Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Kasih Sayang Atas Nama Allah!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini


*.*.*.*


Khumaira melihat jam dinding menunjuk angka 2 siang hari. Kenapa Suaminya lama sekali pergi ke kantor polisi? Dia menatap Ridwan dan Mumtaaz saling bercanda. Dua Putranya sedang asyik bermain robot-robotan. Mulut kecil mereka tidak kunjung diam pasalnya sedari tadi aktif mengoceh.


Melihat kedua anaknya tidak ayal membuat Khumiara sedikit tenang.  Dia menunduk tatkala ingat Suaminya masih belum pulang. Demi apa ini kenapa lama sekali? Khumaira jadi semakin sedih ingat peristiwa Wisnu jurus mengakhiri hidup Aziz. Apa dalam penjara Wisnu berulah?


"Mi ... Kak kal, ain Taaz abil," adu Mumtaaz langsung jalan ke arah Khumaira.


Tangan kecil terangkat minta gendong. Dia terus menunjuk robot ultramen di bawa Ridwan. Mulutnya mengoceh dengan kata aneh belum bisa di pahami dengan benar. Sungguh ia sangat sedih mainnya di ambil kakaknya. Kan Mumtaaz lagi pengen main malah di ambil Ridwan.


Khumaira menggendong Mumtaaz dan menepuk bokong anaknya. Si kecil terus mengadu soal kenakalan Ridwan mengambil mainanya. Bahkan Mumtaaz terlihat merajuk gara-gara Ridwan menggodanya. Dua Putranya benar-benar membuat Khumaira gemas.


"Bohong, Umi ... Kakak ngga memgambil mainan Dedek Mumtaaz. Serius, anak tampan tidak berbohong," serobot Ridwan.


Khumaira melihat Ridwan sedang menjulurkan lidah pada Mumtaaz. Mengejek Adiknya dan benar saja Mumtaaz menangis minta Ridwan di jewer. Sungguh Khumaira gemas akan Ridwan dan Mumtaaz yang menggemaskan.


Ridwan melet menggoda Adiknya yang menangis tergugu. Bahkan tanpa segan ia tabok bokong Mumtaaz alhasil tambah menangis. Namun, ia malah kena jewer Uminya dan itu membuatnya sedih. Ridwan merengut gara-gara Uminya menuruti Mumtaaz.


"Mi, Kak hong ... Taaz ain abil Kak. Kak elek, Mi. Huhuhu, Kak hahat," tangis Mumtaaz begitu imut.


"Aduh, siapa sih yang tega mengambil mainan Dedek? Kakak pinjam lagian kata Ayah orang ganteng ngga boleh bohong. Kakak itu sangat tampan tidak jelek. Kalau jelek berarti penghinaan makhluk tampan!" celoteh Ridwan.


Ridwan mencubit gemas pipi gembul Mumtaaz. Alhasil Adiknya tambah histeris dalam dekapan Uminya. Membuat Mumtaaz merajuk apa lagi menangis itu membuat kesenangan sendiri. Rasanya Ridwan begitu gemas melihat mata besar Adiknya berkaca penuh air mata. Pipi gembul akan memerah dan itu sangat lucu.


khumaira pusing sendiri berhadapan dengan dua Putranya. Dari tadi sudah mengoceh panjang kali lebar namun Ridwan tidak kunjung berhenti menggoda Mumtaaz. Lalu si kecil malah asyik menangis histeris gara-gara di cubit gemas Ridwan.


"Sudah, kalau Kakak nakal gantengnya hilang. Nanti, ngga bisa jadi seperti Ayah. Sudah diam jangan goda, Dedek."


"Umi, Kakak ngga mungkin jelek. Pasalnya Kakak ganteng tidak terbantahkan. Mana bisa tidak menggoda, Dedek? Bagi Kakak pipi gembul Dedek Mumtaaz sangat empuk untuk di cubit. Dedek kecil sangat menggemaskan sampai Kakak ingin cubit!"


Khumaira mengusap rambut Ridwan lalu beralih mencubit gemas pipi gembul sang Putra. Tidak sadar pipi sendiri begitu menggemaskan. Semoga saja Ridwan dan Mumtaaz tidak berdebat lagi. Kalau berdebat yakinlah Khumaira akan menidurkan anak-anak ini.


Mumtaaz Mendusal minta asi karena sangat haus. Wajah lugunya sangat lucu ketika meminta sesuatu. Dia sangat sebal pada Ridwan selalu menggodanya. Dari pada memikirkan itu Mumtaaz minum asi saja biar ngga haus.


Khumaira memangku Mumtaaz senyaman mungkin. Kemudian memberikan asi untuk si kecil. Selagi menyusui ia menepuk pelan bokong Putranya agar berhenti menangis. Khumaira senang Mumtaaz sudah tenang tidak rewel lagi.


Kini giliran Ridwan yang merajuk gara-gara Mumtaaz memilih menyusu. Dia menatap bosan pada mainannya. Yang ia inginkan bermain bersama Mumtaaz sampai puas. Walau sering jahil sejatinya Ridwan begitu menyayangi Mumtaaz.


Mumtaaz tertidur sembari menyedot asi. Wajah polosnya begitu tampan sehingga banyak sekali yang ingin mencubit gemas pipinya. Wajah rupawan itu di warisi dari Ayah dan Ibunya.


Khumaira mengecup pelipis Mumtaaz dan memberikan ciuman sayang di kening Ridwan. Dua anaknya begitu manis sampai Khumaira tidak sanggup melihat jika mereka cepat besar.


"Kakak juga tidur, ya. ayo bereskan mainan itu lalu kita tidur di kamar!" perintah Khumaira.


Ridwan menuruti perkataan Khumaira. Dia membereskan mainan di tempat semula. Setelah semua rapi Ridwan angkat ke tempat di mana letak mainanya.


Khumaira tersenyum teduh melihat Ridwan begitu rajin. Setelah selesai semua dia membawa Mumtaaz ke kamar pribadi. Tidak lupa Ridwan ikut masuk bersamanya.


"Ayo tidur, Nak."


Khumaira meletakan Mumtaaz di tengah lalu Ridwan di pinggir. Dia kecup wajah rupawan ke dua Putranya. Dengan lembut tangan mungil itu terus mengusap rambut tebal Ridwan agar lekas tertidur.


Tidak lama Ridwan tidur juga menuminha usapan Uminya. Tentu ia tidur memeluk tubuh gempal Mumtaaz serta mendusal dalam dekapan Uminya. Dia sudah nyaman jadi bisa tidur siang senyaman mungkin.


***///***


Aziz dan Herlambang datang ke penjara. Mereka menarik tuntutan Romli setelah berebat sedikit masalah kasus berat. Kedua pria beda usis terbelalak tidak percaya mendengar fakta bahwa Wisnu mati bunuh diri. Lebih mengejutkan Wisnu mati karena mengira khumaira telah tiada.


Aziz tidak habis pikir jalan pikiran Wisnu sependek itu. Kenapa ada lelaki gila yang terobsesi sampai separah itu? Sungguh Aziz pening memikirkan kehidupan gila Wisnu.


Herlambang menepuk bahu Aziz guna memberikan dukungan. Semoga saja rasa sesal tidak mempengaruhi bahtera rumah tangga mereka. Herlambang akan doakan semoga saja Allah memberikan pengampunan dosa terhadap Wisnu.


Romli keluar dari jeruji besi menuju ruang ganti untuk ganti baju. Dia tidak menyangka bebas begitu cepat. Semalam tidur di penjara membuat Romli tidak kuasa menahan takut. Sore dan pagi hari tadi Istrinya datang membawakan seperangkat alat Shalat, Al-Qur'an dan selimut.


Semua dia berikan pada teman di sel itu. Romli juga meminta memberikan buku tuntunan Shalat agar mereka bisa belajar untuk memperbaiki diri. Semoga saja para tahanan sel mampu bertobat agar menjadi pribadi lebih baik.


"Aziz ... Pak komisaris. Terima kasih banyak sudah menarik tuntutan itu, dan bersedia membebaskan penjahat seperti saya," tukas Romli.


Aziz menepuk bahu Romli lalu memberikan pelukan sebagai sahabat yang baik. Mata tajamnya menyorot penuh pertemanan. Dia tidak menyangka persahabatan sedari masa kuliah di terpa badai. Namun, kini semuanya membaik tanpa ada perselisihan.


"Aziz, maaf sudah menusuk kamu dari belakang."


"Sebelum meminta maaf aku sudah memaafkan kamu."


"Konyol, kamu terlalu baik."


"Hahaha, aku ini jahat tidak baik."


"Baiklah kamu jahat, sekali lagi terima kasih Pak Herlambang dan Aziz telah membebaskan saya."


"Sama-sama, semoga Allah selalu menjaga kamu agar tetap di jalan-Nya!" tegas Herlambang.


"Aamiin ya Allah."


Ketiga pria dewasa beranjak meninggalkan kantor polisi. Dalam perjalanan pulang Romli di interogasi Aziz soal Wisnu. Lalu semau aksi gila sampai nekat bunuh diri.


Romli menjawab sekenanya karena sebuah harta dan jabatan rela terhasut. Dia di pengaruhi Wisnu sampaj berhasil. Semua terucap hingga pada akhirnya bercerita tentang akhir hayat Wisnu.


Herlambang sendiri memilih jadi pendengar setia. Dari percakapan keduanya dua pria ini memiliki sifat nyaris sama. Sama-sama baik dan multitalenta. Walau Aziz sendiri yang sangat menonjol karena sikap baik, tegas, supel dan tegas walau kadang gila.


"Aku baru sampai kantor polisi, dan hal mengerikan terjadi ketika Wisnu sudah tewas. Dia meninggal bunuh diri karena mengira khumaira ikut mati. Aku tidak kepikiran skenario yang ku susun menewaskan Wisnu. Aku tidak menyangka dia segila itu."


Romli teringat strategi penyelamatan Aziz kemarin. Dia tidak pernah tahu akhir dari Wisnu begitu tragis. Ternyata kegilaan Wisnu sampai membawa akal sehat menuju kematian. Romli hanya bisa berdoa semoga manusia itu mendapat tempat yang layak.


Herlambang dan Aziz hanya diam tanpa mengeluarkan suara. Mereka terpaku dalam keheningan menyikapi jalan pikiran Wisnu. Keduanya berpikir Wisnu jebolan pasien rumah sakit jiwa.


Aziz tidak bisa mengatak banyak kata untuk bela sungkawa. Hanya doa yang akan ia berikan pada Wisnu. Semoga Allah mengampuni Wisnu dan memberikan tempat layak, Aamiin. Walau sempat emosi setidaknya Aziz sudah ikhlas memaafkan akan perbuatan Wisnu terhadapnya.


"Amin ya Allah!" kor Herlambang dan Romli.


Ketiga pria beda usia itu saling mengobrol seputar bisnis. Mereka seolah berbicara layaknya teman walau awalnya Romli ragu. Tetapi, dengan konyolnya Aziz bilang Pak Herlambang adalah Ayah baginya. Jadi bicara sesukanya saja ngga kan marah. Akan kegilaan Aziz tentu mereka terhibur.


***///


Aziz pulang ke rumah setelah menghabiskan waktu bersama Romli dan Herlambang. Mereka datang ke makam Wisnu untuk mengirim doa. Ziarah kubur dengan membacakan tahlil di pimpin Aziz. Usai itu mereka memutuskan pulang ke rumah masing-masing.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Khumaira bernada lirih.


Khumaira yang kesier nyaris tertidur langsung bangun mendengar salam Aziz. Dia tersenyum tulus Suaminya telah pulang. Dengan hati-hati Khumaira melepas ****** yang di sedot Mumtaaz. Dia mengambil empeng untuk mengganti susu Mumtaaz.


"Umi, sayang kalian berdua."


Khumaira mencium wajah rupawan Ridwan dan Mumtaaz penuh sayang. Kemudian beranjak menuju Aziz yang ada di luar. Ia benarkan pakaian dan mengggelung rambut panjangnya. Setelah sampai Khumaira mengecup punggung tangan Aziz.


"Maaf, Adek ketiduran. Anak-anak dari tadi sibuk bermain dan sekarang tertidur. Mas, sudah makan? Kalau belum ayo makan bersama. Adek menunggu Mas pulang."


Khumaira membawa Aziz menuju ruang makan. Namun, tubuhnya tertarik dalam dekapan hangat Suaminya. Rasa hangat menyelimuti tubuh mungilnya tatkala Aziz memberikan pelukan penuh arti.


Aziz merengkuh Khumaira erat sembari menciumi leher jenjang Istrinya. Dia menjawab pertanyaan Khumaira melainkan bungkam. Setitik ingatan membuat Aziz takut kehilangan khumaira.


"Ada apa, Mas?"


"Mas hanya takut kehilangan Adek. Tahu tidak Wisnu begitu gila sampai nekat bunuh diri tanpa mempedulikan konsekuensi. Jika ada yang mengambil Adek dari Mas, entah bagaimana nasib mas menjalani hidup."


Aziz tidak membiarkan Khumaira berbalik menghadap dirinya. Dia memilih menahan Istrinya tetap membelakangi agar lebih leluasa menciumi leher dan punggung sang Istri. Tangan kekar Aziz semakin erat melilit tubuh Khumaira tanpa mau melepas.


Khumaira tegang mendengar perkataan Aziz. Jadi Wisnu meninggal bunuh diri karena kegilaan tiada akhir? Setelah sadar dari shock ia mengusap lengan kekar Suaminya agar sedikit tenang. Padahal hati Khumaira begitu sesak mengingat kematian Wisnu.


"Innalillahi wa inaillaihi roji'un, semoga Allah memberikan tempat yang layak di sisi-Nya, dan semoga Allah menerima amal ibadah dirinya, Aamiin. Adek tidak akan meninggalkan Mas apa pun yang terjadi. Karena tidak ada yang akan mengambil Adek dari Mas. Jikalau ada yang mengambil Mas, mungkin Adek tidak mampu bertahan."


Khumaira menengok ke arah Aziz demi melihat wajah sang Suami. Dia mendongak untuk menetap netra cokelat Suaminya. Matanya terpejam ketika Suaminya memberikan ciuman sayang di pipi. Khumaira akui Aziz sangat manis ketika memberikan segala sentuhan penuh sayang.


Aziz tersenyum mendengar jawaban Khumaira. Dia kecup pipi gembul Istrinya lalu memberikan ciuman sayang di dagu. Semoga saja Allah selalu menjaga keharmonisan rumah tangga mereka sampai kapan pun, Aamiin.


"Aamiin ya Allah."


Aziz mengangkat dagu Khumaira agar lebih mendongak. Dia ***** bibir tebal Istrinya penuh sayang. Sembrani berdiri ia menikmati saat bibir mereka saling memangut mesra. Aziz sangat bahagia dalam hidupnya ada Khumaira yang selalu ada.


Tangan Khumaira terulur untuk berada di belakang kepala Aziz. Dia berbalik menghadap Suaminya agar mendapat lebih intim. Perlahan tangan Khumaira mengalung sempurna di leher kokoh Aziz. Kaki berjinjit untuk memperdalam ciuman meeka.


Aziz mengangkat tubuh Istrinya untuk mempermudah ciuman. Dia taruh Khumaira untuk duduk di pantry. Selagi ciuman ia merengkuh tubuh mungil Istrinya dengan bibir menciumi leher jenjang Khumaira. Tangan kekar Aziz terulur untuk menyibak rok longgar yang di kenakan sang Istri.


"Umh, Mas ugh nanti malam jangan sekarang, ahh. Adek ugh lapar," desah Khumaira.


Aziz tersenyum mendengar perkataan Khumaira berbanding balik dengan tubuh sintal ini. Bahkan kaki jenjang Istrinya mengalung indah di pinggangnya. Lebih lagi Khumaira semakin nakal menekan tubuh. Kalau begini Aziz menurut atau melanjutkannya?


Khumaira membusungkan dada dan kaki semakin intim mengerat pada pinggang Suaminya. Dia lapar butuh asupan gizi untuk memproduksi asi yang sehat bagi si kecil. Khumaira juga belum makan sedari tadi maka dari itu rasanya begitu lapar dan haus.


Aziz membuka kancing baju khumaira, tetapi tangan kecil itu mencekal. Dia terdiam ketika Istrinya menggeleng lemah. Sungguh ia merasa panas akan pesona Istrinya yang menggiurkan.


Sejatinya ingin menghabiskan waktu panas. Tetapi, ini masih siang belum saatnya melakukan itu. Khumaira menggenggam tangan Aziz agar tindakan berhenti.


"Nanti malam, sampai Mas puas. Jangan sekarang soalnya Adek lapar."


"Janji nanti malam sampai puas!"


"Janji."


Khumaira menangkup rahang tegas Aziz, kemudian memberikan ciuman sayang di seluruh wajah tampan sang Suami. Dia usap setiap jengkal wajah Aziz dan turun mengusap leher kokoh sang Suami.


"Adek sayang Mas karena Allah. Cinta kita akan abadi, Insya Allah. Jika kelak kita berpisah bagaimana? Apa Mas akan selalu mencintai Adek?"


"Mas juga sayang Adek karena Allah. Aamiin ya Allah, semoga saja. Kita akan kembali bersatu dengan ikatan suci. Cinta kita tidak akan sirna bahkan akan semakin kuat jikalau berpisah. Allah sudah mentakdirkan Adek bersama, Mas."


Khumaira berhambur merengkuh Aziz erat. Dia menangis tersedu akhirnya bisa merasa nyaman. Setitik harapan muncul tatkala Aziz menggenggam tangannya. Semoga saja mereka berjodoh sampai akhir hayat, aamiin.


Aziz dan Khumaira saling diam menikmati kebersamaan mereka. Di lihat bagaimanapun mereka tampak mesra dalam dekapan hangat. Aziz menyudahi ciuman mereka lalu memberi ciuman kening. Sementara Khumaira hanya bisa pasrah akan tindakan Aziz.


Khumaira mengalungkan tangan di leher kokoh Aziz. Dia kecup rahang Suaminya penuh sayang. Rasanya sangat manis menikmati hari bersama keluarga. Semoga saja ada waktu bersama keluarga untuk liburan.


"Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Semoga saja cinta kita kekal abadi, Aamiin."


"Adek juga mencintai Mas karena Allah. Aamiin ya Allah."


Aziz menurunkan Khumaira hati-hati layaknya sesuatu yang rapuh. Dia mencuri ciuman di bibir tebal Istrinya. Tidak ada ciuman panas, tetapi hanya sekadar meluap kebahagiaan. Aziz pada akhirnya izin ke kamar mandi untuk mandi setelah melakukan ziarah.


Khumiara tersenyum melihat Aziz sudah masuk kamar. Tadi Suaminya bilang kau mandi karena baru melakukan ziarah kubur. Dia langsung ngacir ngikut mandi Suaminya mumpung anak-anak lelap. Khumaira bisa panaskan makanan nanti walau lapar mengesampingkan itu dulu. Tujuannya hanya satu ikut mandi Suaminya.


****///


Moga kalian suka ya.


salam hangat dari Rose.


tanggal cantik kayak Rose, eyak jihihihi.


20*02*20