Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AL2 - Fitnah Kejam Berkah Untuk Mereka!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini


👇👇👇


Aziz datang ke kantor dengan perasaan campur aduk. Entah kenapa rasanya agak begitu kalut menjalani hari ini. Sebenarnya akan terjadi apa? Memilih tenang Aziz memilih diam dari pada hatinya semakin kalutm


Sampai ruangan khusus CEO, Aziz mengerjakan laporan seperti biasa. Wajah rupawan terbingkai kaca mata frame menatap layar monitor dengan khusyuk. Hingga sebuah ketukan pintu menyadarkan Aziz.


"Masuk!"


Mendengar suara Aziz gadis itu memutuskan masuk. Dia menunduk takut berhadapan dengan pria ini. Jujur saja ia takut sesuatu terjadi pada Aziz hari ini. Maka dari itu ia sangat panik memikirkan banyak hal.


"Pak, mohon datang ke aula di tunggu para petinggi perusahaan. Pak Direktur meminta Anda segera datang ke aula," lapor Kania.


Aziz tersenyum tipis, kemudian mematikan laptop. Dia melihat Kania tampak gelisah menatap dirinya. Apa ada masalah sehingga gadis itu murung? Entahlah yang jelas Aziz merasa ada yang janggal pada Kania hari ini.


"Kamu ada masalah?"


"Tidak, Pak. Hanya saja ... saya takut Anda yang terkena masalah," lirih Kania.


Aziz menyengit bingung mendengar perkataan Kania. Sebenarnya ada apa  kenapa penghuni kantor menatap dirinya aneh? Sedari awal mereka menatap dirinya begitu aneh. Apa ia melakukan kesalahan besar sehingga dipandang buruk? Setahu Aziz tidak pernah berniat diluar nalar.


Pada akhirnya ia memilih beranjak meninggalkan ruangannya. Dia masih bertanya-tanya ada gerangan apa direktur memanggil? Apa ia punya kesalahan besar? Dari pada memikirkan banyak masalah Aziz memilih bungkam.


Kania menatap terluka punggung tegap Aziz sudah jauh tertelan jarak. Sejatinya apa yang dipikirkan atasannya sampai berbuat hina? Kalau begini ia merasa janggal ada pihak lain memfitnah Aziz.


Saat di aula, Aziz melihat para Manager, dan dewan penting perusahan sedang menatapnya tajam. Apa dia melakukan kesalahan sampai di tatap sengit Bima (Direktur). Aziz bingung sekali akan keadaan aneh di ruangan ini.


Bima meminta Aziz maju ke depan dan dengan kejam melempar dokumen ke arah bawahannya. Dia sangat marah merutuki diri kenapa orang yang sangat di percaya tega melakukan ini. Demi apa Bima sangat terpukul menerima fakta bahwa Aziz berani korupsi.


Aziz terpaku menerima kekasaran atasnya. Tanpa di suruh D


ia membuka dokumen itu dan langsung mendelik horor melihat isinya. Kenapa bisa ada berkas mencantumkan namanya? Ia baca ulang tanpa terlewatkan sepatah kata. Aziz tidak salah bacakan? Kenapa ada yang memfitnah dirinya separah ini?


"Apa maksud semua ini, Pak?" tanya Aziz sopan.


Dadanya bergemuruh marah menatap setiap kata yang ada dalam dokumen. Bahkan sekarang ada Polisi dengan tampang sangar menatapnya. Demi apa Aziz tidak tahu apa-apa kenapa bisa begini?


"Apa kamu ingin mengelak, Pak Aziz? Bukti sudah tertulis, pantas saja uang proyek tidak mengalir di perusahaan. Saya pikir Anda seorang yang jujur, ternyata Anda sangat tamak. Bahkan Anda tega memakan gaji para karyawan. Saya tidak percaya orang kepercayaan kami terutama Pak Herlambang mampu melakukan ini!" geram Bima.


Orang yang melakukan konspirasi licik tersebut terlihat tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya rencana mereka berhasil untuk menghancurkan Aziz. Selamat datang kemalangan maka ucapkan kebebasan. Rasanya tidak sabar memberitahu bosnya memberitahu ini semua.


Aziz terpaku mendengar kemarahan atasanya. Apa yang dia lakukan dengan uang 5,5 miliar dan gaji para karyawan kurang lebih 100 juta? Ya Allah, kenapa bisa dia di fitnah tanpa tahu lari kemana uang itu? Aziz pening sendiri memikirkan kasus ini.


"Saya tidak paham akan konspirasi siapa ini? Saya tidak pernah korupsi karena saya mampu menghidupi keluarga saya tanpa kekurangan, kenapa saya harus korupsi? Saya di fitnah dan tolong percaya saya tidak mungkin melakukan hal ini!"


Aziz membela diri dan ingin meluruskan masalah. Dia tidak mungkin tega menggelapkan uang walau sepeser pun. Ya Allah, dia sangat bingung siapa yang tega melakukan ini padanya? Demi Allah sang pencipta alam semesta Aziz bahkan tidak berani mengambil uang perusahaan walau sepeser pun. Lalu kenapa bisa menggelapkan uang sebanyak itu?


Brak


Bima menggebrak meja kasar mendengar pembelaan Aziz. Semua sudah jelas tercantum dan si pelaku berusaha membela diri. Wajahnya mengeras dengan mata menyorot murka. Dia sangat percaya pria dewasa ini orang baik. Tetapi, maaf saja bukti sudah tertulis jelas dan Bima tidak akan mentolerir kesalahan Aziz.


"Anda jangan membela diri, pasalnya bukti sudah ada. Mana ada maling mengaku. Uang itu membutakan orang termasuk Anda. Jangan mengelak karena semua sudah tertera. Anda yang alim bahkan sangat jujur bekerja tega tergiur mengkorupsi uang miliar-an dan gaji karyawan. Anda sangat tidak pantas berada di sini. Pilih mengembalikan uang yang Anda korupsi atau ikut para Polisi itu?"


"Saya tidak salah kenapa harus diam? Saya bukan orang yang tega menggelapkan uang perusahaan atau pun karyawan. Ingat, saya tidak melakukan korupsi. Jika saya korupsi uang itu berada di mana?"


Aziz tetap membela diri tidak terima dituduh karena tidak pernah melakukan itu semua. Dia tidak tahu kenapa nasibnya baik sekali. Ia memilih berdebat karena kebenaran akan di tegakan. Aziz tidak salah kenapa harus takut?


Bima semakin marah mendengar jawaban Aziz. Dia dengan segera melempar sebuah berkas lagi pada pria tajam ini secara kasar. Dia tidak peduli orang yang ada di depanya adalah sumber keberhasilan perusahan. Bima tahu betapa berjasa Aziz pada perusahaan besar ini.


Aziz berusaha sabar menghadapi cobaan kali ini. Banyak kali ia mengucap istighfar demi menghalau emosi. Dia kembali membaca berkas yang tertulis uang sebanyak itu lari untuk membeli gedung apartemen mewah yang ada di pusat kota Yogyakarta. Aziz tercengang tidak percaya bisa ada fitnah macam ini? Ya Allah, kenapa fitnah ini kejam sekali untuknya?


"Anda tidak bisa mengelak lagi, Pak Aziz. Semua telah tertulis dan jangan sok suci. Sekarang angkat kaki dari kantor ini. Namun, sebelum itu kembalikan uang kantor atau mendekam di penjara!"


"Beri saya waktu, saya akan mengembalikan uang kantor."


Aziz mendongak menghalau rasa sakit yang diberikan oleh mereka. Sungguh uang sebanyak itu membuat dirinya lemah. Apa yang harus di katakan pada Khumaira? Lalu bagaimana dengan anak-anak jika dia tidak bekerja lagi di kantor ini? Aziz sedih sekali jika ingat nasib yang sangat malang. Uang sebanyak itu dapat dari mana?


"1 minggu, waktu Anda!" tegas Bima.


"Saya usahakan mengembalikan semuanya!" tegas Aziz.


"Pak Aziz, bisa ikut saya!" tegas Herlambang sang komisaris.


Suara Herlambang sukses membuat atensi tertuju padanya. Dia langsung pergi setelah melihat Aziz di tuduh begitu. Di berbalik menuju ruangannya dengan perasaan campur aduk. Herlambang rasanya tidak percaya Aziz mau melakukan ini semua.


Aziz langsung berbalik untuk menemui Herlambang. Dia tidak tahu apa tanggapan komisaris soal kasus ini. Ya Allah, semoga dia kuat menerima konsekuensi kesalahan yang tidak pernah di perbuat. Semua doa penuh harapan Aziz labuh kan untuk mencari keadilan.


"Mampus kau, Aziz. Sekarang kamu sudah di pecat. Mau mengembalikan uang kantor dalam waktu satu minggu, apa bisa? Dasar idiot mending di penjara atau jadi gelandang. Siap-siaplah menderita, kawan," batin orang itu seolah tidak peduli.


Pria asing itu dengan senang hati melihat Aziz jadi gelandangan. Jangan harap lolos dari jeratan mereka. Karir pria itu telah hancur kak saatnya dirinya meraih apa yang diinginkan. Akan ada kursi CEO untuknya.


***


Dalam ruangan Herlambang pria dewasa itu panik. Aziz akan menjelaskan bahwa dirinya tidak tahu apa-apa. Semoga saja Herlambang mampu memaafkan kesalahannya. Aziz berharap masih ada orang yang percaya padanya walau mustahil.


Aziz ingin meluruskan masalah agar Bosnya percaya. Semoga ada satu orang percaya padanya. Dia hanya mampu berdoa agar Allah selalu memberikan kesabaran dan keikhlasan menjalani cobaan ini. Aziz hanya punya harapan Herlambang mau menerima alasannya.


"Saya percaya pada Anda, jangan takut Allah selalu bersama orang-orang yang sabar. Saya memang curiga ada seseorang melakukan konspirasi pada Anda, maka terjadi sekarang. Anda tidak perlu khawatir saya akan mencari tahu dalang dari semua ini. Anda harus berjuang dan jangan pernah menyerah. Tunjukan pada mereka Anda kuat menghadapi cobaan ini."


Herlambang begitu mengenal Aziz karena baginya sosok di depannya sangatlah murni dan jujur. Bahkan pria di depannya sangatlah dermawan tidak pelit untuk berbagi. Dia sudah mengagap Aziz sebagai Putranya sendiri. Semua prestasi Aziz mampu mengembangkan bisnis di perusahaannya. Herlambang janji akan membantu Aziz menyelesaikan masalah kali ini.


Aziz terbelalak tidak percaya Bos besar mempercayai dirinya. Ya Allah bahagia sekali ia mendengar kata-kata penenang Herlambang. Dirinya tidak percaya seorang komisaris paling dermawan ini mau mempercayainya. Aziz tidak akan menyia-nyiakan kesempatan bagus yang diberikan Herlambang.


"Alhamdulillah ya rabbil'alamin, ya Allah terima kasih banyak masih ada yang percaya pada hamba. Pak, saya akan buktikan bahwa saya tidak bersalah. Terima kasih banyak, Pak."


Aziz tersenyum haru seraya menitikan air mata sangking terharu. Tidak apa ada satu orang percaya itu sudah cukup baginya. Dengan begini dia akan tunjukan kesanggupan melawan masalah. Apa lagi yang percaya adalah komisaris maka menambah semangat Aziz.


"Alhamdulillah, lalu bagaimana dengan uang kantor? Ini saya punya 100 juta untuk membantu Anda melunasi gaji para karyawan dan ini pesangon Anda. Setelah semua masalah selesai datanglah kembali ke perusahan. Saya akan menunggu Anda kembali bergabung dengan kami. Pak Aziz, teruslah berusaha jika Anda tidak keberatan datanglah ke rumah maka saya akan berikan rumah untuk Anda tempati bersama keluarga kecil, Anda."


Herlambang tersenyum seraya menepuk bahu lebar Aziz. Dia berharap pria yang sangat berprestasi ini mampu menjalani cobaan ini. Dia menanti si multitalenta datang kembali. Herlambang akan berikan apa pun bahkan uang 5,5 miliar itu ikhlas jika Aziz tidak sanggup membayarnya.


Aziz terbelalak menerima uang dengan jumlah banyak. Bosnya memang sangat loyal memberikan uang. Ya Allah, dia senang sekali setidaknya kebaikan Herlambang akan selalu Aziz ingat. Dengan banyak ucapan terima kasih Aziz layangkan untuk Herlambang.


Tanpa sungkan Herlambang merengkuh Aziz layaknya sosok Ayah. Dia berikan pelukan penyemangat untuk Anaknya ini. Tidak apa ia tunggu bila nanti satu Minggu tidak sanggup melunasi Herlambang akan maju melindungi Aziz.


Aziz balas pelukan hangat bosnya dengan perasaan terharu. Dia sangat bersyukur punya bos sangat bijak dan sangat baik hati. Sampai kapan pun ia akan menjaga kebaikan pria paruh baya yang sudah ia anggap Abah kedua. Aziz tidak takut lagi ada orang hebat mendukung maka semu akan terlewati begitu mudah.


***


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz.


"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Khumaira dari arah dapur.


Khumaira mematikan kompor lalu bergegas menemui Aziz. Tumben jam 9 Suaminyasudah pulang kerja? Apa ada sesuatu di kantor sampai Suaminya pulang? Sejatinya apa yang terjadi sebenarnya? Buru-buru Khumaira berjalan ke ruang tamu untuk menyalami Aziz.


Aziz duduk di sofa sembari mengacak rambutnya yang berantakan. Dia pijat pelipisnya terasa berdenyut nyeri memikirkan ini semua. Ia tidak tahu yang jelas harus tegar demi keluarga kecil dan Herlambang. Tidak boleh lemah karena banyak yang mencintainya. Aziz banyak yang cinta jadi jangan lemah hanya karena ini.


"Mas, kok sudah pulang?"


Khumaira langsung mengecup punggung tangan Aziz. Dia duduk di samping Suaminya terlihat acak-acakan. Apa ada sesuatu sampai Suaminya pulang kerja keadaan menyedihkan. Kalau begini ia berharap tidak terjadi apa-apa walau sepertinya terjadi. Khumaira berharap Aziz mau berbagi walau dirinya tidak paham kantor.


Aziz tersenyum ketika Khumaira mengecup punggung tangannya. Dia tersenyum tulus ketika Istrinya merengkuh tubuhnya. Dengan sayang ia balas dekapan hangat Istrinya berbagi keresahan. Aziz sangat senang ada Istri shalihah yang menyambut dukanya.


"Nanti Mas ceritakan. 1 jam lagi Tole Ridwan pulang sekolah. Lalu mana si kecil, Dek?"


"Iya, nanti kita susul Dedek Ridwan. Dedek Mumtaaz sedang tidur Mas soalnya kelelahan bermain."


"Oo, Mas ke kamar dulu."


Khumaira mengikuti Aziz ke kamar. Dan alangkah terkejut ketika Suaminya merengkuh erat tubuhnya. Dia terpaku ketika Suaminya terdiam tanpa kata bahkan dirinya merasa prianya begitu rapuh. Entah kenapa Khumaira sesak melihat Aziz terlihat sedih seperti sekarang.


Aziz membawa Khumaira untuk duduk di tepi ranjang. Dia menggenggam erat tangan mungil Istrinya. Dengan genggaman tangan ini ia mencari kekuatan. Aziz berharap khumaira mau menemaninya dikala lemah butuh dukungan.


"Mas, ada apa?"


"Mas di fitnah, Dek. Mas di keluarkan secara tidak terhormat dari perusahan. 1 minggu Mas harus mencari uang 5,5 miliar untuk mengembalikan uang kantor. Jika Mas tidak mampu melunasi maka Mas di penjara. Mas sekarang bangkrut, Dek. Mas jadi pening sendiri memikirkan siapa yang tega memfitnah Mas begitu besar. Ini ada konspirasi untuk melengserkan, Mas."


Aziz tersenyum menceritakan kejadian tadi. Dia ingin melihat tanggapan Khumaira tentang masalah ini. Semoga saja Istrinya selalu ada di saat duka sepeti ini. Ia melihat Istrinya sangat terkejut dengan mata berkaca-kaca. Aziz sedih melihat khumaira begitu sedih mendengar musibah yang menimpanya.


Khumaira membekap mulutnya tidak percaya. Tega sekali orang yang memfitnah Suaminya. Lalu bagaimana kondisi Aziz jika tidak mampu membayar semua itu? Dia tidak akan sanggup Suaminya di penjara. Khumaira takut jika ditinggal Aziz lalu bagaimana nasib anak-anak?


"Astaghfirullahaladzim, tega sekali orang itu, Mas. Ya Allah, cobaan apa ini? Mas, harus bisa menghadapi masalah ini. Kita akan menghadapi masalah ini bersama. Semoga Allah menunjukkan jalan pada kita. Amin."


"Amin ya Allah, semoga saja terkabul. Dek, sekarang Mas tidak punya apa-apa. Jika Mas jual rumah dan seisinya bagaimana? Mas sudah tidak punya harta yang melimpah bahkan Mas tidak tahu harus bagaimana? Apa Adek masih mau menemani, Mas di situasi ini? Apa Adek mau kita hidup serba kekurangan? Apa Adek bisa menerima jika semua kemewahan sirna?"


Aziz todak mampu mendengar jawaban menyakitkan. Dia butuh penyemangat Khumaira agar ringan menghadapi masalah. Dia tidak akan bertahan jika Istrinya tidak mendampingi di kala duka. Aziz lebih baik dipenjara jika Khumaira meninggalkan dirinya.


Khumaira langsung bersimpuh di depan Aziz. Dia genggaman tangan besar Suaminya dan menciuminya. Demi Allah ia tidak sanggup mendengar pertanyaan menyakitkan sang Suami. Khumaira lebih baik tinggal di tempat kumuh asal bersama Aziz dan anak-anak. Dirinya tidak akan mampu pergi walau keadaan memaksa.


"Jual saja tidak apa-apa asal Mas tetap tinggal bersama kami. Adek ikhlas lahir batin ikut bersama Mas di manapun Mas membawa Adek. Atas nama Allah, Adek akan selalu menemani Mas dalam suka maupun duka. Kita akan bersama selamanya walau duka derita yang kita jalani. Jangan takut karena Adek akan menerima apa pun dari Mas. Kita bisa hidup dalam kekurangan asal selalu bersama dalam keluarga sakinah mawadah warahmah. Asal Mas bersama Adek, semua terasa manis. Jangan takut kehilangan karena Adek akan selalu ada dalam suka maupun duka bersama Mas. Kita sudah terikat seumur hidup, maka Adek tidak akan membiarkan duka menyelimuti Mas. Mari berjuang bersama dengan bergandeng tangan. Adek sangat menyayangi Mas karena Allah. Jangan bersedih tersenyum untuk Istrimu ini, Mas. Kemari Adek akan berikan pelukan hangat."


Khumaira berharap Kata-katanya mampu meringankan hati Aziz. Dia usap punggung tangan Suaminya penuh arti. Semua terasa manis jika di hadapi bersama. Jikalau hidup susah itu tidak masalah. Asal bersama Suaminya semua terasa indah. Khumaira ikhlas hidup tanpa harta asal Aziz sellau mendekapnya dalam kedinginan bersama anak-anak.


Aziz tersenyum haru mendengar penuturan Khumaira. Tanpa babibu dia ikut bersimpuh di depan Khumaira. Dengan cepat Aziz menarik Khumaira dalam dekapannya. Kata-kata ini yang mampu membuat dia bertahan. Allah begitu adil memberi duka dan haru. Khumaira serta anak-anak ada di dekatnya maka dia akan selalu semangat menghadapi masalah. Terima kasih ya Allah atas cobaan yang Engkau berikan.


"Terima kasih, Dek."


Hanya kaya terimakasih yang mampu Aziz ucapkan mengiringi kebahagiaan. Dia ciumi pipi gembul Khumaira lalu mengecup kening lama. Demi apa ia sangat bahagia menerima cobaan. Namun, lihat cobaan itu mendatangkan berkah dengan Istrinya menuntun kebaikan. Aziz sangat bahagia menerima ini semua.


Khumaira membalas dekapan Aziz dalam perasaan campur aduk. Dirinya sangat bahagia Suaminya mampu bertahan. Ia tersenyum haru menerima ciuman manis Suaminya. Dengan demikian tidak akan ada yang bisa merobohkan bahtera rumah tangga mereka. Kini kekuatan itu semakin besar penuh cinta. Khumaira begitu bahagia bisa menemani Aziz dalam suka maupun duka.


"Mas, jangan menyerah ya. Adek sangat sayang Mas!"


"Mas tidak akan menyerah hanya karena masalah ini. Mas juga sangat sayang Adek."


Pada akhirnya keduanya saling pandang lalu memberikan ciuman sayang. Mereka begitu bahagia menerima ini semua. Keduanya saling mendekap memberikan segala cinta. Aziz dan khumaira tidak akan menyangka bisa manis. Kini bahtera rumah tangga mereka semakin erat. Kini kekuatan cinta dari Allah akan mereka tegakan tanpa terpisahkan.