Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Hadiah Terindah!



Aziz tersenyum ketika Khumaira mengusap rambutnya. Momen romantis yang sangat berarti. Ia melirik jam menunjukkan pukul 9 malam dan Ridwan sudah tertidur pulas. Aziz punya penuh bersama Khumaira tanpa si gembul Ridwan.


"Mas," panggil Khumaira.


"Hm."


"Apa hadiah untukku?"


Khumaira bingung pasalnya Aziz tidak memberikan hadiah apa pun. Padahal mereka mendapat oleh-oleh banyak sekali. Dia jadi mau di kasih hadiah menarik dari Suaminya. Zahira saja di belikan Hanfu masak ia tidak diberikan apa pu. Khumaira mau hadiah titik tidak ada koma dari. Aziz.


"Maaf, Mas lupa membeli hadiah untuk, Adek," kekeh Aziz.


Khumaira murung mendengar jawaban Aziz. Dia pikir akan di belikan oleh-oleh seperti pakaian tradisional. Atau di belikan apa pun untuk mengurangi rasa sakit akibat Aziz memberikan Hanfu untuk Zahira. Ia menunduk menyembunyikan wajah sedihnya. Khumaira sebal serta kecewa pada Aziz yang tega padanya.


Aziz langsung duduk ketika melihat Khumaira murung. Demi apa dia paling anti Istrinya sedih dan parahnya menangis. Dengan hangat ia tangkup pipi gembil Istrinya lalu mengecup kening mesra. Aziz hanya bercanda bahkan memiliki hadiah mewah untuk Khumaira pastinya fantastis.


"Adek minta apa?"


"Tidak ada, aku mau tidur saja."


Khumaira melepas tangkupan Aziz dan memilih merebahkan diri. Dia memunggungi Suaminya dengan perasaan campur aduk. Air mata luruh deras mengingat Suaminya tidak peduli akan dirinya. Suaminya lebih memilih memberikan hadiah pada wanita lain dari pada dirinya. Khumaira hanya bisa menangis penuh kesedihan akibat Aziz tidak memberikan apa pun. Sungguh ia hanya ingin sesuatu sederhana agar mengobati sakit hati sesuatu luar biasa?


Aziz langsung turun ranjang dan mengambil koper. Dia buka koper itu lalu mengeluarkan semua berkas penting. Semua dokumen dengan harga fantastis. Aziz membawa koper lalu meletakan di ranjang. Ia lupa Khumaira sedang mengandung makanya sangat sensitif. Kenapa dia malah menggoda dan berakhir penyesalan.


"Dek, gih hadap sini."


Khumaira tetap bungkam tanpa kata. Dia tidak peduli mendengar perkataan Aziz. Hatinya sudah sakit menerima fakta itu. Mending ia tidur dari pada berurusan dengan makhluk gila. Khumaira mau tidur tidak mau bicara pada Aziz.


Aziz merengkuh Khumaira dari belakang. Dia usap perut rata Istrinya agar tenang. Dengan lembut Aziz membawa Khumaira untuk menghadap.


Khumaira menyengit melihat koper besar. Air mata masih saja banjir tanpa berhenti. Dia juga tidak mau menatap Aziz dan memilih menatap koper.


"Bukalah, semua ada di situ!" perintah Aziz.


"Aku sudah tidak, mood," sinis Khumaira seraya menghapus air mata kasar.


"Baiklah, kalau begitu buang saja atau sumbang ke panti asuhan."


Aziz tersenyum kalem ketika Khumaira menatap tajam. Ia ingin melihat Istrinya kembali marah atau bagaimana? Dasarnya ia kurang peka, bicara selalu sarkasme dan pastinya tidak suka basa-basi pastinya begini. Aziz tipekal pria acuh tidak suka ribet karena dirinya begitu maskulin penuh karisma memikat.


"Jangan, memang isinya apa?"


"Hanya pakaian khusus untuk Istriku dan pakaian untuk, Mas. Itu saja sih, kalau di beri ke panti mana bisa. Buka gih dan Mas ingin sekali melihat Adek memakai pakaian khas Tiongkok."


Khumaira mengerucut manja mendengar perkataan Aziz. Dia memilih membuka koper dengan semangat. Saat di buka isinya banyak sekali. Pakaian tradisional, jilbab, gaun, gamis, daster dan kotak beludru ukiran persegi.


"Mas ini banyak sekali, siapa yang mau pakai?" tanya Khumaira polos.


"Mas yang pakai, Dek," jawab Aziz dengan jenaka.


"Ish, badan gede mana muat," cibir Khumaira.


"Di muat-muatkan, Dek."


"Ish, Mas ini apa?"


Khumaira mengambil kotak beludru dengan hati-hati. Penasaran sekali isi dari kotak cantik ini. Dia bisa tebak pasti perhiasan cukup cantik. Ia jadi mau membukanya untuk melihat hasilnya. Khumaira masih menatap Aziz polos minta jawaban.


"Tahu goreng, Dek."


"Mas, serius," rajuk Khumaira.


"Hahaha, surprise untuk Adek. Gih buka dan berikan komentar. Tetapi, pakai dulu gaun itu!" perintah Aziz.


"Eh? Ini terlalu terbuka, Mas. Mana bisa Adek pakai di luar rumah," tolak Khumaira.


"Memang siapa yang menyuruh Adek pakai di luar rumah? Hanya di depan Mas. Hanya Mas yang boleh melihat Adek berpenampilan menggoda," posesif Aziz.


"Mas terlalu," cicit Khumaira dengan wajah merona. Dia beranjak untuk memakai gaun biru, namun Aziz mencekal lengannya. Kenapa Suaminya menahan lengannya untuk ganti pakaian?


"Ganti di sini, Dek!"


"Mas mesum."


"Hanya pada, Adek."


"Aish, baiklah."


Aziz meneguk saliva kasar melihat Khumaira nyaris telanjang. Rasanya ia gatal ingin menyentuh setiap jengkal wajah Khumaira. Napasnya memburu dengan pandangan memuja. Aziz ingin sekali menjamah setiap jengkal tubuh Khumaira tanpa kecuali.


"Lepas bra, Adek dan pakailah gaun itu!"


Aziz merasa panas melihat tubuh Istrinya. Dia sangat gila meminta sesuatu yang sangat menantang. Namun, apa daya Aziz ingin melihat tubuh polos Khumaira. Sudah satu bulan dia tidak melihat tubuh Istrinya. Sangat rindu sampai bermimpi basah bersama Syafa-nya.


Mata besar Khumaira semakin besar mendengar perintah Aziz. Apa Suaminya benar-benar ingin melihat dia polos tanpa busana? Wajahnya sangat malu ketika Aziz menatap tubuhnya penuh damba. Benar-benar mesum Suaminya ini membuat gerah.


"Mas, tidak bisa begitu. Adek, ugh jangan menatap begitu," cicit Khumaira.


"Kenapa harus malu? Apa Adek ingin Mas juga membuka pakaian? Dek, menyenangkan hati Suami itu pahalanya besar. Pilih mana, Hm?"


Khumaira langsung kicep mendengar penuturan Aziz. Dia perlahan membuka pengait bra dan langsung menyilangkan tangan ketika bra terjatuh di lantai. Wajahnya begitu merona sampai merasa tidak kuat.


Aziz beranjak dari ranjang untuk mendekat. Dia raih tangan mungil Istrinya agar memperlihatkan sesuatu yang sangat dia suka. Dia menunduk untuk mengecup perut rata Khumaira lalu naik ke atas menciumi buah dada Istrinya.


Khumaira meremas lengan kekar Aziz dan mendesah kecil ketika mendapat rangsangan. Dia tidak sadar ketika gaun mewah telah terpasang.


"Tangan Adek masukan!"


Khumaira menurut perkataan Aziz. Akhirnya gaun melekat indah di tubuh mungilnya. Dia memejamkan mata ketika Aziz melumat bibirnya sensual.


"Adek Syafa sangat cantik, Mas sangat suka. Tetapi, ada yang kurang."


Aziz mengangkat Khumaira untuk duduk di pangkuannya. Dia mendudukkan Istrinya di tepi ranjang lalu meraih kotak beludru dan membukanya.


Khumaira membekap mulutnya tidak percaya. Air mata luruh deras melihat kalung dan anting yang sangat mewah. Dia tidak percaya kenapa Aziz begitu romantis. Dengan derai air mata Khumaira meminta Suaminya memakaikan kalung dan anting.



Aziz memakaikan kalung berlian dengan suka cita. Setelah terpasang dia kecup leher jenjang Khumaira penuh haru. Ia juga memasang anting untuk Istrinya dan kemudian merengkuh Khumaira dari belakang.


"Adek sangat cantik," puji Aziz.


"Terima kasih banyak, Mas. Mas bukanya ini sangat mahal? Kenapa Mas membelikan ini? Lain kali jangan belikan Adek benda terlalu mahal."


"Bahkan jika Adek meminta nyawa, pasti Mas turuti. Apa pun untuk Adek, dan uang itu tidak ada artinya. Asal Adek bahagia Mas akan berikan."


Khumaira menitikkan air mata haru mendengar penuturan Aziz. Teringat kembali akan cinta suci Suaminya membuat dia berdesir. Entah sampai kapan Aziz begitu manis ketika mengutarakan isi hatinya.


Aziz membalik posisi Khumaira. Tangan kekarnya terulur untuk menghapus lelehan air mata Khumaira. Dia mengecup kelopak mata Istrinya penuh haru.


Khumaira melepas diri dari Aziz. Dengan senyum manis dia menengok ke arah Suaminya.



Anggap saja itu Dek Syafanya Mas Aziz yup.


"Mas, aku sangat bahagia."


Aziz duduk saja melihat lekuk tubuh Khumaira di balik gaun mewah. Dia menyengit saat Istrinya mengambil sesuatu di lemari. Ia penasaran apa gerangan yang membuat Istrinya buru-buru mengambil sesuatu.


Khumaira mengambil kotak persegi dan bingkisan. Sebenarnya dia sangat malu namun harus dia berikan untuk Aziz. Dia membeli ini cukup lama, tetapi tidak berani memberikan.


"Untuk, Mas. Maaf tidak semewah hadiah, Mas. Namun, aku bangga itu Adek beli dari hasil jerih payah menjadi guru."


Aziz jadi tidak enak mengingat Khumaira bekerja lalu semua itu untuknya. Dia membuka kotak isinya jam tangan. Air mukanya berubah bahagia melihat arloji pemberian Khumaira. Walau arlojinya semua sangat mahal dan berharga fantastis. Tetapi, arloji ini yang paling berharga untuk dirinya. Dia membuka kembali bingkisan dan hasilnya adalah kemeja polos. Tanpa babibu Aziz melepas pakaiannya dan memakai kemeja warna silver.


"Dek, tolong kancingkan kemeja, Mas!"


Khumaira memasang kancing kemeja Suaminya. Dia tidak bisa lepas dari perut Aziz yang sangat menggiurkan. Roti sobek itu ingin ia usap pasalnya sudah sangat lama tidak melihat tubuh Suaminya.


Aziz tersenyum melihat Khumaira terus menatap tubuhnya. Maklum tubuh proporsional dirinya begitu menggiurkan. Dia hanya diam menikmati sensasi mendebarkan. Aziz masih setia melihat Khumaira seraya mencengkeram pelan pinggul sang Istri.


"Dek, Mas sangat bahagia menerima hadiah ini."


"Alhamdulillah, maaf hadiah Adek tidak semewah hadiah Mas."


Aziz mengelus punggung tangan Khumaira. Dia angkat tangan Istrinya guna mengecup pergelangan tangan sang Istri. Ia menunduk cukup dalam guna menjamah leher jenjang Istrinya. Aziz begitu tergoda akan kemolekan tubuh Khumaira yang kecil mungil. Namun, begitu padat penuh akan keindahan memukau.


"Hadiah ini jauh lebih mahal, Dek. Karena hadiah ini pemberian Istriku. Walau semua milik Mas mewah, tetapi hadiah ini tidak akan ada harganya oleng uang. Sungguh Mas sangat men .... menyukai Adek. Hadiah ini adalah kado terindah sepanjang masa. Demi apa pun itu Mas sangat bahagia."


Aziz meluapkan emosi dengan kebahagiaan. Dia langsung menciumi wajah cantik Khumaira tanpa terlewat. Ia nyaris mengatakan cinta pada Istrinya, tetapi langsung ia ralat guna memperbaiki suasana romantis. Aziz tidak mau hari bahagia terenggut menjadi perdebatan aneh.


Khumaira terharu Aziz sangat suka menerima hadiahnya. Semua terasa manis walau begitu masam hatinya. Dia sedih sekali karena Suaminya begitu apik menyembunyikan perasaan selama itu. Ia harus bersyukur atau bersedih memiliki Suami begitu luar biasa? Khumaira bersyukur akan cinta tulus Aziz yang begitu sempurna. Namun, hatinya sedih mengingat Suaminya menderita selama ini.