
Sekedar pemberitahuan!
Assalamu'alaikum Imamku 2
Memiliki banyak chapter!
Jangan bosen ya, Sayangku!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini. Harap maklum 🙏🙏🙏👇👇👇
*****
Aziz masih betah merengkuh Khumaira erat. Dia sangat bahagia akhirnya mendapatkan segala kebahagiaan. Cobaan ini tidak ada artinya untuknya. Asal ada Istrinya ia rela tersakiti oleh siapa pun. Mata redup Aziz perlahan hidup kembali menerima sinar rembulan. Dia melirik jam dinding dengan penuh arti.
Khumaira menyandarkan kepalanya di bahu lebar Aziz. Dia dengan sayang mengecup rahang tegas Suaminya sekadar ungkapan hati. Walau pun hidup tidak berkecukupan ia mampu asal hidup bersama Suaminya. Khumaira akan berusaha memberi pengertian pada Ridwan dan Mumtaaz agar bisa hidup serba sederhana serta mengirit.
"Dek, sekarang jam 09:30 AM, ayo jemput, Tole Ridwan."
Aziz melepas pelukan mereka dan beralih mengajak Khumaira berdiri. Mata saling menatap hingga ia memberikan ciuman di bibir pada Istrinya. Tidak ada lumayan hanya sekedar luapan rasa cintanya. Aziz sangat bahagia bisa memberikan segala cinta untuk khumaira berserta anak-anak.
Khumaira mendorong pelan dada Aziz karena butuh pernapasan. Senyum terus merekah mengiringi langkah kakinya. Dia genggam tangan besar Suaminya lalu melangkah melewati badai bersama. Ia yakin Suaminya bisa berjuang karena ada dirinya serta dua anak tampan. Khumaira tidak akan pernah berhenti memberikan semangat pada Aziz sehingga semua akan indah pada waktunya.
"Ayo, Adek pakai hijab dulu."
"Baik, Mas ke kamar Dedek Mumtaaz dulu."
Khumaira membalas perkataan Azix dengan senyuman. Senyum terukir indah saat Suaminya menuju kamar Ridwan. Sementara dirinya akan merias diri dengan penampilan sederhana. Dia menaburkan bedak bayi ke wajahnya yang bulat. Kulit putih bersihnya itu terlihat lebih cerah. Khumaira memang memiliki kulit putih bersih apa lagi wajahnya mulus dan pastinya sangat manis.
Sampai kamar pria dewasa itu mendekat ke arah anaknya. Aziz mengusap pipi gembul Mumtaaz, kemudian menunduk untuk mengecup wajah anaknya. Sungguh dia sangat menyayangi anak-anaknya sampai kebahagiaan merekadi atas segalanya. Aziz tidak akan setitik kesulitan membelenggu anak-anak akan masalah ini.
"Mas, Dedek Mumtaaz belum bangun?" Tanya Khumaira di kala Aziz tidak kunjung keluar.
"Belum, si kecil masih asyik mimpi." Aziz tersenyum minta maaf belum beranjak dari sini.
"Gendong saja, nanti kita terlambat. Bisa marah Tole Ridwan tidak di jemput tepat waktu." Khumaira lebih dulu menyiapkan keperluan lalu masuk mobil.
"Enggeh, Dek." Seru Aziz.
Aziz menggendong Mumtaaz hati-hati, tetapi lihat si kecil langsung bangun. Dia tersenyum saat Putranya mengerucut lucu siap mau menangis. Rasa panik ketika melihat mata bulat besar berkaca siap menumpahkan kristal benening. Buru-buru Aziz menuju mobil menyusul Khumaira. Sampai mobil ia buka kursi pengemudi lalu memberikan anaknya pada sang Istri.
Khumaira menerima si kecil untuk di susui karena sedari tadi anaknya lumayan rewel. Dia tersenyum meminta maaf Mumtaaz agak rewel karena kelelahan main. Senyum Khumaira merekah ketika Aziz memberikan senyum sebagai jawaban.
Mumtaaz menyusu sepanjang perjalanan menuju sekolah Kakaknya. Setelah puas mari menyusu si kecil memilih duduk manis seraya bertepuk tangan heboh sembari berceloteh lucu. Mumtaaz pada akhirnya minta pangku Ayahnya bertujuan mau menganggu.
Aziz mengusap rambut Mumtaaz gemas karena si kecil sangat aktif. Setelah sampai sekolah taman kanak-kanak ia menepikan mobil di depan gerbang. Sementara itu si kecil kembali minta pangku Uminya karena Ayahnya sudah tidak menyetir.
Khumaira mengusap rambut tebal Mumtaaz yang belum potong rambut. Alhasil rambut anaknya tampak tebal. Dia tersenyum saat Suaminya berbisik pelan. Pipinya jadi merona mendengar sang Suami begitu nakal. Khumaira langsung menengok ke arah gerbang terlihat putra sulungnya berteriak kegirangan.
Ridwan yang tahu itu kedua orang tuanya serta Adiknya, sontak berteriak kegirangan. Sebelum ia melangkah menuju mobil mewah Ayahnya ada penggemar berat. Ada banyak gadis kecil memberikan cokelat padanya. Ridwan sebal sendiri setiap hari diberi cokelat oleh para fans-nya.
"Orang ganteng, banyak fans. Lihat, Ayah Kakak akan mengalahkan posisi pria tertampan, hihihi," gumam Ridwan.
Aziz terkekeh geli melihat gaya Ridwan yang sok tampan. Lihat jari kecil Putranya menyisir rambut dengan gaya tampan. Dan benar saja para anak gadis bersorak. Dia bangga sekaligus geli virusnya begitu bahaya bagi si kecil. Risiko punya Ayah ganteng jadi anaknya harus sama. Aziz jadi bangga sekaligus bahagia Ridwan kelak akan sama geser sepertinya.
Khumaira pusing melihat Ridwan sudah terkontaminasi akut oleh Aziz. Didikan Suaminya begitu bahaya sampai anak manisnya jadi gila seperti itu. Dia tidak habis pikir kenapa bisa anak semanis Ridwan bisa geser kayak Suaminya? Khumaira jadi antisipasi jika nanti punya anak gilanya sama seperti Aziz.
"Didikan kamu itu, Mas," cibir Khumaira.
Aziz tersenyum bangga mendengar perkataan Khumaira. Dia langsung mengecup pipi bulat Istrinya dan beralih berbisik seductive. "Mas sangat tampan, benar? Makanya anaknya harus punya sikap seperti Ayahnya. Mas ganteng tidak terbantahkan yang memiliki jutaan penggemar. Ok, Mas mau turun menyambut Pangeran kecil dulu. Eh, banyak wanita bagaimana jika mereka berteriak histeris melihat ketampanan, Mas?"
"Dasar raja gila," batin Khumaira.
Aziz nyelonong pergi tanpa peduli Khumaira dan Mumtaaz mengoceh. Benar saja para wanita muda, guru wanita dan gadis melihatnya penuh damba. Risiko cowok ganteng tidak terbantahkan selalu jadi atensi. Mau berpenampilan lusuh pun jika ganteng masih jadi atensi. Risiko pria ganteng macam Aziz harus siap di mana pun diteriaki memuja.
Khumaira memijat pelipisnya sedikit kasar melihat kelakuan Suaminya. Dia pikir Aziz sudah insaf dari kenarsisan akut. Ternyata itu bertahan hanya berapa hari. Sungguh Suaminya itu Raja narsis dari planet Mars. Khumaira heran sendiri kenapa bisa ada orang macam Aziz di dunia ini?
Mumitaaz belum maksud apa pun, sehingga si kecil memilih memainkan dashboard. Dia kaget ketika tanpa sengaja menekan tombol audio. Karena penasaran ia mendongak menatap Uminya seolah memberi tahu. Tangan kecil khas bayi itu menunjuk dashboard mobil lucu.
Khumaira tersenyum geli melihat Putranya mengerjap imut. Si kecil mendongak menatapnya seolah memberi tahu Mumtaaz penasaran. Dia yang gemas mencium pipi gembul anaknya yang manis.
Mumtaaz menekan tombol lainya dan lagu lain terputar. Dia bertepuk tangan heboh seraya berceloteh lucu. Ia kembali mendongak menatap Uminya dengan senyum polosnya. Anak manis ini begitu menggemaskan dan si kecil adalah duplikat Aziz sempurna. Hanya saja mata dan pipi mirip Khumaira.
"Mi ... unyi gus," ucap Mumtaaz dengan mengambil kata terakhir.
"Dedek, senang gih main lagi."
"UM," gumam Mumtaaz begitu bersemangat.
Aziz menggendong Ridwan menuju mobil. Sebelum itu ia berbalik menghadap mereka lalu mengedipkan mata jahil pada gadis kecil dan lihatlah malah para wanita yang berteriak histeris. Ok, ketampanannya tidak akan pernah luntur. Bahkan sekarang Aziz semakin matang dan pastinya tambah tampan maskulin.
Khumaira memutar bola mata malas melihat Aziz di teriaki para wanita. Harus ekstra menjaga Suaminya dari pengaruh wanita lebay. Dia akui Suaminya itu memang sangat tampan dengan tampang gahar, cool, macho dan pastinya karismatik. Untuk itu Khumaira harus ekstra agar Aziz tidak nakal menggunakan ketampanan untuk menggoda.
***
Di dalam rumah setelah Ridwan ganti dan ikut berkumpul. Aziz selaku kepala keluarga meminta mereka duduk di ruang tamu. Dia ingin meluruskan masalah agar cepat kelar. Ia ingin mendengar segala yang di keluh kesahkan mereka. Aziz ingin mendengar kesiapan Ridwan jika dirinya tidak bisa seperti biasanya.
Khumaira menepuk punggung tangan Aziz memberikan semangat. Dia akan memberikan segalanya asal Suaminya semangat kembali. Walau berat setidaknya ia yakin anaknya mampu. Khumaira tahu Ridwan memiliki pemikiran luas dengan tingkat kecerdasan di atas rata-rata.
"Kakak, maafkan Ayah tidak bisa membelikan mainan baru lagi. Ayah dan Umi sudah tidak punya apa-apa, apa Kakak bisa bermain dengan mainan seadanya? Apa Kakak tahan kita hidup sederhana? Lalu bagaimana jika kita tinggal di rumah kecil?"
Aziz memang dasarnya suka bicara langsung tanpa basa-basi makanya kata itu langsung meluncur bebas. Dia ingin Putranya memahami kondisi keuangannya. Walau harus meninggalkan rumah dari hssil jerih payah sendiri. Setidaknya ia akan belikan rumah untuk ditempati walau sederhana.
Ridwan yang sangat cerdas tentu paham perkataan Ayahnya. Dia tersenyum lebar seolah ingin memberikan kekuatan. Tangan kecilnya terulur untuk menyentuh pipi Ayahnya. Ia tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang gigis.
"Kakak tidak punya mainan juga tidak apa-apa, Ayah. Ayah dan Umi belikan saja untuk, Dedek Mumtaaz. Dedek kecil belum punya banyak mainan, sementara Kakak sudah banyak. Dedek ikhlas hidup di rumah kecil asal ada Ayah, Umi dan Dedek Mumtaaz. Kelak Kakak akan jadi orang sukses supaya bisa membangun rumah untuk Ayah dan Umi."
Mata Aziz berkaca mendengar penuturan polos Ridwan. Dengan cepat dia rengkuh tubuh mungil Putranya. Dia sangat senang memiliki Putra sebijak Ridwan. Ia tidak percaya sikap bijak dan dermawan almarhum menurun sempurna ke Ridwan. Aziz bangga sekaligus terharu akan sikap dewasa Ridwan yang belum semestinya terlihat.
Khumaira ikut merengkuh Ridwan dan Aziz. Dia sangat bahagia, pasalnya anaknya begitu bijak di umur sekecil ini. Ya Allah, dia sangat bahagia memiliki Putra Sholeh. Ia tidak akan pernah meluapkan betapa sempurna gen almarhum sehingga tercipta anak secerdas Ridwan. Khumaira sangat bahagia memiliki Ridwan walau sempat sedih pernah menelantarkan sang putra dulu.
Mumtaaz tidak maksud apa yang mereka bicarakan. Si kecil memilih berdiri dan menyempil dalam pangkuan Kakaknya. Ia ikut di peluk manja karena si kecil mau pelukan. Tubuh gempalnya pada akhirnya bisa nyelip di antara Ridwan.
Aziz merengkuh 3 malaikat penyemangatnya penuh suka cita. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia akan menjaga mereka sepenuh hati tanpa membiarkan terluka. Aziz akan berjuang dari nol bersama keluarga kecilnya.
Khumaira mencium puncak kepala Ridwan dan Mumtaaz penuh sayang. Anak-anak manisnya begitu menggemaskan yang pasti akan menjadi obat dikala lelah. Senyum mereka akan meringankan rasa lelah Khumaira.
"Mas, berjuanglah dan mari kita bekerja bersama. Adek akan mendaftar jadi guru dan menjahit. Adek akan membantu Mas membantu mencari nafkah. Kita akan hadapi semua beraama. Dalam suka maupun duka kita akan selalu bersama tidak terpisahkan. Adek akan selalu memberi dukungan untuk, Suamiku."
"Adek, cukup di rumah mengurus rumah dan anak-anak serta Mas. Kalau memang mau bekerja membantu jadi penjahit saja. Terima kasih sudah mendukung sampai Mas tidak mampu mengatakan apapun. Mas, sangat bahagia Adek menjadi penyemangat utama, Mas. Semua terasa indah jika mendengar kata penenang, Adek. Ah, Mas jadi jelek kalau berbicara aneh. Oho, wajah Mas tidak akan jelek karena Mas sangat tampan."
Aziz mendapat cubitan Khumaira dan Ridwan ikut menyerukan ketampanan. Kumat kembali keluarga narsis yang berebut siapa yang ganteng. Ya Allah semoga mereka akan selalu tersenyum begini sampai Allah memisahkan mereka dengan maut. Keluarga kecil yang manis dengan penuh tawa kebahagiaan.
Khumaira semakin pening menghadapi dua narsis jika kumat. Ya Allah, begini rasanya berada di dekat orang super gila. Ia sangat bahagia setidaknya mampu melihat tawa Suaminya kembali. Khumaira senang Aziz tidak waras dari pada diam atau tertunduk sedih.
"Mas, kumat ya. Ish, di saat seperti ini Mas masih saja narsis."
"Ampun, Istriku. Ingat Dek, jangan lupa Mas sangat tampan walau dalam keadaan genting. Sudah merengutnya, anak-anak cepat tidur!"
Pada akhirnya Ridwan dan Mumtaaz berjalan bergandengan tangan menuju kamar. Di pastikan mereka akan mengoceh dulu baru terlelap. Keduanya menuruti perintah Ayahnya yang menyuruh tidur. Keduanya juga mengantuk butuh istirahat walau sesaat.
Aziz duduk di sofa seraya menyandarkan tubuh di sofa. Dia meminta Khumaira untuk duduk di pangkuannya. Setelah mendapati Istrinya duduk nyaman dalam pangkuannya ia lingkarkan tangan di pinggang. Aziz sangat rindu saat Khumaira berada dalam pangkuannya.
Khumaira menuruti perintah Aziz, dengan nyaman duduk di pangkuan Suaminya. Kepalanya bersandar di bahu lebar Suaminya, sedangkan tangan bermain di kancing kemeja sang Suami. Dia merindukan saat-saat indah bersama walau terasa sulit. Khumaira rindu kebersamaan mesra bersama Aziz disaat sepi.
"Dek, Mas ingin jadi Dosen kembali. Bagaimana?"
"Boleh itu, Mas. Lagian Mas juga sangat supel saat mengajar dulu."
"Betul, lalu bagaimana jika Mas mendirikan bisnis kecil-kecilan. Ya Mas rencananya mau membangun konter lengkap mesin pencetakan. Mas juga mau menerima jasa kaligrafi ukir dan kaligrafi di kertas. Bagaimana, apa menurut Adek itu tidak ribet?"
Aziz tersenyum tipis melihat ekspresi Khumaira yang tegang. Dia sangat tahu isi pikiran Istrinya ketika pendapat dirinya layangkan. Ia tidak mau Istrinya atau anaknya kesusahan maka dari itu biarkan dirinya berusaha keras. Aziz akan bekerja keras agar ekonomi mereka kembali walau hanya sebagian.
"Mas, itu terlalu mahal. Kita belum juga memikirkan mau tinggal di mana. Mas kita usaha kecil-kecilan dulu jangan buat seribet itu."
Khumaira sangat senang mendengar pendapat Aziz. Namun, ekonomi mereka masihlah di bawah target. Bagaimana bisa membangun ruko untuk konter dan jasa kaligrafi? Jujur saja ada rumah peninggalan almarhum yang sekarang ditempati Najah dan Suami (Adik ipar). Namun, Khumaira tidak akan meminta rumah yang kelak akan menjadi milik Ridwan seutuhnya.
"Kita akan tetap tinggal di sini, Dek. Tidak akan kemana-mana, bahkan Mas mampu melunasi uang kantor. Mas hanya pura-pura karena ingin melihat reaksi Adek. Ternyata Mas mendapat sesuatu yang sangat membahagiakan. Kita tidak akan meninggalkan rumah karena tabungan Mas, Insya Allah cukup. Soal usaha Mas punya uang tunai 100 juta untuk modal walau mungkin buat ruko dan semua itu membutuhkan waktu lama. Tidak masalah, itu tandanya kita bisa menabung kembali. Jangan sedih kita akan hidup seprti biasanya."
Aziz memang sangatlah kaya raya dan sangat pintar menabung. Uang dia kumpulkan sedari dini tidak mesalah lenyap asal rumah dan seiainya tidak tersenggol. Tadi, Aziz hanya ingin melihat Khumaira bersungguh-sunghuh denganya atau tidak. Nakal memang sudah mengetes kesetiaan Istrinya dalam duka, tetapi ia sangat puas mendengar jawaban Istrinya. Setidaknya Aziz memang tidak salah pilih melabuhkan cintanya pada Khumaira sang Istri baik dunia maupun akhirat.
Khumaira tidak mampu berkata banyak. Dia memilih memukuli Aziz karena merasa di permainkan. Tetapi, tunggu uang sebanyak itu, Suaminya dapat dari mana? Suaminya Memnag kaya nyatanya bisa memiliki rumah sendiri. Bahkan dengan gila mengoleksi jam tangan mewah. Kendaraan mobil saja ada tiga dan motor ada dua. Asli Azis itu kaya sekali sampai khumaira heran.
"Mas, tunggu dulu uang sebanyak itu Mas peroleh dari mana?"
"Ngepet, Dek. Mas mencari pesugihan cinta, Dek Syafa."
"Mas, berhenti bermain-main. Astaghfirullahaladzim, awas saja kalau berbuat musyrik."
"Astaghfirullahaladzim, Mas cuma bercanda, Dek. Mas dapat dari hasil jerih payah sendiri. Mas bekerja keras dari masa kuliah dan sampai sekarang, uang Mas di tabungan ada 5,6 m. Mas juga tidak tahu kenapa bisa menabung sebanyak itu. Padahal rencana Mas mau mendonasikan sedikit pada panti asuhan dan masjid serta yayasan amal lainnya. Tidak apa, Mas bisa mengumpulkan uang dari nol karena uang tidak ada artinya selain kebahagiaan. Walau sedih uang itu terpakai menutupi kesalahan yang tidak pasti. Mas minta maaf ya, tabungan Mas habis tanpa sisa. Yah walau ada sisa sedikit untuk kebutuhan selama kita krisis."
Aziz mengatakan semua agar menjadi gamblang. Selama ini dia belum memberi tahu soal tabungannya. Rencana awal dia ingin ke dua orang tua Khumaira pergi haji memakai uangnya. Lalu mengamalkan uang pada fakir miskin, anak yatim, mesjid terakhir rakyat di Palestina. Uang yang selama ini dia kumpulkan dari usaha keras sirna gara-gara fitnah. Tidak apa, Aziz bisa mengumpulkqn pundi-pundi uang kembali.
Khumaira membekap mulutnya tidak percaya. Ternyata Suaminya sangatlah hebat. Dia tahu Aziz multitalenta, tetapi ini begitu mencengangkan. Ya Allah, beruntung sekali ia memilaiki Suaminya dalam hidup. Khumaira tidak pernah tahu Aziz ternyata sekaya itu. Jujur saja ia tidak pernah menganggu atau ikut campur tentang uang Suaminya. Asal Suaminya memberikan uang bulanan untuk keperluan rumah dan anak-anak itu cukup. Bahkan uang yang ia dapat tidak sedikit.
"Mas Aziz." lirih Khumaira langsung merengkuh Aziz erat.
Aziz membalas pelukan Khumaira tidak kalah erat. Cukup pelukan hangat agar beban terangkat. Dia sangatlah bahagia Istrinya sangat pengertian. Ia kira Istrinya marah dirinya tidak memberi tahu prihal tabungan itu. Aziz lega Khumaira begitu baik hati mau menerima apa pun. Yang sebanyak itu akan raib walau nantinya akan terganti oleh segala kebahagiaan.
Khumaira tidak mampu membalas perkataan Aziz. Dia begitu senang Suaminya baik-baik saja walau uang selama ini di kumpulkan raib dalam sekejap. Semoga Allah senantiasa menjaga kebahagiaan mereka, Amin. Dia akan selalu berdoa atas Suaminya agar semangat. Walau sedikit kecewa Suaminya tidak jujur akan tabungan. Namun, biarlah karena Khumaira tahu Aziz punya maksud baru mengatakan sekarang. Kini harapannya semoga tidak akan ada hal tersembunyi lagi.