
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......**''**.......
Sampai di mana hal paling manis atau bisa dibilang kenangan terindah lantaran sebentar lagi menjalani ibadah puasa pertama kali dengan hadirnya Zaviyar. Namun juga sedih lantaran Kakak gede tidak bisa berpuasa pertama bareng Ayah-Umi dan tiga Adiknya. Dan ini kali pertama Kakak gede tidak kuasa bersama mereka.
Tidak terasa Dedek Zaviyar kini berusia 10 bulan. Anak manis ini sudah bisa jalan selangkah dua langkah. Dia begitu aktif nan hiperaktif tidak mau diam. Ia sangat suka merangkak tidak mau diam barang sedetik saja. Saat sudah bisa jalan walau beberapa langkah si kecil tambah ingin melangkah.
Tubuh gemuknya begitu menggemaskan tidak ayal membuat siapa saja terpesona. Zaviyar kecil tidak mau di tinggal Ayah ketika kerja. Alhasil sang Ayah harus ekstra membuat ia teralihkan atensinya. Jika sudah teralihkan misal main boneka gajah maka sang Ayah kabur kerja. Setelah sadar Ayah pergi kerja maka Zaviyar akan menangis merengek minta Ayah.
Kadang Khumaira heran kenapa bisa Zaviyar begitu cinta Aziz. Tidak bisa lepas walau sesaat saja dan dampaknya pekerjaan sang Suami hanya sampai sore. Sisanya di bawa ke rumah guna membuat si kecil tidak rewel. Ia gendong anak gembulnya yang mau main kucing. Khumaira ingat nanti malam sudah masuk bulan Ramadhan.
Alhasil besok sudah mulai puasa pertama bersama Zaviyar. Dia harus memikirkan sahur masak apa untuk Suami dan anak-anak. Ia langsung membawa anak tampannya tampak aktif berceloteh minta Ayah. Khumaira pada akhirnya membawa sang anak ke kamar di mana Faakhira sedang tidur siang bersama Mumtaaz usai shalat Dzuhur.
Di saat dua Kakak tidur di kecil malah asyik berceloteh minta susu, minta ini dan itu. Alhasil Khumaira harus ekstra sabar masak di ganggu di gembul. Anehnya anaknya suka banget duduk manja di depan kulkas terbuka seraya makan kue atau makan apa saja. Zaviyar begitu manis ketika makan semua berantakan.
Khumaira menaruh anaknya di tengah Mumtaaz dan Faakhira. Lalu ia kecup kening anak-anak sebelum mengusap rambut anaknya. Dia cium penuh cinta anak-anak sebelum mengusap pipi tembem Zaviyar. Lihat anaknya malah nyunsep di tengah menganggu Mumtaaz dan Faakhira. Khumaira tidak habis pikir kenapa bisa Zaviyar begitu usil.
"Adechssvbsz nmvhdsrc xdatsmttbvkug adedkkyrcnh," celoteh Zaviyar dengan sadis menabok pipi Mumtaaz lalu menabok bahu Faakhira.
Menerima tabokan dari tangan kecil sontak Mumtaaz terbangun begitu juga dengan Faakhira. Dua Kakak Zaviyar tampak gemas pada pelaku. Lihat di pelaku malah bertepuk tangan heboh dengan celoteh aneh. Mumtaaz yang gemas mendekap Zaviyar biar bobok. Sedangkan Faakhira ikut mendekap Zaviyar dengan gemas.
Khumaira sangat gemas akan interaksi tiga anaknya. Andai saja si sulung pulang pasti menambah kesan rame. Tetapi, anak sulung baru pulang telat puasa ke dua puluh satu. Namun, apa daya ia akan tunggu anak bujang tampannya. Khumaira akhilnya memilih pergi setelah meminta Mumtaaz dan Faakhira menjaga Zaviyar.
Lain sisi Aziz telah siap pulang ke rumah karena hari ini pekerjaan sedikit. Ngomong-ngomong nanti malam sudah mulai shalat tarawih. Ya Allah, tidak sabar nanti malam ke masjid bersama Istri dan anak-anaknya. Kalau begini Aziz rindu Ridwan yang da di Kediri.
Kurang setengah jam akhirnya Aziz sampai rumah. Dia menepikan mobil ke bagasi lalu beranjak keluar. Ia tersenyum saja melihat Khumaira telah menyambut kedatangan sembari tersenyum manis. Wanitanya tetap sama menjaga segala cinta serta penampilan untuknya. Aziz senang Khumaira begitu cantik walau pakai daster dan jilbab Rabbani.
Khumaira berjalan cepat menuju Aziz lalu mengulurkan tangan minta salaman. Dengan cinta ia kecup punggung tangan Suaminya lalu meraih tas sang Suami. Dia terdiam ketika Suaminya menarik pinggangnya pasti tahu apa yang terjadi. Khumaira memejamkan mata menikmati kecupan manis dari Aziz.
Aziz mencium kening Khumaira lalu menautkan tangan. Dia rindu pada anak-anak selalu memenuhi pikiran. Saat masuk ia ucap salam terlebih dahulu sebelum Istrinya menjawab. Aziz yakin pasti tiga anaknya sedang di kamar menikmati kebersamaan.
Benar saja Zaviyar sudah menunjuk luar minta bertemu Ayah. Dan akhirnya tubuh gempal itu di bawa Mumtaaz menuju ruang tamu. Untuk Faakhira ngekor menuju Ayahnya. Setelah sampai lihat Zaviyar meminta gendong Ayah. Sementara Mumtaaz dan Faakhira juga mengendong. tetapi, sadar diri tubuh mereka sudah besar.
Aziz gendong Zaviyar lalu menciumi pipi bulat sang anak. Dia ulurkan tangan untuk salaman pada anak-anak. Setelah itu menciumi wajah rupawan Mumtaaz dan Faakhira. Dia berlutut agar anak-anak bisa mendekapnya erat. Aziz dekap anaknya sepenuh hati karena melepas rindu.
"Ayah, kenapa pulang cepat?" Tanya Faakhira seraya mencium rahang tegas Ayahnya.
"Kan nanti malam sudah tarawih jadi para pekerja boleh pulang cepat. Dedek besar tadi main sama Dedek kecil berapa lama?" Tutur Aziz sembari mengusap pipi gembul Faakhira. Dia juga memberikan ciuman lembut di pipi dan kening sang putri.
"Lama sekali, Dedek Zavi selalu mengemut jempol Dedek. Empeng di buang gantinya tangan Dedek yang di hisap," lapor Faakhira begitu menggemaskan.
"Benar yang dikatakan Kakak, wahai Dedek gembul?" Tanya Aziz seolah menyidang.
Zaviyar malah tertawa keras sembari bertepuk tangan. Dia tidak maksud tetapi tertawa saja ketika Kakak perempuannya mengadu lucu. Ia yang gemas meraih tangan Mbaknya lalu menghisap jempol. Zaviyar memang suka emeng, tetapi kalau ada jari kecil misal punya kakaknya akan di hisap.
Faakhira merengut antara gemas dan sebal tangan kecilnya di genggam si gembul. Dia hanya pasrah ketika Adiknya mengemut jempolnya. Ia tidak keberatan hanya gemas pingen gigit pipi tembem Adiknya ini. Faakhira heran Adiknya Zaviyar belum tumbuh gigi seperti Adik temannya.
Mumtaaz merenggut kesal Aziz malah asyik bermain dengan Faakhira dan Zaviyar. Dia menarik tangan Ayahnya supaya menanyainya. Ia sampai merengut kesal gara-gara sang Ayah malah menggoda. Hingga akhirnya Mumtaaz menerima ciuman sayang di pipi yang masih tembem sedikit.
Khumaira tersenyum teduh melihat Aziz begitu telaten meladeni tiga anak manis terus merengek. Ia ikut mendekat guna mendekap Suami serta anak-anak. Teduh sekali merasakan kehangatan manis yang tercipta. Tidak ayal membuat Khumaira menitikkan air mata haru. Sungguh sangat rindu ketika saling mendekap walau ada yang kurang yaitu Ridwan.
....***....
Saat menuju masjid Zaviyar telah anteng dalam gendongan Khumaira. Untuk Faakhira telah nyaman dalam gendongan Ayah. Untuk si pangeran ganteng berjalan di tengah seraya berkata panjang lebar. Keluarga kecil ini begitu manis datang ke masjid bersama penuh warna.
Lihat para warga jama'ah tampak berdecak kagum melihat Aziz sekeluarga. Ngomong-ngomong ada yang kurang yaitu Ridwan. Tetapi, terganti anak gembul super menggemaskan. Dan nanti akan bertemu anak tampan puasa ke 22. Tidak sabar rasanya melihat keluarga rupawan kumpul.
Aziz dan Khumaira menyapa mereka dengan keramahan. Untuk Mumtaaz dan Faakhira juga menyapa kalem. Sementara Zaviyar tengah asyik menyedot empeng. Pada akhirnya Khumaira dan Aziz memutuskan masuk Masjid.
Ayah tampan ini menurunkan Faakhira sebelum izin menggendong Zaviyar. Ia tahu Istrinya mau wudhu baru dirinya. Alhasil ia jadi tatapan memuja para wanita berbagai kalangan. Risiko cowok ganteng overdose jadi di mana-mana jadi lirikan. Aziz sih biasa aja sementara Mumtaaz dan Faakhira berebut pangku.
Pada akhirnya Aziz dan Khumaira melaksanakan shalat isya baru masuk shalat taraweh. Saat usai shalat isya dan semua membaca wirid Zaviyar nyelip masuk ke dalam mukena Uminya minta asi. Pasalnya dari tadi tidak bisa diam berceloteh sembari main robot. Zaviyar menepuk nepuk dada Uminya minta susu.
Khumaira hanya tersenyum maklum ketika Zaviyar berbuat demikian. Dia buka kancing gamisnya lalu membiarkan si kecil nyusu tertiup mukena. Ia tepuk pelan bokong anaknya supaya tidur. Benar saja anak bungsunya telah tidur. Khumaira sangat tahu Zaviyar memang akan tidur jam setanah delapan lalu bangun dini hari dan tidur lagi sampa jam pagi.
"Umi, Dedek tidur di tengah saja," ucap Faakhira menepuk tengah pembatas sajadah.
"Iya biar Dedek tidur di tengah, Dedek Zavi lelah," sahut Khumaira dengan hati-hati menidurkan putranya. Ia pakai tas untuk mengambil bantal kecil lalu mengambil hijab untuk menyelimuti anaknya lalu mengambil empeng untuk di hisap anaknya.
"Umi," panggil gadis kecil belum genap empat tahun.
"Dalem Nduk, ada apa? Nduk duduk saja jaga Dedek. Umi sholat dulu ya," ujar Khumaira seraya mencium pipi gembul Faakhira.
Khumaira akhilnya Shalat sunah taraweh walau tertinggal dua salam. Dia melakukan shalat tarawih secara khidmat. Lalu saat masuk ke raka'at berikutnya suara Suaminya terdengar tegas. Suaminya jadi bilal alhasil anaknya terperanjat mendengar suara Ayahnya. Anak gembul itu celingak-celinguk mencari Ayah. Tentu saja Khumaira merasa gemas lantaran Zaviyar tidur akan langsung bangun ketika mendengar suara Aziz.
Zaviyar yang tadi mengantuk langsung bangun sambil menepuk tangan Mbaknya. Ia nunjuk di balik shaf pembatasan jama'ah laki-laki dan perempuan. Dia juga menatap Uminya sambil pegang empeng. Zaviyar celingak-celinguk mencari Ayah tetapi tidak ditemukan.
Faakhira berusaha mengusap pipi gembul Zaviyar supaya tenang. Tetapi, Adiknya tetap berceloteh dengan menuding jama'ah laki-laki. Dia hanya tersenyum melihat kelakuan Adiknya masih anteng tidak mau menganggu Umi shalat. Faakhira akui Zaviyar begitu mudah bangun jika mendengar suara Ayahnya. Apa lagi saat tidur siang suara mobil terdengar dan mendengar salam sang Ayah maka di gembul bangun.
Jama'ah taraweh menatap Zaviyar dan Faakhira gemas. Dua anak mania itu begitu menggemaskan apa lagi yang bayi belum punya gigi. Pokoknya anak manis itu begitu menggemaskan. Mereka sadar betapa rupawan Ayah sang bayi maka tidak heran anak-anak tumbuh rupawan.
Hingga suara Aziz terdengar lagi membuat Zaviyar berdiri mau menemui Ayah. Kalau tidak dituruti maka akan menangis maka dari itu Faakhira meraih tangan Adiknya untuk menyelinap di balik tabir pembatas. Sedangkan Khumaira pasrah bocah gembul itu merengek minta Ayah. Alhasil membiarkan dua anaknya ke barisan jama'ah laki-laki.
Aziz kaget saat doa sebentar dua anaknya datang. Lihat si gembul malah duduk anteng karena selama ini detail ia shalat anaknya anteng. Benar adanya sampai selesai Faakhira dan Zaviyar duduk di antara dirinya dan Mumtaaz. Namun, setiap mau ke raka'at berikutnya harus memberi ciuman pipi. Inilah Aziz sang Ayah sekaligus Suami idaman selalu mencintai Istri dan anak-anak begitu tulus. Selalu memperlakukan Keluarga sepenuh hati.
.....***.....
Tepat di jam setengah dua pagi Khumaira bangun. Dia berdoa setelah bangun tidur lalu memutuskan beranjak hati-hati supaya tidak membangunkan anak dan Suami. Ia ikat rambutnya asal lalu memutuskan membasuh wajah. Khumaira berpikir mungkin sahur pertama mau masak oseng tempe dan sayur bening. Lalu pakai lauk telur dan ikan mas. Untuk minuman ia buatkan Energen kacang hijau untuk Mumtaaz. Kalau Suaminya pasti kopi pahit.
Khumaira masak begitu cekatan agar setangah empat nanti bisa sahur. Setelah berkecamuk dalam dapur akhirnya selesai juga. Ia lepas celemek lalu menaruh di tempatnya. Dia cuci tangan sebelum itu berlalu menuju kamar tempat Suami dan anaknya berada. Khumaira melihat Aziz masih tidur lelap sembari mendekap Zaviyar.
Dengan hati-hati Ibu empat anak ini meraih anaknya. Khumaira gendong Zaviyar menuju boks bayi biar aman. Dia meletakan si kecil hati-hati agar tidak bangun. Saat anaknya mau bangun dia dengan lembut menepuk pelan paha anaknya. Khumaira tersenyum manis melihat Zaviyar tidak jadi bangun. Dengan begini ia bisa membangunkan Suaminya segera.
Khumaira tepuk halus bahu Suaminya, tetapi tidak mendapat respons. Dia bahkan mengusap pipi serta berusaha membangunkan halus tetap saja tidak bangun. Wajar saja Suaminya baru tidur jam satu dini hari. Tadi malam Suaminya tadarus Al-Qur'an bersama warga sekitar.
"Mas bangun," pinta Khumaira pelan takut Zaviyar dengar.
"...." Tidak ada sahutan.
Khumaira duduk di tepi ranjang lalu meraih kepala Aziz untuk di.tarih di dadanya. Ia usap lembut rahang Suaminya lalu mengecup mesra kening Suaminya. Belum juga bangun dia agak mengangkat Suaminya agar bersandar di bahunya. Khumaira tersenyum teduh lantaran Aziz begitu polos sewaktu tidur.
"Wahai Suamiku tersayang ayo bangun sahur. Masku tercinta bangun yuk sahur dulu nanti tidur lagi," ucap Khumaira sangat lembut.
"Umh," lirih Aziz langsung mendekap Khumaira.
"Mas bangun," pinta Khumaira lalu mengusap rambut sang Suami.
"...." Aziz itu agak susah dibangunkan seperti Mumtaaz jadi harus ekstra sabar membangunkan dirinya.
"Kalau dicium gitu baru bangun," Rajuk Khumaira bernada lirih.
"Kan enak dapat cium." Aziz langsung mencium bibir Khumaira sedikit tergesa.
"Sudah Mas ingat jam 04:13 sudah imsak. Gih bangun," pinta Khumaira.
"Baiklah, Mas yang bangunkan anak-anak atau Adek?" Tandas Aziz.
"Adek saja, sekarang Mas cuci muka lalu ke ruang makan. Tapi, bangunin Kakak cilik ya Mas. Anak ganteng kita pasti minta gendong."
"Hn."
"Ya sudah ayo."
"Tunggu."
"Ada apa Mas?"
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah?"
"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."
Aziz dan Khumaira saling mendekap mesra sebelum memutuskan berjalan ke kamar anak-anak. Lihat keduanya memilih mengecup pipi bulat si kecil sebelum memutuskan keluar. Mereka tampak mesra dengan menautkan tangan. Aziz dan Khumaira menikmati puasa pertama mereka setalah kedatangan si Dedek Zavi.
Puasa pertama tanpa Ridwan tentunya membuat Aziz dan Khumaira sangat rindu. Walau begitu merasa bersyukur atas kehendak Allah telah berkenan menghadirkan Zavi di tengah mereka. Keluarganya tampak utuh walau si sulung ada di pesantren. Aziz dan Khumaira berharap semoga Ridwan puasa penuh cinta lantaran ada Abi, Makan dan keluarga besar. Walau tidak ada mereka setidaknya ada keluarga besarnya terkhusus ada Abi Azzam.
...Dan waktu terasa sangat cepat dan tanpa terasa puasa Ramadhan telah berakhir. Mereka bertakbir menyerukan kebesaran Allah. Mereka begitu bahagia menemui hari penuh kemenangan. Hari yang dinanti, tetapi juga sedih karena bulan suci penuh pengampunan berakhir....
Tepat di hari raya idul Fitri keluarga Aziz melakukan tradisi saling minta maaf. Seperti halnya Khumaira melakukan sungkem pada Aziz dengan tulus. Meminta maaf atas kesalahan yang telah diperbuat. Lalu Aziz pun membalas hal sama dengan meminta maaf selama ini banyak salah. Lalu mereka para anak sungkem kepada orang tua.
Mereka akan bersilaturahmi pada tetangga baru ke Pagerharjo setelah itu ke Kediri. Namun, sebelum itu keluarga harmonis ini memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Sang Umi tampak sibuk menata piring berisi potongan kupat. Sementara Ayah sibuk menenangkan Zaviyar heboh sendiri minta sayur bening.
Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira malah asyik mengobrol. Dua Adik manis mendusal pada Kakak seolah begitu rindu. Intinya Mumtaaz dan Faakhira sangat senang mendusal pada Ridwan. Melihat dua Kakaknya begitu manja akhirnya Zaviyar beranjak dari pangkuan Ayah. Dengan langkah kecil akhirnya Zaviyar sampai juga ke depan ketiga Kakaknya.
Ridwan paham sontak meraih Zaviyar supaya duduk di pangkuannya. Dia ciumi ubun-ubun Adiknya lalu memberikan ciuman sayang di pipi. Jujur saja ia begitu senang Adik bungsunya begitu manja padanya. Padahal awal bertemu Adiknya tidak mau di gendong. Alhasil karena sering bertemu Zaviyar jadi lengket pada Ridwan.
Mumtaaz dan Faakhira ikut mencium pipi gembul Zaviyar yang anteng. Mereka senang Adik bungsu begitu menggemaskan. Keduanya sangat senang bisa kumpul lengkap penuh canda tawa. Mumtaaz dan Faakhira harap semoga selalu begini hingga akhir hayat.
Aziz dan Khumaira senang sekali empat anak manis begitu mengenaskan. Mereka tidak percaya anak-anak telah tumbuh besar begitu cepat. Rasanya baru kemarin Khumaira mengandung Ridwan lalu memberikan segala rasa. Lalu baru kemarin Aziz tahu Istrinya mengandung Mumtaaz. Lalu baru kemarin ia memperjuangkan Faakhira dalam rahim serta kelahirannya. Dan batu kemarin Aziz dan Khumaira menerima hadiah terindah yaitu Zaviyar. Lihat anak-anak sudah tumbuh besar begitu cepat.
"Anak-anak ayo makan!" Seru Aziz.
"Sudgrbnagev vshevvrkrjeb bsvrhhrbdnj," riang Zaviyar melihat sayur bening telah berada di tangan Uminya.
"Hore, ayo makan!" Riang Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira berbinar-binar.
"Sebelum makan ayo kita berdoa dulu," tutur Khumaira yang sudah memangku Zaviyar.
"Siap Umi," kor anak-anak.
"Bismillahirrahmanirrahim Alaahumma barik lanaa fiimaa razaqtanaa waqinaa ‘adzaa bannar,” doa mereka sebelum makan.
Aziz sekeluarga makan dengan lahap tidak ayal membuat senang. Masakan Umi memang yang terbaik membuat mereka senang. Namun, Aziz selalu mengajarkan kepada keluarga kecilnya makan tidak boleh berlebihan. Alhasil mereka makan di rasa cukup kenyang. Aziz termasuk orang yang menjaga pola makan yang di anjurkan Rasulullah.
Alhasil tubuhnya selalu bugar dan senantiasa ingat kepada Allah. Sebagai hamba tidak sepatutnya berlebihan oleh sebab itu menjaga sekali polo makanan seperti yang dianjurkan Rasulullah. Jika tubuh sehat dan tidak menerima hal berlebihan maka ibadah kepada Allah selalu nikmat. Maka dari itu Aziz sudah mengajari Istri dan anak-anaknya supaya tetap menjaga pola makan dengan baik tidak boleh berlebihan.
Kunci utama Aziz hanya satu beribadah kepada Allah dengan khusyuk penuh kenikmatan. Selalu mengajarkan anak-anak hal kebaikan walau narsis utama. Walau demikian tiga anaknya begitu mentaati perintahnya untuk berbuat kebaikan. Aziz juga sering di tegur atau di marahi Khumaira jika salah. Namun, saat wanitanya sudah mulai ceramah untuk mengingatkan tentu dia diam.
Sungguh Khumaira merasa begitu beruntung mendapatkan Aziz. Bagaimana tidak beruntung ketika Suaminya selalu mengajarkan hal kebaikan. Semua yang di bawa Suaminya untuk mengajari mereka pasti dari sumber langsung yaitu Al-Qur'an dan Hadits. Tidak ayal hidup terasa damai penuh kenyamanan.
Khumaira memang dari awal selalu menjagabpola makan. Tambah senang ketika Suaminya dulu masak sayur enak sekali sampai makan semua. Alhasil perutnya lumayan sakit sehingga sang Suami memberi petuah. Dan sampai sekarang Khumaira senantiasa mengingat petuah bijak Aziz.
'Makanlah makanan secukupnya lantaran makan berlebih tidak baik dan bisa mengurangi iman kita untuk beribadah. Walau makanan yang kita makan enak sudah sepatutnya tetap menjaga agar tidak berlebihan. Boleh makan sepuasnya asal jangn sampai kekenyangan. Nanti, saat kita indah terganggu jadi lupa pada tugas seorang hamba.'
Nah, sampai sekarang Khumaira selalu makan dengan baik. Dengan cara sehat makanya tubuh tetap bagus terjaga. Demi Allah, rasanya senang sekali memiliki Suami taat agama. Selalu mengutamakan pedoman Al-Qur'an dan Hadits. Jika di larang tinggalkan maka sat di perintahkan laksanakan. Dulu Khumaira sempat terkejut mengetahui Aziz yang sesungguhnya.
Di balik sikap humoris, sarkasme, dingin, Narsis dan kurang serius ternyata Suaminya memiliki pemahaman Islam luar biasa. Apa lgi Aziz selalu berpedoman kepada Al-Qur'an dan Hadits jadi menambah kesan begitu luar biasa di mata Khumaira. Wajar Suaminya begitu karena keturunan asli seorang Kiai besar atau bisa di sebut ulama'.
Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira usai makan berebut membantu Umi mencuci piring. Mereka sungguh manis di didik begitu mandiri dan selalu bersyukur. Tiga anak manis walau bergelimang harta selalu hidup sederhana. Uang jajan juga mereka sisihkan sebagian untuk bersedekah kepada teman-teman yaitim piatu. Pokok didikan Aziz dan Khumaira sukses menghantarkan ketiga anak sudah tumbuh remaja jadi pribadi kuat.
Usai makan mereka bergegas siap-siap silaturahmi. Àlhasil mereka bergegas merias diri lalu memakai wewangian. Lihat mereka tampak kompak memaki seragam. Aziz pakai batik motif abstrak dengan bawahan celana bahan warna hitam.
Sedangkan atasan hitam corak biru terang. Begitupun dengan Ridwan, Mumtaaz dan Zaviyar. Untuk Khumaira pakai gamis batik warna senada. Begitupun dengan Faakhira dan untuk hijab pakai pashmina sifon. Lalu hijab Faakhira pakai hijab terusan di motif indah.
"Yee, aku ganteng overdose!" Seru Ridwan dan Mumtaaz.
"Dedek FaaFaa juga cantik overdose!" Riang Faakhira.
"Kalian luar biasa pastinya kan Ayah ganteng tidak terbantahkan. Ayo anak-anak rupawan plus Istriku tercinta kita silaturahmi!" Tegas Aziz.
"Ok, siap Ayah!" Kor tiga Kakak Zaviyar.
"Alhamdulillah ya Allah, keluargaku tetap narsis. Jika tidak bencana," sindir Khumaira.
"Ahahahaha, itu nyata Umi!" Kor Aziz dan anak-anak.
"Hm."
"Kami sangat menyayangi, Umi."
Khumaira yang sebal menggendong Zaviyar dari pada mendengar kenarsisan Suami dan anak-anak. Ia tersenyum manis kala Suami dan anak-anaknya mendekap tubuhnya. Dia tersenyum kala Suami dan anak-anak meminta maaf lalu mencium pipi. Khumaira akhirnya jalan berdampingan dengan Aziz. Tidak lupa pintu di kunci terlebih dahulu lalu keluarganya memutuskan jalan.
Aziz dan anak-anak saling mengobrol membahas liburan. Sebagai kepala keluarga ia akan datang ke Pagerharjo nanti sore. Lalu menginap kemudian liburan ke Kediri. Lihat anak-anak yang manis telah berganti merengek minta liburan ke kebun binatang. Alhasil Aziz harus menuruti sekalian jalan-jalan menghabiskan waktu. Pada akhirnya keluarga kecil ini bersilaturahmi ke tetangga.
...Cut .....,!!!!...
...Asli aku tidak tahu bagaimana hasilnya yang jelas maaf jika amburadul....
...Aku benar-benar dalam keadaan lembur....
...Sekali lagi maafkan Rose jika banyak sekali kesalahan dalam penulisan....
...Love you all....
...30_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....