
Jangan gila ya, ini bikin baper abis!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
***~•~***
Mahira membuat masakan untuk Azzam dan anak-anaknya. Dia merasa berdebar keras saat masak untuk prianya. Beberapa tahun lalu ia sering masak untuk Azzam. Kini sebuah hubungan baru tercipta. Sebab hubungan baru itu Mahira jadi malu menghadapi Azzam.
Zoya dan Zayn berjalan ke arah Mamanya. Kedua anak manis ini merengkuh pinggul sang Mama. Dua anak manis kesayangan Mahira yang akan selalu dicintai. Keduanya tersenyum ketika Mamanya menunduk menyamakan tinggi badan. Zoya dan Zayn tentu saja begitu senang ketika Mahira merespons.
"Mama," panggil Zoya dan Zayn seraya merengek manja.
"Iya Sayang, ada apa?" tanya Mahira sembari mengusap rambut tebal kedua anaknya.
"Zoya mau di suapi Paman Emran," lirih Zoya.
"Zayn juga mau di suapi Paman Emran ... Mama!" seru Zayn tidak mau kalah.
Mahira menggigit bibir bawahnya kasar mendengar permintaan dua anaknya. Dia melirik Azzam yang tersenyum teduh kearahnya. Dasar pria ini sering sekali membuat jantungnya berdegup kencang. Kalau sudah begini Mahira jadi serba salah akibat Azzam.
Azzam tersenyum saat Mahira tampak malu. Dia meminta pada anak kembar mendekat ke arahnya. Ia meminta Zoya dan Zayn berdoa terlebih dahulu sebelum makan. Setelah doa selesai dengan telaten Azzam menyuapi anak kembar.
Sesekali mata Azzam mencuri pandang ke arah Mahira. Terlihat wanita itu menunduk gugup berada di situasi begini. Sebenarnya selama 3 tahun mengenal Mahira baru kali ini Azzam lihat wanita ini tersipu. Sungguh manis dengan jilbab merah melingkupi kepala Mahira. Rasanya ada yang beda padanya melihat wanita yang memberikan perlindungan sewaktu butuh sandaran.
Mahira tidak bisa menahan haru ketika Azzam menyuapi Zoya dan Zayn. Rasanya begitu mengharukan sampai ia tidak kuasa menahan air mata. Ini terasa mimpi bisa berada di dekat pria idamannya. Walau begitu Mahira bisa menjaga letupan cinta agar Azzam tidak terganggu.
Azzam menyengit melihat Mahira menangis. Ada apa dengan calon Istrinya? Kenapa bersedih sampai menangis? Apa ada seseorang yang membuat Mahira bersedih? Usai menyuapi Zoya dan Zayn ia memilih menggendong dua anak berusia 4 tahun ke tempat tidur. Mungkin Azzam akan memberi ketenangan untuk Mahira setelah menidurkan Zoya dan Zayn.
Mahira mencuci piring bekas makan mereka. Usai mencuci piring ia lap piring basah, kemudian menaruh di rak. Ia nyaris berteriak kaget saat seseorang menepuk bahunya. Spontan Mahira menengok ke samping dan nyaris bibirnya bersentuhan dengan Azzam.
Azzam langsung mundur beberapa langkah saat menyadari jarak di antara mereka begitu dekat. Dia menggaruk tengkuk yang tidak gatal merasa hawa aneh. Kalau begini ia jadi salah tingkah karena jaraknya sangat dekat tadi. Azzam bersyukur cepat mundur atau bibir mereka bertemu. Ini gila sontak saja mengucap istighfar karena khilaf.
Tubuh Mahira bergetar menahan gejolak tinggi. Wajahnya terasa panas tidak terkendali. Dapat Mahira sesap aroma maskulin Azzam sangat meneduhkan. Ya Allah, tolong jantungnya yang terasa berdegup kencang. Mahira berusaha tidak gugup, tetapi masih gugup sampai bergetar hebat.
"Ada apa melamun? Maaf tadi aku terlalu dekat. Itu, aku mau pamit untuk menginap di panti."
"I-itu em lupakan. Tidak apa, Mas. Hati-hati ya jangan lupa istirahat yang cukup."
"Tentu, itu sebenarnya aku ingin mengobrol serius sebelum pulang ke panti. Apa ada waktu beberapa menit?"
"Bisa, tunggu ya Mas aku lap tanganku dulu. Mas bisa menunggu di ruang tengah."
Azzam tersenyum sebagai respons perkataan Mahira. Dia berjalan menuju ruang tengah tepatnya ruang keluarga. Ia akan menunggu kedatangan Mahira perihal keinginannya. Semoga saja Mahira mau ikut Azzam ke tanah air. Jika tinggal di Pakistan rasanya tidak mungkin, maka dari itu ia memilih membawa calonnya ke Indonesia.
Mahira berjalan ke arah di mana Azzam berada. Apa yang ingin prianya bicarakan? Jika begini dia merasa berdebar tidak karuan. Sampai ruang keluarga ia duduk di seberang prianya tanpa mau menatap. Gugup melanda kalbu sampai Mahira terus meremas tangannya.
"Mahira, aku tidak ingin membuang waktu untuk ini. Mau besok ke tempat orang tuamu untuk meminta restu? Aku terlalu gila mengatakan hajatku yang ingin cepat menikah denganmu. Aku juga ingin egois Mahira, maukah kamu ikut bersamaku ke Indonesia? Putraku membutuhkan Abinya di sana."
Azzam memang dasarnya orang yang suka to the point tanpa mau bermanis-manis ria. Dia tipikal orang serius tanpa mau bertele-tele menghambat waktu. Nyaris sama seperti Adiknya Aziz, berbicara salalu ke inti tanpa pemanis buatan. Namun, tentu sangat beda pasalnya Adiknya itu sarkasme.
Yang membedakan Azzam dan Aziz saat berbicara ke inti adalah : Azzam berbicara tenang penuh keseriusan. Sementara Aziz sarkasme tanpa sensor dan terdengar dingin. Jika Adiknya berbicara bercanda itu untuk orang yang dekat. Keduanya sama-sama dingin, namun lebih dingin Aziz. Sosok Azzam begitu teduh penuh kehangatan serta tenang walau awal dingin. Lain dengan Aziz yang sangat dingin nan tajam jika tidak kenal. Namun, saat dekat maka sosok Aziz berubah jadi pria paling gila di dunia. Sementara Azzam jadi sosok begitu teduh, penuh cinta, kasih sayang dan perhatian.
Lain sisi Mahira tercengang mendengar perkataan Azzam. Tinggal di Indonesia? Ada rasa begitu bahagia yang melingkupi hatinya mendengar hajat Azzam ingin menikahinya segera. Apa itu prianya meminta bertemu kedua orang tuanya besok? Jika begini apa yang harus Mahira lakukan?
"Mas, itu bukanya menolak tunggal di Indonesia. Hanya saja anak-anak masih blepotan mengucap bahasa Indonesia. Apa kami tidak merepotkan, Mas? Lalu Dedek Ridwan sekarang tinggal bersama siapa? Insya Allah, besok kita menemui kedua orang tuaku. Aku malu bertemu kedua orang tua, Mas. Selama hidupku aku tidak pernah menjadi wanita yang baik. Kenapa Mas mau menikah dengan wanita penuh kekurangan sepertiku?"
"Mas akan menjaga kalian dengan sepenuh hati. Tidak usah khawatir karena kita akan berjalan bersama. Tidak ada yang merepotkan karena kalian tanggung jawabku. Putraku bersama Uminya tanpa mau di pisahkan. Itu sebabnya Mas hendak menikahi Dik Mahira. Insya Allah, Mas akan membawamu ke jalan lurus dan menjadikan Dik Mahira penghuni Surga, Aamiin. Mas ingin mencari kebahagiaan seutuhnya bersama Dik Mahira dalam suka maupun duka."
Mahira menunduk dalam menyembunyikan air matanya. Dia menggenggam tangannya erat karena gugup. Dia tidak mampu menjawab jawaban Azzam. Kini ia diam tanpa kata sembari menangis sesenggukan. Semoga saja kebahagiaan selalu menyertai mereka. Laku Mahira akan mencintai Ridwan seperti Azzam mencintai Zoya dan Zayn.
Azzam hanya diam tanpa bisa menyentuh Mahira. Dia tidak percaya wanita yang di kenal supel serta tangguh ternyata sosok rapuh penuh air mata. Ternyata topeng kuat itu untuk menghapus duka kepiluan. Maka dari itu Azzam ingin sekali menjadi sandaran Mahira di kala terpuruk.
Dan dari sini semua akan tercetus dalam hubungan baru. Kasih baru yang akan menyatukan keduanya. Walau awalnya menyakitkan pisah dengan orang tercinta. Namun, Azzam dan Mahira telah membuka lembaran baru guna menempuh masa depan. Semoga saja mereka bahagia selalu, Aamiin.
***•~•~***
Pada akhirnya Aziz memutuskan untuk menelepon Khumaira setelah pulang dari airport. Dia sudah mengunci pintu apartemen lalu duduk nyaman di sofa. Tubuhnya bergetar saat panggilan tersambung. Setelah 3 hari Azzam memberikan No Khumaira ini kali pertama ia mampu menghubungi mantan terindah. Dunianya terasa berwarna kembali serta hatinya berbunga mendengar salam Khumaira.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
Khumaira belum melihat siapa yang menelepon maka tampak biasa saja. Dia masih mengganti popok Putrinya akibat pipis. Tangan terampilnya memberikan minyak telon pada tubuh Faakhira. Dengan hati-hati Khumaira meraih Putrinya untuk di berikan asi.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh," jawab Aziz.
Mungkin masih terlalu fokus menyusui Faakhira membuat Khumaira tidak mendengar jawaban salam Aziz. Setelah Faakhira tertidur ia memberikan ciuman sayang di seluruh wajah cantik anaknya. Jujur saja Khumaira terenyuh melihat Faakhira begitu cantik dengan wajah mirip Suaminya. Mengingat itu hatinya rapuh menginginkan Aziz lekas pulang.
"Tunggu sebentar, saya tidurkan Putriku."
Aziz membisu mendengar suara Khumaira yang lembut. Entah kenapa air mata luruh deras mengingat memori kebersamaan mereka. Dadanya terasa sesak tanpa mau di kendalikan. Dua tahun Aziz menanti kedatangan seorang Adik untuk Mumtaaz dan Ridwan. Namun, semua luntur saat Istrinya sudah bukan menjadi miliknya. Kini Syafa-nya hanya masa lalu yang harus dilupakan.
"Umi ...! Kaos kaki dan sepatu Kakak kecil mana?!" seru Mumtaaz sukses membangunkan Faakhira yang baru terlelap akibat terkejut.
Aziz terhenyak mendengar suara Putranya yang dirindukan. Ya Allah, benarkah itu Mumtaaz-nya? Rasanya ia ingin berseru memanggil Putranya. Ya Allah, dia sangat merindukan anak nakalnya yang manis. Aziz menangis semakin deras saat Faakhira menangis gara-gara Mumtaaz.
Khumaira langsung menggendong Faakhira karena menangis kencang. Dia jadi gemas akibat Mumtaaz terus berteriak-teriak di pagi hari layaknya penghuni hutan. Kadang ia heran dari mana sikap Anaknya suka sekali berteriak atau kelewat jahil nan usil. Khumaira jadi ingat ini sikap Aziz, pasalnya saat jadi Kakak ipar mantan Suaminya bercerita banyak tentang Aziz sewaktu kecil.
"Kakak kecil tidak boleh berteriak begitu, lihat Dedek menangis. Kaos kaki Kakak kecil ada di lemari rak paling bawah. Untuk sepatu ada di rak dekat lemari."
"Maafkan Kakak tampan Dedek FaaFaa. Kakak yang paling tampan di dunia sedang buru-buru. Maafkan, Kakak kecil ya, Umi."
Mumtaaz mencium pipi gembul Khumaira dan Faakhira. Lalu berlari menuju tempat tidurnya bersama Ridwan. Lihat Abangnya sedang sibuk menyisir rambut menjadi model keren. Dia mendecih sebal karena Ridwan tidak membantunya memakai sepatu. Demi kolor Nobita yang tidak pernah ganti Mumtaaz tidak bisa pakai sepatu.
"Kakak tolong Adikmu yang tampan memakai sepatu. Lihat Dedek besar kesusahan pakai sepatu. Demi Seponbob yang berubah jadi Doraemin, Dedek Mumtaaz sangat kesulitan."
"Tunggu kakak sisir rambut sekeren mungkin. Kata Ayah penampilan itu harus keren supaya tambah tampan."
Setelah menyisir rambut sekeren mungkin akhirnya Ridwan membantu Mumtaaz memakai sepatu. Dia ikat tali sepatu dan membenarkan pelekat. Kini Adiknya sudah masuk sekolah taman kanak-kanak. Sementara dirinya sudah kelas 4 SD. Lihat Mumtaaz begitu semangat melihat penampilan. Dengan sayang dia usap rambut tebal Mumtaaz lalu Ridwan berlalu menuju kamar Uminya bersama Faakhira.
Mumtaaz ikut Ridwan menuju kamar Uminya dan Faakhira. Dia tersenyum saat Adiknya berhenti menangis kini sudah lelap. Agak merasa bersalah pasalnya berteriak heboh dikala Adiknya sedang tidur. Mumtaaz akan minta maaf lagi lalu menggendong Dedek FaaFaa-nya.
Melihat dua pangeran tampan sontak Khumaira merentangkan tangan menyambut dua anaknya. Dia sangat senang bisa memiliki dua anak tampan yang bisa meraihnya dikala terpuruk. Kedua Anaknya yang sangat manis telah menjadi obat pelipur lara dikala dirinya lemah saat mengandung. Tanpa dua anaknya ini mungkin Khumaira akan hancur pada titik terendah.
Ridwan dan Mumtaaz berhambur memeluk Uminya erat. Mereka mengecup pipi bulat Uminya penuh sayang. Mereka dengan manja mendusel manja dalam dekapan hangat sang Umi. Ridwan dan Mumtaaz begitu antusias melihat Faakhira bobok. Mereka bergantian mencium pipi dan dahi Faakhira.
"Umi, kami mau berangkat. Kakak sayang, Umi," ucap Ridwan.
"Umi doakan Mumtaaz agar para gadis ingusan tidak memberikan cokelat dan mainan. Tahu Kakak cilik tampan, tetapi harus sadar cokelat bikin gigi penuh cokelat. Ah, pokoknya Kakak ganteng mau mainan dari pada cokelat," omel Mumtaaz seraya mengecup punggung tangan Uminya.
"Umi juga sangat menyayangi Kakak besar dan kecil. Baiklah Umi doakan Kakak cilik tidak dapat coklat melainkan mainan baru. Jangan lupa belajar yang giat, perhatikan saat guru menjelaskan, tidak boleh nakal dan jangan lupa berdoa."
Khumaira tertawa renyah mendengar perkataan Mumtaaz. Dia ciumi pipi Mumtaaz dan Ridwan penuh kegemasan. Dengan senyum cerah ia meminta Ridwan dan Mumtaaz belajar yang rajin. Setelah anak-anaknya salaman serta mengecup pipi mereka berlalu. Dua anaknya di antar Laila untuk Sekolah. Khumaira tersenyum saja ketika dua anaknya berseru ruang mengiyakan pesannya.
Ridwan dan Mumtaaz hanya mengiyakan serta menuruti perintah. Mereka tidak nakal setiap jam pelajaran atau guru datang akan anteng sembari memperhatikan. Keduanya begitu genius serta sangat bertalenta di bidang masing-masingnya. Ridwan dan Mumtaaz akan sukses itu tekad mereka supaya Ayah tidak kerja.
"Kami sayang Umi dan Dedek Faakhira. Kami akan jadi sukses supaya Ayah tidak perlu bekerja lagi. Ayah terlalu lama bekerja maka biarkan kami sekolah dengan giat agar Ayah tidak pergi lagi," kor Ridwan dan Mumtaaz sukses membuat Khumaira tertegun.
Khumaira tersentak saat Ridwan dan Mumtaaz melongok kepala seraya mengutarakan isi hati. Hatinya begitu ngilu mendengar perkataan polos mereka yang sangat tulus. Dia hanya bisa mengaguk setuju agar kedua anaknya senang. Andai saja ia mau pasti sudah menyeret Aziz pulang dan mengatakan segalanya. Khumaira buru-buru menghapus air matanya saat sadar sudah berlinang deras.
Aziz membekap mulutnya agar tidak terisak atau suara isakan terdengar. Hatinya hancur lebur mendengar perkataan anak-anaknya. Rasa rindu menghantam jiwanya ketika tahu Putranya sudah sekolah. Aziz sangat senang mendengar suara Ridwan dan Mumtaaz. Dua anaknya yang sangat Aziz sayangi akhirnya terdengar. Apa lagi mendengar keduanya sampai bertekad begitu hanya ingin melihatnya terus ada. Sesak sekali ingin berlari guna memenuhi dua anaknya.
Khumaira menepuk kening saat ingat ada yang menelepon. Dia kira sang penelepon sudah mematikan panggilan. Namun, nyatanya masih tersambung tanpa beralih. Saat ia lihat siapa yang memanggil dadanya terasa campur aduk. Dadanya bergemuruh melihat nama Suaminya yang menelepon. Khumaira memejamkan mata rapat lalu kembali terbuka. Hasilnya sama Aziz meneleponnya untuk pertama kalinya setalah satu tahun berlalu.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas. Maaf tadi anak-anak ribut sehingga lupa ada yang menelepon. Mas apa kabar?"
Khumaira ingin menangis mendengar panggilan Mbak dari Aziz. Sabar jangan emosi karena Suaminya sedang kurang sehat. Tidak boleh memaksa kehendak atau semua hilang begitu saja. Semoga saja Khumaira tahan mengobrol bersama Aziz. Walau agak susah pasalnya ini begitu menyiksa batin.
Sementara di seberang sana Aziz getir memanggil Khumaira dengan panggilan Mbak. Dadanya sesak ingin meletupkan jiwa yang bergelora. Sakit tapi tidak berdarah inilah yang dirasakan olehnya. Sebisa mungkin kuat saat itulah ia terombang-ambing oleh badai. Aziz harus kuat guna mengibarkan rasa kuat menghadapi ini semua.
"Alhamdulillah saya baik, lalu bagaimana dengan, Mas? Maaf anak-anak sekolah jadi tidak bisa mengobrol bersama mereka. Ada keperluan apa Mas menelepon saya?"
"Alhamdulillah saya juga baik. Saya tahu anak-anak sudah berangkat. Nanti malam atau besok saya akan telepon khusus mengobrol bersama anak-anak. Tidak ada hanya rindu kedua Putraku."
Aziz berkata begitu dingin tanpa peduli rasa sakit Khumaira. Jika ingat kesakitan yang di berikan mantan Istrinya ia selalu marah. Memang bayi itu tidak berdosa dan patut di sayang. Namun, Aziz marah setiap ingat nama bayi cantik nan manis itu. Marah akan Syafa-nya begitu tega memberikan nama Faakhira pada si kecil.
Khumaira menangis mendengar jawaban sinis Aziz. Andai saja ia mampu berterus terang apa Suaminya akan kembali? Apa Suaminya akan baik-baik saja di kala kebenaran terungkap? Rasa rindu Khumaira begitu menyiksa sampai isakan tanpa sengaja Keluar.
Dada Aziz terasa teremas kuat mendengar isakan Khumaira. Dia sudah keterlaluan sehingga membuat mantanya tersiksa. Hatinya berasa hancur tanpa sisa ketika berbicara serat emosi. Kini begitu pilu mendengar tangisan sang pemilik hati. Aziz ingin sekali marah besar pada diri sendiri akibat menyakiti Syafa-nya.
"Mas, kenapa baru menelepon? Anak-anak sangat merindukan, Ayahnya. Begitu benci Mas padaku sehingga tidak memedulikan mereka. Jika Mas tidak ingin berbicara padaku maka jangan bicara," ucap Khumaira diiringi derai air mata bercucuran.
Aziz panik mendengar tangis Khumaira semakin menjadi. Dia tidak akan sanggup mendengar wanita yang sangat dicintai menangis. Semoga saja ia mampu menahan diri untuk mengatakan kata-kata keramat. Dia terus menggeleng kuat tidak bermaksud memutus kontak. Aziz panik ketika Syafa-nya bilang dirinya membenci.
Khumaira ingin mendengar kejujuran Suaminya. Semoga saja Aziz mampu mengatakan tentang amnesia itu. Dia akan menunggu Suaminya sampai kapan pun. Baginya sang Suami adalah kehidupannya selain anak-anak. Dia sangat mencintai Suaminya melebihi apa pun. Kehilangan Aziz seperti kehilangan kehidupan serta cekatan ketenagaan.
"Bukan begitu, Dek Syafa. Mas mengalami kecelakaan saat mau menghadiri acara membangun pernikahan Adek dan Mas Azzam. Mas lupa saat ada di Singapura beberapa bulan. Jangan salah paham karena Mas lupa segalanya. Tahu-tahu bisa tahu dari Instagram Dik Laila saat Jasmin memberi tahu. Tolong jangan salah paham karena Mas tidak mampu menahan rindu pada anak-anak. Mas sangat merindukan Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz. Mas tidak membenci, Adek percayalah. Tolong maafkan Mas. Maaf Mas lupa hal kecil seperti No ponsel keluarga dan No Adek. Maaf, maafkan Mas."
Tanpa sadar Aziz mengatakan segalanya. Dia juga tanpa sadar juga memanggil Khumaira dengan manis. Bahkan ia memanggil diri sendiri dengan sebutan Mas. Inilah dirinya jikalau panik pasti berkata spontan ingin menenangkan. Aziz akan selalu bicara spontanitas jikalau membuat orang sedih.
Khumaira menangis seraya tersenyum haru mendengar jawaban Aziz. Hatinya berbunga serta jantungnya berdegup kencang merasakan letupan kebahagiaan. Akhirnya ia mendengar suara lembut penuh kekhawatiran dan panggilan itu. Ya Allah ... Khumaira begitu bahagia sampai isakan haru terdengar keras.
"Aku rindu, Mas ... kami merindukan Mas sampai rasanya ingin menyerah. Anak-anak sangat merindukan Ayahnya dan aku juga sangat merindukan Suamiku. Ah maaf aku berbicara terlalu melantur karena ini. Mas tidak perlu berusaha mengingat yang terpenting berjuanglah sembuh untuk kami. Doaku menyertai Mas. Aku sangat sakit begitu khawatir mendengar Mas kecelakaan sampai separah itu. Tetapi, Alhamdulillah Mas Aziz selamat tanpa kendala. Sungguh demi Allah aku rindu, Mas," lirih Khumaira.
Aziz terdiam seribu bahasa mendengar perkataan Khumaira. Hati dan pikiran terpenuhi oleh setiap ungkapan hati mantannya. Detak jantung semakin menggila saat sang pemilik hati mengatakan rindu. Semua begitu membahagiakan untuk sosok rapuhnya. Ini terasa obat termanjur bagi Aziz ketika Syafa-nya begitu manis.
"Mas juga rindu, Adek."
Khumaira tersenyum mendengar jawaban Aziz walau singkat. Dia tahu Suaminya sedang berusaha menetralkan diri. Ia sangat bahagia mendengar suara Suaminya serta ungkapan rindu. Semoga saja kebahagiaan segera menyertai Khumaira dan Aziz.
"Bagaimana keadaan Adek? Gimana anak-anak? Bolehkah kita bicara sedikit lama? Ah Mas ingin video call sama anak-anak ganteng."
"Alhamdulillah saya sekarang baik-baik saja setelah mendengar suara, Mas. Iya kita akan bicara sedikit lama. Kata nanti, Mas."
"Alhamdulillah, apa tidak apa Mas begini? Dosa rasanya berbicara begitu dalam pada Kakak ipar. Mas seperti orang ketiga, maaf ya, Dek."
"
Lupakan itu, Mas. Boleh tanya?"
"Tanyakan saja."
"Apa hubungan Mas dengan, Jasmin? Apa cinta Mas sudah hilang? Kenapa seolah kalian begitu dekat? Apa sekarang sudah tidak ada cinta?"
Khumaira merasa gemas kenapa bisa berbicara posesif layaknya Istri. Memang masih Istri, tetapi Masnya tahunya sudah pisah. Kalau sudah begini dirinya terkesan menyakiti Mas Azzam. Itu pasti tanggapan Suaminya perihal keposesifan. Semoga saja Khumaira tidak melakukan kesalahan dengan membuat Aziz tambah bingung.
Aziz terdiam sepi mendengar nada cemburu serta nada pedih Khumaira. Tunggu kenapa mantanya begitu lucu saat merajuk begitu? Seperti Istri yang cemburu akibat Suami dekat dengan wanita lain. Lalu kenapa juga dia merasa begitu senang sekaligus pedih akan percakapan pelepas rindu. Aziz bukan orang yang suka menyakiti atau menikung.
"Kami tidak ada hubungan apa pun. Hanya biasa saja ya walau dekat, tapi sekadar teman. Apa pantas saya jawab semua pertanyaan itu dikala Mbak milik, Masku?"
"Alhamdulillah, sejatinya tidak. Tetapi, biarkan aku bertahan lebih lama jika menunggu. Aku ingin mendengar sekali saja tolong katakan. Jika tidak rasanya begitu pedih, Mas."
Khumaira ingin egois mendengar Aziz mengatakan cinta padanya. Jika kata itu keluar maka ia siap menunggu sampai kapan pun bahkan jika harus menunggu seumur hidup. Ini gila, tetapi inilah cintanya atas petunjuk-Nya serta atas nama Allah maka ia akan perjuangkan. Dia sangat mencintai Suaminya sanggatlah dalam tanpa tergores. Cinta semakin besar sampai Khumaira tidak bisa membendung cintanya pada Aziz.
Aziz terdiam mendengar jawaban Khumaira serat akan permohonan. Bahkan cintanya semakin besar tanpa bisa di jabarkan. Jika boleh jujur walaupun banyak kekecewaan setidaknya cinta tidak terhingga membalut luka. Jujur saja ia tidak akan bisa melupakan cinta atau mendua. Yang terpenting Aziz begitu mencintai Syafa-nya atas nama Allah.
"Maaf."
Satu kata menghancurkan hati Khumaira yang berusaha tegar. Detik itu juga ia langsung menangis tersedu-sedu. Ini salahnya kenapa tidak bicara terus terang. Lalu Suaminya jelas tidak akan mengatakan itu lantaran mengira sebagai Adik ipar. Khumaira tidak sanggup menahan diri sampai ia harus membekap mulutnya kencang supaya Faakhira tidak terbangun.
Tangisan mantan Istri sukses mengoyak hati Aziz. Sanubari berasa hancur akibat tangisan kian menyayat hati. Jika kata cinta mampu melunturkan air mata maka biarkan mengatakan dosa. Biarkan sekali ia katakan cinta pada kakak iparnya. Walau sejatinya Aziz tidak ingin mengungkap cinta pada wanita yang notabenenya adalah Kakak ipar.
"Jangan menangis, kasihan Dedek FaaFaa. Sshh, tenanglah jangan menangis. Ingin dengar bukan? Maka dengarkan!" Aziz berusaha menetralkan emosi pada dirinya.
"....." Khumaira terdiam sepi mendengar perkataan Aziz. Perlahan air mata serta isakan mulai surut akibat menunggu ungkapan rasa Aziz.
"Wahai cinta dengarkan aku berkata, inilah kebenaran yang terlarang. Sampai sekarang rasa itu masih ada. Cintaku masih utuh bahkan kian membuncah. Yakin atas nama Allah maka di situlah kamu akan merasakan. Wahai cinta dengarkan aku akan katakan isi hatiku. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Sangat rindu, sangat ingin bersama serta sangat gila. Mas sangat mencintai Adek sebening embun dan sangat mencintai Adek hingga akhir hayat. Cintaku, hatiku, nafasku serta semua hanya ada untukmu. Walau ku akui cintaku pada Allah dan Rasul-Nya lebih besar. Setidaknya untuk cinta terhadap manusia yang tidak memiliki ikatan darah yaitu Adek juga sanggatlah besar. Mas mencintai Adek sangat cinta selamanya!"
"Allahu Akbar, atas kebesaran-Mu ya Allah hamba ikhlas menunggu Suamiku pulang. Hamba ikhlas menerima takdir serta harapan pelangi. Ya Allah ya Tuhanku, ini penantian termanis dalam hidup. Jikalau Engkau memberiku waktu lebih lama agar bersatu dengan Suamiku, hamba ikhlas. Hamba bertawakal pada-Mu wahai zat Maha Cinta. Hamba sangat terharu terima kasih ya Allah. Hamba akan menunggu kepulangan Suamiku, ya Allah," batin Khumaira.
Aziz bernapas lega akhirnya Syafa-nya tidak menangis lagi. Walau ada tangisan setidaknya tahu itu tangisan haru. Senang rasanya saat ingat Istrinya dulu jika sudah ditenangkan akan mendekap erat. Andai dekat lagi ia dekap erat sampai tidak akan pernah lepas. Aziz rindu Syafa-nya yang selalu memberikan segala cinta.
"Mas, apa di sana hidup sehat? Tidak merokok bukan? Jangan begadang Lalau mengonsumsi kopi berlebih."
"Alhamdulillah, saya sehat, Dek. Wanitaku pernah bilang tidak boleh merokok karena bahaya. Tentu saja sampai sekarang tidak melakukan itu. Kalau kopi dan begadang, hehehe."
"Nakal sekali, awas kalu ketemu Adek kotak Mas sampai puas. Em, Mas."
"Ha-ha-ha, ampun jangan kotak cium saja sampai puas. Ups, Maaf salah bicara hehehe. Iya, Dek."
"Dasar Ayah nakal minta jewer. Kapan pulang?"
"Hehehe, maafkan Ayah ya, Umi. Pulang? Satu setengah tahun lagi, Dek. Kata Mr Douglas bisa pulang jika kontrak kerja setengah jalan. Mas sudah tiga kali izin pulang tidak diizinkan. Saat pulih dari cedera Mas izin pulang tertolak. Kedua saat perasaan tidak enak terus ke pikiran, Adek. Ketiga kemarin ingin ikut Mas Azzam, tapi tetap sama."
"Masih lama ya, Mas. Tetapi, tenang saja Adek akan setia menunggu kepulangan, Mas. Sabar ya ikuti saja prosedurnya."
Mereka pada akhirnya saling bicara melepas rindu yang terdalam. Mereka belum melakukan panggilan video call. Namun, Aziz dan Khumaira senang saling bicara tanpa hambatan. Mereka seperti pasangan yang lupa status. Walau begitu mereka begitu senang menikmati hari. Baik Aziz dan Syafa sangat senang bisa meluapkan rasa.
Hingga suara tangis Faakhira menangis tersedu. Tentu saja Khumaira langsung menggendong anaknya dan minta izin Aziz. Dia timang anaknya pekan karena tidak mau diam akhirnya ia susui. Dirinya jadi sangat bahagia akhirnya penantian itu segera berlalu walau harus menunggu satu tahun setengah lagi. Khumaira akan sabar menanti di mana Aziz pulang mendekap erat tubuhnya.
Aziz mengukir senyum haru mendengar Khumaira mengajak bicara Faakhira. Entah kenapa ia jadi ingin mendekap tubuh keponakannya yang lucu. Dia berharap saat ia pulang anak cantik itu berada dalam dekapannya. Aziz tidak sabar akan datangnya hari di mana kepulangan terjadi. Saat pulang itulah hari paling membosankan karena bertemu orang-orang tercinta.
Keduanya melanjutkan bicara dengan Faakhira sedikit mengganggu. Mereka begitu senang bisa memiliki waktu sangat lama. Namun, harus tertutup akibat ada seorang penganggu. Siapa lagi kalau bukan Jasmin yang ingin mengajak Aziz jalan.
"Mas buka pintu dulu, Dek. Sudah dulu ya salam sayang untuk anak-anakku tersayang. Salam cinta untuk, Dek Syafa dan salam sayang untuk Dedek FaaFaa. Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh."
"Enggeh, Mas. Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Aziz putus sambungan setelah itu mengirim pesan tanpa mau membuka pintu. Dia lebih baik tidur dari pada meladeni gadis gila. Toh dirinya sangat senang bisa menghabiskan waktu bersama Istrinya walau dalam panggilan suara. Aziz tersenyum saja ketika Jasmin sudah pergi selebihnya aman. Kini Ayah tiga anak ini langsung tidur seraya membayangkan Syafa-nya.
Seberang sana Khumaira sepertinya tahu siapa yang ganggu. Dia tidak mau Suaminya terlalu dekat pada gadis rubah. Padahal masih kecil kenapa bisa memiliki sikap licik? Dari pada memikirkan itu ia putuskan untuk makan roti. Kebetulan jahitan hari ini tidak terlalu ramai alhasil Khumaira ada waktu senggang di rumah. Sepertinya hari ini akan jadi pelangi pasalnya sudah bisa bicara pada Aziz lalu mendengar keromantisan sang Suami.
****////~``\\***
Maaf ya belum aku edit, koreksi maka dari itu jika ada typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan harap maklum.
Salam cinta wahai READER yang baper baca chapter ini.
Asli ini tembus 4 ribu kata.
Puas nggak kalian?
Harap puas ya walau capek bacanya. Ha-ha-ha!
Salam cinta Rose!