Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Cekcok!



At Mayak Tonatan Ponorogo Jawa Timur, 09.30 AM!


2 Minggu setelah kepergian Ummi Kulsum.


Zainal dan Aisyah memandang wajah damai kedua anaknya yang telah lelap. Keduanya telah mendapat informasi bahwa Zaviyar tidak ada dari daftar anak yang ada di Iraq. Oleh sebab itu Zainal dan Aisyah memutuskan untuk mengurus surat hak asuh dan tentunya akte kelahiran.


Berbagai pertimbangan telah disepakati akan memberikan hak penuh untuk Zaviyar. Satu Minggu setelah wafatnya Ummi, Zainal dan Aisyah telah bermusyawarah dengan anggota keluarga mengenai Zaviyar.


Awalnya mereka tampak ragu lantaran ini menyangkut anak hilang atau diculik di Iraq. Setelah menunggu satu Minggu akhirnya mereka bersepakat bahwa Zaviyar berhak menjadi anggota keluarga.


Masih terekam jelas percakapan tadi pagi bersama anggota keluarga. Mereka berembuk memberi nama yang pantas untuk Zaviyar.


"Siapa nama yang cocok untuk cucu ku, Le!" Tanya Abah Mad seraya mengusap lembut rambut lebat Zaviyar.


Aisyah dan Zainal saling pandang kemudian kompak menjawab, "Muhammad Afraz Sakhi Zaviyar."


"Nama yang bagus Mbak suka. Lalu apa tetap di panggil Zavi?" Nimbrung Ning Zainab putri sulung Abah Mad dan almarhumah Ummi Kulsum.


"Afraz, kami ingin memberikan panggilan baru serta kehidupan baru untuk, Tole Zaviyar," pungkas Zainal.


"Semua tentang Zaviyar di masa lalu akan tergantikan menjadi kehidupan baru bersama kita. Tole Afraz hanya milik kami dan untuk mereka yaitu orang tua yang tega pada anakku ini biarkan menjadi kenangan. Kami berterima kasih setidaknya orang tua nya telah merawat Tole Afraz sampai sekarang," tutur Aisyah.


"Aku tidak menyangka ada orang tua yang tega membuang anak secerdas Tole Zaviyar apa pun keadaannya. Apa tidak bisa dititipkan ke pantai asuhan, sungguh tidak bermoral. Aku penasaran dengan orang tuanya yang tega berbuat hina," timpal Ning Ulfa putri kedua Abah Mad dan almarhumah Ummi Kulsum.


"Mbak, jika dilihat dari sudut pandang kita memang orang tua Tole Zaviyar salah besar. Namun, apa kita tahu keadaan yang sebenarnya pada mereka? Kita tidak boleh menghakimi sebelum tahu keadaan sebenarnya. Allah itu Maha Agung lagi Maha Bijaksana pastilah tahu hamba-hamba-Nya yang berbuat tercela. Dari fisik Rohman yakin bahwa mereka teramat menyayangi, Tole Zaviyar. Lihat batita ini memiliki badan sehat, gembul dan tentunya sangat terawat. Apa ada anak teraniaya memiliki kondisi seperti, Tole Zaviyar?" Tegas Rohman orang pertama yang bersikukuh bahwa Zaviyar diculik.


Rohman anak bungsu dari empat bersaudara terbilang tidak mau mengambil bagian mengajar di pesantren. Dia memilih tinggal di Jakarta menjadi pekerja kantoran. Meski demikian Rohman juga di sana juga sebagai guru Ngaji di kompleks perumahan.


Semua orang menatap sembari mencerna setiap kata Rohman. Apa yang dikatakan si bungsu benar adanya. Namun, mereka heran tidak ada informasi Zaviyar anak hilang atau semacamnya.


"Bisa jadi, tapi tidak ada orang tua kehilangan anak bernama Zaviyar. Bahkan sahabatku itu telah mencari berbagai sumber," tandas Zainal.


"Ada yang aneh, apa mungkin di sana ada konspirasi? Kasus anak ini begitu runyam sampai tidak bisa dipecahkan. Yang jelas sekarang Tole Zaviyar telah menjadi milik kalian. Cepat urus surat hak asuh anak ini, Mas sebelum terlambat!" Tegas Rohman.


"Kami akan segera menyerahkan semua data penting untuk mengurus hak asuh untuk, Tole Afraz," sahut Zainal.


"Bagus kalau sudah dipersiapkan. Ngomong-ngomong, kalung dan gelang Tole Zaviyar akan kalian kemana, 'kan?" Tanya Rohman.


"Kami akan simpan dan jika nanti Tole Afraz remaja akan kami serahkan untuk di simpan," terang Aisyah.


"Semua telah jelas, sekarang Tole Zaviyar adalah tanggung jawab kalian. Ingat jangan sampai kalian sia-siakan kesempatan yang Allah berikan. Kita mendapat rezeki tidak terkira dengan kehadirannya. Memang Tole Zaviyar hadir tidak terduga lantaran Allah sayang pada kita. Ummi telah tiada dan Allah kirimkan Tole Zaviyar. Berikan pendidikan agama dan formal setinggi mungkin. Jadikan Tole Zaviyar sukses dunia akhirat. Ingat, jika kelak sudah waktunya jujurlah pada Tole Zaviyar yang sebenarnya. Satu lagi jangan lupa pendidikan anak-anak kalian juga di masa depan," pesan Abah Mad.


"Enggeh, Bah," lirih Zainal dan Aisyah.


Mengingat percakapan serius tadi pagi membuat Aisyah bernapas lega. Setidaknya sekarang Zaviyar telah diterima baik bahkan Emran sangat senang. Alhamdulillah, tinggal menunggu Zaviyar benar-benar menjadi milik Aisyah dan Zainal seutuhnya.


Sedangkan Zainal termenung memikirkan kata perkata yang dilontarkan Rohman. Setelah menyerahkan data tadi siang antah kenapa jadi begini. Zainal takut jika dirinya memisahkan anak dari orang tua.


"Mas," panggil Aisyah.


"Dalem, Dek," sahut Zainal.


"Apa yang sedang Mas pikir, 'kan? Apa Mas teringat ucapan Gus Rohman?"


"Iya, Dik. Kalau dipikir lebih dalam yang dikatakan Tole Rohman benar. Apa kita ke Iraq lagi untuk menyelidiki kasus Tole Afraz agar tidak terbayang seumur hidup?"


"Apa yang Mas pikirkan sama dengan apa yang Adek pikir. Namun, kita mau mencari orang tua Tole Afraz ke mana?"


"Di kota tempat terakhir kita temukan saja tidak ditemukan keberadaan orang tua, Tole Afraz. Bahkan polisi juga telah mengkonfirmasi bahwa Tole Zaviyar benar-benar anak yang tidak diinginkan. Mereka tega membuang anak malang itu. Bukan apa-apa, Mas berbicara begini lantaran Adek berpikir realistis. Jika kita lanjutkan kasus ini butuh biaya besar, Mas. Kita tidak memiliki uang sebanyak itu, Mas ....


... sekali lagi maafkan Adek bersikap kekanak-kanakan menghadapi ini. Jujur saja Adek sudah terlanjur sayang pada, Tole Afraz. Adek tidak rela jika kita melanjutkan semua maka Tole Afraz kembali ke pada mereka. Dengan semua informasi serta banyak hal mengenai Tole Afraz sepertinya keputusan ini memang benar. Adek memang egois, tetapi keegoisan ini beralasan ....


... Adem tidak mau jika Tole Afraz kembali kepada mereka maka hal buruk kembali terjadi. Mungkin saja benar adanya Tole Afraz di buang karena tidak diinginkan atau memang masalah perekonomian. Saat Tole Afraz kembali bagaimana jika terjadi hal buruk? Bagaimana jika Tole Afraz malah di jual lalu berakhir tiada? Tidak! Adek tidak akan meneruskan kasus ini maka jangan lakukan hal lebih. Adek mohon perjuangkan hak Tole Afraz dan jangan kembalikan pada orang tuanya."


"...."


Zainal tercengang mendengar perkataan Aisyah serat akan emosi. Sejujurnya dia juga sependapat dengan pemikiran Istrinya. Namun, di sisi hati yang terdalam Zainal ingin melanjutkan kasus Zaviyar.


Apa salahnya jika Zainal ingin mengembalikan Zaviyar pada orang tua kandung?


Tentu jawabannya tidak salah, tetapi hati dan pikiran mengatakan salah. Zainal tidak mau berpisah dengan Zaviyar serta akan memperjuangkan hak. Semoga saja dengan keputusan besar ini tidak menyakiti hati orang lain.


Sementara Aisyah harap cemas memikirkan keputusan Zainal. Sebenarnya dia tidak ingin bersikap seegois ini, tetapi demi kebaikan Zaviyar rela melakukan apa pun. Walau berdosa memisahkan anak dari orang tua kandung, setidaknya itu demi kebaikan.


Jika orang tua kandung tidak menginginkan kehadiran Zaviyar lalu untuk apa kasus diteruskan?


"Mas," lirih Aisyah takut jikalau Zainal menolak.


"Apa pun yang terjadi Tole Afraz tetap menjadi milik kita! Jangan takut Mas tidak akan meneruskan kasus ini, Dek!" Tegas Zainal.


"Allahu Akbar, terima kasih Mas atas semuanya. Adek senang sekali akhirnya tidak ada orang yang akan memisahkan kita dari, Tole Afraz."


"...."


"Apa yang Adek ucapkan salah sehingga Mas tampak diam?"


"Sebenarnya apa yang kita pikirkan itu salah besar, Dek. Bisa jadi apa yang kita pikir benar di luar sana tepatnya orang tua kandung, Tole Afraz tidak bersikap demikian. Namun, apa pun yang terjadi Tole Afraz akan selalu menjadi putra kita itu sudah menjadi takdir Sang Khaliq."


Hingga percakapan mereka berhenti mendengar panggilan dari Adik ipar meminta agar segera menghadap Abah. Zainal dan Aisyah akhirnya memutuskan untuk berlalu sebelum itu memastikan anak-anak telah lelap.


Semoga saja keputusan besar ini di suatu hari nanti tidak menjadi bumerang. Semoga saja suatu hari nanti mampu berkata jujur bahwa Tole Zaviyar bukan anak kandung mereka.


****


At Baghdad Iraq, 09.30 PM!


Keadaan terasa mencekam mana kala kedua pria bertubuh tinggi saling bertatap tajam. Tidak ada ucapan hanya tatapan tajam menghiasi pertemuan keduanya setelah setengah bulan.


SH menatap jengah Steve karena tidak mengeluarkan suara setelah setengah jam di sini. Dia bersedia datang padahal di dunia hitam sedangĀ  mengalami kisruh. SH tidak mau berlama-lama bisa dipastikan besok atau malam nanti pulang ke Hongkong.


Steve ingin mencari tahu keberadaan Zaviyar lalu ingin mengembalikan pada Aziz. Setelah setengah jam bungkam dia akan memulai pembicaraan serius. Steve menghembuskan napas panjang sebelum memulai pembicaraan.


"Di mana, Zaviyar?" Tanya Steve tanpa tedeng aling-aling.


"Untuk apa menanyakan keberadaan, Zaviyar?" Tanya balik SH tanpa menjawab pertanyaan Steve.


"Jawab pertanyaan, 'ku!"


"Ada di tempat yang aman bersama orang baik, tidak seperti kamu!"


"Di mana? Katakan padaku, SH!"


"Tidak akan kuberi tahu."


"Kamu harus jawab, di mana dia!"


"Ada di tempat yang aman."


Steve marah tanpa segan langsung menggebrak meja. Dia tidak tahu berhadapan dengan siapa. Steve mungkin tetap menganggap SH patuh lantaran hutang Budi.


Sementara SH tersenyum sinis pada Steve akibat gebrakan meja. Tanpa menggubris kemarahan sahabatnya ia malah menyulut rokok. Tanpa beban seolah SH tidak peduli padahal sangat peduli.


"Kamu harus mengembalikan Zaviyar secepatnya."


"Alasannya kenapa? Bukannya kamu memutuskan untuk membuang Zaviyar tanpa peduli padanya?"


"Aku salah paham, ternyata Zaviyar adalah anak kandung sahabatku, Aziz. Sekarang aku merasa sangat bersalah atas kejahatan terhadap anaknya."


"Nasi telah menjadi bubur, Steve. Aku sudah melakukan banyak hal seperti perintah mu tanpa kecuali. Apa kamu tahu aku telah menghilangkan segala jejak Zaviyar dari Iraq. Usahaku terasa sia-sia selama ini. Namun, dengan mudah kamu hancurkan segala usaha kami. Kamu pikir ini mudah? Aku tidak akan mengembalikan Zaviyar atau pun memberi tahu keberadaannya!"


"Sayang sekali tidak peduli, yang aku pedulikan hanya kembalinya Zaviyar secepatnya. Atau aku akan membuat hidupmu hancur!"


"Benar-benar tidak punya otak. Ingat Steve aku adalah bos gangster, jadi semua ancaman tiada berarti. Berani kamu berbuat fatal aku tidak segan mem***hmu secara sadis! Tidak peduli aku pernah memiliki hutang Budi, tetapi ingatlah hutang Budi terbayar lunas dengan menyingkirkan, Zaviyar!"


"****."


Steve merasa Sh begitu cerdas melawan serta bisa menghancurkan dengan telak. Mau melawan pastinya tidak mampu. Kalau sudah begini Steve yang seharusnya mengalah.


Sedangkan SH memutuskan untuk berlalu untuk membantu rekannya. Urusan Zaviyar telah usai kini saatnya memperbaiki diri. SH janji setelah pertempuran ini akan bertaubat.


"Mau kemana, SH? Masalah belum selesai!"


"Pekerjaan telah usai untuk apa tetap tinggal?"


"Kamu harus membawa Zaviyar, SH."


"Tidak. Jika tetap memaksa aku akan membunuhmu!"


Setelah mengatakan itu SH benar-benar pergi, sementara Sementara Steve terdiam bisu.