
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
👇👇👇
Aziz sedang melakukan meeting besar bersama perusahan minyak di Thailand. Dia setelah ini akan pergi ke pusat kota Yogyakarta untuk menjemput Khumaira dan anak-anak. Wajah tampannya tampak bersinar tertimpa sinar lampu ketika ia menjabarkan bisnis. Wajah tampannya menjadi pusat perhatian para kolega bisnis, terutama untuk para wanita.
Usai meeting Aziz memilih berlalu tanpa peduli apa pun setelah rapat besar selesai. Memang ia memberi salam kepada kolega bisnis setelah itu berlalu begitu saja. Dalam hati Aziz merasa bersalah pada Khumaira dan anak-anak, pasalnya di hari libur malah kerja. Dia buru-buru datang ke pusat kota demi sang Istri dan dua anaknya.
Di pusat permainan untuk para anak kecil, terlihat Mumtaaz bermain bersama Ridwan di kolam bola. Mereka saling melempar bola dan tertawa bersama. Keduanya sangat bahagia walau nyatanya tidak demikian. Ridwan dan Mumtaaz sangat merindukan Aziz yang sedari.tadi belum ada.
Sementara Khumaira terlihat senang melihat anak-anaknya. Hatinya berbunga menatap keceriaan Ridwan dan Mumtaaz. Walau begitu ia gelisah sedari tadi Suaminya tidak kunjung datang. Katanya meeting dan ini lebih dari jam yang diucapkan Suaminya. Apa Aziz ada kendala sehingga terlambat?
Puk
"Khumaira, bukan?" tanya seorang dari arah belakang sembari menepuk bahu Khumaira.
Khumaira yang fokus pada anak-anak sontak menengok ke arah orang itu. Matanya menyipit berusaha mengingat siapa gerangan pria di depannya. Dia tatap wajah orang didepannya lalu menunduk. Siapa gerangan orang yang mengenalnya?
Pria asing itu tersenyum teduh melihat Khumaira. Dia tidak menyangka bisa bertemu wanita ini di tempat ini. Yang jelas selama ia pergi dari Yogyakarta 5 tahun silam sudah tidak pernah bertemu wanita ini.
"Iya saya Khumaira."
Khumaira jadi bingung dengan pria di depannya. Sebenarnya siapa pria asing ini? Eh tunggu dari wajahnya seperti kenal. Ah iya ia kenal siapa pria asing yang jelas mengenalnya.
"Sudah ingat, Dik Khumaira?"
"Ah, Kak Wisnu benar? Ya Allah, sudah lama sekali tidak bertemu."
Khumaira tersenyum tulus ketika mengingat siapa pria di depannya. Sebenarnya tadi agak lupa namun langsung ingat ketika pria itu tersenyum khas. Lalu teringat suara tenor yang tidak asing karena dulu selau mampir rumah.
"Alhamdulillah, masih di ingat sama Dik Khumaira. Iya sudah 5 tahun sejak Dik Maira menikah dengan Mas Azzam. Apa kabar, Dik?"
Wisnu duduk di samping Khumaira dengan jarak lumayan jauh. Dia menghargai prinsip kuat wanita cantik itu. Sedari awal saat ia sering datang ke Pagerharjo karena Bahri teman sefakultas.
Khumaira tersenyum terpaksa mengingat mendiang Suami pertamanya. Ya Allah, rasanya sesak jika ada yang mengingat tentang almarhum. Ada rasa rindu walau nyatanya kini hatinya sudah terbagi pada Suami masa depannya.
"Betul, sekali Kak, sudah sangat lama. Alhamdulillah saya baik, Kakak sendiri bagaimana?"
Wisnu tersenyum manis mendengar jawaban Khumaira. Adik dari sahabatnya memang sangat manis dan sekarang terlihat dewasa dan sangat cantik. Tidak ada perubahan hanya saja semakin cantik dan dewasa.
Khumaira berpaling kembali melihat si kecil meneriaki namanya. Dasar anak-anak menggemaskan sampai ingin lari ke arah mereka. Dia mau kemana, tetapi ada Wisnu alhasil tetap tinggal.
"Alhamdulillah, saya juga baik. Lo mana Mas Azzam, kok tidak terlihat? Apa Dik Maira pergi sendiri?"
Khumaira meremas jemari karena merasa terganggu. Dia tidak kuat menahan sesak. Sabar jangan tunjukan duka lama yang membuat kamu depresi. Dengan hati berusaha lega Khumaira tersenyum seraya menjawab dengan seadanya.
"Mas Azzam sudah pulang ke Rahmatullah, Kak. Sekarang aku menunggu Masku untuk menjemput kami. Saya harus pergi dulu menemui anak-anak."
Wisnu terpaku mendengar jawaban Khumaira. Dia merasa tidak enak pasalnya selama ini tinggal di luar Negeri. Sejatinya dia sangat panik melihat wajah sedih Khumaira.
"Dik tolong maafkan aku berbica begitu. Oh, tunggu dulu Mas temui Sarah dulu jangan kemana-mana soalnya aku ingin menanyakan banyak hal!"
Wisnu langsung pergi untuk menjemput Putrinya. Dia sudah memiliki satu putri dan sudah bercerai dengan Istrinya. Ia kembali ke Indonesia setelah memenangkan hak asuh Sarah.
Khumaira menyengit heran akan tingkah Wisnu. Karena tidak mempermasalahkan apa pun ia memilih menghampiri Ridwan dan Mumtaaz. Dia tersenyum saat anak-anak melempar bola ke arahnya. Tentu Khumaira menangkap bola plastik dengan senyum manis.
Tidak lama Aziz datang menggunakan pakaian formal khas kantoran. Dia sudah melepas dasi dan membuka kancing kemeja dua dari atas. Asli ia menggoda para wanita dengan penampilan menggoda. Aziz tidak peduli yang jelas ingin cepat bertemu Istri dan anaknya.
"Apa kalian menunggu lama?" tanya Aziz membuat mereka menengok ke arahnya.
Ridwan dan Mumtaaz beranjak dari kolam bola beralih menuju Aziz. Mereka memekik senang akhirnya Ayahnya tiba. Ridwan dan Mumtaaz berebut minta gendong pada Aziz.
Khumaira tersenyum senang Suaminya telah datang. Dia melihat anak-anaknya loncat minta gendong. Tetapi, ia takut pinggang Suaminya encok. Maklum Suaminya sudah kepala tiga bisa gawat kalau encok.
"Jangan anak-anak nanti Ayah encok bahaya. Ingat Ayah kalian sudah tua," celetuk Khumaira membuat Aziz mendelik tidak terima.
"Oh Sayangku Mas baru 31 tahun. Mas masih sangat kuat menggendong kalian bertiga jika kalian mau!" tegas Aziz tanpa peduli pandangan para pengunjung wahana mainan anak kecil.
Khumaira terkekeh mendengar jawaban Aziz. Pada akhirnya perdebatan berakhir. Dia meminta Suaminya untuk duduk seraya menikmati camilan. Sementara Mumtaaz meminta pangku Khumaira dan Ridwan minta pangku Aziz. Kini kelurga kecil Aziz berkumpul bahagia di pinggir ruangan. Mereka sedang asyik makan camilan ringan seraya bercanda dengan lelucon garing.
"Dik Maira ...." perkataan Wisnu mengantung ketika melihat Aziz di samping Khumaira.
Aziz sontak menengok ke sumber suara lalu tersenyum melihat Wisnu. Dia sangat kenal dengan pria yang menggendong gadis kecil. Pesaing bisnisnya dan tentu orang terkenal cukup berpengaruh.
"Hai, Pak Wisnu ... senang bertemu Anda," sapa Aziz dengan senyum ramah.
Wisnu buru-buru tersenyum ramah membalas sapasn Aziz. Dia heran kenapa Aziz dekat sekali dengan Khumaira? Apa mereka sedang menjalin hubungan spesial?
"Kalian sedang menjalin hubungan istimewa?" tanya Wisnu sekedar basa-basi.
Aziz tersenyum tipis mendengar pernyataan Wisnu. Dengan senyum tipis dia menjawab, "kami tidak menjalin hubungan spesial. Pasalnya kami Suami dan Istri lalu ini anak-anak kami."
Wisnu terbelalak tidak percaya mendengar jawaban Aziz. Pasti bohong mana mau Khumaira dengan pria macam Aziz.
Khumaira meraih tangan besar Aziz lalu mengecup pergelangan tangan Suaminya. Dia menautkan jemari mereka dan tersenyum manis.
"Tentu saja sangat kenal Pak Wisnu adalah CEO dari perusahan ternama di Yogyakarta."
Wisnu tersenyum ramah pada mereka lalu pamit. Dia tidak enak menanyakan banyak hal tentang Bahri, Azzam dan yang lainnya. Alhasil memilih pergi dari pada menganggu mereka.
Aziz dan Khumaira tidak mempermasalahkan itu semua. Mereka memilih menebar kemesraan dengan si kecil merengek minta main kembali. Tentu keduanya setuju membiarkan anak mereka main dengan riang di kolam bola.
Ridwan dan Mumtaaz langsung bermain sembari tertawa riang. Keduanya sangat bagai akhirnya main bareng Ayah dan Umi. Mereka tadi kurang antusias karena Ayah mereka belum datang. Kini Ridwan dan Mumtaaz sangat bahagia tanpa ada kendala.
Pada akhirnya keluarga kecil Aziz sukses membuat pengunjung wahana permainan anak berdecak kagum. Mereka sangat romantis dengan penuh canda tawa. Melihat keluarga kecil itu membuat mereka terhibur.
***
Sialan, aku sangat membencimu ********. Ingat ini Tuan Aziz Siap-siaplah menerima kehancuran. Aku akan mengambil apa yang seharusnya menjadi milikku.
Kamu pria tangguh, keh menggelikan.
Aku akan datang mengambil sesuatu yang sepantasnya menjadi milikku. Aku adalah bencana maka Siap-siaplah menerima kehancuran.
Wanita itu sangat cantik, maka biarkan aku memilikinya. Hahaha, dia adalah wanita yang pernah menjadi ratu di hati. Setelah tahu dia milikmu, sepertinya seru jika aku ambil darimu.
Kamu mengambil apa pun dariku, maka bersiaplah menerima balasan. Aku tidak akan tinggal diam karena dua kali terkalahkan dan untuk sekarang tidak lagi.
Aku akan memberimu sebuah malapetaka. Kita lihat seberapa tangguh kamu lolos dari permainan gila ini.
Oh, bagaimana wanitamu aku rebut dan kujadikan ratu di rumah mewah ini? Aku akan merampas dia darimu sialan. Seperti kau merampas hak atas semuanya. Jangan harap kebahagiaan karena dendamku di mulai.
Oh, kamu benar-benar beruntung mendapatkan dirinya, tetapi itu tidak akan bertahan lama. Karena dirinya akan aku rebut jikalau tidak maka aku gunakan cara paling sempurna.
Wanita itu harus menjadi milikku agar dirinya hancur tanpa sisa. Di pertempuran kali ini akulah yang akan menjadi pemenang. Kau sudah menang beberapa kali maka akulah yang menang kali ini.
Manusia hina sepertimu akan musnah dengan kehancuran. Semua terasa sangat manis jika ingat sebuah taktik keji yang akan kupersiapkan.
Tunggu kehancuranmu, Aziz!
Kau akan mati ditanganku jika semua rencana gagal. Jangan harap kau memang untuk kali ini. Akulah yang akan menjadi pemenang sesungguhnya.
***
Aziz termenung memikirkan sebuah mimpi buruk. Dia merasa akan ada badai yang menerjang dirinya. Bahkan sekali Masnya datang dalam mimpi memberi tahu suruh menjaga diri dengan baik. Masnya juga berpesan suruh menjaga Khumaira agar mereka baik-baik saja.
Dalam mimpi itu Aziz sangat bingung akan nasihat Masnya yang telah tiada. Sejatinya apa yang terjadi di kemudian hari? Kalau begini ia sangat gila memikirkan banyak hal.
"Ya Allah, yang maha pengasih lagi maha penyayang. Lindungi kami dalam mara bahaya yang akan datang. Ya Allah, hamba berserah diri pada-Mu, semoga keluarga hamba Engkau lindungi dari mara bahaya. Hamba sangat takut sebuah malapetaka datang menimpa kami. Ya Allah, semoga semua Engkau jaga kami, Amin."
Khumaira terbangun ketika Aziz terbangun secara tiba-tiba. Dia usap lengan kekar Suaminya supaya tenang. Dia bawa Suaminya agar bersandar padanya. Sebenarnya ap yang terjadi pada Suaminya akhir-akhir ini?
"Mas mimpi buruk lagi?"
"Hn. Dek, jikalau ada badai apa yang akan Adek lakukan?"
Aziz merengkuh Khumaira erat sembari menyandarkan kepalanya di bahu sempit Istrinya. Dia tidak kuasa menahan diri mengingat mimpi buruk terus menghantam dirinya. Sedari awal selalu memimpikan hal runyam yang akan terjadi.
Khumaira mengusap rambut Aziz penuh sayang. Dia tetap merengkuh erat tubuh kekar Suaminya sembari mengusap punggung dan rambut. Ia takut Suaminya mengalami hal buruk. Khumaira akan selalu berdoa demi keselamatan Aziz.
"Adek akan selalu ada di samping Mas seraya menggenggam erat tangan, Mas. Kita akan lalui badai bersama agar tidak ada yang bisa menggoyahkan kita. Mas, jangan pernah takut karena Adek akan selalu di sisi Mas sampai Allah memisahkan kita dengan maut."
Khumaira ingin memberi kekuatan pada Suaminya. Dia seka keringat dingin Aziz penuh keyakinan. Dia sangat sakit melihat Suaminya tampak lemah. Khumaira begitu takut Suaminya ini lemah begini. Jujur saja ia suka Aziz jadi pelawak gila dari pada lemah tidak ada tenaga.
"Mas sangat lemah, Dek. Terima kasih banyak untuk kata penenangnya. Mas sangat bahagia Adek berbicara begitu. Kita akan bersama selamanya walau badai menghantam rumah tangga kita. Mas merasa akan ada hal besar terjadi, maka dari itu mulai sekarang kita perbanyak berserah diri pada Allah meminta perlindungan-Nya. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Kita akan bersama selamanya Insya Allah."
"Jangan lemah, Mas karena Allah selalu bersama Mas. Bertawakal kepada-nya niscaya Allah akan melindungi kita dalam langkah menuju kebaikan. Adek akan selalu bersama Mas dalam suka duka. Jangan sedih lupakan kesedihan itu mari shalawat tahajud lalu baca Al-Qur'an agar hati tenang."
"Ya Allah, Mas sampai lalai Dek beberapa saat karena keresahan ini. Terima kasih telah memberikan Mas masukan bijak. Mas sangat beruntung mendapatkan Adek dalam hidup, Mas!"
"Mas ini bicara apa,sih? Itu tugas Adek memberikan masukan dikala Mas lemah. Adek akan selalu menjaga Mas di setiap waktu."
Khumaira juga merasakan apa yang di rasa Aziz. Dia memilih diam tetapi tangan terus aktif mengusap wajah Suaminya. Perlaha tetapi pasti Khumaira mengecup bibir Aziz penuh arti. Dia tidak akan membiarkan sesuatu terjadi pada hubungan mereka. Walau ada badai besar sekalipun Khumaira akan genggam tangan Aziz seberat mungkin.
Aziz tersenyum haru khumaira begitu perhatian dan sangat baik. Walau badai datang insya Allah akan teguh pendirian dengan selalu menggandeng tangan Istrinya. Hanya Allah yang bisa memisahkan mereka maka manusia tidak akan bisa. Aziz akan berjuang walau sangat berat ujian itu.
Keduanya tersenyum manis telah melakukan hal manis. Aziz dan khumaira sangat senang bisa memiliki banyak waktu. Kini keduanya berharap agar selalu bersama walau badai datang.
Aziz dan khumaira berharap semoga saja Allah selalu memberikan segala kebahagiaan. Keduanya wudhu lalu berjalan menuju kamar untuk shalat sunah tahajud dan hajat. Usai itu mereka mengaji bersama. Aziz dan khumaira mengaji satu juz dan kini perasaan mulai tenang.
"Mas sangat mencintai Adek karena Allah."
"Adek tahu, Mas. Maaf ya belum bisa membalas. Mas masih mau menunggu jawaban Adek, kan?"
"Sampai kapan pun Mas akan menunggu jawaban, Adek."
Aziz memberikan ciuman sayang di kening khumaira. Lalu mendekap erat Istrinya sepenuh hati. Sementara Khumaira mendekap erat tubuh Aziz. Keduanya saling berbagi kehangatan menikmati kebersamaan. Setelah itu Aziz dan Khumaira memutuskan tidur.