
Tolong chap ini benar-benar nyesek!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
👇👇👇
0.*.*.*.0
Aziz meminta Khumaira untuk membantu duduk. Setelah duduk ia tersenyum penuh arti ke arah Istrinya. Lalu mata tajam berpupil cokelat keemasan menatap Wisnu mengejek. Keyakinan bahwa ada bala bantuan ternyata benar adanya. Allah selalu melindungi hamba-Nya di kala membutuhkan pertolongan. Aziz sangat bahagia Wisnu telah tamat kini pertanggungjawaban harus dilakukan.
Khumaira mengusap pipi Aziz lalu memberikan ciuman di rahang. Dia tersenyum tipis pada Romli dan pada para polisi setelah melakukan semua. Akhirnya semua berakhir bahagia walau ia yakin akan ada drama. Khumaira akan selalu siap siaga melindungi Aziz karena Wisnu ini tipikal pria gila.
Wisnu terpojok di antara para polisi yang mengacungkan senjata api. Anak buahnya di ringkus Polisi lebih dulu kini tinggal sendiri. Kini ia mematung menyaksikan keharmonisan Aziz dan Khumaira. Wisnu tidak terima pria bahagia dalam kesenangan itu.
"Pak inspektur, CCTV ada di pot bunga di pojok ruangan. Semua bukti ada di sana dan terima kasih sudah menolong kami!" tegas Khumaira.
Aziz menatap Khumaira penuh arti, kemudian menatap Romli dengan pandangan kosong. Dia sangat kecewa akan tindakan sahabatnya di luar perediksi. Dari jaman kuliah mereka berteman, tetapi kenapa bisa ia di tusuk begitu tajam. Aziz terluka sekali akan tindakan Romli begitu tega padanya.
Romli paham akan situasi ini makanya memilih bungkam. Demi.apa ia terluka ketika mata Aziz menyorot kosong. Pasti sahabatnya begitu kecewa padanya. Jelas jangan tanya Romli paham begitu pedih Aziz saat ini menerima ini semua.
Wisnu menggeram marah mengingat kekalahan dari Aziz sekali lagi. Dia tidak terima pria itu menang kali ini. Pria hina itu harus kalah apa pun yang terjadi. Wisnu harus melakukan apa pun asal kemenangan melingkupi dirinya.
Inspektur Polisi mengambil barang buktit di pot bunga. Inspektur itu tersenyum akhirnya kasus rumit selesai. Sang polisi meminta bawahanya untuk menangkap Wisnu.
Khumaira mendekati Romli guna mengucap terima kasih. Dia sangat bahagia akhirnya bisa pulang ke rumah secara selamat. Dia satukan tangan penuh pengharapan terimakasih atas kebaikan pria ini. Khumiara tidak akan melupakan jasa Romli telah mengatur strategi menyelamatkan Aziz.
"Mas Romli, terima kasih banyak sudah menolong kami sejauh ini. Saya sangat bahagia mendapat bala bantuan dari, Mas."
Romli tersenyum penuh arti mendengar perkataan Khumaira. Dia akan melindungi Aziz apa pun yang terjadi. Rasa sesal telah terpengaruh Wisnu membuat Romli terpuruk. Setelah semua ini iaakan mendekam di penjara seumur hidup tentu sangat rela. Semua keadilan sudah di tegakan maka Romli sangat bahagia. Sahabatnya itu pasti tidak akan memaafkan kesalahannya. Tidak apa Aziz berhak membenci tanpa memberi pengampunan.
"Sama-sama, Mbak. Tidak perlu sungkan karena saya juga bersalah. Dengan begini saya sedikit lega bisa menolong, Aziz."
Khumaira tersenyum mendengar jawaban Romli. Lega rasanya mendapat kebaikan pria ini. Walau bersalah namun Romli berani mengakui kesalahan. Setidaknya pria ini tobat mu membantu bahkan memberikan pertolongan. Kini Khumaira bisa hidup bahagia bersama Aziz bersama anak-anak.
Wisnu meronta agar polisi melepasnya. Dia sangat marah pada Aziz karena telah menghancurkan masa depan. Saat melewati dua pria gila ia menatap bengis Romli dan Aziz secara bersamaan. Dari mereka harus mati agar Wisnu lega.
Polisi menahan tangan Wisnu secara kasar agar tidak bertindak. Orang ini begitu gila sehingga harus hati-hati. Kejahatan Wisnu sudah tidak bisa di maafkan. Bisa jadi penjara seumur hidup akan di peroleh Wisnu.
"Tunggu!" seru Aziz.
Aziz berjalan di dekat Romli dan Khumaira. Dia tidak peduli rasa ngilu di tubuh atasanya. Tujuannya hanya satu meluapkan emosi yang dia tahan. Kenapa bisa Romli tega bekerja sama dengan Wisnu untuk menghancurkan karirnya? Aziz akan menuntun jawaban atas semua itu.
Khumaira menatap Aziz dalam saat Suaminya berjalan kearah mereka. Dia tahu emosi Suaminya sangat besar pada Romli. Namun, ia sadar seberapa pemaaf Suaminya ini. Khumiara tahu betapa baiknya akhlak Aziz walau gila akan kenarsisan.
"Tuan Wisnu, saya tidak ada dendam pada, Anda. Selagi bisa bertobatlah untuk kembali ke jalan yang benar. Saya tahu pasti Anda sangat membenci saya akan situasi ini. Tetapi, alangkah baik membuka lembaran baru. Saya akan melupakan kejahatan Anda asalkan mau kembali ke jalan yang benar. Saya memiliki banyak kesalahan dalam hidup maka dari itu tidak sepantasnya menaruh dendam. Dosa saya menumpuk kenapa harua di tumpuk lagi dengan kebencian. Sekarang semua selesai, semoga saja Anda di penjara sana bisa merenungkan kesalahan yang selama ini Anda perbuat!"
Aziz dasarnya seorang pria baik-baik, lapang dada dan pemaaf mana bisa membenci. Dia hanya ingin hidupnya damai tanpa ada dendam atau pun benci berkepanjangan. Semua orang memiliki kesempatan kedua untuk memperbaiki diri. Semoga saja Wisnu kembali ke jalan yang benar, Aamiin.
Khumaira, Romli dan para Polisi menatap Aziz tidak percaya. Kalau Khumaira pastinya sangat percaya pasalnya Aziz adalah sosok yang sangat baik. Sementara itu rasa sesal hinggap di hati Romli telah menghancurkan Aziz.
Wisnu hanya terdiam tanpa respons akan kebaikan Aziz. Dia menatap Aziz tanpa ekspresi berlebih seolah tidak tersentuh. Lalu para polisi kembali membawanya keluar ruangan. Namun, sebelum itu dia dengan cepat mengambil pistol lalu menembak ke arah Aziz.
Hati sudah menjadi batu maka Wisnu tidak tersentuh oleh perkataan tulus itu. Dia sangat bahagia akhirnya Aziz akan mati ditangannya. Masa bodoh asal pria gila ini mati ditangan tidak maslah penjara seumur hidup. Toh Wisnu akan bahagia Aziz mati tanpa bisa memiliki Khumiara.
Bruk
"Khumaira ....!" teriak Romli.
Aziz membisu mendengar teriakan Romli begitu nyaring. Setelah berbicara panjang lebar dia merengkuh Romli. Sahabatnya hanya terpengaruh karena ia tahu sahabatnya baik. Aziz akan memaafkan segala kesalahan Romli walau karirnya berakhir.
Lalu kenapa bukan Aziz yang tertembak melainkan khumaira? Jawabanya simpel, khumaira masih memperhatikan Wisnu dengan kemarahan dalam hati. Degup jantung terasa berhenti melihat pria itu nekad melakukan hal gila. Dia sangat terkejut saat pria itu menodongkan senjata ke arah Suaminya. Tanpa pikir panjang khumaira menggantikan posisi Aziz.
Wisnu tercengang melihat wanita yang sangat dia cintai bersimpah darah di dada kirinya. Apa yang dia lakukan sebenarnya? Wisnu telah membunuh Khumaira bukan Aziz.
Polisi yang geram langsung menembak kaki Wisnu. Kejadian ini begitu menyesakan tanpa mereka perediksi. Syukur ada ambulance di pekarangan rumah Wisnu. Kini Khumaira bisa langsung dilarikan ke RS.
Aziz membisu melihat Khumaira terkulai lemah dengan darah terus keluar dari dada kiri. Sontak dia langsung merengkuh Istrinya dalam dekapan. Air matany berlinang deras tanpa mau berhenti. Aziz dekap serta berusaha mengahalau darah Khumiara yang bercucuran.
"Dek bertahan, tolong panggilkan ambulance. Ya Allah, tolong selamatkan, Istriku."
Aziz sangat panik melihat Khumaira tidak membuka mata. Hatinya hancur lebur tanpa bisa di kendalikan. Sesak sekali sampai ia tidak sanggup bernapas. Ya Allah, tolong selamatkan Istrinya apa pun jaminan. Aziz rela menggantikan posisi khumiara Aska Istrinya baik-baik saja.
Mendengar suara Suaminya yang bergetar membuatnya perlahan membuka mata. Khumaira tersenyum tipis melihat Aziz begitu khawatir. Air mata Suaminya terus menetes di permukaan wajahnya. Tangan lemah Khumaira terjulur untuk menghapus air mata Aziz terus tumpah.
"Aziz, bawa Khumaira ke depan pasalnya ada ambulance di luar."
Aziz hendak mengangkat Khumaira, tetapi terhenti ketika Istrinya menggeleng lemah. Ya Allah, apa yang harus dia lakukan? Saat ia minta mau membawa Istrinya keluar sang Istri malah menggeleng lagi. Aziz frustasi melihat Khumiara sangat lemah.
Khumaira sadar waktunya tidak banyak maka biarkan dihabiskan bersama Suaminya. Dia tidak mau di angkat ke luar karena ingin terus bersama Suaminya. Kini harapan Khumaira satu terus berjuang bersama Aziz dalam suka duka melanda.
"Mas, selagi Adek tidur jaga anak-anak dengan baik. Titip mereka ya, Mas. Tidak perlu khawatir karena Adek akan selalu bersama, Mas," lirih Khumaira dengan napas memburu.
"Iya, sekarang ayo kita ke luar. Mas tidak mau Adek kesakitan begini. Tolong jangan tahan Mas mengangkat, Adek."
Aziz sangat panik melihat Khumaira semakin lemah. Tubuhnya menggigil ketakutan melihat Istrinya tidak berdaya. Apa yang akan di perbuat jika Istrinya tidak mampu bertahan? Air mata terus berlinang bak anak sungai, tetapi Aziz tidak peduli yang pasti begitu terpukul akan keadaan Khumaira.
Aziz mendekatkan wajahnya di bibir Khumaira. Dia tidak kuasa menahan sesak ketika Istrinya mengusap pipinya lembut. Ya Allah, kuatkan ia menerima cobaan ini. Aziz janji akan membawa Khumaira segera asal tidak terjadi apa-apa.
"Dek, ayo kita segera ke ambulance. Kita ke rumah sakit, tolong jangan menolak!"
Aziz sangat frustrasi menerima penolakan Khumaira. Hatinya semakin perih menerima ciuman Istrinya walau singkat. Ya Allah, tolong kuatkan Istrinya dari sakit yang di terima. Aziz tidak kuasa menahan sesak saat Khumaira kembali mengecup bibirnya.
"Semu selesai, Adek sudah mencium, Mas. Dengarkan Adek semua baik-baik saja karena Allah bersama kita. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Adek mencintai Mas sangat lama, tolong berjuang untuk anak-anak. A-Adek men--mencintai, Mas," tutur Khumaira bernada lemah.
Khumiara merasa sangat lemah tenaga habis akibat luka tembakan. Kini ia ikhlas pergi dalam dekapan Suaminya walau sebentar. Dia sangat bahagia dikala meninggal dalam dekapan Suaminya. Khumaira yakin Aziz bisa mengurus Mumtaaz dan Ridwan sepenuh hati tanpanya.
Aziz membulatkan mata mendengar ungkapan cinta Khumaira. Tetapi, semakin sok ketika tangan mungil Istrinya terkulai lemah. Bahkan mata khumaira tidak terbuka lagi. Jangan bilang ia ditinggalkan? Tidak Aziz tak akan bisa hidup tanpa Khumaira.
"Ya Allah, Adek jangan begini, Mas mohon. Tolong buka matamu, Dek. Mas tidak perlu kata cintamu jika berakhir begini. Mas tidak butuh semua ucapan cinta, Adek. Hiks, tolong jangan begini Mas mohon. Mas lebih baik tidak pernah mendengar cinta dari Adek asal semua baik-baik saja. Untuk apa cinta terucap jika Adek begini? Tenang Mas akan membawa Adek ke rumah sakit. Kita akan bahagia selamanya bersama anak-anak. Jangan khawatir karena Mas akan berusaha membuat Adek selamat."
Aziz mengangkat tubuh mungil Istrinya tanpa peduli sakit pada sekujur tubuh. Dia tidak peduli akan nyeri di tubuhnya karena Istrinya lebih berharga dari pada lukanya. Dengan langkah cepat Aziz lakukan agar lekas sampai di luar agar Khumiara kelas mendapat perawatan.
Romli menitikan air mata melihat Aziz sangat menyedihkan. Dia tersenyum penuh arti di sela tangisannya. Sungguh beruntung khumaira mendapatkan pria seperti Aziz. Sahabatnya begitu besar mencintai khumaira tanpa menuntut. Air mata Aziz begitu deras membuat dadanya sesak. Melihat cinta mereka yang besar membuat Romli bangga.
"Allah selalu melindungi hamba-Nya. Semoga kalian bahagia selalu dan rumah tangga kalian langgeng. Sekarang jalan kita berbeda karena mulai ini aku akan ikut Polisi. Aziz, semoga kamu bahagia selalu bersama, Khumaira. Kamu sahabat terhebat yang pernah kumiliki. Hatimu begitu tulus sampai aku malu pada diri sendiri. Mbak Maira, aku titip sahabatku agar kamu jaga. Aku percaya mulai detik ini kalian tidak akan terpisahkan."
Aziz berhasil membawa Khumaira ke luar rumah dan langsung membawa ke mobil ambulance. Jika dilihat sedari tadi air matanya tidak mau berhenti. Bahkan isakan kecil keluar tanpa peduli dengan petugas kesehatan. Yang dipedulikan Aziz yaitu genggam tangan Khumaira untuk menguatkan diri.
"Mas mohon jangan tinggalkan, kami. Mas tidak mampu hidup jika Adek kenapa-napa. Tolong bertahan demi kami, Dek. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Tidak apa Adek bungkam soal cinta asal tetap bersama, Mas. Untuk apa cinta jika berakhir begini? Mas tidak membutuhkan cinta Adek terucap. Asal Adek bersama Mas itu tidak masalah. Jika Adek mengatakan cinta lalu pergi, lebih baik Mas tidak pernah mendengarnya. Mas mohon betahan untuk melawan semua kesakitan. Ya Allah, jika boleh berharap tukar rasa sakit Istriku pada hamba. Ya Allah, hamba mohon selamatkan Istriku. Engkau zat yang Maha Agung, maka kabulkan permintaan hamba. Ya Allah, jika Engkau mau memgambil seluruh hidupku, hamba ikhlas. Tetapi, hamba mohon jangan ambil Istriku. Hamba tidak akan sanggup, ya Allah."
Orang yang ada di dalam mobil tidak kuasa menahan tangis mendengar perkataan Aziz. Sebegitu besar cinta pria ini pada Istrinya. Semoga saja semua akan baik-baik saja sehingga pria ini mendapat kebahagiaan. Dengan begitu para tim medis lebih giat lagi menyelamatkan Khumiara walau hasilnya sangat kecil.
Aziz menolak di obati oleh mereka karena sakitnya ini tidak ada artinya. Dia tetap menggenggam tangan Khumaira Liu menciuminya. Tidak peduli dengan tatapan mereka yang iba akan keadaan. Tidak peduli air mata luruh deras menandakan betapa lemah dirinya. Khumaira adalah kehidupan Aziz, lalu jika kehidupan pergi lalu siapa yang menjadi alasanya? Aziz tidak sanggup bertahan jika Khumaira pergi meninggalkan nereka.
"Mas mohon bertahan demi kami, Dek. Mas sangat mencintai Adek tanpa bisa di jabarkan. Adek jangan membuat Mas takut akan kehilangan. Mas tidak sanggup hidup jika tanpamu, Istriku. Ya Allah, hamba mohon selamatkan Istriku."
Aziz frustasi dikala tangan Khumaira semakin dingin. Dia meminta agar lekas sampai ke RS demi menyelamatkan Istrinya. Semuanya ia sangat takut jika Istrinya tidak mampu berjuang untuk mereka. Aziz takut kehilangan wanitanya, laku bagaimana keadaan dua anaknya?
Para perawat dan Dokter merasa miris melihat Aziz semakin kalut. Mereka tahu seberapa frustasi pemuda ini menerima cobaan. Semua orang berdoa agar Khumiara mau berjuang lagi. Kini semua orang berharap sebuah keajaiban.
***
Romli di bawa para polisi dengan tampang kusut. Air mata terus berlinang mengingat Aziz yang terpuruk akan khumaira. Semoga saja Allah menyelamatkan khumaira. Romli takut jika Aziz frustasi tanpa tenaga penyemangat.
Lain sisi Wisnu tampak sok saat tersadar sudah berada di kantor polisi. Dia telah membunuh Khumaira dengan tangannya. Wisnu seperti kehilangan kewarasannya mengingat Khumaira terjatuh di lantai. Dada kiri wanita itu mengeluarkan darah bagitu banyak.
Selagi polisi lengah Wisnu merampas pistol dan menodong pada mereka. Kaki kanannya terasa sakit akibat tembakan polisi. Tanpa mempedulikan rasa sakait ia tetap bersikukuh melakukan hal itu. Wisnu sudah menarik pelatuk ke mode siap menembak.
"Jangan malakuka keributan atau Anda akan kami tembak!" seru inspektur polisi.
Wisnu tidak peduli dengan perkataan mereka. Dia menembakan timah panas ke udara. Lalu hal tidak terduga terjadi ketika dengan gila ia melakukan tindakan gila. Wisnu akan melakukan hal gila ini pilihan hidup.
"Lebih baik aku mati menyusul Khumaira dan aku tidak sudi berada di penjara!" seru Wisnu.
Dor
Syur
Bruk
Wisnu menembak pelipisnya sendiri seolah tidak peduli. Darah menyembur deras dan ia terjatuh di lantai. Pikirannya sangatlah pendek tanpa mempedulikan konsekuensi perbuatannya. Yang Wisnu pikirkan Khumaira sudah mati maka harus menyusul. Dia begitu kalut telah membunuh Khumaira sampai raganya bergetar. Alhasil Wisnu merenggang nyawa secara percuma.
Wisnu telah meninggal bunuh diri dihadapan mereka. Para polisi menatap miris menyaksikan kegilaan Wisnu. Sebegitu obsesi pria gila ini pada Khumaira sampai melakukan hal gila. Mereka tidak pernah menyangka kasus lama berakhir kematian pelaku.
Semua masalah selesai dengan tragis menghunus dada. Wisnu memilih bunuh diri dan Romli datang menyerahkan diri secara suka cita. Dunia begitu indah sampai membuat orang lupa ada akhirat.
Romli yang baru masuk kantor polisi terpaku melihat Wisnu terbujur kaku. Matanya membulat sempurna melihat darah menggenag di mana-mana. Dari hasil pengamatan Romli pria gila ini melakukan hal gila.
Para polisi langsung menagani jasad Wisnu. Mereka tidak habis pikir kenapa pikiran pria gila ini begitu sempit? Semoga saja Allah memberi pengampunan pada Wisnu.
"Kamu sangat gila, Wisnu. Semoga tenang di alam sana dan Semogs Allah mau mengampuni dosa-dosa kamu."
Romli begitu frustasi melihat Wisnu telah meninggal akibat bunuh diri. Gila sekali sampai mau melakukan hal keji itu. Demi apa ia sangat shock seorang pria genius jadi Psychopath. Demi Allah ini kali pertama Romli menemui orang ini punya obsesi gila menyusul wanita mati.
Ya Allah, semoga saja Wisnu diterima dalam kubur. Semoga saja Allah selalu memberikan tempat yang bagus. Segala doa terbaik akan Romli labuhkan demi Wisnu mencapai peristirahatan terakhir yang nyaman.
****
Asli nyesek sampai ke DNA!
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Maafkan Rose yang menulis chapter gila ini.
Hayuk nangis bareng.
ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
Rose_Crystal_030199