswa dan Mahasiswa tampak gemas melihat wajah menggemaskan si kecil. Mereka tidak kuasa menahan pekikak ketika Mumtaaz merengek minta permen lagi. Jika minta permen satu toko yakinlah mereka siap berikan demi anak tampan nan menggemaskan itu.


Aziz mendekat ke arah Mumtaaz supaya tidak nakal minta permen. Dia jadi ingat si kecil masih menyusu, lalu susu itu di taruh di dot sedang. Benar saja Mumtaaz minta gendong karena sudah haus. Tentu ia gendong tubuh gempal anaknya untuk memberikan ASI dalam dot. Aziz tersenyum pada mereka telah di ganggu anaknya. Setelah itu kembali ke depan menaruh Mumtaaz di kursi khusus Dosen.


Mumtaaz duduk manis di kursi seraya menyedot air susu di dalam dot. Kakinya bergerak lincah sesekali mata bulatnya menatap Aziz berbinar. Ayahnya berbicara panjang lebar entah ia tidak tahu bilang apa. Mumtaaz yang manis tetap menatap Aziz semangat tanpa mau berhenti. Di rasa susunya habis Mumtaaz merengut lucu siap mengadu pada Ayahnya.


"Anak Ayah kurang mau tambah susu?"


"Um, mau thuthu.'


Aziz tersenyum saja mendengar perkataan Mumtaaz. Dia gendong Putranya dan berusaha menidurkan agar tidak rewel. Tadi, Khumaira memberi pesan kalau mau menjemput si kecil bersama Ridwan. Susunya untuk anaknya sudah habis gara-gara sigembul sangat rakus. Aziz jadi pening karena Mumtaaz merengek minta susu.


Mumtaaz tidak mau tidur karena masih Gus minta susu. Dia merengek dengan menepuk pipi Ayahnya cukup kuat. Ia mau susu atau minta peluk Uminya. Mumtaaz jadi mulai rewel karena ingat susu dan Umi.


"Yah ... Mi ma--na?"


"Nanti Umi datang, sekarang Dedek tidur."


Aziz meminta Mumtaaz tidur tetapi bukanya tidur malah mengajak bicara dengan kata sulit di mengerti. Dia agak kesusahan karena anaknya begitu hiperaktif. Tadi rewel minta susu kini ia mau bermain sama anak didiknya. Alhasil ia berikan Mumtaaz untuk duduk di antara mereka. Bisa kurus Mumtaaz di cubit para Mahasiswi karena sangat gemas. Risiko anak tampan. Aziz jadi kasihan anak manisnya jadi bahan cubit mencubit.


Para Mahasiswa dan Mahasiswi menatap kagum Aziz yang telaten merawat si kecil. Suami idaman sekali Pak Aziz itu jadi mau jadi madunya. Sudah ganteng, penyayang dan sangat disiplin pastinya bertanggung jawab. Mereka jadi menginginkan imam seperti Aziz yang tangguh serta sangat penyayang.


Khumaira datang setelah menyelesaikan tugas menjahit. Dia datang bersama Ridwan yang terus menebar pesona. Anak ini benar-benar tertular virus Suaminya. Kini khumaira harus sabar menghadapi 2 orang super narsis.


Lihat para penghuni kampus menatap Khumaira intens. Mereka yang baru jelas tidak mengenal Khumaira, tetapi beda yang senior. Mereka tidak percaya wanita yang dulunya jadi center kampus datang. Siapa yang tidak kenal Khumaira wanita cantik shalihah impian banyak pria. Kini telah menikah dan lihat anak itu sangat tampan serta yang mendapatkan begitu beruntung m


"Maira," panggil Bela.


Khumaira tersenyum lebar melihat Bela menyapanya. Dia berpelukan sebagai teman dan lihat Ridwan malah merengut. Dia ingin bertemu Aziz dan Mumtaaz secepatnya. Malah Uminya bertemu dengan wanita tidak dikenal. Sampai kapan di sini? Lalu kapan bertemu Ayah dan Adiknya?


Bela menatap Ridwan gemas karena melihat anak ini begitu manis. Jelas sangat tahu anak ini putra sulung sahabatnya. Dia tidak tahu bagaimana menggemaskan anak ini. Bela tahu si kecil cemberut gara-gara berhenti di sini.


"Ini Dedek Ridwan, bukan?" tanya Bela antusias.


"Benar, dia Putraku Ridwan."


"Wah, ganteng banget seperti Abinya. Kamu kemari mau daftar kuliah Magister?"


"Tidak, aku ingin menemui, Suamiku," sahut Khumaira.


"He? Di sini tidak ada, Mas Azzam. Ah kamu tahu tidak Pak Aziz kembali ke sini dan parahnya sudah punya anak," pungkas Bela.


Wanita beranak 1 ini baru kembali ke Yogyakarta. Dia dan Suaminya awalnya tinggal di jawa barat. Baru beberapa minggu kembali. Lalu Bela tidak tahu Khumaira menikah dengan Aziz. Maklum saja jika tidak tahu permasalahan Khumaira selama ini.


Khumaira terdiam seraya menatap Ridwan tampak murung. Dia sangat tahu Ridwan begitu merindukan almarhum. Walau berpisah lama namun Putranya masih menyimpan nama Azzam di lubuk hati begitu pun dengannya. Sampai kapan pun Azzam akan selalu ada di hati mereka.


"Mas Azzam, sudah lama meninggal. Aku sudah menikah lagi, Bela," lirih Khumaira berusaha tersenyum.


"Inalillahi wa inaillaihi roji'un, meninggal karena apa? Ya Allah aku tidak tahu, maafkan aku," sesal Bela.


"Kecelakaan beruntun, tidak apa-apa. Mari aku harus bertemu mereka agar si kecil tidak menangis."


"Ah, baiklah. Tunggu dulu, Maira. Apa Pak tampan menikah dengan Mbak Zahira? Berita terakhir Pak Aziz tunangan dengan Mbak Zahira."


Khumaira semakin terpojok mendengar perkataan Bela. Dia tersenyum berusaha normal agar tidak terlihat menyedihkan. Ia jadi ingat dirinya yang dipilih Suaminya untuk menamai dalam suka maupun duka. Khumaira jadi ingat Zahira berpisah dari Aziz karena dirinya. Sakit walau Suaminya tidak pernah menyinggung tentang gadis itu yang tidak tahu keberadaannya.


"Tidak, Zahira bukan jodoh saya dan kami tidak ada hubungan apa-apa. Dek Syafa menikah dengan saya!" tegas Aziz dari belakang.


Aziz mendengar obrolan menyudutkan khumaira sehingga mengharuskan ikut adil. Benar adanya ia tidak bersama Zahira bahkan sekarang bersama khumaira.


Wanitanya yang sangat ia cintai sepenuh hati. Aziz tidak akan pernah membiarkan Khumaira terpojok jika bisa akan membela atau memberi bantuan.


Khumaira tersenyum mendengar bantuan Aziz yang sudah menjelaskan semua. Setidaknya ia sangat bahagia Suaminya muncul tepat waktu. Kini ia sangat bahagia Aziz datang sehingga Khumaira bisa bebas dari rasa tersudut.


Ridwan langsung berlari ke arah Aziz dan merengkuh pinggul Ayahnya. Dia tidak suka mendengar ucapan Bela makanya si kecil memilih bungkam. Dirinya jengkel pada Bibi itu yang terus bertanya menyudutkan Uminya.


Bela menegang mendengar kebenaran Khumaira dan Aziz. Dia terpaku ketika temannya merengkuh Mumtaaz, lalu anak Aziz tampak senang. Ya Allah, kenapa dia melewatkan kehidupan sahabatnya yang rumit? Bela jadi merasa bersalah telah banyak tanya yang jelas sangat menyudutkan.


"Dek, ayo kita pulang karena Mas pulang cepat. Mari."


"Bela, saya pulang dulu."


"Iya, itu Maira tolong maafkan saya."


"Tidak apa, permisi."


Aziz meraih tangan mungil Khumaira dan menggandeng tangan kecil Ridwan. Mereka berlalu begitu saja tanpa peduli pandangan penghuni kampus. Dia sangat tahu Khumaira begitu kalut mendengar perkataan Bela. Makanya Aziz memilih cepat membawa pergi. Jikalau dibiarkan bersama Bela maka Istrinya semakin terluka.


Khumaira salam memberi salam sebelum pulang dengan Mumtaaz dalam gendongannya. Dia tidak enak hati sahabatnya merasa berdosa begitu. Hanya saja ini yang terbaik ketika Suaminya meraihnya untuk pulang. Untuk pertemuan keduanya nanti ia akan jelaskan pada Bela. Khumaira lebih baik pulang terlebih dahulu sebelum semua jadi rumit.


"Maaf Mas datang telat," bisik Aziz.


"Tidak ada, Mas," sahut Khumaira disertai senyuman.


Pada akhirnya keluarga kecil Aziz memilih pulang ke rumah. Namun, sebelum pulang Ridwan minta beli es krim dan sate. Alhasil mereka mampir ke kedai es krim. Aziz dan khumaira tersenyum melihat Ridwan Mumtaaz makan es krim semangat. Lihat si kecil makan eskrim blepotan. Gemas sendiri melihat anak gembul itu sangat suka walau tidak bisa makan dengan benar.


Aziz.dan Khumaira sangat bahagia melihat anak-anak sangat bahagia. Setidaknya tawa kedua anak manis obat paling ampuh dikala lelah. Keduanya sangat bahagia bisa memiliki anak lucu seperti Ridwan dan Mumtaaz. Aziz dan Khumaira akan mendidik kedua anak manis menjadi pria hebat pastinya Sholeh. Punya akhlak terpuji di era modern walau pergaulan bebas menjadi ikon untuk remaja. Semoga saja anak-anak mereka menjadi pemuda Sholeh punya akhlak terpuji, Amin.