
100 Hari Kemudian ....!
Kini di rumah Khumaira mengadakan acara tahlil memperingati hari ke 100 Suaminya wafat. Tangis menyelimuti kalbu saat mengingat Azzam. Khumaira tidak kuasa menatap depan pasalnya hati begitu sakit, dan kini hanya tinggal kenangan.
"Nduk," panggil Maryam.
"Ibu, aku tidak sanggup," lirih Khumaira sembari merengkuh Ibunya.
Tangis tidak mampu di bendung saat Khumaira membaca surah Yasin. Ingatan kebersamaan mereka terkuak kembali. Mengingat Azzam tersenyum tulus, memberikan nasihat bijak, cinta tulus dan kenangan indah bersama yang lainnya membuat Khumaira tambah tergugu.
Safira mengusap puncak kepala Khumaira lembut. Tidak kuasa menahan sakit melihat menantu keduanya terpuruk akan kesedihan.
"Ummi," tangis Khumaira.
Safira tidak kuasa untuk merengkuh menantu yang sudah di anggap Putri. Hatinya juga hancur kehilangan sosok yang paling disayangi. Putranya telah pulang ke Rahmatullah dengan keadaan tragis. Berdoa agar Azzam mendapat tempat yang layak yaitu Surga.
"Ikhlaskan Masmu, jangan terpuruk lagi, Nduk. Ikhlaskan Azzam, jangan siksa dia dengan kesedihan. Ummi berharap Nduk Khumaira mampu melewati cobaan dengan ikhlas. Ummi, mohon bangkitlah kembali."
Safira berusaha memberikan ketenangan pada Khumaira. Dan benar perlahan menantunya tenang.
Ridwan menatap depan dengan pandangan haru. Si kecil melihat sosok yang sangat dia rindu tengah tersenyum padanya.
"Paman, itu Abi tersenyum pada kita."
Aziz masih membaca Yasin sontak diam lalu mengikuti arah pandangan Ridwan. Hatinya sakit mungkin Masnya mau pamitan karena waktunya habis. 100 hari telah datang dan kini Mas Azzam akan tenang.
"Abi," lirih Ridwan.
Aziz melanjutkan membaca surah Yasin sembari mengusap rambut Ridwan. Keponakan kecilnya sedang duduk di pangkuannya.
"Abi," gumam Ridwan lagi.
Hasyim langsung membawa Ridwan ke dalam. Dia lupa untuk menutup mata batin cucunya. Namun, lihat Ridwan malah menangis di bawa masuk.
Aziz undur diri untuk menemui Hasyim. Terlihat para Ibu-Ibu berusaha menenangkan Ridwan tetapi tidak kunjung diam. Sungguh dia tahu cara menenangkan Ridwan yang menangis histeris.
Khumaira panik mendengar tangisan Ridwan. Dia meminta Putranya pada Hasyim, tentu Ayah mertua memberikan Ridwan padanya.
Khumaira merengkuh hangat Ridwan sembari merapal doa seperti ayat kursi, An-Nas dan lainnya. Khumaira begitu takut terjadi apa-apa dengan Ridwan.
"Mbak, coba berikan Tole pada, Aziz. Tole Ridwan ingin kembali ke tempat semula."
"Tapi, Mas ...."
"Percaya pada Aziz, Insya Allah Tole diam."
Khumaira menurut perkataan Aziz. Dia memberikan Ridwan pada Aziz secara hati-hati. Ia melihat punggung tegap Adik ipar tertelan jarak karena masuk ke ruang tamu.
Ridwan diam kembali seraya menyamankan diri di pangkuan, Aziz. Mata Hazel berbinar terang melihat arah tadi.
Hati Aziz berasa kebas, sangat ngilu. Dia usap rambut tebal Ridwan penuh sayang. Sesak mengiringi batin saat acara selesai. Aziz sabar menghadapi rasa sakit yang telah di takdirkan Allah.
"Paman, Abi menitip salam untuk semuanya. Katanya Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Abi telah pergi dan tidak akan pernah kembali. Paman, Dedek sedih."
"Sstt, semua akan baik-baik saja, Nak. Jangan sedih ada Paman. Nanti kita sampaikan salam, Abi."
Ridwan lelah dan berakhir tidur dalam dekapan Aziz. Dia ingin memimpikan Ayahnya yang telah tiada. Si kecil begitu rindu Azzam sampai berharap Abinya pulang dengan selamat.
Aziz tersenyum tipis saat makanan di hidangkan. Dia memilih undur guna menidurkan Ridwan. Sebelum itu izin pada Abahnya untuk ke dalam menidurkan keponakannya.
***
Aku tatap foto Masku penuh rindu. Kuusap kaca penuh kekalutan. Hatiku sakit tidak berbentuk akibat kehilangan, Mas.
Suamiku telah pergi 100 hari yang lalu dengan membawa buah hati kedua kami. Rasa sakit begitu membelenggu ketika Mas Azzam pergi membawa Fadil untuk selamanya. Bukan kesalahan Mas membawa Fadil, ini murni kesalahanku.
Mungkin Allah murka karena aku terlalu terpuruk sehingga mengambil karunianya.
Sungguh, aku tidak kuat menahan cobaan ini. Hatiku hancur lebur tidak ada sisa.
Mas Azzam pergi membawa seluruh hidup, napas, cinta dan duniaku. Tidak ada kebahagiaan menyelimuti kalbu dan kini hanya ada duka dengan rasa pilu.
Mas, Adek rindu.
Ya Allah, rasanya sesak sekali.
Tole Ridwan, kamu sedang apa, Nak?
Maafkan Umi belum bisa bangkit dari rasa sakit. Umi belum sanggup menopang diri untuk berdiri merengkuhmu.
Maafkan Umi karena mengabaikan, Tole. Demi Allah, Umi sangat merindukan Tole Ridwan.
Setiap melihat Tole Umi selalu ingat, Abi. Tidak sanggup rasanya berhadapan dengan Tole Ridwan.
Tidak kuasa air mata meluncur deras setiap melihat mata dan wajahnya.
Ya Allah beri kekuatan untuk hamba. Mas maafkan Adek karena menelantarkan Putra kita.
Maaf.
Mas, Adek tidak sanggup menatap masa depan. Tidak sanggup bertahan saat anak kita memilih ikut bersama, Mas.
Adek harus bagaimana Mas?
Ya Allah, tolong hamba. Beri hamba kekuatan untuk menjaga Putraku dan membesarkan Tole Ridwan.
Mas, Adek ingin ikhlas tetapi tidak mampu karena kita di takdirkan bersama.
Ya Allah, hamba khilaf dan akan berusaha ikhlas menerima kepergian Masku.
Semoga Allah menaungani Mas di tempat yang teduh, Amin.
Inilah kisah kami yang awalnya penuh cinta, penuh warna dan kasih sayang. Tetapi berakhir pilu.
Kisah cinta suci antara kami yang terikat pernikahan.
Pernikahan penuh kebahagiaan antara aku dan Mas Azzam, kini hanya tinggal kenangan.
Mas Azzam, semoga tenang di alam sana.
Adek sangat mencintai Mas karena Allah.
Assalamu'alaikum Imamku.
Semoga kita bisa berjumpa kembali, Amin.
Allahu akbar Walillaahil-Hamd, dengan menyebut nama Allah aku ikhlas menerima cobaan ini.
Terima kasih ya Allah.
Tole Ridwan, Umi datang Nak.
***
Aziz sedang makan bersama Zahira dan Ridwan. Hubungan dia dan mantan tunangan membaik bahkan terkesan romantis.
Bayangkan, Zahira rutin sambang ke kantor tempat Aziz kerja. Dia juga terus membawa bekal untuk Aziz dan Ridwan.
Banyak yang mengira Zahira Ibu dari Ridwan. Namun, Ibu kandung Ridwan jauh dari sosok Zahira. Gadis cantik dengan tubuh tinggi semampai itu sangat cantik. Sedangkan Khumaira menjurus ke mungil mengemaskan. Wajah Khumaira juga sangat cantik nan manis memukau.
Mereka berdecap kagum menatap keluarga kecil Bosnya. Tidak tahu saja, masa depan Aziz masih sangat sulit di gapai. Sejatinya masa depan Aziz sudah di tulis oleh Allah dengan wanita yang tepat bersanding denganya.
Lain sisi Khumaira memakai bedak tipis dan memoles bibirnya pakai lipstik. Dia bertekat memulai awal baru bersama Ridwan. Semoga saja dia dan Putranya bahagia selalu tanpa kendala.
Menatap diri di cermin, Khumaira merasa kosong akibat kehilangan. Pakaian gamis warna biru dongker motif bunga. Hijab syar'i warna senada dengan pakaiannya.
"Mas, masa iddah Adek telah habis. Sekarang Adek benar-benar lepas dari Mas. Tetapi, tenang cinta Adek tidak akan pernah luntur. Seperti Mas mencintai Adek sampai ajal menjemput, begitu pun Adek akan mencintai Mas sampai ajal menjemput. Assalamu'alaikum Imamku, semoga Mas tenang di alam sana. Adek mencintai Mas karena Allah. Mulai detik ini Insya Allah, Adek ikhlas Mas kembali ke Rahmatullah. Selamat jalan, Suamiku!" monolog Khumaira seraya tersenyum manis.
Butuh waktu 30 menit Khumaira sampai kantor tempat Aziz bekerja. Saat memasuki gedung, Khumaira langsung bertanya pada resepsionis.
Senyum masam terbit tatkala ingat kejadian 4 tahun silam. Khumaira merasa sedih, namun juga sangat rindu.
"Nyonya, mencari siapa?"
Resepsionis wanita itu menatap kagum akan kecantikan Khumaira. Begitu pun para karyawan pria lainnya. Keanggunan memikat Khumaira begitu unik nan manis.
"Mas Aziz," sahut Khumaira lembut.
"Mas Aziz, siapa? Tunggu jangan bilang Pak Aziz, CEO perusahaan ini?"
"Betul, bisa saya bertemu?"
"Nyonya, maaf Pak Aziz sedang keluar bersama Istri dan anaknya."
Khumaira melongo, sejak kapan Aziz menikah? Tunggu, siapa Putra dan Istri Aziz?
"Oh, itu mereka. Pak ada yang ingin mencari!" lapor resepsionis.
Aziz dan Zahira menengok ke resepsionis. Mereka tersenyum ketika melihat Khumaira mencari. Ada gerangan apa wanita ini mencari Aziz? Kenapa bertanya saat tahu jawabannya?
Khumaira berbalik menghadap belakang. Dia melihat Ridwan di gendong Aziz dan ada wanita di samping Adik ipar yaitu Zahira. Ah, Khumaira sadar akan situasi ini.
Senyum manis terukir tatkala ingat Aziz dan Zahira memang berencana menikah. Tetapi, Khumaira tidak tahu kalau Aziz batal menikah. Karena terpuruk, dia melupakan segalanya.
"Mas Aziz, maaf mengganggu. Aku ingin menjemput, Tole Ridwan."
Aziz tersenyum tulus mendengar perkataan Khumaira. Dia menengok Ridwan sedang tidur siang. Dengan sayang Aziz mengecup pelipis Ridwan yang lelap dalam gendongannya.
"Tole lagi tidur, Mbak. Ayo ke ruanganku dulu sekalian istirahat."
"Tidak perlu, biar Tole aku bawa pulang, Mas. Jadi repot in pasangan baru."
Aziz dan Zahira menyengit mendengar perkataan Khumaira. Mereka saling pandang menanyakan apa yang di bicarakan wanita beranak satu ini? Pasangan apa yang khumaria maksud? Memikirkan itu Aziz dan Zahira bingung.
"Pasangan apa, Mbak?" tanya Aziz spontan.
"Suami dan Istri, apa lagi. Mas lucu, sini Tole aku saja yang gendong."
"Suami .. Istri? Aku dan Dik Zahira? Ya Allah, Mbak ngawur, kami belum menikah dan Insya Allah tidak akan terjadi."
Jawaban Aziz begitu mengejutkan dan menohok hati Zahira. Memang Aziz dasarnya selalu menyerukan kata tanpa pikir panjang jadi hasilnya begini.
"Mas, saya pulang dulu. Mbak Maira, mari."
"Ah, iya."
Khumaira masih sok begitu pun para karyawan kantor. Dia jadi menyesal berdiam diri di kamar tanpa peduli sekitar dan saat berita besar begini baru tahu. Kenapa Aziz dan Zahira tidak jadi menikah terus berputar di kepala Khumaira?
"Ayo Mbak."
"Ah, iya."