Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Meminta Izin!



Khumaira merebahkan diri di ranjang dengan berbantal paha Aziz. Jari mungil itu terus meremas tandanya ada yang dipikirkan. Dia terus ke pikiran tentang foto Aziz dan Zahira.


Aziz menyengit bingung melihat Khumaira terlihat begitu gelisah. Apa yang sedang di pikirkan Istrinya?


"Dek," panggil Aziz seraya mengusap rambut panjang Khumaira.


"Dalam. Mas, itu kenapa ada Mbak Zahira foto bersama, Mas? Emz, kalian sangat dekat di foto itu," cicit Khumaira langsung menyembunyikan wajah di perut berotot Aziz.


Aziz mengerjap mendengar suara lirih Khumaira. Seulas senyum menghias bibir tebalnya tatkala tahu Khumaira sedang cemburu.


"Hai ... Bebekku, menurutmu bagaimana aku dengan Mbak Zahira?" goda Aziz dan berhasil Khumaira langsung melepas diri lalu duduk dengan pandangan sedih.


"Cocok," sahut Khumaira tetapi sangat berat.


"Benarkah bagaimana jika aku poligami?"


Khumaira langsung mendelik horor mendengar perkataan Aziz. Dia tidak akan mau di madu. Tidak terasa air mata luruh deras gara-gara memikirkan perkataan Aziz.


"Jika Mas mau poligami silakan. Tetapi, ceraikan aku dan biarkan aku pergi!"


Aziz langsung diam melihat Khumaira menangis. Dia tambah merasa bersalah mendengar perkataan Istrinya. Niat awal menggoda malah berujung begini.


"Hai, Mas hanya bercanda, Dek. Maafkan atas kesalahan Mas, Dek. Tolong maafkan Mas jangan menangis Mas mohon."


Aziz menghapus air mata Khumaira, tetapi mendapat tepisan kasar. Dan lihat Istrinya menangis tersedu lalu memilih beranjak dari ranjang.


Aziz langsung merengkuh Khumaira dari belakang seraya menciumi tengkuk sang Istri. Dia eratkan pelukan supaya Khumaira tenang.


"Lepas, Mas mau poligami dengan Mbak umhhh ...."


Ucapan Khumaira terpotong karena Aziz langsung membalik badan dan meraup bibir tebalnya. Khumaira memejamkan mata rapat meronta menolak ciuman Aziz.


Aziz ***** bibir Istrinya secara sensual. Dia berusaha memberikan ciuman sensual. Ia begitu takut jika Istrinya emosi. Aziz akan memberikan lumatan bibir Khumaira.


Khumaira meronta dalam dekapan dan ciuman Aziz. Karena tenaganya habis dia memilih diam dengan tangis membelenggu. Khumaira sangat takut Aziz memadu dirinya. Ia takut kehilangan Suaminya makanya bersikap demikian.


Aziz menyudahi ciuman panas mereka. Lalu dia mengecup kening Khumaira sangat lama. Di rasa cukup Aziz menangkup pipi gembil Khumaira sembari menyatukan kening.


"Aku tidak akan pernah poligami ataupun semacamnya. Takdir dan hidupku ada padamu, Dek Syafa. Hanya padamu tempatku berlabuh. Hanya Padamu tempatku untuk pulang dan hanya padamu masa depan tercapai. Kamu adalah segala di atas segalanya untukku. Semua yang terasa di hati hanya untukmu. Maaf lisanku begitu tajam tanpa mau kukendalikan. Maafkan aku, Dek."


Aziz berusaha menenangkan Khumaira. Rasa bersalah menguar kuat mengingat perkataan asal bicaranya. Lisannya memang sangat berbahaya ketika bercanda dan berkata tajam. Dia tidak akan pernah mau melakukan itu pasalnya hanya Khumaira Istri yang sangat dicintai sekaligus akhir dari kisah cinta. Tidak akan ada orang ketiga, pasalnya cinta yang Aziz miliki begitu tulus dan atas nama Allah.


Khumaira tersenyum lalu tertawa melihat Aziz begitu panik. Dia sangat percaya Aziz hanya bercanda karena hati Suaminya begitu murni. Aziz tidak akan pernah tega menyakitinya. Sungguh ia terharu mendengar kata penenang Aziz membuat Khumaira sangat bahagia.


Aziz mengurai jarak seraya menatap heran Khumaira. Kenapa Istrinya malah tertawa terbahak-bahak begitu? Ada yang lucu dari perkataannya?


"Kenapa tertawa, Dek? Hai, aku serius jangan buat panik. Apa Adek kesurupan Nona cantik bergaun putih?"


"Ngawur, memang Mas saja yang bisa jahil? Memang Mas saja yang bisa bercanda?"


Aziz sepertinya tahu arah jalan ini. Ya Allah dia telah di tipu dan terjebak di dalam permainannya sendiri. Dengan cepat dia dorong Khumaira agar terlentang di ranjang. Aziz menggelitik perut rata Istrinya lalu memberikan kuncian.


Khumaira meronta keras seraya tertawa terbahak-bahak. Dia akhirnya berhenti tertawa dan mengukir senyum manis. Wajah cantik Khumaira bersemu merah bak buah delima.


"Mas, aku sangat tahu siapa dirimu. Saat Mas menggoda dan jahil aku tahu makanya tak ikuti saja ke mana Mas membawa permainan. Aku ingin tahu bagaimana reaksi Mas saat aku begini. Ternyata lucu juga punya sikap jahil kayak, Mas. Sumpah jika terus bersama Mas aku akan menjadi tidak waras."


Aziz langsung menyentil kening Khumaira pelan. Dia ikut merebahkan diri di samping Khumaira. Hati dan jantungnya terasa sakit tadi merasa sangat bersalah, tetapi dia kena jebakan.


Khumaira sangat puas mengerjai Aziz. Dia bisa sangat puas melihat alien kena getah dari permainan sendiri. Siapa suruh jahil padanya dan itu akibat dari perbuatan sang Suami. Khumaira masih tertawa merasa puas mengerjai Aziz.


"Aku foto dengan Zahira karena Romli sahabatku memintanya. Romli sahabat dari Kairo sekaligus rekan di kantor. Adek tahu ternyata Romli menikah dengan sepupu kandung, Zahira. Lucu sekali bukan? Makanya Romli memaksa Mas foto bersama Zahira. Apa di foto itu Mas tersenyum ikhlas? Mas paling anti foto bersama wanita bukan mahrom. Maaf ya, Dek foto bersama Mbak Zahira. Nanti Mas hapus foto itu, janji."


Aziz memberi tahu tentang mereka agar Khumaira tahu. Semua terasa indah dan ia akan mempertahankan keindahan bahtera rumah tangga mereka sampai kapan pun. Aziz akan berusaha keras membahagiakan Khumaira dalam suka maupun duka. Walau badai menghantam ia akan terus mencintai sang Istri.


Khumaira mendekat untuk menyandarkan kepalanya di dada bidang Aziz. Dia sangat senang dan lega pasalnya Suaminya begitu lugas. Suaminya sangat lucu dan jahil membuat ia ingin menguliti. Sangling gemas Khumaira pada Aziz membuatnya ingin me lakban mulut sang Suami.


***


3 Hari Kemudian ....!


Aziz menghembus napas berat pasalnya dua hari lagi ada perjalanan bisnis untuk proyek besar. Dia tidak tega meninggalkan Khumaira dan Ridwan sendiri selama itu. Aziz mana bisa pergi tanpa keduanya. Pasti setiap saat akan kepikiran keduanya sampai tidak konsentrasi.


"Pak Komisaris, saya akan melakukan perjalanan bisnis terakhir. Saya tidak akan pernah mau ke luar Negeri lagi untuk proyek. Saya akan berusaha membuat proyek pembangunan sukses besar!" tegas Aziz.


"Tidak masalah, Pak. Saya sangat senang Anda mau melakukan ini walau yang terakhir. Saya akan mengirim 3 rekan untuk membantu, Anda. Saya percaya setiap desain arsitek dan proyek yang Anda pegang pasti berakhir sangat fantastis. Terima kasih sudah bekerja sama dengan kami selama ini."


“Hati-hati, semoga sukses besar.” Herlambang sangat senang bisa memiliki Aziz dalam kantornya. Dia sangat bangga pada pria tegap penuh percaya diri dengan bakat istimewa. Herlambang berharap Aziz selalu bahagia di setiap langkah.


Aziz merasa kalut memikirkan Khumaira dan Ridwan. Selama dia pergi ke luar Negeri, siapa yang akan menjaga mereka? Sedih sekali mengingat ia akan berpisah dengan dua orang yang sangat berarti dalam kurun waktu beberapa minggu.


Aziz memilih pulang dan membicarakan ini bersama Khumaira. Dia akan mengajak mereka ke Hongkong, tetapi percuma saja. Karena setiap harinya dia akan ke lokasi pembangunan itu.


"Hah, ya Allah semoga aku cepat menyelesaikan tugas itu. Setelah dari Hongkong aku tidak akan lagi ke luar Negeri."


Khumaira habis pulang mengajar dan lihat Ridwan membawa banyak mainan. Kebiasaan anak-anak muridnya memberi hadiah pada Putranya yang sangat tampan.


Ridwan menaruh hadiah pemberian fans ke meja. Dia tersenyum bangga bisa mendapat banyak hadiah. Ia akan pamerkan pada Ayahnya prihal hadiah ini. Ridwan yakin Aziz akan iri padanya, Hahahah.


"Dedek, besok jangan terima hadiah ya. Soalnya banyak sekali mainan untuk Dedek."


Ridwan mencebikkan bibir imut mendengar perkataan Ibunya. Dia langsung mengomel panjang lebar dengan suara imut nya. Ridwan berdiri di sofa lalu tangan kecil itu mengayun lucu.


"Umi tidak asyik untuk di ajak kompromi. Biarkan saja Kakak itu memberi hadiah. Lagian, mereka sayang pada Dedek. Kata Abi rezeki tidak boleh di tolak."


"Baiklah, sekarang ayo cuci muka lalu tidur siang."


"Baik, Umi."


Usai membersihkan diri Khumaira membawa Ridwan ke kamar untuk di tidurkan. Cukup lama ia berusaha menidurkan si gembul mengemaskan. Khumaira tersenyum ketika Ridwan sudah lelap seraya memeluk tubuhnya. Putranya tidak akan bisa tidur jika tidak di rengkuh olehnya. Sesekali dia cium pipi gembul sang buah hati penuh sayang. Khumaira mengecup pelipis Ridwan sangat lama membuatnya gemas.


"Dedek begitu mirip dengan Abi, semoga kelak Dedek bisa seperti, Abi. Umi sangat beruntung mendapatkan Tole dalam hidup, Umi. Terima kasih banyak, Mas Azzam sudah memberiku Putra setampan, Dedek Ridwan."


Khumaira menyengit mendengar salam Aziz. Dengan hati-hati ia melepas diri dari Ridwan dan menghampiri Suaminya. Kenapa Suaminya pulang cepat? Biasanya Aziz pulang sore atau malam. Khumaira jadi bingung kenapa Suaminya pulang awal.


"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."


"Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."


Khumaira mengecup punggung tangan Aziz dan memilih membawa tas kerja Suaminya. Kenapa wajah Aziz terlihat di tekuk begitu? Sebenarnya apa yang terjadi? Khumaira jadi khawatir melihat Suaminya jadi aneh m


Aziz tersenyum tipis lalu memilih membersihkan diri sebelum makan bersama, Khumaira. Nanti saja setelah makan dia mengutarakan tentang proyek.


Khumaira memanasi sayur yang dimasak tadi pagi. Dia menunggu Aziz untuk turun. Suaminya masih saja murung saat makan. Apa dia di kerjai lagi?


Setelah makan Aziz meminta Khumaira untuk menemaninya duduk di teras belakang. Dia belum berani bicara pada Khumaira takut sang Istri menolak. Aziz tidak punya pilihan karena itu tugasnya menyelesaikan segala proyek.


Tidak ada percakapan dan hanya hembusan napas mengiringi kesunyian. Khumaira jadi tambah panik melihat Aziz tambah murung. Dia jadi takut jika Suaminya kenapa-napa. Khumaira begitu ingin Aziz terbuka padanya walau cukup berat.


"Ada apa, Mas?" akhirnya Khumaira bertanya.


"Lusa Mas akan ke Hongkong untuk urusan bisnis. Proyek besar berharga miliar-an akan Mas raih. Tetapi, ada harga yang harus terbayar."


Aziz menggenggam tangan mungil Khumaira dan mengecupnya lama. Berat sekali dirinya untuk pergi ke Hongkong. Jika boleh jujur Aziz ingin membawa Khumaira dan Ridwan ke Hongkong.


Khumaira bergetar mengingat Azzam berakhir di perjalanan bisnis. Dia sangat takut kalau Suaminya kenapa-napa. Dengan gemetar Khumaira menggenggam tangan besar Aziz.


"Jangan pergi, aku takut di tinggal sendiri."


Aziz paham akan trauma Khumaira. Namun, ini sudah ketentuan demi mengembangkan bisnis di perusahaannya. Dia rengkuh tubuh mungil Istrinya sembari menciumi puncak kepala sang Istri. Aziz ingin memberikan ketenangan pada Khumaira akan trauma itu.


"Dek, Insya Allah atas karunia-Nya dan segala perlindungan-Nya Mas akan pulang dengan selamat dan sehat walafiat. 5 minggu Mas akan ke Hongkong dan Mas usahakan pulang lebih cepat. Tolong jangan buat Mas takut untuk pergi. Jangan khawatir, atas perlindungan dari Allah seorang hamba tidak akan kenapa-napa. Doakan saja yang terbaik Insya Allah semua akan baik-baik saja. Mas mohon jangan panik dan jaga diri Adek dan Dedek. Mas sangat menyayangi, kalian."


Aziz berusaha memberikan ketenangan untuk Istrinya. Dia tidak mau Khumaira tertekan gara-gara teringat tragedi itu. Semua akan baik-baik saja, Insya Allah.


Khumaira memilih merengkuh Aziz erat sembari menangis. Dia tidak mampu mengatakan apa-apa karena hatinya begitu takut kehilangan. Khumaira tidak akan sanggup kehilangan Aziz jika tragedi merenggut segalanya.


"Izinkan Mas ke Hongkong untuk 5 minggu ke depan. Insya Allah, Mas akan pulang lebih cepat. Lagian setelah proyek luar Negeri itu selesai, Mas tidak akan ke luar Negeri lagi. Tolong izinkan Mas ke Hongkong untuk beberapa minggu."


"Mas, aku sangat takut jika terjadi apa-apa dengan, Mas. Tetapi, aku akan selalu berdoa pada Allah agar Mas sehat selalu, Amin. Mas janji akan pulang dengan selamat, kan? Tolong jangan lama-lama di sana kami takut. Insya Allah, Adek mengizinkan Mas dengan syarat."


"Insya Allah. Syarat apa itu, Dek?"


"Jangan lupa menghubungi kami di setiap ada kesempatan. Jaga kesehatan, jaga mata, jaga pola tidur dan jangan begadang terus."


"Insya Allah."


Aziz membawa Khumaira dalam pangkuannya. Dengan begini hatinya lega menjalankan proyek besar. Khumaira adalah segalanya dan Ridwan adalah permatanya. Dua orang yang sangat dicintai dalam ketulusan suci. Aziz akan berusaha keras membahagiakan Khumaira dan Ridwan semampunya.


Khumaira akan selalu berdoa di setiap hembusan napas agar Aziz pulang dengan selamat. Dia sangat takut tragedi mengerikan itu terulang kembali. Jangan sampai semua terjadi pada Suaminya. Jika itu terjadi mungkin Khumaira akan gila atas kehilangan Aziz. Semoga Allah melindungi Aziz di setiap langkah dan memberikan tempat yang indah untuk almarhum.