Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Keputusan Terbaik Khumaira!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Maaf sekali lagi tidak bisa balas komentar kalian satu persatu.


Tetapi, tenang saja Rose Baca semua.


Rsor mau mengingatkan agar kalian jaga kesehatan.


Jangan lupa minum vitamin, istirahat yang cukup dan jangan lupa makan teratur.


Hm, Kalian harus menahan diri jika ingin Dek Syafa dan Mas Aziz bersama.


Butuh proses dan tentunya begitu banyak rintangan menghadang.


Cus baca!


****////\\****


Khumaira terdiam sepi menatap cincin pernikahan bersama Aziz. Dia usap cincin itu diiringi derai air mata. Sudah 1 minggu semenjak Suaminya pergi harinya terasa suram. Memang ada Azzam yang menemaninya dalam mengasuh Mumtaaz dan Ridwan. Namun, khumaira sangat canggung akibat lama sekali tidak bertegur sapa.


Mereka kembali ke Pagerharjo dan tinggal di rumah keluarga besar Khumaira. Bersyukur Ridwan libur sekolah jadi tidak ke Berbah tempat 5 tahun terakhir bersama Suaminya. Khumaira selama 1 minggu memang tinggal satu atap bersama Azzam. Tetapi, belum pernah tinggal satu ranjang alasannya belum membangun pernikahan ulang. Khumaira tidur di kamar bersama Mumtaaz, sementara Azzam tidur di kamar sebelahnya bersama Ridwan.


Terkadang dua anaknya itu minta di temani tidur. Alhasil Khumaira dan Azzam tidur satu ranjang guna menidurkan dua anak mereka. Setelah keduanya terlelap maka Khumaira atau Azzam izin ke kamar masing-masing. Rencana awal memang mereka akan membangun pernikahan setalah masa Iddah Khumaira berakhir.


Selama 1 minggu Khumaira belum bisa menyerahkan haknya lantaran dirinya masih sah Istri Aziz. Dia tidak akan bisa melakukan itu pada Azzam sebelum masa Iddah selesai lalu membangun pernikahan ulang. Dalam benak Khumaira berpikir  apa nanti ada kehidupan baru dari benih Aziz? Makanya khumaira meminta pengertian Azzam menunggu sampai masa Iddah selesai lalu melangsungkan pernikahan ulang.


Namun, ini salah semua salah sehingga membuat Khumaira menangis dalam diam. Apa bisa ia terus terbelenggu dua pria itu? Rasanya panas jika ingat Azzam dan Aziz adalah cintanya. Tetapi, ia tidak akan sanggup menyakiti salah satunya. Khumaira mau bebas agar tidak ada luka dalam setiap langkah.


Maryam menepuk bahu Khumaira agar atensi sang Putri kembali. Benar Putrinya sedang menangis sesenggukan memikirkan banyak hal. Dengan cepat ia rengkuh erat Putrinya supaya lekas tenang. Maryam ciumi puncak kepala Khumaira karena sangat tahu perasaan anak keduanya.


"Ibu, hiks Khumaira tidak sanggup hidup begini."


Maryam paham makaud Khumaira mengatakan itu semua. Dia meminta Putrinya rebanan di ranjang. Dengan sayang ia usap kepala anaknya yang memakai hijab. Putrinya merebahkan kepala di pahanya seraya menangis. Sungguh Maryam tidak tega melihat Khumaira begitu sendu.


Jujur saja Sholikhin dan Maryam begitu bahagia saat Azzam kembali ke tengah mereka. Namun, ada yang janggal pada Khumaira. Putri mereka begitu layu tidak ada pancaran ekspresi. Mereka tahu betapa tersiksa hidup Khumaira menerima takdir. Maka dari itu Sholikhin dan Maryam berusaha membuat Khumaira bangkit kembali.


"Katakan ada apa? Jika tidak sanggup ingat ada anak-anak yang membutuhkan sosok, Uminya."


"Khumaira ingin berpiaah dari keduanya, Ibu. Aku tidak mau hidup bersama Mas Azzam atau pun Mas Aziz. Aku ingin hidup sendiri bersama anak-anak. Aku ingin berpisah tanpa ikatan antara cinta yang rumit. Aku akan bertahan demi Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz."


Maryam shock mendengar keputusan Khumaira di luar perkiraan. Dia menatap Putrinya minta kebenaran. Benar adanya Khumaira terlihat lelah hidup di antara dua pria shaleh. Jika itu keputusan terbaik maka Maryam setuju agar anaknya hidup damai. Dengan sayang Ibu 3 anak ini mengusap pipi Putrtinya.


"Pikirkan lagi jangan buru-buru. Siapa yang Nduk cinta antara Tole Azzam dan Tole Aziz?"


"Khumaira sudah berpikir jauh hari, Ibu. Sejak Mas Aziz pergi semua tidak benar. Biarkan aku pergi dari kehidupan keduanya. Aku tidak mau hidup bersama keduanya apa pun yang terjadi. Biarkan aku sendiri tanpa hadirnya mereka. Mungkin setelah ini aku akan berpisah dengan Mas Azzam lalu menunggu masa iddah agar mampu berpisah dengan, Mas Aziz. Aku sangat mencintai  ... tidak sanggup rasanya mengutarakan isi hati di kala hati sudah hancur lebur. Kini hanya duka yang Khumaira terima."


Khumaira duduk setelah mengatakan semuanya. Dia menunduk sedih menatap langit kamar Ibunya. Semua sudah waktunya untuk mengambil keputusan. Dia bukan wanita lemah yang hanya bisa diam menerima tanpa mau berusaha. Kedua Suaminya sudah mengambil keputusan kini Khumaira yang menentukan pilihan hidup.


Maryam terdiam mendengar jawaban Khumaira. Sebagai Ibu keputusan itu sudah benar. Alasannya Khumaira berhak bahagia. Maryam juga setuju keputusan sang anak. Itu jalan terbaik menjadi seseorang yang berani. Sebagai Ibu sungguh tidak rela Putrtinya jadi permainan. Semoga setelah ini khumaira bahagia.


Sholikhin membisu di ambang pintu masuk. Demi Allah ia tidak pernah percaya anaknya mampu mengambil keputusan begitu besar. Saat melihat kesekeliling ruangan dia bersyukur tidak ada seseorang yang mendengar percakapan Ibu dan anak. Dengan segera Sholikhin masuk dan mengunci pintu kamar.


"Nduk," panggil Sholikhin.


Khumaira menangis menatap Sholikhin. Dia meminta maaf akan melakukan sesuatu yang di benci Allah. Namun, jika jalan perceraian menjadi kebaikan, apa Allah tetap murka? Semoga saja dengan perceraian mampu membuat Khumaira menjadi wanita lebih tangguh.


"Perceraian memang di benci Allah. Tetapi, jika perceraian untuk kebaikan bersama itu tidak apa-apa. Nduk bisa bahagia hidup sendiri bersama anak-anak. Jangan takut kami akan mendukung keputusan, Nduk. Jangan takut melangkah menuju keadilan, Nduk. Ingat Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Nduk, bisa berjuang bersama kami membesarkan anak-anak. Kita akan mendukung apa pun keputusan, Nduk Maira."


"Bapak."


Khumaira hanya mampu mengatakan Ayah. Dia berhambur memeluk kedua orang tuanya. Maafkan dia telah melakukan hal yang di benci oleh Allah. Ini keputusan bersama menggapai mimpi. Khumaira akan berjuang bersama anak-anak serta keluarganya.


"Sekarang bicara dengan Nak Azzam secara baik-baik. Setelah setuju urus surat perceraian kalian segera. Untuk Tole Aziz, tunggu masa iddahmu selesai. Gih utarakan segala keluh kesah Nduk, jangan takut."


"Enggeh, Pak."


Khumaira tersenyum tulus ke arah Sholikhin dan Maryam. Dia langsung beranjak dari ranjang menuju pintu keluar. Dia akan melangkah menuju jalan yang benar. Khumaira akan hidup tanpa Azzam dan Aziz. Dia akan berjuang bersama anak-anak tanpa bayangan kedua pria itu. Untuk sekolah, khumaira ingin memindahkan Ridwan agar sekolah di Pagerharjo. Lalu akan memasukkan Mumtaaz ke taman kanak-kanak di sini.


Sholikhin dan Maryam saling melempar senyum haru. Akhirnya jalan membuat Khumaira kembali ceria akan terbuka. Mereka tidak ingin anak keduanya jadi bahan mainan di antara dua pria. Walau sadar keduanya memiliki pengetahuan agama yang kuat. Sifat baik ada pada Azzam dan Aziz, tetapi baik Sholikhin atau Maryam tidak suka Putrtinya terjerat. Biarkan Khumaira bebas mencari kenyamanan.


****////\\****


Saat anak-anak sudah lelap, Khumaira meminta Azzam untuk berbicara empat mata. Kini Khumaira duduk di sofa sembari tersenyum manis saat Azzam duduk di sampingnya. Rasa teduh Suaminya terasa nyaman seperti biasa. Sungguh Khumaira tidak sanggup berada di dekat Azzam atau Aziz.


Azzam menatap Khumaira heran lantaran Istrinya tersenyum manis. Ini senyum manis pertama kalinya setelah kepergian Aziz. Dia senang Istrinya kembali ceria walau merasa ada yang janggal. Sejatinya ada apa sampai Istrinya ingin berbicara khusus? Entah kenapa Azzam merasa takut sesuatu akan terjadi.


"Mas, mau mendengar dosa yang selama ini Adek pendam?"


Khumaira ingin mengawali pembicaraan dengan rahasia itu. Dia ingin memberi tahu Azzam tentang kebenaran itu. Maka dari itu ia akan jujur walau nantiny akan terdengar menyakitkan. Sungguh Khumaira tidak akan pernah bisa bertahan jika harus hidup seperti ini.


Azzam bingung mendengar perkataan Khumaira yang ambigu. Dosa selama 11tahun? Dosa apa yang di sembunyikan Istrinya selama itu? Apa ini ada sangkut pautnya dengan Aziz? Azzam tidak mau berpikir buruk sehingga memilih istighfar dalam hati.


"Dosa apa, Dek? Kenapa Mas merasa janggal?"


"11 tahun lalu tepatnya saat Adek berumur 16 tahun ... Ibu meminta Adek melakukan Shalat Istikharah. Di dalam mimpi Adek bertemu dua pria yaitu Mas dan Mas Aziz."


Khumaira terdiam untuk melihat respons Azzam. Dia tersenyum saat mata teduh Suaminya tampak membulat sempurna. Kini waktu terasa menyesakan untuk meneruskan cerita. Apa Azzam akan marah jika tahu cinta pertamanya adalah Aziz? Khumaira berharap semoga saja Suaminya ini mau mengerti.


Azzam memejamkan mata sebentar lalu menatap Khumaira dalam. Sepertinya ini kasus seperti Aziz yang mencintai Khumaira lewat mimpi. Ya Allah, betapa jahat dirinya telah memisahkan cinta mereka. Rasa sakit menguar kuat tanpa Azzam kehendaki. Dia di sini telah menjadi penghalang cinta Khumaira dan Aziz.


"Lalu?"


"Sekali lagi maafkan Adek akan mengatakan ini. Cintaku yang kumimpikan selama 3 tahun dan menjadi cinta pertama Adek adalah sosok yang sangat baik. Aku sangat mencintainya hingga takdir berkata lain. Ketika umur memasuki 19 tahun Adek mengenal Mas. Adek mencintai akhlak serta budi luhur Mas yang sangat baik. Adek mulai menutup hati agar tidak teringat cinta pertamaku ...,


.... Mas tahu bahwa sesuatu yang paling menyakitkan sekaligus membahagiakan yaitu melihat dia. Namun, semua terlambat ketika aku menikah dengan Mas. Saat semua mengatakan sah maka cintaku untuknya lenyap. Lucu sekali saat tahu cinta pertamaku ternyata Adik ipar yang sangat narsis. Mas pasti tahu siapa dia dan benar adanya Mas Aziz adalah cinta pertama, Adek."


Khumaira menunduk dalam menyembunyikan air mata. Dia tidak boleh berhenti karena ini tujuan untuk bebas. Biarkan dia lepas dari jerat dua pria yang sangat dicintai. Izinkan Khumaira bahagia dengan keputusannya walau badai kepedihan menghantam.


Azzam memijat pelipisnya kasar merasakan rasa bersalah membelenggu. Kenapa bisa ia berbuat tidak tegas untuk mempertahankan hubungan Aziz? Sekarang sudah terlambat ketika Adiknya telah pergi. Dia memang sakit hati namun itu kebenaran yang harus di terima. Azzam ingat Aziz juga begitu dan kini Khumaira juga begitu.


"Maaf memisahkan kalian dan menjadi penghalang cinta kalian," lirih Azzam begitu layu.


Khumaira menangis mendengar balasan Azzam. Dia menggenggam tangan besar Suaminya seraya menatap sedih. Dia dengan sedih mengecup pergelangan tangan Suaminya. Dengan cekatan khumaira mengusap air mata Azzam.


"Jangan berbicara begitu Mas itu takdir. Jangan merasa bersalah karena Allah menulis takdir kita begitu rumit."


"Itu takdir buruk, apa Adek tidak ingin bersama, Tole Aziz?"


Khumaira yang mendengar jawaban Azzam sontak melepas pelukannya. Dia menatap terluka pada Suaminya. Kenapa seolah dia barang yang bisa di lempar sana-sini? Setitik air mata berlinang akibat rasa kecewanya. Khumaira sangat kecewa pada Azzam yang tega bicara begitu.


Azzam terdiam melihat Khumaira menatap terluka padanya. Apa salah ia berbicara begitu? Walau nyatanya ini Menag salah karena tega berbicara begitu. Namun, ia bicara begitu semata ingin meluruskan masalah. Azzam tidak mau lembaran baru ini berakhir duka mendalam.


"Mas Aziz sudah berkorban untuk kebahagiaan Mas. Namun, Mas balas ingin melemparku padanya lagi? Aku bukan barang!" desis Khumaira.


"Dek bukan itu maksud Mas  ...."


Khumaira menepis kasar tangan Azzam yang hendak menyentuhnya. Dia tidak menyangka orang yang sangat dicintai memiliki sikap seperti ini. Kenapa Azzam begitu mudah merespons tanpa mau mempertahankan semuanya? Memang Khumaira ingin pisah, tetapi tidak begini caranya.


Azzam terdiam tatkala tangannya ditepis kasar. Ini memang salahnya tidak bisa berbuat apa-apa. Kenapa bisa ia berbuat begitu sampai Istrinya sejarah ini. Dia akan hadapi Istrinya hati-hati agar tidak menyakiti hati rapuh Istrinya. Azzam harap untuk kali ini Khumaira bisa tenang atau lebih menghindari keberadaannya.


"Berhenti, keputusan ada padaku. Kalian saling melempar dan berkorban. Tetapi, nyatanya pengorbanan kalian tidak ada artinya. Aku tersakiti akan tingkah kalian yang sangat pengecut. Kalian sudah memutuskan keputusan ...! Maka dengarkan keputusanku!Aku ingin pisah dari Mas Azzam dan Mas Aziz. Aku tidak akan memasuki kehidupan kalian berdua. Dengar aku tidak ingin hidup pada bayangan dua pria egois. Aku ingin bebas tanpa kalian yang pengecut seolah saling menyayangi. Jadi tolong talak saya dan mari urus surat perceraian kita. Aku ingin kita cerai dan tolong jangan ikat aku. Anda tenang saja saya akan mengirim surat perpisahan pada Mas Aziz setelah masa iddah selesai. Saya tegasksn sekali lagi saya akan pergi dari kehidupan kalian berdua. Tolong talak saya dan urus surat perceraian kita segera!"


Khumaira mencetuskan sesuatu yang sangat menyulitkan. Dia tidak peduli yang pasti harus bebas dari dua pria yang meninggikan ego. Sungguh Aziz sudah berkorban banyak namun berakhir begini. Tidak apa, asal Khumaira lepas dari Azzam semua akan baik-baik saja. Biarkan dia bebas tanpa bayangan Azzam dan Aziz. Biarkan Khumaira pergi tanpa ada dua sosok yang sangat dicintai.


Azzam membisu mendengar keputusan khumaria. Dia menelan ludah kasar menerima ketegasan Istrinya. Ya Allah, sebegitu murka Istrinya sampai berbicara begitu? Sakit tidak berdarah itulah yang di rasakan Azzam. Demi Allah ini salah mereka maka Khumaira berhak mengambil keputusan. Tetapi, ini begitu menyiksa bangun dan jiwa akan keinginan Istrinya.


"Dek," lirih Azzam karena hanya itu yang mampu menjadi jawaban.


"Tolong bebaskan saya," pinta Khumaira.


Azzam menghembus napas berat menerima permintaan Khumaira. Dia mendongak menatap atas untuk menghalau air mata. Ya Tuhan, bisakan ia bertahan dalam duka perpisahan? Sepertinya tidak maka dari itu Azzam akan berusaha keras mempertahankan Khumaira.


Khumaira menatap Azzam penuh harap agr mendapat kebebasan. Dia ingin bebas maka biarkan pergi tidak ada penghalang. Ia mu pisah agar tidak ada Aziz dan Azzam yang selalu menghantui. Soal cinta biarkan ia kubur cintanya pada sang pemilik hati. Khumaira tidak akan mundur pasalnya ada dua anaknya yang akan menjadi kekuatan terbesarnya.


"Mas tidak bisa."


"Bagus, itu berarti kalian ingin menyakiti saya setiap waktu."


"Dek bukan begitu. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Apa Adek tidak mencintai Mas?"


"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah. Tetapi, maaf Adek tidak bisa hidup dengan Mas atau pun Mas Aziz!"


Azzam memijat pangkal hidung sedikit kasar. Mungkin ini saatnya mereka bahagia pada jalan masing-masing. Semoga saja ini benar adanya. Maafkan ia tidak mampu menjaga Khumaira. Maaf Azzam telah menghancurkan pengorbanan Aziz. Namun, ia akan berjuang lebih menyakinkan Khumaira agar tetap tinggal.


Khumaira tidak menampik jika dirinya mencintai Azzam karena Allah begitupun dengan Aziz. Tetapi, cinta itulah yang akan menghancurkan hidupnya. Maka dari itu lebih baik pergi asal ada dua anaknya. Tidak apa tanpa Azzam dan Aziz asal ada Ridwan dan Mumtaaz maka Khumaira kuat menjalani hidup.


"Tahu bukan talak itu di benci Allah!"


"Saya tahu sangat tahu, Mas. Namun, ini demi kebebasan saya. Cukup jangan sakiti saya lagi. Tolong izinkan saya bahagia bersama anak-anak dan hidup bahagia tanpa kalian."


Azzam merasa kepalanya berdenyut memikirkan semua ini. Ya Allah, kenapa ia sangat berat mengatakan kalimat itu. Semoga saja usai ini semua akan baik-baik saja. Azzam berharap Khumaira bahagia bersama anak-anak.


"Mas setuju, namun ada syaratnya!"


Khumaira menyengit mendengar jawaban Azzam. Syarat apa itu? Semoga saja syarat itu tidak menyakitkan untuk di dengar. Semoga anak-anak tetap bersamanya dalam suka maupun duka. Khumaira akan menegakkan hak asuh jika nanti Azzam minta Ridwan.


"Apa syaratnya?"


"Boleh Mas merengkuh dan mengecup kening, Adek?"


Khumaira terdiam mencerna perkataan Azzam. Dia menangis dalam diam pasalnya ini akhir hubungan mereka. Dengan pelukan serta ciuman maka semua berakhir. Semoga saja ini adalah takdir yang di tulis Allah. Khumaira masih diam belum merespons syarat Azzam.


Azzam berharap cemas akan persetujuan Khumaira. Namun, tidak lama senyum pedih terukir saat Istrinya mengaguk setuju. Tentu dengan segera ia rengkuh tubuh mungil Istrinya penuh kepiluan. Ini. Akhir kisah mereka dan sekarang perpisahan menanti. Azzam akan berusaha hidup tanpa Khumaira yang akan mendampingi hidupnya.


Khumaira membalas pelukan Azzam tidak kalah erat. Dia ikut menangis akan perpisahan ini. Semua telah berakhir ketika Azzam mengecup keningnya lama. Dengan keberanian Khumaira memberikan ciuman di pipi sebagai perpisahan. Setelah ini maka hubungan mereka kandas.


Azzam menitikan air mata terluka mengingat perpisahan ini. Hal paling menyakitkan dalam hidup yaitu dengan melepasnya. Semoga saja ia mampu berjuang tanpa cintanya. Baik Azzam atau Aziz tidak akan bisa kembali karena Khumaira telah menutup semua.


"Dengan mengucap Bismillah ... hubungan kita berakhir. Mas talak ... talak ... talak, Adek. Berbahagialah karena sekarang Adek bebaa. Kita akan urus surat perceraian kita secepatnya. Namun, bisakah Mas melihat Tole Ridwan dan Dedek Mumtaaz?"


Khumaira menangis sedih akhirnya hubungan mereka tandas. Dengan hati tegar ia tersenyum sebagai perpisahan. Setelah ini mereka akan hidup secara keinginan. Pada akhirnya Khumaira menunduk dalam tidak sanggup menatap Azzam yang menangis dalam diam.


Azzam sudah melepas diri bahkan sudah ada jarak di antara mereka. Kini Khumaira bukan lagi Istrinya haram rasanya saling menyentuh atau hal sebagainya. Dia hanya berharap semoga saja mantan Istrinya mampu berjuang. Azzam sudah berusaha ikhlas menerima takdir bahwa jodohnya telah berakhir.


"Iya, Mas boleh datang kapan pun untuk menjenguk anak-anak. Semoga  juga berbahagia dengan hidup baru, Mas. Tolong berbahagia setelah badai ini berakhir. Satu lagi tolong jangan beri tahu Mas Aziz bahwa kita sudah berpisah. Tolong beri tahu keluarga besar Mas ... jangan sampai ada yang memberi tahu kenyataan ini pada Mas Aziz."


"Syukron kasir, Dek. Insya Allah, akan Mas jaga amanah Adek."


"Afwan. Terima kasih banyak, Mas."


Kini semua telah tandas tanpa sisa di antara mereka. Khumaira memilih sendiri tanpa ada Azzam dan Aziz dalam hidupnya. Dengan begini dia bebas dari dua pria yang mempermainkan hidupnya. Prioritas utama Khumaira adalah membahagiakan Ridwan dan Mumtaaz agar tidak kekurangan. Kini dirinya tidak takut ada dua anaknya yang akan menemani dalam suka maupun duka. Biarkan dua prianya berlaku asal dua anaknya selalu tunggal dalam dekapannya.


Cahaya gelap telah sirna dalam diri Khumaira. Dua pria yang menjeratnya telah pergi dalam kehidupannya. Dia korban makanya keputusan pergi adalah hal terbaik. Khumaira sangat bahagia mampu lari tegas meninggalkan Azzam dan Aziz sendiri. Semoga saja langkahnya mampu menjadi awal baru yang menyenangkan. Khumaira telah bebas maka tugasnya hanya satu membesarkan dua anaknya tanpa kekurangan kasih sayang.


Untuk Azzam kini awal baru di mulai karena sekarang sudah duda. Kini tugasnya menari yaitu mengawasi di anaknya untuk menjaga serta menyayangi. Lalu dirinya akan kembali ke pesantren untuk mengulang Santriwan. Tidak apa ini klan terbaik maka Azzam akan berjuang tanpa cintanya.


Harapan Azzam semoga Khumaira bertahan serta mampu membesarkan anak-anak tanpa ada mereka. Walau mereka akan memberikan fasilitas terhadap dua anak manis itu. Namun, tidak bisa selalu bersama 24 jam menjaga anak-anak. Kini semua telah berakhir dan Azzam harap Khumaira bertahan dalam suka maupun duka.


*****/////\\***


***Apa kalian senang akan keputusan Khumaira?


Sebagai wanita aku salut pada Mbak Syafa telah mengambil keputusan terbaik.


Dengan tidak terikat pada dua pria itu maka ia begitu tangguh.


Jangan sedih ada dua anak manis yang akan menjadi kekuatan Khumaira dalam menghadapi duka.


Inilah akhir kisah cinta Azzam-Khumaira-Aziz. Mereka berakhir di meja perpisahan.


Seperti biasanya Rose belum edit atau koreksi ulang bab ini. Jika banyak kesalahan dan typo bertebaran harap maklum.


Semoga kalian tetap setia menanti setiap chapter, nya.


Asli akan berakhir happy ending.


See you later, Rosever***!