Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
Kesedihan!



...Assalamu'alaikum warahmatullahi Wabarakatuh....


...Apa kabar sayangku semuanya?...


...Semoga kalian semua dalam keadaan sehat selalu dan senantiasa di rahmati oleh Allah, Aamiin....


...Maaf ya Rose baru comeback, soalnya sedang mengistirahatkan diri. Sungguh, kalian sangat kurindukan selama masa Hiatus....


...Tentu selama ini Rose sangat jenuh dan terlalu lama tidak menulis membuat cerita terbengkalai....


...Semoga di tahun baru ini benar-benar comeback bisa menghibur kalian dengan karya amburadul selama ini Rose tulis....


...Baiklah sebelum kita buka season baru mari awali dengan membaca Bismillah....


...بِسْــــــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ...


...Bismillahirrahmanirrahim....


...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....


...........


...AZIZ POV (Point of View)...


Bagai langit mendung tanpa kecerahan.


Bagai biola tak berdawai.


Bagai kuntum bunga yang di campakkan.


Bagai rembulan yang kelam tanpa sinar mentari.


Itulah keadaan ku sekarang.


Miris tak terelakkan.


Sungguh malang nasibku kurang beruntung.


Tak mampu bertahan.


Ya Allah ....


Kenapa takdir kami begitu mengenaskan?


Kenapa Engkau senantiasa memberi cobaan tiada henti?


Kapan berakhir cobaan sili berganti di ganti kebahagiaan tiada henti?


Ya Allah ....


Kami hanya insan yang lemah tak kuasa menahan duka.


Tiada air mata yang mampu berlinang akibat selalu sering menangis.


Sungguh kami hanya hamba yang lemah senantiasa mengeluh pada Sang Pencipta.


Tak mampu rasanya bertahan karena ini begitu miris.


Dunia itu hanya fatamorgana yang sangat indah, tetapi juga menyedihkan.


Rembulan bersinar sangat indah membuat orang berdecak kagum.


Walau pun meratapi nasib jika Tuhan berkehendak tak ada gunanya.


Begitu pula dengan takdir kami yang sangat indah tak mungkin bisa kembali.


Jika ada kesempatan aku hanya ingin memutar waktu di mana menghentikan tragedi terjadi.


Namun, semua tidak akan pernah terjadi karena Tuhan telah menulis takdir kami begini.


Tak ada perjuangan yang berakhir sia-sia, dan kami percaya bahwa Allah akan memberikan segala kebahagiaan suatu hari nanti.


Di mana ada esok hari maka masih ada harapan tiada henti.


"Ayah."


"Ayah ...."


"Ayah, sedang apa? Ayah, serius banget sampai abaikan Kakak!"


...Puk...


"Astaghfirullahal'adzim, ada apa, Le?" Tanyaku spontan pada Kakak cilik.


"Ayah dari tadi menulis mengabaikan Kakak cilik, sebenarnya apa yang Ayah pikirkan?" Dumel Tole Mumtaaz begitu menggemaskan.


"Hanya merangkai kata tanpa makna."


"Apa itu ungkapan hati, Ayah?"


"Ya."


"Aku ingin pandai merangkai kata seperti Ayah serta bisa sukses suatu hari nanti!"


"Jangan jadi seperti Ayah."


"Kenapa? Ayah itu adalah sosok luar biasa yang pantas menjadi panutan."


"Ayah sangat buruk, maka jadilah orang yang penuh kasih sayang, penyabar serta sangat maskulin seperti Abi, 'mu."


"Yang cocok seperti Abi itu Kakak gede bukan Kakak cilik. Kakak cilik tidak bisa kalem, mana bisa seperti Abi."


Lihatlah anakku ini benar-benar duplikat seperti diriku. Begitu pintar membalas perkataan serta sangat bisa menganalisa apa pun.


Sikapnya sama serta dari pandangan anakku kelak begitu ambisius seperti ku. Dia sangat tangguh serta sangat genius di usianya baru masuk 12 tahun.


Kabar gembira Kakak gede sudah lulus SMA (Sekolah Menengah Atas) lalu melanjutkan pendidikan di Al-Azhar Mesir, sementara Tole Mumtaaz baru masuk SMP (Sekolah Menengah Pertama). Untuk Dedek FaaFaa baru masuk kelas 3 SD (Sekolah Dasar).


Anak-anak begitu genius menurun sempurna dari Ayah dan Uminya. Kami sangat bangga memiliki anak-anak membanggakan seperti mereka.


Setidaknya secerah kebahagiaan terindah adalah anak-anak tercinta kami. Walau sakit setidaknya ada tiga mentari yang senantiasa memberi kebahagiaan.


Ngomong-ngomong ini sudah dua tahun kami tinggal di Baghdad-Irak. Dua tahun lalu setelah kepergiaan dua Adik serta hilangnya putra bungsuku semua kebahagiaan menjadi campur aduk.


Tepatnya aku dan Dek Syafa memutuskan tinggal di Irak demi mencari keberadaan anak kami. Lagian Nenek juga sedang sakit butuh sandaran, tetapi Allah sangat sayang membuat Nenek kembali ke sisi-Nya tepat satu Minggu kepergiaan Nduk Bibah dan Mas Khalid serta hilangnya Tole Zavi.


Semua begitu menyesakan dada membuat ingatan dua tahun paling menyakitkan terus berputar. Tanpa sadar aku menangis ingat segala kenangan pahit.


Dadaku sangat sesak, mengingat betapa hancur hidup kami kehilangan orang-orang tersayang secara berturut-turut. Pilu tanpa bisa dijabarkan oleh kata-kata keadaan kami waktu itu.


Dan sekarang sudah dua tahun berlalu tanpa ada titik terang. Sungguh kelam seolah sinar matahari ditelan kegelapan malam.


Tole Zavi masih belum ada titik terang di mana keberadaannya. Segalanya telah kami kerahkan untuk mencari Tole Zavi, tetapi sampai sekarang belum ada titik temu.


Segalanya telah menjadi bumerang, kehidupan ini tak ada sinar mentari lagi. Namun, aku dan Dek Syafa senantiasa tegar demi tiga anak kami.


Kami senantiasa memberi kasih sayang berlimpah serta pembelajaran agama dan formal pada anak-anak kami supaya sukses di masa mendatang. Kami tidak akan menyerah apa lagi menelantarkan anak-anak, maka yang harus dilakukan tetap berikhtiar.


Hai, ralat sebenarnya masih ada setitik cahaya yaitu tiga anak-anak kami yang berperan sebagai mentari pemberi semangat serta harapan. Anak-anak hebat yang sangat tangguh membuat kami memiliki kekuatan untuk bangkit.


"Ayah, jangan menangis. Apa Ayah ingat, Dedek Zavi?"


...Deg...


Aku  membeku ketika Tole Mumtaaz bertanya begitu. Sungguh Le sampai sekarang Ayah senantiasa mengingat Adikmu serta percaya Adikmu masih hidup.


"Ayah, kita sudah mencari bahkan sudah ada tiga anak kecil di bawa kemari, tetapi nyatanya semua bukan Tole Zavi. Kakak tidak tahu yang jelas sampai sekarang masih yakin Dedek cilik masih hidup. Ayah, jika benar Tole Zavi telah pergi maka ikhlaskan."


"Kakak, sebelum ada anak yang datang menggunakan kalung dan gelang dengan ukiran nama Zaviyar maka Ayah akan tetap percaya Adikmu masih ada!"


"Ayah ...."


"Maaf, bukan maksud Ayah membentak, tetapi percayalah pada kebesaran Sang Pencipta. Dulu Abi-mu juga begitu, maka Ayah yakin Adikmu juga masih ada. Namun, Ayah tidak tahu di mana Dedek cilik berada."


"Baiklah Kakak paham. Kalau begitu Kakak belajar dulu karena ada PR Matematika."


"Maaf, Kak. Apa boleh Ayah bantu mengerjakan tugas matematika, Kakak?"


"Hn. Tidak perlu, Kakak bisa mengerjakan sendiri."


Aku melihat putra kecilku telah tumbuh sangat cepat. Lihat dia sudah tinggi, bahunya juga sudah cukup lebar serta sangat rupawan.


Melihat pancaran mata Tole Mumtaaz membuat ku miris. Dia selalu tegas mengingatkan serta berusaha menyadarkan kami, tetapi tidak pernah mempan.


Aku paham betapa sayangnya Tole Mumtaaz pada Tole Zavi. Kakak cilik sangat mencintai serta menyayangi Dedek cilik lebih dari dirinya sendiri.


Setegar apa pun keadaan Kakak cilik, tetapi diam-diam menangis setiap memandang foto Tole Zavi. Begitu pula aku dan Dek Syafa akan menangis setiap sepertiga malam mencurahkan isi hati.


Kami sedih jika mengingat Tole Zavi, jika sendiri tanpa ada yang melihat begitu rapuh. Sedangkan Nduk FaaFaa sosok gadis kecil yang tangguh seperti Uminya.


Dedek FaaFaa itu sangat pandai menyimpan perasaan di balik senyum manisnya. Seolah dia tidak apa-apa, tetapi nyatanya begitu rapuh butuh perlindungan.


Gadis kecilku yang sangat cantik nan manis sudah tumbuh dewasa sebelum waktunya. Putri kecilku telah menjelma menjadi gadis sangat kuat semenjak tragedi terjadi.


Namun, percayalah sikap ceria, cerewet, supel, humoris serta humble tetap ada. Senyum secerah matahari tetap ada walau ku tahu di hatinya begitu sakit mengingat si kecil.


Putri kecilku itu menangis jika hatinya sudah tak sanggup menahan. Setiap memperingati kepergiaan Nduk Bibah, Mas Khalid dan Tole Zavi.


Kedua bidadari ku sangat sama walau sikap ku juga ada pada Dedek FaaFaa. Walau begitu sikap Uminya lebih dominan pada putri kecil kami.


Untuk anak sulung kami yaitu Kakak gede Ridwan sedang melanjutkan pendidikan lebih tinggi di Kairo Mesir. Aku tidak menyangka bahwa kegeniusan kami menurun sempurna pada Kakak gede.


Alhamdulillah, di usianya 15 tahun anak sulung kami lulus SMA. Dia bisa menempuh pendidikan secepat itu karena kegigihan serta kegeniusannya.


Tole Ridwan dan Tole Mumtaaz itu seimbang kegeniusannya, yang membedakan kalau Kakak gede Ridwan hafidz dari kecil serta sangat genius di bidang agama serta formal, sedangkan Kakak Mumtaaz sangat genius di bidang formal.


Kalau Nduk FaaFaa pun sama seperti dua Kakaknya yang genius. Bangga rasanya memiliki anak memiliki IQ di atas rata-rata.


"Mas," panggil Dek Syafa kala sibuk melamun.


"Ya," sahutku sekenanya.


"Ayo makan dulu di tunggu anak-anak," ajak Dek Syafa.


"Hm." Aku mengikuti Istriku menuju ruang makan.


"Ayah," panggil Nduk FaaFaa setelah aku dan Dek Syafa telah duduk.


"Dalem, Nduk."


"FaaFaa, ingin bilang bahwa satu Minggu lagi akan diadakan drama musikal di sekolah. FaaFaa, sudah beritahu Umi dan Kakak. Kebetulan Ayah baru pulang makanya FaaFaa langsung beritahu."


"Ya Allah, maafkan Ayah ya, Nduk. Ayah pergi ke luar kota untuk urusan bisnis lupa tanya kegiatan kalian. Bagaimana dengan, Kakak?"


"Hanya lomba melukis dan membaca puisi. Itu gampang, Kakak sudah buat puisi sendiri dan Umi sudah baca. Kalau melukis ditentukan juri. Acara akan diselenggarakan dua sampai lima hari lagi. Mau beri tahu Ayah, tetapi selalu sibuk tidak ada waktu."


Menyesal, seolah aku menjelma menjadi sosok lain. Setelah bekerja di perusahaan kontraktor terbesar di Baghdad satu tahun belakangan ini aku semakin sibuk.


Karena kinerja yang bagus semakin dipercaya menghandle perusahaan. Ya, aku kembali menjadi CEO, tidak dipungkiri aku sangat senang karena bisa mendapat jabatan ini lagi.


Bulan depan aku juga harus ke Dubai untuk urusan bisnis. Perusahaan kami telah bekerjasama dengan Investor terbesar di sana.


Mereka akan membangun gedung unik yang pastinya meminta aku dan arsitek terkemuka di sana. Kami akan berkolaborasi mendesain bangunan tersebut.


Akibat segala pikiran membuat aku lupa atas anak dan juga Istriku. Melihat mereka rasanya nyeri terlebih saat melihat Istriku.


Maaf.


"Kenapa diam, Yah? Merasa bersalah, 'eh?" Ledek Kak Mumtaaz.


"Iya," jawabku jujur.


"Cih, lagu lama. Jangan bilang satu bulan mau pergi lagi? Selalu saja begitu. Ayah mentingin kerja ketimbang kami," cerca Kak  Taaz kesal dan itu benar adanya.


"Kakak, tidak sopan bicara begitu," tegur Dek Syafa.


"Siapa peduli, Umi? Ayah tidak seperti dulu lagi. Kakak kesal!" Seru Kak Taaz kemudian berlalu tanpa menghabiskan makanannya.


"Kakak cilik, berhenti!" Perintahku agar Kak Taaz berhenti.


Apa yang perintahkan akhirnya di dengar walau berdiri membelakangi kami. Terlihat sekali rasa kecewa Putraku ini, tetapi kalau tidak begini bagaimana bisa menyekolahkan mereka?


Aku lihat Dedek FaaFaa bungkam, lalu melihat Istriku tampak sendu meminta maaf atas kenakalan anak kami. Kenapa aku jadi berbeda? Apa aku sudah terlalu jauh?


"Apa yang ingin Ayah sampaikan?" Tanya Kakak Taaz datar.


"Maaf," pintaku.


"Basi," cetus Kak Taaz.


"Ayah kalau tidak bekerja mau makan apa kita, Kak? Bagaimana biaya sekolah kalian? Bagaimana bisa mencukupi kebutuhan kita selama di sini?" Tanyaku berusaha memberi pengertian.


"Alasan, kemarin Kakak lihat Ayah jalan sama wanita. Ingat, kami semua mendapat beasiswa karena kecerdasan. Jadi, jangan mengatasnamakan kami sebagai alasan!" Geram Kak Taaz.


"Kakak berfikir Ayah bekerja hanya untuk mencari kesenangan pribadi? Wanita itu adalah rekan Ayah. Tidak ada wanita lain di hati Ayah selain satu nama yaitu Umi, kalian! Percayalah Ayah bekerja keras demi masa depan kalian semua. Ayah tahu kalian berprestasi sudah mendapat beasiswa, tetapi apa kebutuhan yang lain tidak perlu? Ayah bekerja tidak kenal waktu hanya untuk kalian semua guna mencapai pendidikan tinggi. Bukannya Kakak cilik ingin menjadi seperti Ayah? Bukannya Dedek FaaFaa ingin menjadi Dokter dan Kakak besar ingin menjadi pengusaha sukses? Untuk mencapai semua itu perlu biaya besar, Nak ....


... sebelum kalian sukses meraih gelar seperti yang kalian harapkan maka Ayah akan tetap berusaha keras sampai darah penghabisan. Kalian semua adalah tanggung jawab Ayah! Memiliki kalian adalah anugerah terindah, terlebih memilki Istri shalihah senantiasa mendoakan dan mensupport Ayah. Ayah sayang kalian, maka biarkan Ayah berusaha menjadi sosok bertanggung jawab!"


Demi Allah, aku tidak mampu membendung segalanya. Aku berbicara begitu tegas guna meyakinkan keluarga tercintaku.


Aku rela bekerja sampai darah penghabisan asal anak-anakku sukses seperti keinginan mereka. Tidak apa lelah, badan butuh istirahat ini juga demi kalian.


Apa lagi biaya pencarian Tole Zaviyar juga tidak lah sedikit. Aku tidak boleh mengeluh karena punya mereka senantiasa ada untukku.


Lamunanku buyar karena mendapat pelukan hangat dari anak dan Istriku. Hangat, mereka terlebih Kakak cilik minta maaf.


Setelah drama selesai kami memutuskan melanjutkan makan sembari bercanda gurau. Lama kami tidak tertawa riang seolah lupa, tetapi mulai detik ini harus ada senyum meski dalam hati terluka memikirkan Tole Zaviyar.


...****...


Lagi dan lagi aku melihat Istriku menangis dalam diam seraya mendekap erat foto Tole Zavi. Mata indahnya tampak sendu tanpa cahaya kehangatan.


Setelah memastikan aku lelap maka Istriku akan berjalan ke sofa sembari membawa bingkai foto si bungsu. Jujur aku sama terluka bahkan lebih terpuruk akibat kehilangan orang terkasih dalam sehari.


Tidak mungkin bukan aku tunjukkan kepedihan di hadapan anak dan Istriku?


Aku masih waras makanya menyimpan duka dalam hati tanpa ada yang tahu kecuali Sang Kuasa. Biarkan Sang Khaliq yang tahu betapa hancur serta rapuhnya aku selama ini.


Karena tidak tahan melihat Istriku terus-menerus begini membuat aku harus bertindak. Aku beranjak mendekat ke arah Istriku guna menenangkan wanita sang pemilik hati.


"Dek," panggilku.


"Eh ... Mas," sahut Dek Syafa tampak terkejut lalu melanjutkan ucapannya, "kenapa bangun, Mas?"


"Aku tahu Adek terpuruk karena dua tahun ini begitu banyak cobaan. Setelah kedatangan orang menyerahkan anak lima tahun tepatnya satu bulan lalu membuat Adek begini. Apa yang membuat Adek kembali terpuruk setelah bangkit? Sudah seharusnya kita mengikhlaskan kepergian Tole Zavi ...."


"Tole Zavi, belum tiada!" Seru Dek Syafa memotong ucapan ku tanpa menjawab pertanyaan, 'ku.


"Mas paham perasaan Adek, tapi cobalah mengerti keadaan."


"Mas tolong jangan buat aku semakin terluka. Cukup berikan semangat bahwa Tole Zavi masih hidup. Mas Azzam, saja yang dinyatakan tiada enam tahun kemudian datang kembali. Setidaknya aku masih yakin Putraku masih hidup!"


"...."


"Mas tidak merasakan apa yang aku rasakan. Mana tahu, Mas tidak mengandung, melahirkan dan menyusui, Tole Zavi. Mas tidak mengerti betapa remuk redam hatiku!


"...."


"Kenapa hanya diam? Mas tidak usah memberi nasihat karena percuma Tole tidak akan ditemukan."


"Apa masih mau lanjut meluapkan emosi, Dek?"


"Tidak."


"Sekarang giliran Mas yang bicara. Dari mana Adek punya pikiran pendek begitu? Mas tidak menyangka Adek bisa berpikir begitu. Entahlah betapa kecewa Mas atas ucapan, Adek. Memang Mas tidak mengandung, melahirkan dan menyusui ... tetapi, ingatlah Mas Ayah biologis Tole Zavi. Tanpa Mas beri penjelasan apa artinya Mas untuk Tole Zavi pastilah Adek tahu ....


... di pikir tentang kepedihan tentu Mas akan mengatakan kejujuran. Dalam satu hari Mas kehilangan Adik, Ipar dan juga anak yang teramat Mas sayangi. Mas begitu terpuruk, tetapi harus diwajibkan tegar demi anak, Istri dan keponakan. Mas diwajibkan tegar tidak boleh mengeluh atau menunjukkan keterpurukan itu pun demi kalian ....


... sejujurnya Mas tidak mau bilang begini karena Adek pun dalam keadaan terpuruk. Mas hanya ingin Allah yang tahu ketidakberdayaan ini. Namun, mendengar perkataan Adek membuat Mas harus jujur. Ingatlah Mas begitu hancur kehilangan Tole Zavi bukan hanya Adek saja. Stop, berpikir hanya Adek yang terluka, tetapi kami semua terlebih Mas!"


Setelah mengatakan itu aku lekas menarik napas dalam-dalam dan mengeluarkan. Istighfar langsung aku ucapkan berulang kali demi meredam emosi.


Entahlah aku yang capek bekerja sering meluapkan emosi. Maafkan Mas terlalu kasar, Dek.


"Maaf ... maafkan Mas terlalu terbawa emosi. Mas minta maaf, Dek."


"...."


"Mas salah berbicara kasar, tetapi percayalah Mas begitu mencintai Tole Zavi dan berharap keajaiban seperti Mas Azzam ada. Mas berharap semoga Allah memberi keajaiban bahwa Tole masih selamat. Jika pun tidak selamat maka kita sebagai orang tua harus ikhlas," tuturku seraya menggenggam tangan Dek Syafa.


"Hiks huhuhu, hiks hiks huhuhu ... Mas, hiks hiks Adek terlalu larut sampai melupakan kepedihan Mas. Maaf, tolong maafkan Adek bersikap kekanak-kanakan. Tolong ampuni ucapan Adek tidak berperasaan," tangis Istriku langsung menciumi tanganku.


"Kita sama-sama salah, Dek. Tidak ada yang perlu disesali sekarang tersenyumlah karena Mas tidak suka melihat Adek menangis. Mas sudah memaafkan Adek sebelum kata maaf terucap. Mas juga minta maaf."


"Mas ... Ya Allah."


Kami saling merengkuh menyalurkan kekuatan untuk ikhlas. Kami masih berharap semoga keajaiban itu ada walau terasa mustahil.


Kalau pun Tole Zavi sudah tiada maka kami mulai hari ini ikhlas melepas. Namun, jika Tole masih hidup semoga segera dipertemukan dengan kami.


"Sekarang sudah tenang, kalau sudah mari kita buka lembaran baru menerima serta berdamai dengan keadaan. Kita harus mencoba ikhlas dan ingat Dek bahwa Allah akan menunjukkan hasil akhir yang memuaskan. Mulai sekarang kita ikhlas menerima bahwa Tole Zavi telah tiada. Sebelum ada orang yang memiliki kalung dan gelang dengan ukiran nama Zaviyar datang kita tidak usah terlalu berharap keajaiban. Kita harus ikhlas karena dua tahun kita dalam gelombang kepiluan."


"Iya, Mas."


"Alhamdulillah, akhirnya Mas melihat senyum Istriku lagi. Jangan sedih Dek karena Mas tidak suka."


"Karena Mas jugalah yang mampu menerbitkan senyum, Adek. Mas ... Adek masih ingat jelas sampai dua tahun terakhir kita di Iraq banyak sekali rintangan yang harus kita lalui. Semuanya hanya ada rasa pilu akan kehilangan orang-orang terkasih."


"Hm, apa kita akan membuka luka lama itu, Dek?"


"Iya, biar kisah kita di Iraq akan di ingat "


"Kisah itu sangat memilukan, Dek "


"Kisah kita dari awal juga demikian, Mas. Tidak ada kata lama mengarungi kebahagiaan."


"Baiklah kita akan ceritakan betapa sakitnya kisah kita di mulai saat tragedi itu."


Kisah kami di Iraq akan tertulis walau begitu menyesakkan, tetapi tetap harus diceritakan. Perjalanan kisah kami selama ini pilu, kenapa sekarang tidak mampu diceritakan?


Semoga apa yang kita inginkan terwujud, aku berharap pada akhirnya Tole Zavi ditemukan. Dan semoga saja Nduk Bibah dan Mas Khalid Husnul khatimah, Aamiin ya Rabb.