Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Keluarga Harmonis Penuh Kasih Sayang!



1 Tahun Kemudian!


1 tahun berlalu setelah kelahiran si kecil Mumtaaz. Kini Ridwan sudah masuk Taman Kanak-kanak. Dia begitu senang bisa sekolah dan mendapat banyak teman. Dengan bekal percaya diri dari Aziz, si kecil sangatlah narsis. Ridwan begitu antusias mengikuti pelajaran dan tentunya banyak teman mengelilingi si tampan.


Wajah tampannya sangatlah menggemaskan membuat banyak orang gemas. Banyak teman yang menyukainya karena sikap supel, ramah tetapi tajam dan narsis. Walau terkesan narsis dan tajam namun mereka tetap menyukainya karena sikap supel yang menggemaskan.


Khumaira membangunkan Ridwan, pasalnya hari ini jatah libur bersama. Mereka mau jalan-jalan ke taman bermain di pusat kota. Ia tidak mau terlambat alhasil membangunkan anak-anak. Dia kecup pipi gembul anaknya, tetapi tidak kunjung bangun. Khumaira jadi gemas sendiri pada Ridwan tidak kunjung bangun.


Mau tidak mau Ridwan terbangun bangun walau pura-pura tidur. Demi kolor Ayahnya ia masih ngantuk. Tolong jangan bangunkan si ganteng dunia di pagi hari. Ridwan masih ngantuk ngga mau bangun.


"Kakak, ayo bangun jangan bangkong. Ayo Shalat subuh dulu dan mengaji bareng Ayah. Ingat, katanya kakak mau jalan-jalan ke taman bermain. Hayo, bangun jangan nakal nanti ketampanan Kakak luntur bagaimana?"


"Ya Allah, maafkan Kakak, Umi. Wajah Kakak ngga bakal jelek, Umi karena ketampanan Kakak overdose."


Khumaira tersenyum tulus ketika si tampan terbangun. Rambut acak-acakan sang Putra sangatlah manis. Dia tersenyum saja ketika Ridwan meminta gendong. Namun, sebelum menggendong anaknya malah berguling sehingga tidur di tengah. Khumaira maklum karena itu kebiasaan anak gantengnya.


Ridwan tengkurap dengan bertopang tangan. Wajahnya sangat tampan membuat Uminya tidak kuasa mencium gemas pipi bulatnya. Ridwan sangat riang mendapat ciuman sang Umi pasalny dia begitu rindu saat manja. Ridwan tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipi yang diwarisi dari Uminya.


Khumaira menggendong Ridwan menuju kamar mandi. Putranya masih saja manja tidak mau lepas darinya. Ridwan begitu manja pada mereka dan itu membuat bahagia. Ia sesekali mencium pelipis anaknya dengan manja. Khumaira sangat menyayangi Ridwan sampai kapanpun.


Ridwan tersenyum manis ketika Ibunya menggendongnya. Dia sandarkan kepala di bahu Khumaira dan tangan kecil terus memainkan rambut Ibunya. Ia menghirup harum teduh Uminya yang sangat menenangkan. Ridwan mengalungkan tangannya di leher jenjang Uminya dengan kepala bersembunyi di perpotongan leher Uminya.


"Umi, Kakak ngantuk. Apa Dedek Mumtaaz sudah bangun?"


"Sudah, Kakak sendiri yang bangkong. Ayo basuh wajah lalu gosok gigi."


Ridwan merengek manja menginginkan tidur kembali. Dia merengut saat Khumaira membasuh wajahnya dan meminta untuk sikat gigi. Dengan ogah-ogahan Ridwan melakukan itu dengan mata menyipit.


Khumaira mengambil air untuk kumur-kumur Putranya. Dia tersenyum saja melihat Ridwan begitu lucu. ia tersenyum melihat Putranya wudhu dan meminta gendong lagi.


Usai melakukan kegiatan dari shalat dan mengaji Ridwan mau tidur lagi. Tadi Ayahnya masuk kamar dulu sehingga meninggalkan sendiri. Dia mau bobok ganteng bersama Ayahnya sampai puas.


Melihat putranya sudah ngacir menemui Aziz menerbitkan senyum. Khumaira sangat bahagia melihat anaknya sangat manja bersama Aziz. Walau bukan Ayah kandung setidaknya Suaminya adalah adik kandung almarhum Suami pertamanya. Jadi wajar Ridwan begitu manja pada Aziz dan Khumaira senang melihat semua itu.


Ridwan berlari menuju ranjang yang ditempati Ayahnya. Dia naik ranjang kemudian tidur tengkurap di atas tubuh Ayahnya. Dia sangat mengantuk gara-gara tadi malam bermain terlalu lama dengan Mumtaaz. Ridwan menyandarkan pipi bulatnya di dada bidang Ayahnya.


Aziz tersenyum manis melihat anak tampannya datang dengan muka kusuy. Dia menunggu saat putra sulungnya datang padanya. Setelah anak gantengnya tidur di atas tubuhnya ia dengan sayang mengusap rambut Ridwan kemudian mengecup puncak kepala lembut. Putranya begitu tampan ketika sedang manja seperti saat ini. Aziz tersenyum saja saat selesai mengaji Ridwan merengek minta tidur lagi.


Ridwan menghembus napas berat karena Ayahnya jahil. Dia mendongak menatap Aziz merajuk manja. Ia kerucutkan bibir beberapa sentimeter. Ridwan kesal sendiri Aziz sangat nakal padanya.


"Ayah, Kakak ngantuk sekali."


"Bangun, nanti Umi marah loh, Kak. Kita bisa kena omel dari Sabang sampai Merauke gawat. Ayah ingin Kakak bangun, kalau tidak bangun ketampanan Kakak luntur."


"Aish nyebelin Kakak mager ngga mau pergi dari ranjang. Ayah dengar, Kakak itu ngga bakal jelek karena ketampanan Kakak overdose. Biarkan saja Umi ngomel, kakak ngantuk sekali."


"Tole mulai nakal, eh? Ngga baik bicara begitu nanti Umi ngambek bahaya. Cepat bangun atau wajah Tole benar-benar kusut."


"Ayah, aish baiklah ... maafkan Kakak ya, Ayah."


"Anak pintar, iya sekarang temui Umi. Ayah mau buang hajat dulu."


Ridwan menurut perkataan Aziz untuk menemui Khumaira. Dia turun dari tubuh kekar Ayahnya dan memilih berjalan ke dapur menemui sang Ibu. Bibir mungil Ridwan mengerucut imut saat Mumtaaz makan kue tidak terlalu manis dengan semangat.


Adiknya sudah bisa berjalan namun belum bisa bicara banyak. Hanya kosa kata ringan yang dia ucapkan. Ridwan mencomot satu potong kue Mumtaaz dan lihatlah mata besar Adiknya menatap protes.


"kak ... kal," rajuk Mumtaaz seraya mencomot kembali kue yang di ambil Ridwan.


Ridwan kembali mengambil kue Mumtaaz alhasil bibir Adiknya maju dengan mata berkaca. Dia langsung mengunyah dengan segera kemudian minum susu. Ridwan nyengir saja saat Mumtaaz mengadu pada Uminya.


Mumtaaz memilih merengek minta gendong Khumaira. Dia menangis karena Ridwan mengganggu saat asyik makan. Tangan kecil itu terus menunjuk kue yang di makan Ridwan. Bibir kecilnya terus menekuk   dengan air matanya mengucur deras.


Khumaira tersenyum gemas melihat tingkah lucu Mumtaaz dan Ridwan. Dia gendong Putra keduanya seraya menepuk-nepuk pantat Putranya. Dia ciumi pipi gembul anaknya supaya diam. Khumaira tahu Mumtaaz rewel minta ketempat Kakek dan Nenek.


"Sudah, Kakak tidak akan mengambil kue, Dedek kecil. Cup - cup jangan menangis anak tampan."


Khumaira berusaha menenangkan Mumtaaz, pasalnya si kecil rewel akibat kurang enak badan. Sementara Ridwan merasa bersalah telah membuat Mumtaaz menangis keras.


Aziz keluar dan melihat Khumaira kesusahan menenangkan Mumtaaz. Dia mendekat dan meminta si kecil untuk di ajak bermain. Ia timang anaknya lalu mencium gemas pipi tembem Mumtaaz.


Khumaira memberikan sepotong kue brownies coklat pada Mumtaaz. Hanya sepotong dan Ridwan tidak kebagian. Nanti anak sulungnya menangis bagaimana? Semoga saja anaknya mau mengalah pada si kecil.


Mumtaaz menerima sepotong brownies cokelat dengan riang. Ia memakan dengan riang setelah Aziz memberi kue. Senyum merekahnya muncul tatkala Ridwan merengut.


"Dedek, mau apa?"


Aziz duduk di sebelah Ridwan dengan perasaan gemas. Dalam pangkuannya ada Mumtaaz yang mengoceh imut. Mulut kecil anaknya blepotan dengan noda kue cokelat. Sementara anaknya Ridwan cemberut dalam. Aziz tahu anak sulungnya minta kue brownies.


Ridwan meminta kue brownies pada Aziz, pasalnya kue itu tinggal sepotong. Dia bingung nanti kalau mengambil sebagian si kecil histeris. Mata besarnya berkaca-kaca siap menangis karena mau kue. Ridwan tidak berani merengek nanti Ayah dan Umi kerepotan. Padahal Adiknya sedang sakit makanya rewel.


Mumtaaz mengambil sebagian brownies untuk di berikan pada Ridwan. Bayi gembul ini seolah tahu Kakaknya meminta kue karena melihat tidak ada lagi si kecil memberikan sebagian. Melihat mata kakaknya berkaca-kaca ia tidak tega. Alhasil Mumtaaz memberikan sedikit kue brownies pada Ridwan.


Ridwan tersenyum cerah menerima kue dari Mumtaaz. Dia memakan dengan senyuman manis. Setelah selesai tangan kecil Ridwan terulur untuk mengusap pipi gembul Mumtaaz. Dia cium pipi tembem Adiknya dan lihat si gembul tersenyum lebar.


"Kakak, sayang Dedek Mumtaaz."


Mumtaaz mengerjap kemudian tersenyum lebar dan bertepuk tangan heboh. Dia belum maksud tetapi tahu Abangnya begitu sayang padanya. Dia dengan sayang menabok kepala Ridwan dengan senyum polos.


Ridwan mengaduh gara-gara di tabok Mumtaaz cukup kuat. Tetapi,ia tersenyum teduh melihat Adiknya tertawa riang. Dia begitu bahagia Adiknya sangat menggemaskan. Setidaknya Mumtaaz tidak menangis lagi sehingga membuat Ridwan senang.


Aziz dan Khumaira tersenyum ketila melihat interaksi anak-anak yang sangat manis, lucu dan sangat menggemaskan. Keduanya saling pandang penuh keharuan dengan kasih sayang Ridwan Padaa Mumtaaz begitu pun sebaliknya. Intinya Aziz dan Khumaira sangat bahagia bisa memiliki anak saling sayang.


***


Aziz merebahkan kepalanya di paha Khumaira. Dia merengkuh pinggul Istrinya dan menyembunyikan wajah di perut. Ia cukup lelah sehingga membuatnya terkapar lebih awal. Aziz tersenyum menikmati usapan lembut Khumaira di rambutnya.


Khumaira mengusap rambut Aziz, sesekali tangannya terulur untuk memijat kepala Suaminya. Dia tahu Suaminyalelah karena urusan kantor yang padat. Ia tahu betapa lelah seorang CEO bekerja dengan jadwal padat. Khumaira hanya bisa menyemangati  bisa membantu Aziz menyelesaikan pekerjaan.


"Mas tidur gih."


"Mas belum ngantuk, Dek. Mas ingin begini dulu. Dek, rasanya Mas sangat rindu waktu bersama. Mas berada di kantor cukup lama sampai waktu terkikis. Maafkan, Mas ya."


Khumaira mengangkat kepala Suaminya dan memberikan ciuman di bibir. Dia terkekeh melihat Aziz terpaku mendapat serangan. Biarkan dirinya melakukan sesuatu agar capek Suaminya terobati.


Aziz terbelalak menerima ciuman Khumaira tanpa di komando. Demi apa ia tidak percaya Istrinya mampu bertingkah jauh. Kalau begini ia jadi ingin Istrinya semakin berani padanya. Aziz menunggu saat khumaira nakal padanya. Dengan begitu semua semakin menantang adrenalin.


"Mas tidak perlu bicara begitu. Adek juga sangat rindu waktu bersama. Mas ... Adek menyayangi Mas karena Allah. Sudah sekarang rebahan biar Adek pijat agar lelah Mas hilang."


Aziz tersenyum mendengar perkataan Khumaira. Dia langsung duduk dan merengkuh erat Istrinya. Rasa lelah terobati dengan senyuman Khumaira dan dua anaknya. Terasa sangat senang mendengar kecerian Ridwan dan Mumtaaz. Walau si kecil masih berbicara kurang jelas namun merrka paham. Aziz sangat bahagia memiliki keluarga kecil yang manis penuh keceriaan.


Khumaira membalas pelukan Aziz seraya mengusap punggung dan rambut sang Suami. Dia tidak percaya sebentar lagi bahtera rumah tangga mereka memasuki ke 2 tahun. Kurang 1 bulan lagi hari jadi pernikahan mereka ke dua. Sangat bahagia bahtera rumah tangganya harmonis penuh warna.


"Mas juga menyayangi Adek karena Allah. Sepertinya Mas sudah jarang mengatakan ini pada, Adek. Mas mencintai Adek karena Allah dan akan selalu cinta sampai kapan pun. Selamanya Mas akan mencintai Adek tanpa kecuali. Terima kasih, Istriku."


Aziz mengutarakan isi hati sembari menangkup pipi gembil Khumaira. Perlahan bibirnya menyatu dengan sempurna. Dia gerakan secara sensual karena begitu rindu. Jujur saja ia sangat berhasrat ingin menjamah tubuh mulus Istrinya. Walau lelah setidaknya Aziz mau itu bersama Khumaira.


Khumaira mengalungkan tangan di leher kokoh Aziz. Dia tersenyum ketika Aziz merebahkan dirinya di ranjang. Dengan sayang bahkan tangan Suaminya membelai pipinya. Dari gerakan itu terlihat jelas Suaminya begitu bernafsu.


"Dek, Mas kangen ingin menjamah, boleh? Mas sayang Adek sangat cinta!"


Khumaira tersenyum menanggapi perkataan Aziz. Dia kecup rahang tegas Suaminya dan meremas rambut Aziz gemas. Ia satukan kening mereka untuk meriah kepuasan. Khumaira tahu Aziz berhasrat begitu pun dirinya.


"Iya, sentuh Adek sepuas Mas. Adek sangat bahagia dan sangat sayang."


Aziz membuka pakaian Khumaira dengan sensual. Tangan terampil itu merayap ke punggung mulus Istrinya, sedetik kemudian bra terlepas. Dia tersenyum manis melihat dada besar Istrinya yang menggoda. Aziz menunduk untuk menciumi permukaan kulit dada Khumaira.


Khumaira hanya diam seraya menikmati sentuhan lembut Aziz. Dia membusungkan dada ketika Suaminya menjilati nipplenya. Ia mendesah kecil saat Suaminya memainkan dadanya sangat lihai. Khumaira tidak kuat dan tersentak ketika Suaminya malah tidur dengan kepala bersandar di dadanya


Aziz yang lelah tertidur seraya bersandar ria di dada Istrinya. Dia butuh istirahat makanya langsung lelap meninggalkan Khumaira sendiri. Ia akan minta maaf esok usai bangun tidur. Aziz yakin Khumaira akan memaklumi keadaanya.


Khumaira hanya terkekeh geli melihat kelakuan Aziz. Dia ambil selimut untuk menutupi tubuh mereka. Sebelum tidur ia cium kening Suaminya penuh cinta. Khumaira tersenyum teduh melihat wajah damai Aziz saat tidur pulas.


"Mas, Adek sangat senang dan sangat sayang. Terima kasih banyak, Adek sangat bahagia."


Sebelum tidur Khumaira sempatkan mencium bibir Aziz diangkat. Dia berdoa sebelum tidur menyusul Suaminya. Ia harap rumah tangganya aman sakinah mawadah warahmah. Sellau bahagia Dubai akhirat, Amin.