
Sabar, Sayangku sebentar lagi Mas Aziz akan bersama Dek Syafa! Lalu untuk Mas Azzam juga akan bahagia selalu bersama jodohnya yang sebenarnya!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
Seperti biasa Rose belum edit dan koreksi jadi harap maklum jika banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan.
/***~•~***
Semerbak bunga mawar merah membuat aku terlena akan kesakitan. Aku tidak percaya akan ada pelangi untuk kehidupanku yang muram. Tolong jangan permainkan hidupku yang penuh akan rintangan menghadang. Jikalau boleh jujur aku sangat lelah menerima kehidupan yang penuh derita tanpa ujung manis.
Aku sangat kecewa pada Dek Syafa. Alasanya gampang saat Jasmin menujukan foto bayi cantik yang sangat aku kagumi. Setiap melihat bayi itu maka detak jantung terasa menggila. Aku merasa seolah terikat pada si kecil cantik nan manis itu. Kembali ke awal kenapa bisa kecewa pada dia yang notabennya orang yang sangat aku cintai?
Lagi-lagi aku di kejutkan dengan Dik Laila meng upload foto keponakanku yang cantik tepat hari ke lima. Hari ini sepasaran si kecil makanya Dik Laila mengupload foto Dedek bayi yang sangat cantik. Masyaallah begitu cantik jelita mirip sekali mantan Istriku. Kenapa sakit aku bilang dia mantanku?
Aku tidak punya sosial media kecuali WhatsApp. Makanya setiap ada berita dari Dik Laila pasti Jasmin memberitahuku. Aku sangat senang melihat Putri kecil yang sangat manis nan mengemaskan ini. Hal paling menyakitkan sepanjang hari yaitu saat aku baca caption dari foto itu.
Caption : Lihat Dedek Faakhira yang cantik bobok lagi. Namanya sangat cantik seperti Dedek Bayi, benar? Mbak Maira memang pintar memberikan nama Putrinya. Rasanya aku ingin menggigit pipi gembulnya yang manis. Aku sangat gemas, salam hangat dari Bibi cantik Laila!
Tega sekali kamu Dek memberika nama Faakhira pada anak kalian. Apa aku begitu tidak berdaya makanya kamu sakiti hatiku sedalam ini? Sungguh aku sangat kecewa padamu, Dek. Sampai kapan kamu mau berhenti menyakitiku? Demi anak polos ini rasanya aku ingin pulang ke Indonesia meluapkan emosi pada mereka. Berani sekali menyakitiku sampai sedalam ini.
Kenapa bukan nama lain yang kamu pakai untuk bayi kalian? Kenapa harus Faakhira? Kenapa kalian tega padaku? Sebenarnya apa salahku sehingga kalian tega berbuat hina begini?
Aku mengesampingkan luka dan memilih bertanya pada Jasmin apa ada balasan dari Laila soal pesanya? Lalu gadis itu bilang tidak ada. Benarkah? Aku merasa gila memikirkan itu semua. Kenapa orang-orang di Keluargaku tidak ada yang peduli padaku? Apa mereka tidak mau menjengukku di sini? Apa mereka sudah melupakan aku? Tega kalian semua, kenapa kalian begini?
Kenapa Dek Syafa memakai nama itu? Apa kurang puas menusukku begitu dalam? Lalu kqenapa Dik Laila tidak membalas dm dariku? Kenapa kalian tega menelantarkan aku sendiri tanpa kabar? Aku lupa no kalian seharusnya ada yang mencari tahu. Kenapa semua membuang ku begitu hina?
Hingga 2 bulan setelah itu aku dikejutkan kehadiran Mas Azzam. Dia menemuiku dengan wajah teduhnya seperti biasa. Saat aku hendak menyalami Masku hai tidak terduga terjadi saat Mas Azzam yang kukenal lembut dan baik hati tega menonjok rahangku. Nyaris aku terjungkal akibat pukulan telak Itu. Hingga pukulan kedua aku dapatkan darinya otomatis membuatku naik pitam.
Apa Mas Azzam ke Singapura hanya ingin bermain kasar padaku? Kenapa aku di pukul? Tega sekali kamu Mas menyakitiku. Ingin rasanya aku luapkan emosi penuh kekesalan pada Mas Azzam. Namun, aku bukan orang yang suka kekerasan terhadap seseorang yang kusayangi. Kubiarkan saja pukulan telak menghantam wajahku akibat Mas sendiri.
"Kenapa memukul tanpa pelukan? Katakan kenapa Mas memukul diriku?"
"Kamu pantas mendapatkan pukulan, Aziz! Kenapa kamu tidak pulang dari satu tahun yang lalu? Apa kamu tidak ingat Dek Maira meminta kamu pulang. Jangan menguji kesabaranku, Aziz!"
Aku yang emosi lantas mencengkeram kerah kemeja Mas Azzam. Berani sekali Mas Azzam berbuat begini di atas rasa sakit yang aku alami. Pantas menerima pukulan? Omomg kosong apa ini? Kapan dia meminta untuk pulang? Ya Tuhan, apa mereka ingin melihat aku tambah tersiksa?
"Apa maksudmu aku pantas mendapatkan pukulan? Karena aku tidak ingin pulang ke Indonesia! Untuk menyaksikan pernikahan kalian kembali? Maka jangan harap aku datang di hari membangun pernikahan Mas dan dia. Mas juga jangan menguji kesabaranku!" seruku terdengar sangat dingin lalu kuhempaskan kasar.
Aku melepas cekalan dan memilih menatap tajam Masku. Rasanya ingin sekali aku mengucapkan kata tajam penuh kekesalan. Namun, tersadar dengan siapa aku berbicara. Jika memungkinkan aku ingin meneriaki Mas Azzam sampai puas.
Aku mendecih meluaht Mas Azzam terpaku mendengar jawaban itu. Dia tersenyum masam mengetahui kebenaran yang terjadi. Tubuhnya bergetar menahan luapan emosi air mata. Aku bingung kenapa Mas Azzam jadi begini? Buat pusing saja sampai ingin rasanya berkata sadis.
"Maaf memukul dirimu, Le. Ayo Mas obati dan ada banyak pertanyaan yang ingin Mas tanyakan."
Aku menurut tanpa membantah keinginan Mas Azzam. Aku merasa nyeri saat Mas Azzam mengobati lebam di rahang dan sudut bibir. Saudaraku ini terlalu ekstra menonjok rahang serta sudut bibirku. Jika bukan Masku, Aziz pastikan Mas Azzam juga mengalami hal yang sama.
Sabar Aziz setidaknya kamu berhadapan dengan Masmu sendiri. Toh jika begini aku bisa sadar betapa gila Masku saat marah. Sabar jangan emosi nanti tidak ta teng lagi bahaya. Lupakan yang harus kulakukan diam menerima pengobatan Masku. Kalau di ingat kenapa Masku datang ke Singapura setelah menelantarkan aku begitu lama?
***~•~***
Aku tidak sanggup menatap Aziz begitu lama. Jadi, dia mengalami kecelakaan saat hendak ke Indonesia. Hal mengejutkan lainnya dia bilang pulang ke Indonesia mau menghadiri pernikahanku dengan Dek Khumaira.
Astaghfirullah, jadi Adikku mengalami amnesia. Selama itu dia di pengaruhi oleh Jasmin. Tega sekali gadis itu menghasut Adikku yang lugu. Pantas saja Aziz melupakan janji untuk pulang dan melakukan hal di luar nalar.
Jadi benar Adikku dalam keadaan kurang baik. Bisa di simpulkan Aziz mengalami insiden sebelum pulang menyebabkan hilang ingatan. Andai saja aku datang lebih awal pasti Dek Khumaira dan Tole Aziz tidak akan tersiksa dengan kesalah pahaman.
Ya Allah kenapa bisa aku dan yang lainya baru datang ke sini? Andai saja kami datang lebih cepat pasti Aziz akan pulang serta bisa disembuhkan lebih cepat. Bodohnya kami tidak mencari tahu keadaan Adikku. Dan lebih utama Dek Maira tidak akan terluka atau melahirkan sendirian. Pasti bisa bahagia bersama, tetapi apa daya semua itu sudah terlambat.
Aku jadi teringat Dek Maira yang meminta tolong padaku supaya membantunya mencari tahu tentang Tole Aziz. Dia sadar sedari awal Aziz mengirim pesan lewat Instagram pada Dik Laila. Lalu tambah curiga saat datangnya surat perceraian, cincin dan surat dari Aziz. Dari sana Dek Maira sadar bahwa selama ini ada yang mempermainkan mereka.
Dek Khumaira, mencurahkan isi hati padaku mengenai Tole Aziz. Dia terus berkata pasti Tole Aziz mengalami hal buruk. Benar saja apa yang di pikirkan Dek Khumaira bahwasanya Tole Aziz mengalami kecelakaan. Karena insiden itu Adikku lupa jalan pulang dan lupa satu bulan terakhir.
Sekarang aku tahu semuanya alasan di balik tidak pulangnya Adikku. Sontak aku minta no ponsel dan no Wa-nya. Aku juga menasihati Adikku agar menjauhi Jasmin. Semoga saja Adikku mau menuruti keinginanku untuk me jauhi wanita itu.
Gadis rubah itu tidak boleh mendekati Tole Aziz. Jika boleh jujur aku ingin mengungkapkan kebenaran pada Aziz. Namun, Dek Khumaira melarangnya agar aku tetap diam. Biarkan saja Aziz seperti itu sampai pulih dengan sendirinya. Jika waktunya tiba maka semua akan kembali dengan akhir bahagia.
Bodoh, kenapa ada wanita bodoh seperti Dek Maira? Apa dia tidak mau cepat berjumpa Suaminya? Apa otaknya sudah geser seperti Adikku ini? Demi apa mereka sama-sama bodoh perihal ini semua. Mereka itu pasangan gila saling memikirkan satu sama lain. Suami Istri paling terikat dengan cinta yang murni.
Iya, mereka masih sah menjadi Suami dan Istri. Pasalnya Aziz belum tanda tangan di surat perpisahan itu. Adikku belum mentalak Dek Khumaira. Itu artinya mereka masih sah dan semoga saja mereka lekas bersatu, Aamiin.
Apa pun caranya aku harus menyatukan dua orang yang sangat berarti untukku. Mereka berpisah karena diriku. Kini giliran aku yang menyatukan mereka kembali. Tenang saja selagi ada aku, Aziz tidak akan bersama siapa pun kecuali Istrinya.
Saat semua terbongkar sontak aku menghubungi Dek Maira menjelaskan semua yang terjadi. Dek Khumaira kini telah mengetahui kebenaran sesungguhnya. Dia menangis tersedu dalam panggilan video kami. Dapat kulihat pancaran kesedihan serta kelegaan ada di matanya. Lagi-lagi ia memohon agar merahasiakan semuanya. Birkan Aziz ingat dengan sendirinya. Jangan memaksa karena Dek Khumaira takut Aziz kenapa-napa.
Ya Allah, betapa besar cinta mantan Istriku pada Adikku. Sebenarnya sangat sakit melihat ia begitu ikhlas menerima kenyataan ini. Dek Maira yang malang, yakinlah Mas akan bawa kembali Suamimu pulang. Aziz akan kembali padamu apa pun yang terjadi. Jangan menangis penuh kesakitan karena aku tidak tega.
Harapanku hanya satu Aziz lekas sembuh dari amnesia itu. Lalu pulang berkumpul lagi
Aku pernah mencoba memaksanya untuk mengingat. Namun, hal yang kudapati Tole Aziz menggerang kesakitan seraya mencengkeram kepalanya erat. Sebegitu menderita sampai kamu begini, Aziz. Tenang saja Allah akan mengembalikan ingatanmu.
Dek Khumaira dan Tole Aziz, dengan Kuasa-Nya Mas janji akan menyatukan kembali kalian apa pun caranya. Jangan takut melangkah menuju kebahagiaan karena Mas ikhlas menerimanya. Kalian adalah sumber kebahagiaanku maka kebahagiaan kalian adalah bahagiaku.
Tole nakal ini awas saja jika tidak kunjung ingat Mas tabok kepalamu. Pokoknya kamu harus cepat pulih demi Istri dan anak-anak. Ada Dedek bayi Faakhira yang menantimu, Aziz. Maka pulanglah segara jangan lupakan semua yang terjadi satu bulan terakhir.
Mas menunggu saat Tole Aziz pulang dan berkumpul kembali bersama mereka. Sepertinya waktuku habis karena aku harus pergi ke Bandar udara internasional Changi. Rencananya aku mau ke Pakistan bertemu dirinya. Aku rindu anak-anak panti dan pastinya rindu Zoya dan Zayn.
Semoga kebahagiaan juga menyertaiku. Semoga saja aku mendapat pengganti wanita yang lebih baik dari pada Dek Khumaira. Namun, seprtinya tidak biaa aku dapatkan wanita lebih baik darinya. Tidak apa aku hanya membutuhkan wanita yang mencintaiku dan memiliki akhlak shalehah. Semoga saja ada wanita yang mampu aku cintai setelah lunturnya Dek Khumaira dari hatiku, Aamiin.
Tole Ridwan dan Dedek Mumtaaz aku jaga sebisa mungkin. Aku asuh dan mengajari mengaji supaya lebih baik lagi. Syukur Alhamdulillah atas Rahmat dan kuasa-Nya anakku jadi seorang hafidz walau belum khatam. Masya Allah, ini semua berkat Tole Aziz senantiasa membimbing Anakku sepenuh hati.
Dalam gundah aku selalu menjaga Dedek Mumtaaz agar tidak sedih. Anak manis ini sudah ku anggap anakku sendiri, lantaran Tole Aziz juga menganggap Tole Ridwan anak sendiri. Abi janji Nak kalian tidak akan kurang kasih sayang maka dari itu selagi Ayah belum kembali Abi lah yang akan jaga kalian. Jangan sedih Abi akan berikan segala cinta dan kasih sayang.
Tunggu ya, Nak akan Abi bawa Ayah pulang segera. Walau tidak sekarang setidaknya secepatnya akan datang. Kalian akan bahagia di bawah naungan Ayah dan Abi. Ya Allah, semoga saja ketiga anakku ini mampu bersabar menunggu kepulangan Adik hamba. Atas Rahmat dan kuasa-Nya hamba memohon segala kebaikan serta kebahagiaan untuk tiga anakku.
/***••••***
Aku terdiam membaca pesan Mas Aziz melalui akun wanita itu. Kenapa terlihat janggal bukan seperti Mas Aziz saja. Masku terlihat berbeda bahkan mengatakan Dedek FaaFaa Anak Mas Azzam. Kenapa bisa begini? Apa kepala Mas Aziz di getok spatula sampai hilang ingatan?
Kenapa janggal sekali pesan Mas Aziz? Seolah Mas lupa segala yang di ingat. Kamu kenapa Mas? Apa Mas sedang terluka akibat sesuatu sampai lupa kami? Apa yang harus kulakukan?
Hingga masa iddah ku selesai akhirnya aku kirim surat perceraian kami. Aku belum tanda tangan, biarkan Mas Aziz yang tanda tangan dulu. Setelah menunggu 2 minggu akhirnya surat itu kembali di tanganku.
Apa ini, kenapa tanda tangan Mas Aziz beda sekali? Aku tahu pahatan tanda tangan Suamiku. Bahkan dengan cinta ia pernah memberikan tanda tangan di telapak tanganku. Lalu ini apa? Ini memang tandatangan Mas Aziz. Namun, ini bukan asli melainkan sebuah manipulasi. Seperti seseorang mencontoh tandatangan Masku Aziz.
Lalu cincin pernikahan kami juga datang seolah memberikan bukti. Tunggu dulu Mas Aziz tidak akan mau mengembalikan cincin pengikat kami walau berpisah. Setiap kata Mas Aziz bilang akan menjaga cincin ini walau berpisah. Cinta tulusnya selalu terngiang ketika Mas Aziz mengutarakan isi hatinya penuh cinta yang besar. Katanya cincin ini adalah lambang cinta kami yang tidak akan terpisahkan. Walau pisah akan selalu dijaga sepenuh hati bahkan tidak akan pernah terlepas dari jari manisnya. Lalu kenapa Mas Azis menyerahkan cincin jika terus bilang akan menjaga cincin ini? Lalu kenapa cincin ada di tanganku?
Kini tambah membuat aku bingung tulisan tangan ini. Hai, Masku memiliki ciri khas yang unik ketika menulis. Lalu ini apa? Kenapa beda sekali walau seolah si penulis menggunakan tulisan tangan mas Azis? Jelas ini beda Karena aku tahu ciri khas tulisan tangan masku yang sangat unik nan khas.
Jangan bilang selama ini kami sedang di permainkan? Jangan bilang Mas Aziz begini karena sebuah alasan? Apa ini sebuah siasat atau sebuah strategi pihak ketiga? Ya Allah apa benar ini keinginan Mas Aziz? Apa ini kebenaran bahwa semua ini tulisan Mas Aziz?
Tidak mungkin, ini pasti ada hal tidak benar. Aku ingat kembali dua bulan lalu saat Mas Aziz mengirim pesan. Lalu semua ini terasa janggal tanpa di perediksi. Aku baca ulang kembali dan memahami lebih dalam.
Antahlah jantungku terasa tertikam belati tumpul saat semua terjawab. Mas Aziz melupakan sebagian memori kebersamaan kami. Masku lupa aku memberitahu bahwa kami aku dan Mas Azzam pisah. Lalu tentang kehamilanku yang masuk minggu ke 6. Astaghfirullahaladzim, jadi ini alasan Masku tidak pulang.
Dari sini aku langsung jatuh terkulai lemah saat kutahu semua kebenaran itu. Aku istighfar ratusan kali akibat sebuah kebodohandan dan mudah dibuat salah paham. Di sini aku sangat tahu sikap dan semua tentang Masku Aziz. Kenapa bisa Syafa-nya mudah terhasut?
Mas maafkan, maaf Adek berbuat hina serta salah paham padamu. Mas hina sekali diriku ketika tahu semua ini? Siapa yang tega membuat kita terombang-ambing oleh badai? Ya Allah tolong maafkan hamba telah membenci serta kecewa pada Suami yang sangat baik.
Dari sini aku putuskan meminta bantuan kepada orang yang tepat. Jujur aku sangat malu serta merasa tidak enak hati meminta bantuan Mas Azzam. Ya Allah, lagi-lagi aku merepotkan mantan Suamiku yang baik. Mas Azzam, tolong maafkan aku yang menyakitimu dengan meminta bantuan.
Segala upaya baik serta kejelasan yang teduh aku utarakan agar Kakak ipar ku mau memahami. Syukur atas kebesaran-Mu ya Allah aku mendapat pertolongan. Mas Azzam setuju membantuku dengan menemui Masku. Akhirnya Mas Azzam setuju pergi ke Singapura guna mencari tahu tentang Masku.
Mas Azzam memberi informasi yang sangat mengejutkan. Mas Aziz hilang ingatan sebagian memori satu bulan terakhir setelah berada di Singapura. Tentu aku tertohok serta begitu tersiksa akan kebenaran itu. Runtuh sudah pertahanan yang kubendung agar tidak menangis di depan Mas Azzam.
Tubuhku bergetar hebat saat tahu Mas Aziz mengalami kecelakaan mengerikan. Gara-gara kecelakaan itu Masku mengalami patah tulang, cedera bahu dan kepala. Terakhir beberapa tulang rusuk patah. Sebab itu semua Suamiku koma dua puluh hari. Ya Allah, pantas saja waktu itu aku begitu gelisah memikirkan Masku. Jadi ini alasan kenapa waktu itu hati serta semua rasa gelisah menusuk jasad dan hati.
Sungguh aku tidak mampu membendung air mataku karena mengingat Masku. Aku menangis tersedu dalam panggilan video kami. Maafkan aku Mas tidak bisa mengendalikan diri di depanmu. Pasti engkau sangat tersiksa melihatku menangis. Maka dari itu aku putuskan mengakhiri panggilan agar Mas Azzam tidak terbebani.
Mas Aziz, kenapa takdir begitu kejam pada kita? Kenapa kita selalu di uji akan sebuah rintangan? Kenapa kita tidak bisa hidup akan balutan pelangi mewarnai? Kapan kita bersama penuh cinta yang kuat? Kapan kita bersatu dan berkumpul bersama?
Ya Allah kenapa selalu Masku yang tersiksa? Sampai kapan Mas terus menerima derita? Kapan kami bersama ya Allah? Berhenti uji cinta ksmi karena rasanya begitu menyakitkan. Hamba tidak kuat ya Allah jika engkau terus menguji kesetiaan serta kesabaran ketulusan hati. Cinta kami murni karena-Mu ya Allah, lalu kenapa terus begini?
Sstu hari setelah kebenaran terungkap aku kembali di telepon Mas Azzam. Mas Azzam menelepon izin mau memberi tahu kebenaran tentang kami. Namun, aku larang demi kesehatan, Masku. Tidak apa asal Mas cepat pulih Adek siap menunggu kepulangan, Mas. Yakinlah Adek sangat mencintai Mas begitu dalam serta akan menjaga cinta kita selamanya. Maka dari itu harapan Adek singkat semoga Mas lekas sembuh. Adek juga meminta Mas Aziz tolong lekas sembuh agar kita bisa berkumpul kembali.
Dalam diam lagi-lagi Mas Azzam memberi kabar mengejutkan saat Mas Aziz berusaha mengingat maka hanya erangan kesakitan yang keluar dari bibir Masku. Kalau begini aku dan anak-anak harus sabar menunggu Mas Aziz pulih. Semoga Mas lekas sembuh agar menutup duka kami. Semoga kesakitan Mas lekas berlalu lalu kembali ke Indonesia untuk Adek dan tiga anak kita.
Adek sangat merindukan Mas sampai rasanya ingin berlari ke arah, Mas. Tolong berjuang demi kami karena Dedek FaaFaa membutuhkan, Mas. Kami sangat merindukan Mas dan selalu berharap Mas lekas pulang. Kami butuh Ayah mewarnai hari ini yang kelabu.
Hari berlalu kini saatnya membuka lembaran baru dengan penantian panjang penuh harapan. Aku ciumi pipi gembul Dedek Faakhira yang cantik manis. Tidak terasa Putriku sudah berumur 3 bulan. Dia cantik kan seperti Uminya. Hahaha, aku narsis ketularan virus Mas Aziz.
Lihat Mas putri kita begitu cantik seperti harapan, Mas. Mata cokelat keemasan mirip dengan Mas. Semua yang ada pada putri kita mirip sekali dengan kita. Mas tahu Dedek Faakhira begitu senang menatap foto, Mas. Bukan NK kita selalu menggerakkan tangan meraih foto, Mas. Adek jadi gemas sendiri akan tingkah menggemaskan Dedek FaaFaa.
Anak kita sangat menggemaskan sampai orang-orang menciuminya sembari mengucap pujian. Jika begini Adek tidak mau Dedek Faakhira lekas besar. Tolong pulanglah demi kami dan tentunya untuk anak cantik kita. Anak kita terlalu rindu begitu pun dengan Adek.
Lihat Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz sangat menyayangi Dedek Faakhira. Mereka begitu menjaga Dedek kecil tanpa mau di pisahkan. Kakak besar dan Kakak kecil terasa menggemaskan saat berceloteh panjang kali lebar soal ketampanan.
Mereka narsis parah seperti, Mas. Kalau begini rasanya Adek merindukan kenarsisan Mas Aziz. Segala tentang Mas kami rindu terutama saat Mas kumat. Adek rindu kami rindu semua rindu pada Mas. Doa kami mengiringi langkah kaki Mas menuju kepulihan.
Selagi merindukan Suamiku aku putuskan kegiatan lain. Dengan cinta aku ciumi pipi gembul anak-anakku penuh sayang. Dan lihat Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz tersenyum lebar seraya mencium pipiku. Dua pangeran tampan Umi sudah tumbuh bagai pangeran negeri dongeng.
Lihat Ayah anak kita sudah besar, walau nakalnya masih sama. Tambah narsis dan memiliki sikap percaya diri tinggi. Ya Allah anak kita begitu manis, Mas. Adek begitu senang anak kita tumbuh menjadi anak hebat.
Insya Allah kami akan selalu menanti kedatangan, Mas. Sungguh Adek ingin sekali berada dalam dekapan Mas seraya menangis histeris. Adek ingin menangis keras dalam dekapanmu, Mas. Kapan pulang? Ya Allah, beri hamba ke lapangan dada agar mampu bersabar dan ikhlas menunggu kepulangan, Suamiku.
Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Semoga Mas lekas sembuh dengan ingatan pulih. Adek akan selalu mendoakan Mas setiap langkah. Ya Allah, tolong maafkan hamba yang pernah membenci sekaligus kecewa pada, Masku. Ini semua salah paham dan Adek sudah tahu kebenarannya. Maka dari itu atas nama Allah sang Maha Cinta detik ini dan seterusnya Adek akan menunggu kepulangan, Mas.
/****'~•~'****
Senang bukan akhirnya Dek Syafa tahu semuanya?
Nantikan Chap spesial Mas Azzam dan Mbak Mahira chap depan!
Setelah itu chap di mana Mas Aziz bisa bicara dengan Dek Syafa dan chap selanjutnya apa yang diinginkan terwujud. Ya, di sana Masku Aziz pulang setelah lama berpisah.
Jika kalian bilang ini terlalu di buat-buat, bertele-tele, ribet, ruet dan lain-lain maka baca ulang.
Story Ini anti-mainstream ngga kayak novel lainnya.
Jadi kalau ngga mau baca terlalu di buat-buat it's ok kalian minggat saja.
Jangan baca dan buat story sendiri ok seperti jalan pikiran Anda semua!!!