Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Kepedihan Khumaira (Maaf)



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


Siapkan tisu dan hati!


***'~•~'***


Semerbak bunga berguguran menunggu kedatangan sang pemilik. Aku seorang diri menangis sepi tanpa tujuan. Air mata luruh deras tanpa mau berhenti. Apa salahku ya Allah kenapa hamba di hukum begitu besar?


Ini alasan terbesarku begitu pedih akan cobaan. Bapak jatuh dari kamar mandi menyebabkan beliau stroke. Aku dan Ibu serta anak-anaknya menangis sesenggukan. Bapakku terkulai lemah tanpa bisa bergerak. Kami mengurus Bapak sepenuh hati agar lekas diberikan kesembuhan.


Aku cukup bersyukur Bapak dan Ibu sudah berangkat haji berkat Mas Aziz. Keduanya berangkat Haji satu tahun lalu. Dan kini semua terasa menyesakan akibat Bapak sakit. Namun, kami terus berjuang demi kesembuhan, Bapak.


Jujur saja ini begitu berat akan takdir yang Allah berikan. Aku sangat sedih harus mengurus semua ini. Aku berjuang sendirian untuk menjaga anak-anakku. Hamba khilaf ya Allah mengeluh akan cobaan yang Engkau limpahkan. Hamba tahu ya Allah pasti Engkau menurunkan hikmah akan cobaan ini.


Namun, aku sangat senang anak-anak dan aku ada penyemangat yaitu Mas Aziz. Kami sering berhubungan lewat panggilan video atau audio. Setidaknya Suamiku mampu membalut luka serta memberikan kekuatan terbesar. Penyemangat dikala rapuh adakah Masku walau tidak pernah aku beritahu tenang keadaan Bapak. Anak-anak juga tidak memberitahu kebenaran itu.


Hingga sebuah berita membahagiakan datang dari Mas Azzam. Ya Allah, apa bisa kami hadir di acara pernikahan Mas Azzam dan Mbak Mahira? Aku tidak mungkin bisa datang karena hatiku sakit. Jangan salah paham akan arti sesungguhnya. Aku sangat senang Mas Azzam bisa menemukan pendamping hidup yang baru. Alasannya akurat yaitu aku sangat sedih tidak bisa datang karena Bapakku sakit. Sehingga tidak bisa datang menghadiri acara resepsi pernikahan mereka.


Hingga Bapak bilang dengan suara lirih meminta aku pergi menghadiri acara resepsi pernikahan Mas Azzam dan Mbak Mahira. Aku tertunduk sedih jika meninggalkan orang tuaku sebentar saja. Mana bisa Maira pergi jikalau Bapak sakit? Tidak Pak Jagan menyuruh pergi karena Maira tidak sanggup meninggalkan Ibu sendirian mengurus, Bapak.


Syukur Alhamdulillah keluarga Mas Aziz yaitu Bibi Aisyah dan Paman Sulaiman sering datang ke rumah untuk menjenguk Bapak. Mereka mau memberi tahu perihal sakit Bapak pada keluarga Mas Aziz. Namun, kami menolak dengan dalih mereka sangat bahagia perihal mempersiapkan pernikahan Mas Azzam. Kami tidak mau membebani keluarga inti Masku. Apa lagi Mas Azzam sedang bahagia akan mempersiapkan pernikahan itu.


Pada akhirnya aku datang bersama anak-anak dan Nduk Laila. Kami ikut Paman Sulaiman dan Bibi Aisyah yang membawa mobil sendiri. Saat di Ndalem, Ummi merengkuhku dan memberikan ciuman pada cucu-cucunya. Mertuaku serta suasana dan saudari Masku menciumi tiga anakku yang manis. Mereka sangat senang melihat tiga anakku yang tampan bahkan mereka begitu senang.


Saat kami duduk bersama sebuah pertanyaan sensitif terdengar ketika kedua mertuaku menanyakan Bapak dan Ibuku. Aku hanya tersenyum seraya mengatakan Alhamdulillah. Aku tidak mungkin kan bilang kebenaran di hari bahagia Mas Azzam? Aku tidak mau hari ini menjadi sendu akibat kesedihan kami.


Aku melihat depan ketika Mas Azzam tersenyum teduh melihat anak-anak. Hatiku merasa miris melihat Mas Azzam mencium pipi kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz. Miris saja karena aku ingin Masku Aziz datang ke sini lalu mendekap erat tubuhku. Mas tolong pulang hiks walau kutahu Mas tidak akan bisa pulang. Pedih sekali ya Allah rasanya perih tanpa bisa dijabarkan.


Lupakan itu kini beralih ke Dedek Faakhira masih belum mau di gendong orang asing. Padahal Mbah Ukhti dan Mbah Kakung mau gendong apa lagi iparku berebut. Hanya saja sampai sekarang Anakku ini belum mau di gendong mereka.


Saat Mas Azzam mendekatiku rasanya ada yang bera. Aku berusaha tersenyum melihat mantan Suami yang dulu sangat aku cintai tersenyum padaku. Itu cinta masa lalu jangan salah paham ya karena sekarang semua cinta hanya untuk Masku Aziz. Walau ku akui masih ada setitik cinta untuk Mas Azzam tersimpan di Lubuh hati paling rendah. Kini cintaku yang sesungguhnya adalah Mas Aziz seorang. Seluruh cinta, hati dan jiwaku hanya milik Mas Aziz. Tidak ada yang Lin hanya karena Raja di hatiku hanya untuk Imamku.


Hingga akhirnya Mas Azzam meminta hal cukup membuatku tidak nyaman. Aku tersenyum berusaha tenang saat Mas Azzam mengajak bicara berdua. Sampai taman belakang kami duduk jarak lumayan jauh. Lama diam akhirnya ia bilang sudah memberi undangan pada Aziz. Namun, tidak mendapat sahutan apa pun. Aku diam merasa janggal pasti ada apa-apa dengan undangan pernikahan itu. Tidak mungkin Mas Aziz abaikan pernikahan Mas Azzam.


Oh aku ingat pasti Mas Aziz-ku tidak boleh pulang. Tega sekali pihak DC itu membuat Suamiku kesulitan di sana. Atau gadis itu melakukan konspirasi lagi atas semua ini? Aku rasa benar begitu sehingga Masku tercekal di sana. Ya Allah, kenapa Masku selalu menderita? Kapan dia bahagia ya Allah? Kapan bebas dari DC lalu pulang dan berkumpul bersama kami.


Ya Allah, andai Mas Aziz ada di sini pasti ada tempat aku menangis di sandarannya. Ada tempat dimana sosok menghapus air mata yang selalu kubendung. Di mana hanya Masku Aziz yang mampu memecahkan air mata serta menghapusnya. Mas Aziz-ku harapan Adek singkat semoga Allah lekas mengembalikan ingatanmu dan memberikan segala kesehatan. Supaya lekas pulang mendekap erat tubuh kami.


"Dek, maaf ya Mas tinggal menikah."


Aku tertawa mendengar perkataan Mas Azzam. Lucu sekali Mas Azzam saat merasa bersalah. Aku tidak apa karena memang kita tidak ditakdirkan bersama. Aku milik Mas Aziz dan Insya Allah Mas milik Mbak Mahira. Kita sudah punya jodoh masing-masing yang tentunya menjadi masa depan.


Sebenarnya sakit menghadiri resepsi pernikahan seseorang yang pernah aku cintai segenap hati. Walau begitu aku tahan agar tidak ada duka mendalam. Ini awal menuju babak baru. Sstt, jangan menangis, Syafa kamu kuat penuh keyakinan. Yakinlah Mas Aziz akan segera pulang meraih tubuhmu lalu kembali memberikan segala cinta.


Jujur saja aku iri pada Mas Azzam yang mendapatkan kebahagiaan seutuhnya. Lalu aku kapan ya Allah mendapatkan kebahagiaan? Kapan aku meraih kebahagiaanku bersama Mas Aziz ya Allah?


Astaghfirullahal'adzim, hamba khilaf iri atas kebesaran-Mu yang memberikan kebahagiaan atas Mas Azzam dan Mbak Mahira. Hamba minta maaf atas rasa iri dalam hati akan kebahagiaan orang lain. Hamba yakin kebahagiaanku bersama Mas Aziz akan segera berlabuh. Hamba yakin ya Allah pasti Engkau akan segera melimpahkan segala kebahagiaan untuk kami.


Mas Aziz-ku sayang, kapan pulang lalu merengkuh Adek? Sungguh Mas hatiku begitu sakit menghadapi cobaan sili berganti ini. Adek butuh Mas untuk pulang merengkuh tubuhku. Mas Aziz, Adek tidak kuat melihat Bapak sakit. Tolong pulang, Mas berikan Adek dekapan agar mendapat kekuatan.


"Jangan menangis, Dek ... Mas benci Adek menangis. Tetaplah tersenyum jangan bersedih Mas mohon. Untuk yang terakhir izinkan Mas katakan sesuatu. Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Tetapi, tenang saja setelah ini Mas akan berusaha mencintai Dik Mahira walau itu sulit. Sama seprti Adek yang bisa membagi cinta maka Mas juga akan melakukan itu. Dulu saat kita menikah Mas selalu bilang akan selalu mencintai Adek sampai maut memisahkan. Itu akan terjadi karena cinta Mas untuk Adek akan selalu Mas simpan dalam lubuk hati yang paling dalam."


Ya Allah, aku tidak sanggup menahan tangis mendengar penuturan Mas Azzam. Aku sangat sakit Mas engkau bicara begitu. Adek mohon tolong berbahagialah jangan simpan cinta penuh kenangan. Aku merasa sangat jahat membagi cinta. Namun, ini takdir yang Allah tulis untukku. Aku akan bahagia bersama Masku Aziz selamanya, Insya Allah. Walau Masku akan pulang cukup lama dan aku harus bersabar.


Dadaku terasa sesak mengingat perkataan Mas Azzam. Sudah cukup jangan membuat Mas Azzam bersedih. Kini saatnya aku mengantar mantan Suamiku ke pada jodohnya. Berbahagia selalu ya Mas Azzam. Aku sangat menyayangi Mas layaknya Adik sayang Kakaknya.


"Mas Azzam, aku begitu marah padamu. Jangan simpan cinta untukku karena di antara kita sudah berakhir 16 bulan lalu. Aku akan selalu mendoakan kebahagiaan Mas bersama Mbak Mahira. Cintailah Mbak Mahira sepenuh hati jangan ada kata pembagi seperti aku."


"Katakan pada Mas, apa Adek masih mencintai Mas? Insya Allah Mas akan melakukan itu. Setelah saksi mengatakan Sah maka Mas akan belajar mencintai Dik Mahira. Mas masih terus mengingat kebersamaan kita saat Adek mengandung Tole Ridwan. Kita selalu berjanji akan menjaga cinta sampai ajal menjemput. Sekarang kenangan itu akan Mas kubur. Yakinlah Tole Aziz akan segera pulang untuk meraih, Adek."


"Mas tahu jawabannya, sekarang raih kebahagiaan Masku yang manis. Nah sekarang Syafa yang cantik nan manis ini akan jadi Adik ipar yang baik. Yosh, Mas Azzam yang teduh harus memberi Syafa dukungan untuk menunggu Raja narsis pulang. Pokoknya Mas Azzam harus sadar ya kalau Mas Aziz yang ganteng akan memberikan Ratunya kebahagiaan melimpah. Ah, aku tidak sabar menunggu Suamiku pulang. Sekarang Mas pergi ke Nirwana untuk menjemput Mbak Mahira. Intinya tolong doakan Syafa agar cepat bersama Mas Aziz yang gila."


Aku tersenyum Mas Azzam tertawa ringan. Semoga saja Mas bisa tertawa terus penuh kebahagiaan. Aku ingin Raja hatiku pulang segera dan memberikan kebahagiaan seutuhnya. Mas Aziz semuanya terasa manis mengetahui kebahagiaan menyertai Mas Azzam. Dengan begini kita bisa bahagia selalu tanpa takut bahagia di atas penderitaan Mas Azzam. Kita akan melabuh penuh cinta tanpa terpisahkan. Hanya ada kita bersama anak-anak yang selalu bersama selamanya.


Adek sangat mencintai Mas Aziz karena Allah. Sekarang kita bebas meluapkan segala cinta karena kita sudah bersama laksana mawar diterangi matahari. Adek akan menunggu kedatangan Mas Aziz pulang tanpa lelah. Walau menunggu Mas Aziz bertahun-tahun Adek lahir batin.


Assalamu'alaikum Imamku yang kedua. Imamku yang akan menjadi masa depan meraih berkah serta pahala dari Allah dan Rasul-Nya. Masku Aziz kini Adek siap menanti kepulangan Mas. Karena Allah telah menjanjikan sebuah kebahagiaan melimpah bagi hamba-Nya yang sabar lagi bertawakal.


Adek sangat mencintai Mas atas nama Allah. Atas nama dzat Maha Cinta kini Adek tegaskan bahwa cintaku pada Mas murni atas petunjuk-Nya. Karena Allah cinta Adek berlabuh wahai Imamku!


****


Minggu berganti bulan dan bulan berganti tahun. Tidak terasa 3 tahun berlalu begitu cepat tanpa ku sadari. Sudah 3 tahun Masku pergi meninggalkan aku dan anak-anak tanpa mau kembali.


Tidak apa tinggal 2 tahun lagi Masku pulang. Jangan bersedih Syafa karena kalian akan bersatu kembali penuh kebahagiaan. Mas Aziz, tenang saja Adek akan selalu menunggu Mas.


Ah, kabar bahagia Mas Azzam dan Mbak Mahira sudah mempunyai bayi kecil cantik nan manis seperti Mbak Mahira. Ya Allah aku senang sekali melihat Putri mereka yang sangat cantik. Tetapi, Dedek Faakhira juga tidak kalah cantik, jangan lupakan itu.


Aku tersentak saat sadar Ibu memanggilku. Aku baru sadar seberapa menderita hidupku selama ini. Namun, berkat 3 anakku semua terasa ringan walau menyakitkan. Ya Allah, aku kuat juga karena anak-anak yang selalu memberikan dukungan.


Satu tahun yang lalu Bapak pulih dari strok. Alhamdulillah ya Allah telah menyembuhkan Bapakku. Namun, hal menyakitkan datang 3 bulan yang lalu saat Bapak dinyatakan punya penyakit gagal ginjal. Dunia kami runtuh detik itu juga mendengar pemberitahuan Dokter.


Kami usaha keras mengumpulkan uang untuk pengobatan, Bapak. Hingga Bapak butuh biaya operasi transplantasi ginjal. Operasi besar yang harus menggunakan dana besar. Aku yang bingung harus mencari uang dari mana akhirnya memutuskan untuk menggunakan uang Mas Aziz demi kesembuhan Bapak.


Uang untuk kemoterapi, cuci darah dan perawatan lainnya kami dapat dari usaha keras. Nduk Laila membantu membiayai pengobatan Bapak dan Mas Bahri juga melakukan hal sama. Hingga musibah besar terjadi ketika Bapak sedang duduk di kursi depan di kagetkan bola anak tetangga.


Bapak harus melakukan operasi besar dan aku gunakan uang Mas Aziz. Aku sangat sedih keponakan Tole Dzaki mengalami kecelakaan membuat cedera kepala dan karena itu kaki dan bahu mengalami cedera. Tubuh mungil keponakanku harus mengalami luka dalam menyebabkan operasi besar.


Mas Bahri tidak bisa membantu biaya operasi Bapak. Alhasil uang Mas Aziz yang aku gunakan. Alhamdulillah ... aku dan sekeluarga sangat bahagia Bapak dan Tole Dzaki selamat.


Aku sangat senang akhirnya Bapakku sembuh. Senang sekali sampai kami memutuskan untuk syukuran. Uang syukuran pakai uang Mas Aziz. Apa aku terlalu berlebihan memakai uang Suamiku? Aku rasa tidak karena ini rasa syukur kami atas kesembuhan, Bapak.


Apa lagi yang menyakitkan dari ini. 2 bulan Ayah sembuh namun Allah melakukan Kuasa-Nya dengan mengambil Bapak. Allah telah memerintahkan malaikat Izrail menjalankan tugas untuk mencabut nyawa, Bapak.


Bapakku telah kembali ke Rahmatullah tanpa beban kesakitan. Bapak sehat walafiat dan beliau meninggal dunia saat mengimami Sholat Subuh kami sekeluarga. Usai tahiyat akhir Bapak salam dan langsung jatuh. Sontak kami terkejut saat Bapak jatuh ke kanan.


Bapak meninggal dalam keadaan husnul khatimah, Amin. Ya Allah, hamba mohon ampuni dosa Bapak dan semoga amal ibadah Bapak Engkau terima, Amin. Aku hanya mampu berdoa pada Allah agar Bapak mendapat Syurga-Nya Allah. Ya Allah semoga Bapakku mendapat tempat yang terang di sisi-Mu.


Hamba ikhlas Bapak kembali ke Rahmatullah dalam keadaan husnul khatimah. Terima kasih ya Allah Engkau mengambil Bapak secara mulia. Hamba titip Bapak di sisi-Mu.


Aku tidak sanggup menatap Ibu menangis histeris dalam dekapan Nduk Laila sementara aku hanya diam sembari merengkuh Nduk Faakhira. Mas Bahri ikut menangis dalam diam mengikhlaskan kepergian Bapakku.


Sekeluarga besar Mas Aziz datang takziah untuk mengucapkan bela sungkawa. Aku hanya bisa diam dan anak-anak terutama Ridwan menangis histeris dalam dekapan Mas Azzam. Sementara Dedek Mumtaaz merengkuhku erat seraya mengatakan kapan Ayah pulang?


Andai bisa Umi ungin Ayah segera pulang untuk menopang kepiluan kita, Nak. Ya Allah, kuatkan hamba menerima ini semua. Ya Allah, berikan hamba kesabaran dan keikhlasan menjalani cobaan besarmu. Hamba ingin terus bertahan walau sakitnya hidup.


****


10 hari usai Bapak pulang ke Rahmatullah, hal menyakitkan terjadi saat Mas Azzam mengalami kecelakaan. Cobaan apa lagi ini ya Allah? Tolong katakan padaku kenapa Engkau sering menguji kesabaran hamba? Sampai kapan ya Allah Engkau limpahkan segala cobaan pada hamba?


Astaghfirullah, Astaghfirullahal'adzim hamba khilaf telah berkata begitu.


Aku tidak tahan menghadapi situasi genting ini. Jangan sampai Mas Azzam kenapa-napa agar Mbak Mahira serta anak-anaknya tidak mengalami apa yang kualami. Semoga Mas Azzam lekas sembuh tanpa mendapat luka serius.


Tole Ridwan menangis mendengar bahwa Abinya mengalami kecelakaan. Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz memintaku untuk menjenguk Abinya. Dengan begini akut tinggal Ibu bersama Mas Bahri.


Dengan tekat keyakinan aku dan anak-anak membesuk Mas Azzam. Tepat di Ndalem rumah mertuaku tinggal aku tidur di ruang tamu. Iya aku awalnya ingin ke kamar Mas Aziz, tetapi terhenti seolah sadar Masku tidak ada. Aku menatap foto keluarga besar Abah dan Ummi. Masku terlihat tampan dengan karisma memikatnya.


Dek Faakhira menangis minta susu, alhasil aku membuat susu anak rasa stroberi. Aku juga buatkan untuk Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz susu cokelat. Untuk Dedek Faakhira aku taruh di botol dot dan untuk Kakak Ridwan besar dan Kakak kecil aku buatkan di gelas.


Aku tersenyum saat keluarga Mas Aziz menepuk bahuku penuh arti. Kenapa aku merasa ada yang di sembunyikan dariku. Ada apa ini? Aku yang bingung tidak ambil pusing


Akhirnya mereka tertidur pulas setelah membuat geger. Aku bertanya pada Mbak Mahira prihal Mas Azzam. Dia bilang Mas Azzam koma dan mengalami cedera cukup parah. Aku merasa lemah mendengar jawaban Mbak Mahira. Sampai separah itu? Kenapa lagi dan lagi Engkau memberi cobaan melalui kecelakaan ya Allah?


Semoga saja Mas Azzam lekas sembuh dan tidak membuat Mbak Mahira tersiksa. Semoga saja kalian bahagia selalu tanpa halangan. Aku yang lelah akhirnya memutuskan untuk tidur bersama tiga anakku.


Pagi hari sekali aku tidak melihat Mbak Mahira serta anak-anaknya. Kemana mereka? Aku di rumah bersama Abah, Ummi dan saudara-saudarinya Mas Aziz. Sebenarnya ada apa kenapa aku merasa janggal akan sikap mereka?


Hingga sebuah bel pintu berbunyi beberapa kali. Semua orang menyuruhju untuk membuka pintu. Aku yang tidak tahu apa-apa menurut saja karena tidak mau membantah.


Kenapa jantungku berdebar kencang penuh kebahagiaan? Kenapa langkahku semakin berat mencapai pintu? Kenapa jantungku berdebar kencang? Sebenarnya siapa tamu rumah ini?


Saat pintu terbuka hal paling mengejutkan terjadi saat aku melihat Suamiku. Ya Allah, benarkah ini Suamiku yang ada di depanku? Masku Aziz, benarkah? Apa aku bermimpi? Tolong jangan bangunkan aku ya Allah jika ini mimpi.


"Assalamu'alaikm Warahmatullahi Wabarakatuh!" salam Mas Aziz terdengar dingin.


"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas Aziz," sahutku.


Apa yang lebih menyakitkan dari pada ini. Aku tidak mampu merengkuh Suamiku seerat mungkin seraya meraung penuh kerinduan. Saat aku hendak bertanya sebuah suara lembut memanggil Masku. Ya Allah itu Jasmin, apa jangan-jangan Mas Aziz pulang hanya ingin meminta restu agar bisa menikahi Jasmin?


Hatiku hancur lebur tidak mampu mengendalikan apapun saat Suamiku berlalu begitu saja setelah tersenyum tipis. Aku ingin jatuh ke jurang dari pada menerima Suamiku bersama wanita lain. Mas Aziz, ini sangat sesak bisakah menghapuskannya? Tolong berbalik lihat Istrimu yang malang ini. Mas Aziz, aku menunggumu pulang bukan untuk di madu. Ya Allah sesak sekali dan tolong berikan hamba sedikit kekuatan.


*****


Asli sesak banget nulis chap ini. Maafkan aku Say!


Namun, aku senang akhirnya Ayah kembali juga.


Hiks, maafkan Rose buat sesak dada kalian.


Umi Syafa, jangan sedih ada Ayah yang sudah kembali. Jangan sedih karena Ayah tidak akan sanggup menduakan, Umi.


Hiks, maafkan Rose!