
Kita memang sahabat, tetapi entah kenapa aku merasa kamu hanya memanfaatkan kelebihan, 'ku. Kamu tidak seperti yang ada dalam pikiranku kan, Steve?
Andai kamu tahu betapa aku sangat menghormati serta menyayangi, 'mu. Rasa segan aku padamu hanya dibayar pemanfaatan.
Sejatinya aku ingin marah lalu bertanya padamu, Steve. Apa aku benar-benar sahabat yang engkau harapkan? Kenapa kamu manfaatkan kelebihan, 'ku?
Saat diberi tugas ingin rasanya menolak. Paksaan dan tuntutan terus kamu ucap tanpa mau tahu keadaan ini.
Ini memang kali pertama kami meminta bantuan, tetapi kali pertama tugas terasa berat. Aku memang orang tidak baik, tetapi kenapa memberi tugas begitu?
Kamu tanya apa dia di mana?
Akan aku jawab dia berada di tempat yang tepat. Dia berada di tengah-tengah keluarga penuh kasih sayang.
Jangan ungkit atau cari tahu di mana tempatnya. Jelas saja aku tidak akan memberi tahu di mana dia.
Penyesalan selalu datang di akhir benarkan, Steve?
Kamu menyesal telah melakukan tindakan keterlaluan padanya. Jangan harap kamu tenang tentang penyesalan terbesar terhadap sahabat, 'mu.
Kamu memiliki sahabat yang sangat disegani. Bahkan persahabatan kalian terjalin sangat lama.
Bagaimana perasaannya jika tahu kamu dalang dari semua kejadian itu?
Mungkinkah dia mau memaafkan kesalahan, 'mu?
Jujur saja aku marah, kecewa dan tertekan atas semua perilaku, 'mu. Betapa takut kehilangannya setelah semua terungkap.
Steve, adakah sedikit perasaan persaudaraan terhadap, 'ku?
Kamu telah menghancurkan kerja keras setelah berhasil membuat dia tidak ada di sini. Bahkan dengan enteng meminta dia kembali tanpa berpikir konsekuensinya.
Aku serahkan semua keputusan terhadap, 'mu. Berubah dan akui semuanya sebelum terlambat.
Kamu akan jauh lebih menderita saat sahabat yang engkau segani tahu dengan sendirinya. Sebagai sahabat semoga kamu mau mendengarkan nasihat, 'ku.
Katakan padanya bahwa kamu dalang dari semua dan dia (si kecil) kamu letakkan di tempat terakhir berada.
Ini surat terakhir yang mungkin sebagian salam perpisahan. Maafkan jika aku punya banyak salah.
Terima kasih atas semua kebaikanmu di mana lalu. Semoga dengan aku menjalankan tugas sesuai perintah kamu bisa melupakan semua kebaikanmu di masa itu.
Selama menjadi sahabat, aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Terima kasih telah mau menjadi sahabat, 'ku.
Sekali lagi maaf jika punya banyak kesalahan padamu. Aku pergi mungkin tidak kembali.
Salam perpisahan dari SH.
Berulang kali Steve membaca surat terakhir yang ditulis oleh mendiang SH. Benar, SH sahabatnya telah tiada di medan perang.
Surat ini di antar anak buah Steve setelah diselamatkan sang bos. Dengan modal nekad dia berhasil mengantarkan surat ini pada Steve.
Air mata bercucuran membaca ulang surat sang sahabat. Dia menyesal telah berbuat apa yang diucapkan SH.
Jika saja Steve tidak gegabah mungkin saja SH selamat dan Aziz tidak akan membencinya. Semua begitu menyesakkan dada sampai Steve begitu rapuh.
Dengan keyakinan bulat Steve janji akan mengakui perbuatannya pada Aziz. Tidak apa jika nanti di penjara asalkan terbebas dari beban.
Tangannya gemetar mengambil ponsel. Steve akan menghubungi Aziz untuk mengakui perbuatannya.
Dering ketiga Aziz menjawab panggilan. Entah kenapa dia malah bungkam sewaktu sahabatnya menanyakan ada apa?
"Kenapa tetap diam, Steve. Aku sedang bekerja, katakan ada apa?"
"...."
"Kalau tidak penting aku tutup ..."
"Jangan, Ziz. Aku ingin kita bertemu usai kamu kerja."
"Maaf, Steve. Aku sedang banyak tugas dan kendala. Aku juga sudah janjian pada keluargaku. Maaf."
"Oh, baiklah lain waktu saja."
"Kalau sekiranya penting aku bisa usahakan datang. Dari nada bicaramu sepertinya kamu ada yang harus disampaikan."
"Iya, tapi tidak apa."
"Aku bisa mengusahakan."
"Baiklah, aku tunggu di tempat biasa kita bertemu."
"Hn."
"Assalamualaikum."
"Wa'alaikumussalam."
Lagi-lagi atasannya berulah seolah sedang melakukan hal kriminal. Jika Aziz tidak ingat atasannya ini adalah keponakan sang Komisaris mana sudi berbuat baik.
Wajah tegas pria kisaran 45 tahun tampak garang. Dia sebenarnya kagum pada kinerja Aziz, hanya saja bisa menjadi saingan.
Aziz bisa membuat posisinya terancam oleh sebab itu berusaha mencari kesalahan. Dalam kurun waktu singkat Pamannya percaya serta memberi jabatan bagus pada Aziz.
"Ada apa, Pak?" Tanya Aziz terdengar dingin.
"Kamu lupa ini jam kerja. Kenapa malah bermain ponsel?" Desis Yusuf.
"Saya minta maaf, Pak." Aziz memilih mengalah.
"Mentang-mentang mendapat kepercayaan komisaris seenaknya sendiri. Kamu lembur!"
"Tapi, Pak ...."
"Kamu mau di pecat?"
"Baiklah."
Aziz pasrah mendengar keputusan Ibrahim. Dia merasa bersalah pada keluarganya serta Steve.
Tidak biasanya Aziz dalam berkerja menghidupkan ponsel, tetapi antah kenapa hari ini beda. Seolah hari ini ada magnet dan kena imbasnya.
Ibrahim tersenyum puas melihat Aziz tunduk. Dia sebenarnya belum tahu siapa orang yang direndahkan ini.
Jika tahu mungkin akan segan atau malah lebih iri hati? Semoga saja Ibrahim tidak berulah setelah tahu kenyataan sebenarnya.
A
ziz menghela napas setelah selesai mengerjakan pekerjaannya. Dia mendsis lantaran tidak bisa menepati janji.
Sesungguhnya jam setengah delapan diadakan tsyukuran atas hari jadi pernikahan. Aziz tertunduk membayangkan wajah Khumaira bersedih.
Jam setengah sembilan Aziz baru akan pulang. Dia tidak mau sampai anak-Istrinya menunggu lama.
Setibanya di rumah Aziz termenung melihat Khumaira tampak panik. Sontak ia hampiri Istrinya yang pucat pasi.
"Assalamualaikum, Dek. Ada apa, Dek?" Tanya Aziz panik.
"Mas, i-itu ... Ya Allah, bagaimana menjelaskan pada, Mas," lirih Khumaira.
"Istighfar Dek. Tarik napas dalam-dalam lalu keluarkan perlahan. Setelah tenang jelaskan," Aziz berusaha tenang.
"Steve koma, Mas." Khumaira berkata cepat.
"...." Aziz bingung mendengar Khumaira berkata cepat dan kencang.
"Tadi sahabat Mas, Steve datang. Beberapa kali menghubungi Mas tidak aktif, maka dari itu Steve kemari ...."
"Intinya, Dek."
"Steve kecelakaan di fatal di tempat yang sama dengan tragedi almarhum dan almarhumah. Dia kecelakaan beruntun dan mengalami luka paling serius. Pihak RS menghubungi nomer terakhir yang Steve hubungi. Alhasil, mereka menelpon rumah guna memberi tahu Steve korban kecelakaan."
Aziz bungkam tidak mampu berkata-kata. Semua perkataan Khumaira bagai bogem mentah menghantam telak.
Rasa bersalah bersarang memikirkan Steve. Coba saja Aziz datang mungkin keadaan tidak akan begini.
Khumaira hanya bisa menenangkan Aziz. Dia tahu Suaminya tertekan serta merasa bersalah.
Masih jelas Aziz memberi tahu bahwa Steve ingin bertemu. Khumaira sedih Aziz tidak pulang tepat malah memilih Steve.
Sampai ia mendapat SMS Aziz lembur akibat menerima panggilan saat kerja. Awalnya Khumaira senang, tetapi langsung merasa bersalah.
"Dek biarkan Mas ke rumah sakit segera. Anak-anak bagaimana? Apa mereka tidur?"
"Mereka masih menunggu Ayahnya pulang."
"Kalau begitu Adel di rumah bersama anak-anak. Mas ke rumah sakit setelah itu akan segera pulang. Salam untuk anak-anak maaf."
"Tapi, Mas ...."
Sebelum Khumaira menyelesaikan perkataannya Aziz lebih dulu mencium dahinya. Dia terdiam sepi merasa kecewa karena Suaminya malah pergi tanpa mengucap sepatah kata.
"Apa kami sekarang kurang diprioritaskan? Steve memang membutuhkan sahabatnya, oleh karena itu Mas tega memilih pergi tanpa sepatah kata. Mas bisa membesuk dia besok, lalu kenapa malah sekarang nekat pergi? Mas lupa bahwa ini acara sakral kita bahkan anak-anak begitu antusias. Jujur kecewa, tetapi harus tegar. Maafkan hamba kurang bersyukur ya Allah."
Sedangkan Aziz diliputi rasa bersalah pada Steve. Tanpa disadari ia telah melukai hati Istri dan anak-anak. Sebenarnya Aziz ingin tinggal, tetapi Steve membutuhkannya.
"Maafkan aku Dek memilih pergi. Entah kenapa perasaan ku gundah sekali. Dek, maaf atas semua. Bukan tidak penting acara ini, tetapi ada sesuatu. Tolong maafkan Mas. Maaf anak-anak."
...........
Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan.