
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Chap ini mengandung bawang merah sekampung. Hati-hati jika punya waktu siapkan tisu biar hidung kalian tidak mampet. Eh maksud Rose ingus kalian yang bertebaran....
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......~'***đź’”***'~.......
Di lain sisi Khumaira yang sedang mengupas mangga untuk Mumtaaz dan Faakhira berhenti seketika. Tangannya tergores pisau tajam membuatnya berdarah. Dia tersentak sekaligus merasa sangat khawatir tiba-tiba pikiran tertuju pada Zaviyar. Antah kenapa Khumaira punya firasat bahwa anak bungsu dalam keadaan kurang baik.
Di sini dalam keadaan shock berat Khumaira juga merasa jika Ridwan juga mengalami hal sama. Dia antah kenapa juga merasa dada begitu sesak dan berakhir menangis. Sampai ia berada dalam dekapan kedua anaknya. Bahkan Mumtaaz dengan sayang menghapus air matanya. Alhasil Khumaira langsung diam sembari mendekap Faakhira dan Mumtaaz.
Melihat Umi menangis membuat Mumtaaz dan Faakhira diam. Mereka melihat Uminya dalam sampai hal mengejutkan terjadi. Air mata Uminya mengucur deras alhasil keduanya panik. Antahlah yang jelas melihat air mata dari seorang paling dicintai sekaligus dihormati Mumtaaz dan Faakhira merasa apa yang dirasakan Uminya.
Namun, saat mendekap Umi tiba-tiba Mumtaaz dan Faakhira merasa bahwa musibah terjadi. Antah kenapa mereka kepikiran tentang Paman-Bibi serta Zaviyar. Mereka juga kepikiran Kakak gede tidak kunjung ada kabar. Mumtaaz dan Faakhira hanya bisa mendekap tanpa bisa mengatakan apa-apa sebelum Umi tenang.
"Nduk, ada apa?" Panik Mahira melihat Khumaira menangis bersama anak-anak.
"Ah, tidak Mbak. Saya hanya kepikiran Tole," sahut Khumaira.
"Saya juga kepikiran Tole, do'akan saja semoga Tole baik-baik saja, Nduk," tutur Mahira.
"Aamiin, Mbak. Terima kasih, Mbak," lirih Khumaira.
"Sama-sama, Nduk. Astaghfirullah, jarimu terluka, Nduk," panik Mahira melihat jari telunjuk Khumaira terus mengeluarkan darah.
Mendengar perkataan Budenya sontak Mumtaaz dan Faakhira langsung menatap wajah Umi. Detik berikutnya tangan kecil Mumtaaz meraih tangan Uminya. Dengan penuh sayang Kakak cilik melakukan hal yang pernah dipelajari dari Ayahnya. Mumtaaz mengulum jari telunjuk Uminya baru setelah itu mengusap jari ke bawah bajunya.
Sedangkan Faakhira dengan penuh cinta juga melakukan hal manis. Tangan mungilnya mengusap air mata Uminya baru setelah itu meminta tolong Budenya mengambil plaster. Dia tidak mungkin meminta pada yang lain kecuali Budenya. Selagi menunggu Faakhira menggenggam tangan Uminya yang tidak terluka.
"Kalian ini, Umi tidak apa-apa, sungguh."
"Apa yang tidak apa-apa, Ini? Kakak tahu ini sakit maka dari itu Umi menangis."
"Benar kata Kakak, Umi jangan sok kuat seolah tidak punya keluhan. Kami ada untuk Umi."
"Subhanallah, anak-anak Umi memang luar biasa. Baiklah ini sakit jadi bagaimana?"
"Kami akan membalut luka Umi, kami akan selalu ada di samping, Umi."
"Selamanya maka dari itu jangan sungkan karena kami begitu mencintai Umi karena Allah."
"Allahu Akbar, kalian memang anak Shaleh dan Shalihah. Umi juga sangat mencintai kalian karena Allah."
"Ehm, romantis sekali anak-anak dan Umi tersayang. Baiklah ini plaster nya, Nduk,"
"Hehehe, terima kasih, Budhe."
"Sama-sama, Nduk," sahut Mahira seraya mencium kening Faakhira.
Faakhira tentu saja meminta bantuan Mumtaaz untuk memegang tangan Umi. Setelah di bantu ia pakaikan plaster di jari telunjuk Uminya. Baru setelah itu ia kecup luka Uminya seraya tersenyum tipis. Jujur saja antah kenapa Faakhira berusaha terus menerus menghibur Umi, padahal hati gelisah memikirkan Adik, Kakak, Paman dan Bibinya.
Sedangkan Mumtaaz hanya diam seraya memikirkan Zaviyar, Paman dan Bibinya. Lebih lagi ia memikirkan Kakaknya yang sedang sakit. Dia sejatinya begitu lemah antah kenapa begitu ingin menangis. Hanya saja demi Uminya, Mumtaaz berusaha tegar seolah kuat.
Lain sisi Ghassan, Jadda dan Uzza tersentak akibat lelah menangis memutuskan tidur. Mereka terkejut sewaktu tiba-tiba menjerit sekeras-kerasnya memanggil kedua orang tuanya. Jujur saja mereka begitu shock sekaligus khawatir pasalnya sudah jam segini Kakak sepupu sekaligus kedua orang tuanya belum pulang.
Di tambah cuaca mendung menambah kesan memilukan. Dan antah kenapa jantung begitu sesak dan hati teremas kuat. Ghassan, Jadda dan Uzza terus menangis. Ketiganya menangis sampai akhirnya mereka ditenangkan oleh sanak keluarga. Yang jelas mereka begitu terluka memiliki firasat sangat buruk.
Sanak family adalah Bibi Hazza, Bibi Afareen berserta Paman Azmi. Mereka terus menangis tersedu-sedu meluapkan emosi. Ketiganya histeris antah karena apa merasa ke-dua orang tuanya telah pergi. Maka dari itu Ghassan, Jadda dan Uzza hanya bisa meronta-ronta menginginkan kedatangan ke-dua orang tuanya.
Semua begitu menyakitkan sewaktu Hazza, Azmi dan Afareen mendengar tangisan anak-anak Bibah dan Khalid. Mereka sontak menenangkan mereka sedangkan yang lain ada di Kamar Nenek. Sebagian juga ada di klinik terdekat mengantar Ridwan.
"Le, Nduk ... ada apa?" Tanya Hazza begitu kalut.
"Huhuhu, Bibi huwaaaa," tangis Uzza.
"Tenanglah, ada apa katakan pada, Paman," tutur Azmi berusaha tenang.
"Umi-Abi ...." Tangis Ghassan, Uzza dan Jadda.
"Astaghfirullah astaghfirullahal'adzim," istighfar Hazza dan Azmi lantaran punya firasat buruk terhadap Mbak serta Kakak ipar.
"Tenanglah mereka dalam perjalanan pulang, Le-Nduk. Jangan khawatir ya mereka segera datang," hibur Hazza.
"Huhuhuhu huwaaaaaa huhuhuhu Umi-Abi," histeris ketiga anak manis berhasil membuat mereka berkumpul.
"Tenanglah, Nak," pinta Azura langsung mendekap ketiga keponakannya.
Sebagian keluarga kecil Abah (para wanita) berusaha menenangkan ketiga anak Khalid dan Bibah. Sedangkan Abah dan Ummi merasa jantungnya begitu sesak. Bahkan tiba-tiba tubuh mereka luruh diiringi air mata berlinang deras. Antah kenapa Abah dan Ummi merasa firasat buruk mengenai Bibah, Khalid dan Zaviyar.
Karena merasa panik Abah dan Ummi saling mendekap sembari mengucap istighfar berulang kali. Keduanya merasa kehilangan teramat dalam apa lagi sewaktu mendengar tangisan Ghassan, Jadda dan Uzza. Semua terasa menyakitkan menyebabkan air mata terus berlinang deras. Abah dan Ummi merasa jika Musibah besar menimpa keluarga besarnya.
"Abah, sebenarnya apa yang terjadi?" Tangis Ummi Safira.
"Abah, juga kurang tahu Ummi. Berdoa saja semoga Allah senantiasa memberikan perlindungan kepada hamba-hamba-Nya. Semoga Nduk Bibah, Tole Zavi dan Nak Khalid selalu dalam perlindungan Allah Aamiin." Abah Hasyim berusaha tenang walau nyatanya air mata mengucur deras.
"Nduk Bibah, Nak Khalid dan Tole Zavi tidak kenapa-napa bukan, Abah? Ya Allah, kenapa rasanya begitu sesak? Atas Rahmat dan kuasa-Mu hamba memohon agar Engkau berkenan memberikan perlindungan pada anak, menantu dan cucu hamba. Tolong berikan perlindungan kepada anak hamba yaa Rabb," pinta Ummi Safira.
"Aamiin yaa Rabbil'alamin, semoga saja Allah senantiasa berkenan memberikan perlindungan kepada anak, menantu dan cucu kita, Ummi," sahut Abah.
"Abah, huhuhuhu," tangis Ummi Safira semakin pecah.
"Sabar, Ummi. Tunggu sebentar lagi pasti mereka akan datang kita terus berdoa jangan putus berdoa dan selalu memohon kepada Allah SWT," hibur Abah Hasyim berusaha membuat Ummi tenang.
Ummi Safira berusaha mengikuti saran Abah Hasyim. Dia mendekap erat Suaminya sembari terus berdoa memohon segala perlindungan untuk anak, menantu dan dua cucunya. Ia terus berharap semoga saja Bibah, Khalid, Zavi Dan Ridwan segera pulang. Sungguh Ummi Safira menjadi gundah tidak terkendali.
Untuk Abah Hasyim berusaha tenang walau nyatanya begitu panik. Beliau senantiasa memohon kepada Allah atas segala harapan. Doa harapan terus terucap demi anak, menantu dan dua cucunya. Sungguh Abah sangatlah panik walau begitu apik menyembunyikan semua.
.......***.......
Sedangkan di rumah sakit Aziz, Nakhwan, Azzam dan Najah merasa ada yang janggal. Semua orang terutama keluarga besar Abah Hasyim merasa ada musibah terjadi. Mereka terus kepikiran tentang Bibah, Khalid dan Zaviyar.
Apa lagi Aziz terus kepikiran tentang Zaviyar. Antahlah yang jelas ia terus memikirkan anak bungsunya. Dia juga terus memohon kepada Allah supaya Allah senantiasa melindungi anak, Adik kandung dan iparnya. Aziz tidak kuasa menahan beban sehingga air mata tiba-tiba berlinang deras.
Aziz yang tidak tahan menumpahkan air mata di bahu lebar Mas Nakhwan. Dia dekap erat Mas sulung sebagai bentuk rasa terlukanya. Ia padahal tinggal menunggu kesadaran anak sulungnya, tetapi malah berakhir begini. Padahal Aziz juga sudah mendengar bahwa anaknya tidak memiliki penyakit jantung atau penyakit berbahaya lainnya.
"Le, tenanglah jangan menangis, sekarang katakan kenapa? Tolong jangan menangis, Le," pinta Nakhwan.
"Tole Ridwan, sudah baik-baik saja lalu kenapa menangis, Le? Mas mohon jangan begini. Malu di lihat orang banyak, Le," tutur Azzam.
"Mas, tolong jangan membuat kami panik. Katakan ada apa?" Tandas Najah.
"Nduk Bibah, Mas Khalid dan Tole Zavi ku. Huhuhu astaghfirullah astaghfirullahal'adzim yaa Allah, huhuhuhu huhuhuhu," tangis Aziz mengucap tiga orang disayangi.
"Mereka akan segera pulang dan mereka akan tiba ba'da, Dzuhur," hibur Nakhwan berusaha menghalau degup jantung menyakitkan.
"Jangan khawatir Le percayalah mereka akan segera tiba di rumah. Jangan sedih mereka akan tiba dengan selamat," tutur Azzam seraya membingkai rahang Aziz dan tanpa disadari dirinya juga terluka.
"Huhuhuhu," tangis Aziz.
"Mas, ya Allah," lirih Najah.
Di dalam ruang IGD tiba-tiba Ridwan bangun. Dia bergetar hebat merasakan hawa negatif sekaligus positif. Sampai ia melihat makhluk tidak kasat mata ada di ruangan menyebabkan histeris. Ridwan berusaha tenang l, tetapi begitu shock akibat melihat penampakan makhluk halus.
Mendengar suara Ridwan tiba-tiba berteriak tentu mereka langsung khawatir. Semuanya langsung bergegas menghampiri Kakak gede terus menerus berteriak. Mereka melihat anak tampan itu meringkuk seraya menutup mata.
Dengan segera Aziz dan Azzam mendekap Ridwan berusaha membuat ketenangan. Namun, yang mereka dengar sungguh luar biasa. Mereka memang bisa merasakan hawa Mistis, tetapi tidak sampai separah ini. Tiba-tiba Aziz ingat tepatnya Ridwan belum genap tiga tahun tepatnya Azzam meninggal dulu anaknya begini.
Lalau kenapa bisa keistimewaan itu kembali?
Azzam berusaha menenagkan anaknya dengan membacakan Al-fatihah, ayat kursi,tiga surah terakhir Al-Qur'an dan membaca lagi ayat kursi lalu meniupkan di ubun-ubun Anaknya. Dan benar saja Ridwan tenang lalu menatap ke pojok ruangan dengan tatapan sulit di artikan.
"Bibi dan Paman kenapa ada di sini, Ayah-Abi?" Tanya Ridwan lantaran melihat Paman dan Bibinya ada di ruangan ini.
"Maksudnya apa, Le?" Tanya Aziz bingung.
"Mereka tidak kemari, Nak. Memang di mana mereka, Le?" Tutur Azzam mulai panik
"Kalian tidak percaya? Pakpoh, mereka ada di sana. Ayah dan Abi mereka ada di sini bahkan menggunakan pakaian tadi. Paman dan Bibi kemari kenapa malah di pinggiran?" Tutur Ridwan.
Bulu kuduk mereka langsung berdiri mendengar pengakuan Ridwan. Dengan tenang Aziz berusaha tersenyum kemudian izin keluar ruangan. Dia dengan hati-hati menelepon Adiknya, tetapi tidak kunjung ditemukan. Sampai Aziz memutuskan ke balkon dan tiba-tiba hujan deras
Karena tidak mendapat respons baik Bibah dan Khalid, Aziz memutuskan melacak keberadaan. Saat tahu posisi mereka ia menyengit bingung lantaran Adiknya ada di hutan. Bukannya mereka tiba satu jam lalu? Karena panik Aziz segera menghubungi polisi untuk melacak atau melihat kondisi Adiknya.
Najah membisu sewaktu Aziz menelepon polisi. Dia diam seribu bahasa antah kenapa merasa firasat buruk. Ia yang tidak tahu apa-apa memilih bungkam ketimbang parno. Najah hanya bisa tersenyum sewaktu Aziz menepuk pundaknya.
Di dalam ruangan semua orang diam menggigil. Jujur saja perkataan Ridwan terus terngiang-ngiang membuat siapa saja merinding. Jelas di sini tidak ada Bibah dan Khalid. Lalu siapa yang dilihat Ridwan?
"Paman dan Bibi tetap tidak mau mendekat, sok malu-malu," kekeh Ridwan.
"Tole, coba ucap istighfar dan ayat kursi berulang kali," perintah Azzam.
"Kenapa, Abi? Bukannya mereka telah pergi? Lalu untuk apa Kakak mengucap semua?" Tanya Ridwan bingung.
"Turuti perintah Abimu, Le!" Tegas Nakhwan.
"Baiklah," final Ridwan langsung mengucap istighfar dan ayat kursi sebanyak mungkin.
"Bagaimana sekarang?" Tanya Azzam setelah Ridwan cukup banyak membaca ayat kursi dan istighfar banyak kali.
"Bibi dan Paman pamitan pergi. Mereka tersenyum lalu menyampaikan salam kepada semua orang," respons Ridwan seraya tersenyum seolah belum tahu jika Bibah dan Khalid memang tidak ada di sini.
"...." Semua diam membisu.
Aziz dan yang lainnya membisu sampai beberapa menit. Mereka bergetar takut terlebih Aziz merasa Dejavu atas semua ini. Ayah empat anak ini ingat 11 tahun silam sewaktu Ridwan bilang begitu bedanya dengan tokoh Abi. Sampai suara ponsel membuat pikiran kacau Aziz buyar.
Mendengar telepon Aziz bunyi mereka menatap intimidasi. Semua orang yang ada di ruangan ini melihat dalam percakapan Aziz bersama orang asing. Sebenarnya siapa yang menelepon Aziz sampai berekspresi begitu?
Lain sisi para polisi menyelidiki apa yang terjadi. Saat ada warga asing menelepon lalu memberitahu ada yang janggal di hutan, sontak mereka memutuskan datang ke lokasi. Mereka sempat terkejut sewaktu jalan menjadi licin perkiraan 10 meter.
Mereka melacak kejanggalan lalu menelepon dan benar adanya lokasi ada di sini. Detik berikutnya mata mereka memincing melihat ada kejanggalan dan tanpa buang waktu mereka menelepon ambulance.
Baru setelah itu mereka bertiga turun hati-hati ke lereng hutan. Degup jantung mereka terasa menyakitkan membuat merinding. Mereka tidak kuasa menahan diri akibat hujan turun. Dan mereka bersyukur sampai juga di dasar.
Karena hujan lebat membuat pandangan kabur. Tetapi, mereka terus berusaha mencari hingga tubuh mereka terpaku melihat mobil terbalik tanpa kebakaran.
Saat mencari lebih jauh mereka melihat dua orang tergeletak. Mereka spontan memakai sarung tangan untuk mengecek keadaan korban. Mereka bergetar hebat lantaran kedua korban telah tiada.
Mereka dengan tangan bergetar menelepon nomer korban dan berbunyi. Karena tidak mungkin menangani sendiri salah satu polisi meminta bantuan lalu menutup sementara area kecelakaan.
"Innalilahi wa innailaihi raji'un," ucap mereka.
Baru setelah itu salah satu dari mereka menghubungi keluarga korban yang melapor tadi. Dia memberi tahu semua dan menyatakan korban telah tiada. Setelah memberi tahu baru menutup panggilan.
Sedangkan Aziz membulat sempurna dengan tubuh bergetar hebat. Dia membekap mulut kuat dan air matanya mengalir deras. Ia hanya bisa menangis dalam diam sampai semua terasa menyakitkan. Mungkin dulu akibat beberapa kali mengalami kecelakaan sekaligus penyakit mematikan membuat Aziz pingsan.
Melihat Aziz pingsan serempak membuat semua orang panik. Salah satu dari mereka langsung memanggil Dokter. Dan ponsel mahal itu di singkirkan Najah. Sungguh mereka sangat terkejut atas semua yang terjadi.
Ridwan hanya diam lalu merasa bingung. Dia yang tadi tidur di brankar digantikan Ayahnya. Ia hanya bisa menatap sembari menerka-nerka apa yang terjadi. Sebenarnya apa yang terjadi pada, Ayah sampai begitu?
...Cut....
...Maaf ya huhuhu aku merasa remuk. Jantungku di remas huhuhu....
...Kakak Ridwan bisa melihat hal tidak kasat mata sewaktu Abi dinyatakan meninggal dulu. Di tutup penglihatannya oleh Abah. Singkat cerita 11 tahun kemudian tragedi meninggalnya Paman dan Bibinya serta hilangnya Zaviyar membuat Kakak Ridwan memiliki keistimewaan sampai punya anak....
...So sad, sumpah huhuhuhu....
...Maaf belum tak koreksi jadi kalau banyak kesalahan dalam penulisan harap maklum....
...Salam cinta Rose ...
...29_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....