Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Merasa Gagal Jadi Orang Tua!



...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....


...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....


.......**~×~**.......


Ridwan terus menggandeng tangan Mumtaaz seraya bercanda gurau. Tidak ayal membuat ada yang iri atas kedekatan mereka. Semu itu dilakukan karena ia begitu mencintai Adik keduanya begitu tulus. Dari anak berusia empat tahun ia jadi Kakak untuk Adik tengilnya. Ridwan juga tumbuh jadi Ayah bagi Mumtaaz sewaktu Ayahnya ke Singapura.


Catat sewaktu Ayah pergi merantau Ridwan jadi tombak penyemangat, Ayah sekaligus Kakak terbaik. Apa lagi waktu itu Ibunya juga nyaris menghembuskan napas terakhir setelah melahirkan Faakhira. Di sini ia terus berusaha keras agar Adik kesayangannya tidak tertekan. Jika hidup menjadi Ridwan begitu berat.


Pertama di tinggal Abi masih batita bahkan belum genap tiga tahun. Kedua terabaikan berminggu-minggu oleh Uminya dan di asuh serta di jadikan anak kuat serta dicintai Ayahnya. Ketiga saat Ayahnya mengalami kecelakaan hebat nyaris merenggut nyawa. Keempat di tinggal pergi Ayahnya ke Singapura setelah bertemu Abi. Kelima hidupnya begitu lebur dan berusaha kuat demi Adiknya sewaktu Uminya mengalami pendarahan hebat.


Namun, ada yang paling di syukuri Ridwan yaitu karena Umi-Abinya mengajari ilmu agama dari bayi. Dan paling di syukuri adalah saat Ayahnya menjadi pendongkrak ia jadi hafidz. Dari segala cobaan yang pernah di tempuh dia tumbuh menjadi anak kuat walau hatinya begitu rapuh. Ridwan begitu rapuh di dalam, tetapi di luar begitu ikhlas, sabar, tegar nan tabah menghadapi semua ujian.


Ridwan berusaha keras agar tidak canggung pada keluarga baru Abinya semasa awal pertama di pesantren. Dia begitu tidak bisa akrab atau tiba-tiba mengakrabkan dengan orang asing. Dia waktu itu masih kecil belum tahu apa-apa. Dan saat Abinya meminta dirinya ikut tinggal bersama ia tidak bisa. Ridwan bahkan dibujuk Ayahnya untuk tinggal bersama Abi, tetapi tetap kukuh ikut Umi.


Bukan apa-apa Ridwan menolak halus permintaan Abi dan Mama untuk tinggal bersama. Di sini ia ingat perjuangan Umi dan Ayahnya membesarkan dirinya. Lebih lagi saat Umi harus hidup mengurus tiga anak tanpa Ayah. Sebagai anak sulung Ridwan tahu betapa besar penderitaan Umi dan Ayah. Untuk Abi serta keluarga yang lain dirinya akan selalu ada dan berusaha mencintai serta adil dalam kasih sayang seorang ank dan Kakak.


Melihat Ridwan tersenyum begitu cerah dengan mata bersinar membuat Aziz begitu bahagia. Begitu juga ia begitu senang melihat mata indah anak keduanya begitu bersinar. Melihat dua anaknya begitu bahagia tentu menerbitkan senyum tulus. Ridwan dan Mumtaaz adalah deskripsi Matahari serta bumi. Aziz paham keduanya saling melengkapi layaknya Matahari dan Bumi.


Sedangkan Mumtaaz tersenyum lebar Ridwan bisa di lihat. Sungguh ia rindu sekali pada Kakak kesayangannya. Walau sering cekcok adu mulut tiada ujung, tetapi sebenarnya itu bentuk kasih sayang. Dia begitu mencintai Kakaknya dan kadang selalu ingin ikut ke mana saja Kakaknya pergi. Mumtaaz sudah menganggap Ridwan Ayah kedua baginya.


"Ayo masuk jangan bercanda terus," ucap Aziz menyadarkan dua anaknya.


"Ayah," rengek Ridwan dan Mumtaaz.


"Tidak usah merengek, ayo masuk jangan bantah!" Tegas Aziz.


"...." Ridwan dan Mumtaaz masih mau di luar karena di dalam pasti kurang nyaman berceloteh panjang lebar.


"Kalau mau debat nanti saja, ayo anak-anak tampan Ayah masuk." Aziz paham dua anaknya begitu ingin bersama bercanda gurau.


"Um," sahut Ridwan dan Mumtaaz pada akhirnya.


"Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh," salam Ayah dan anak-anak.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," sahut Azzam dan Mahira serta yang lainnya.


Melihat Abi mata besar Mumtaaz membulat sempurna. Tanpa buang waktu ia lari ke arah Abinya lalu mencium punggung tangan. Dia dengan manis bahkan memberi salam pada Budenya (Mahira) dan Kakak sepupu tiri. Baru setelah itu Mumtaaz dengan manja duduk manis di pangkuan Abi tanpa peduli usia.


Azzam tersenyum teduh sekaligus gemas pada Mumtaaz. Karena begitu senang ia menciumi pipi tembem keponakan kesayangannya. Dia jadi ingat menganggap bahwa anak dalam pangkuan adalah anaknya. Azzam jadi Ingat sebenarnya dulu sebelum pergi Khumaira sedang mengandung dan sekarang anaknya telah kembali ke sisi-Nya.


Jujur saja Azzam cemburu sekaligus iri atas kasih sayang Ridwan begitu besar untuk Adiknya sekaligus tiga anak mantan Istrinya. Sedih melihat mata serta senyum bersinar anaknya hanya muncul dekat Ayah-Umi dan tiga Adiknya. Azzam berusaha tenang tidak boleh bersikap begini lalu dengan khusyuk mengucap istighfar dalam hati.


Sedangkan Mahira berusaha menutup rasa kelu melihat Ridwan begitu bersinar bersama keluarga Uminya. Dia sadar anak tirinya tidak bisa secerah itu di dekatnya atau bersama ke empat anaknya. Bahkan ia bisa tahu rasa sayang itu begitu besar sangatlah besar sampai siapapun tidak akan bisa menggoyahkan. Walau begitu Mahira begitu menyayangi serta mencintai Ridwan dan berharap bisa diberikan keadilan sama.


Untuk empat anak manis menatap Ridwan dan Mumtaaz serta Pamannya terasa aneh. Karena Kakak sulung tidak pernah secerah itu bersama mereka. Walau begitu mereka senang bisa melihat Kakak sulung begitu cerah nan hidup.


Setelah salaman pada Mas dan Mbak ipar dirinya duduk sebentar. Di sini Aziz sadar arti tatapan Azzam dan Mahira. Dia jadi tidak enak hati sehingga membuatnya gelisah. Ia izin masuk serta mengajak Mumtaaz ganti celana. Otomatis anaknya mengangguk-angguk setuju. Aziz segera meraih tangan Mumtaaz lalu izin masuk meninggalkan keluarga besarnya.


"Abi," panggil Ridwan.


"Dalem, Le," sahut Abi Azzam.


"Apa Ayah datang cuma bersama, Kakak cilik?" Tanya Ridwan merasa aneh.


"Hayo datang dengan siapa?" Goda Bibah seraya menoel pipi Ridwan.


"Bibi, serius," rajuk Ridwan.


"Bibi, serius bahkan 100 rius." Bibah masih betah menggoda.


"Kakak pikir Ayah dan Kakak cilik datang bersama, Umi dan dua Adikku yang lain," lesu Ridwan.


"Sudah jangan cemberut, Le. Coba saja tebak Ayah dan Kakak cilik datang bersama siapa?" Hibur Abah Hasyim.


"Tersenyum jelek tadi sudah tersenyum lebar sekarang layu," ucap Umi Safira.


"Um," respons Ridwan


"Kakak," panggil Ayeza.


"Iya, Nduk," sahut Ridwan.


"Kakak terlihat beda," nimbrung Zayn kalem.


"Maksudnya?" Tanya Ridwan penasaran.


"Abaikan perkataan Adikmu, Le. Bagaimana apa sudah beritahu kabar baik pada Ayah-Umi?" Potong Azzam tidak mu keadaan keruh.


"Belum, nanti akan Kakak beritahu. Serius, apa yang beda, Abi?" Todong Ridwan.


"Sudah-sudah ayo kita bahas lain. Begini apa Tole Ridwan sudah izin kemari?" Lerai Abah Hasyim.


"Sudah, Mbah Kakung," sahut Ridwan.


Pada akhirnya obrolan berlangsung panjang dan untuk anak-anak Abi serta Mama hanya diam. Semua berbicara saling memecahkan keheningan di ganti kesejukan. Mereka berbincang-bincang masalah ringan dan sesekali di selingi guyonan.


Sedangkan Aziz terlihat pendiam setelah masuk kamar. Mumtaaz sudah heboh mengatakan pada Umi dan dua Adiknya. Melihat senyum lebar ketiga anaknya rasa gundah hilang. Namun, ada rasa sakit membuat Aziz bungkam tanpa mau menatap.


Khumaira jadi tidak sabar bertemu anak sulungnya. Namun, terhenti sewaktu melihat Suaminya beda. Mata tajam serta ekspresi Suaminya begitu beda. Apa ada yang disembunyikan? Khumaira pada akhirnya meminta anak-anak diam dulu baru ke luar kamar.


Di rasa sudah tenang Khumaira mengajak Aziz masuk ke dalam kamar mandi. Dia ingin tahu apa yang terjadi pada Suaminya. Ia khawatir melihat Suaminya padam seolah menyembunyikan sesuatu. Sampai Khumaira menerima dekapan erat dari Aziz.


"Mas," lirih Khumaira.


"Kenapa tidak ikut kumpul mereka?" Tanya Aziz masih betah mendekap erat Khumaira.


"Pantas saja Kakak Ridwan begitu ternyata menurun sempurna dari Uminya," kekeh Aziz sadar Ridwan begitu identik dengan sikap Khumaira dan Azzam.


"Maksudnya apa, Mas?"


"Kakak besar juga begitu identik dengan sikap canggung seperti, Umi."


"Kan Adek ini Uminya jadi wajar begitu, Mas."


"Hm."


"Mas kenapa aneh sekali? Ada apa, Mas?" Tanya Khumaira seraya membelai pipi Aziz.


"Mas merasa berdosa, Dek." Aziz menahan tangan kemudian mencium lembut pergelangan tangan Khumaira.


"Berdosa karena apa, Mas. Tolong bicara seperti biasa ke inti jangan memainkan teka-teki," pinta Khumaira.


"Mas berdosa karena tidak bisa membuat Kakak gede membagi keadilan. Melihat tatapan iri, cemburu , kecewa dan sedih dari mereka membuat Mas sadar. Apa Mas begitu buruk tidak bisa memberi keadilan? Mas tidak mau keempat anak Mas Azzam merasakan apa yang dulu Mas rasakan. Begitupun Mas tidak mau Mbak dan Mas Azzam juga merasakan apa yang pernah Mas rasakan. Dulu Mas tidak diberikan kasih sayang utuh sekaligus dibedakan dan tidak memperoleh keadilan rata, sungguh itu begitu menyakitkan. Mas, tidak mau Kakak Ridwan tumbuh menjadi Kakak tanpa bisa membagi rata kasih sayang. Mas begitu buruk menjadi orang tua, sangat buruk ....


... Dek, rasanya sakit sekali melihat tatapan keempat anak Mas Azzam dan Mbak Mahira. Terutama tatapan pilu Mas Azzam dan Mbak ipar. Jantung dan hati Mas begitu nyeri seolah mengingatkan pada masa lalu. Mas tidak mau jika masa lalu Mas dari kecil sampai dewasa terulang. Mas sanggup menerima ketidakadilan, tetapi jangan mereka. Cukup Mas yang menerima ketidakadilan jangan mereka. Mas gagal Dek jadi orang tua sangat gagal. Mas gagal jadi orang tua yang baik."


Aziz melupakan segala rasa sakitnya pada Khumaira. Bahkan air matanya mengucur deras tidak mampu membendung kepedihan. Dia merasa sangat gagal menjadi orang tua sekaligus Adik. Aziz tidak sanggup mengingat masa lalu sewaktu kecil sampai besar selalu dibedakan.


Sakit sekali sampai Aziz berpikir bukan ank kandung. Lalu kini terulang Ridwan kurang bisa membagi keadilan untuk tujuh Adiknya. Jangan sampai anaknya punya sikap seperti Abah dan Umminya dulu karena membedakan ia dengan yang lain. Aziz tidak sanggup ingat betapa berat masa itu dan terus patuh tanpa di lihat.


Aziz sudah berusaha semaksimal mungkin agar permintaan Azzam dapat di dengar Ridwan. Walau di sudah di dengar, tetapi masih saja sama. Hatinya bagai dihantam badai besar tak ayal air mata berlinang deras. Aziz menangis tidak sanggup sekaligus merasa gagal menjadi orang tua yang baik.


Mendengar luapan emosi Aziz membuat Khumaira ikut merasakan. Bahkan air matanya berlinang deras tidak mu berhenti. Jiwa raga remuk mendengar letupan emosional dari Suaminya. Lebih sakit lagi melihat air mata Suaminya begitu menyayat hati. Khumaira juga langsung diam Aziz menyalahkan diri sendiri.


Bahkan jika boleh jujur Aziz adalah orang tua terbaik sepanjang masa. Suaminya begitu tegas, humoris, penyayang, pengertian, guru terbaik, pelindung, pengasih dan sangat baik mendidik anak. Bahkan dari Ridwan belum jadi anak Suaminya begitu mencintai. Saat jadi Ayah kasih sayang Aziz semakin bertambah. Khumaira juga tidak pernah melihat saya Aziz membedakan antara Ridwan dan tiga anak kandung sang Suami.


Bahkan Aziz selalu membagi rata kasih sayang antara Ridwan, Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar. Bahkan sering kali ia mendengar Suaminya menasihati anak sulungnya untuk membagi rata. Detik berikutnya Khumaira sadar sikap kurang baik itu menurun darinya. Dia juga merasa gagal jadi orang tua yang baik bagi Ridwan.


"Mas, sudah jangan salahkan diri sendiri. Dengarkan Adek wahai Suamiku tercinta. Mas adalah orang tua akhir zaman terbaik yang Adek lihat. Mas adalah Ayah terbaik untuk Ridwan dan tiga anak kita. Dengar, di sini Adek juga salah karena kurang memberi pengertian. Adek juga merasa gagal telah melakukan tindakan kurang tegas. Sikap Kakak pasti menurun dari Adek seperti kata Mas. Benar adanya Adek begitu canggung pada orang bahkan jika orang itu kukenal lama ....


... Untuk masa lalu Mas yang kurang diberikan kasih sayang adil Adek tidak akan membiarkan anak-anak Mas Azzam menerimanya juga. Kita harus bangkit lalu membuat Kakak sadar atas sikapnya. Kita sudah gagal jadi orang tua baik, tetapi untuk saat ini tidak lagi. Jangan menangis Adek mohon karena itu melukai hati, Adek. Masku jangan lemah Adek mohon karena ini begitu menyakitkan. Adek tidak sanggup melihat air mata Mas berlinang. Jiwa raga Adek terasa lembur mendengar ungkapan hati, Mas. Hatiku tambah sakit melihat Suamiku menangis ....


... Kita memang sudah gagal menjadi orang tua yang baik untuk Kakak gede. Namun, kita bisa memperbaiki semua dari awal. Sudah jangan menangis Adek mohon. Kita tidak boleh lemah karena tugas kita membangkitkan sikap adil, Kakak gede. Dengar dalam keluarga kita tidak ada yang boleh punya sikap pilih kasih atau membedakan. Mas dulu sering dibedakan sekarang tidak. Mas lihat mata Adek maka akan terlihat betapa besar cinta ini untuk, Mas. Adek adalah tempat Mas pulang, berkeluh kesah, membagi duka dan rekan sehidup semati. Sang Khaliq adalah segala tempat untuk berkeluh kesah, bersandar dan terus memohon. Namun, di dunia Mas punya Adek yang akan selalu jadi tempat Mas mencurahkan semua. Adek sangat mencintai Mas karena-Nya!"


"Dek, ya Allah."


Aziz tidak sanggup mengatakan apa-apa selain mendekap erat Khumaira. Hatinya sejuk membuatnya begitu bahagia. Istrinya benar jika gagal harus bangkit dan memulai dari awal. Dia memang sudah gagal, tetapi Istrinya telah jadi pendongkrak. Aziz akan berusaha bersama Khumaira agar Ridwan tidak punya sikap buruk yang membedakan satu sama lain.


Khumaira tersenyum teduh melihat Aziz merespons begitu apik. Dia balas dekapan Suaminya erat kemudian menyandarkan kepala di dada bidang Suaminya. Bahkan tangan lentiknya terus mengusap punggung Suaminya. Khumaira sangat bahagia setidaknya mampu memberikan kata-kata penenang untuk Aziz.


"Dek," panggil Aziz.


"Dalem, Mas," sahut Khumaira.


"Mas sangat mencintai Adek," ungkap Aziz seraya menyatukan kening mereka.


"Adek juga sangat mencintai, Mas," sahut Khumaira sembari menangkup rahang Aziz.


"Kita mulai dari awal Dek untuk memperbaiki sikap Kakak Ridwan. Mari kita berikan masukan sedikit demi sedikit untuk anak tampan kita."


"Um, jangan pantang menyerah karena hasilnya akan memuaskan. Tidak akan ada masa lalu Masku yang melingkupi keluarga Mas Azzam."


"Hm."


"Hanya 'Hm?', Mas"


"Ingin itu."


"Eh? Ingat kita di mana, Mas."


"Itu, maksudnya ingin ini."


"Umhh ...."


Khumaira tersenyum sewaktu Aziz mencium bibirnya begitu lembut. Mereka berusaha menghibur diri lalu berbuat romantis sebelum keluar kamar. Sedangkan Aziz sangat bahagia setelah kegundahan hati mendapat ciuman manis.


Sedangkan di dalam kamar Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar sedang main. Ketiganya begitu rukun tidak ayal di Kakak mengusap pipi kedua Adiknya. Canda tawa hinggap lalu menatap pintu kamar mandi tidak ku kunjung terbuka. Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar yang patuh tidak akan ke luar sebelum kedua orang tuanya ke luar kamar mandi.


"Kak, kenapa Ayah dan Umi lama sekali?" Tanya Faakhira.


"Apa Ayah-Umi sedang pipis?" Tanya Zaviyar polos.


"Kurang tahu, mungkin saja. Kita main dulu baru ke luar untuk bertemu Kakak gede," jawab Mumtaaz.


"Um," kor Faakhira dan Zaviyar.


...Cut....


...Tanpa sadar air mataku berlinang menulis chap ini....


...Ayah begitu peka dan tidak akan bisa melihat orang-orang terdekat mengalami apa yang pernah dialami. ...


...Sikap Kakak Ridwan itu dominan ke Umi, Abi, Ayah dan ada sikap kurang baik di miliki dari Kakek dan Neneknya dulu....


...Sebagai orang tua Ayah dan Umi akan berjuang keras agar Abi, Mama dan empat keponakannya bisa dicintai Ridwan layaknya tiga Adik kandungnya....


...Salam cinta Rose....


...'07*11*20'...


...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....