
Tahan nafas sebentar hembuskan perlahan.
Chap ini sedikit mainstream!
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini
👇👇👇
0.*.*.*.0
Setengah Bulan Kemudian!
Aziz merasa pusing pasalnya selama setengah bulan berlalu tidak mendapat titik terang untuk mengungkap Wisnu. Truk dan sabotase kecelakaan itu sudah terungkap di sengaja. Namun, pelaku pengendara truk itu hilang meninggalkan mobil truk yang sudah di bakar di tengah hutan. Semua jejak hilang akan kejahatan Wisnu. Lalu soal korupsi sampai sekarang masih menjadi misteri di balik semua itu.
Lain hanya Khumaira juga selain bergetar ingat waktu semakin bergulir. Bahkan Wisnu semakin gencar menganggu kenyamanannya. Kalau begini sampai kapan bertahan jikalau terus begini? Orang kejam itu harus segara mendapat hukuman setimpal. Maka dari itu Khumaira terus berjuang bersama Aziz meraih bukti yang memberatkan Wisnu.
"Mas," panggil khumaira sedari tadi memanggil tidak mendapat jawaban.
"Ah, iya ada apa?"
Aziz jadi tidak enak hati mendiamkan khumaira sedari tadi. Dia berpikir bagaimana cara menghadapi Wisnu. Adakah cara lain untuk menyadarkan manusia itu? Bukan benci dia malah berusaha keras mencari jalan supaya pria itu insyaf. Aziz adalah Gus makanya sikap dan Budi pekerti sangat indah. Hanya saja sikap gilanya kadang tidak mencerminkan itu semua.
Khumaira bingung akan titik terang kejahatan Wisnu. Polisi belum bisa menahan Wisnu sebelum mendapat bukti akurat. Lalu mereka harus bagaimana untuk membuktikan kejahatan Wisnu? Apa yang harus Khumaira lakukan jika waktunya habis?
"Mas, sedari tadi Adek perhatikan terus melamun. Sedang memikirkan apa?"
"Wisnu ... Dek, sepertinya Mas harus masuk ke sarang mereka."
"Jangan main-main, Mas. Adek tidak akan mengizinkan Mas pergi."
"Demi membongkar kedok busuk Wisnu, Dek. Percaya kita bisa menghadapi masalah berat kali ini, Insya Allah."
"Tetap saja jangan lakukan itu."
Aziz tersenyum mendengar penolakan Khumaira. Dia merengkuh Istrinya agar mampu meringankan perasaan istrinya dengan suka cita. Dia mendaratkan kecupan sayang di kening Khumaira cukup lama. Aziz bingung sendiri memikirkan jalan keluar sembari mendekap Khumaira.
Khumaira menyamankan diri dalam dekapan Aziz. Mungkin dengan Suaminya pergi ke Wisnu maka ia akan kehilangan ptianua. Tidak, dia tidak akan membiarkan Suaminya pergi. Khumaira akan melakukan berbagi cara demi Aziz.
"Kita sedang berperang melawan kejahatan. Ingat Dek, Allah bersama kita untuk menegakan keadilan. Yakin pada Mas, bahwa Allah akan melindungi kita. Semua terasa di labirin perang yang sangat sulit mendapat jalan keluar, tetapi Allah akan tunjukan jalan. Yakinlah kita akan baik-baik saja, Insya Allah."
Aziz memberikan masukan pada Khumaira supaya yakin. Dia tidak akan membiarkan semua menjadi rumit. Atas nama Allah, Aziz akan menegakan keadilan demi Khumaira dan anak-anaknya.
Khumaira tidak mampu berkata apa pun, pasalnya semua yang di ucapkan Aziz benar adanya. Dia harus yakin Allah akan memberikan keadilan untuk hamba-Nya. Semoga saja semua aman tidak ada korban.
Ridwan menggendong si gembul Mumtaaz. Pasalnya Adiknya terus merengek minta gendong. Jadi si tampan Ridwan siap siaga menggendong Mumtaaz.
Mumtaaz terus berceloteh sepanjang perjalanan menuju kamar kedua orang tuanya. Dia terus mengajak bicara Ridwan. Bibir mirip Khumaira itu terus berceloteh tidak mau berhenti.
Ridwan masuk sembari tersenyum lebar. Dia minta Ayahnya untuk menggendong Mumtaaz. Tubuh mungilnya capek menggendong buntalan nasi menggemaskan. Bayangkan saja Mumtaaz itu gendut padat tentunya sangat berat.
Aziz menggendong Mumtaaz dan meminta Ridwan ikut rebanan. Alhasil Aziz dan Khumaira tidur di pojok, sementara anak-anak di tengah. Dia dekap anak-anaknya mencari kehangatan. Aziz dan Khumaira menghabiskan waktu bersama anak-anak. Saling melempar candaan dengan guyoanan manis. Bahkan kenarsisan tidak pernah lepas dari Aziz dan Ridwan.
"Umi, kenapa Kakak lihat ada yang janggal?" cetus Ridwan membuat Khumaira dan Aziz menatapnya.
Aziz juga menatap Khumaira lamat-lamat agar mencari kejanggalan terjadi. Benar adanya Khumaira terasa beda tidak ada cahaya di mata itu. Sebenarnya ada apa dengan Istrinya? Aziz sangat takut jika firasat buruk itu terjadi. Jangan sampai itu terjadi karena dia tidak akan sanggup.
"Umi hanya lelah butuh istirahat. Kakak, jangan nakal ya jika nanti Umi ada urusan. Tolong jaga Dedek Mumtaaz jika rewel. Mas juga tolong jaga anak-anak jangan buat mereka menangis."
Khumaira tidak tahu firasat buruk itu menyeruak membuat tidak nyaman. Dia sangat takut sampai setiap langkah teringat Aziz. Apa yang akan di lakukan Wisnu jika ia memilih Aziz? Apa siap Khumaira kehilangan Suaminya? Maka jawabanya tidak.
Aziz membisu mendengar perkataan Khumaira, begitupun Ridwan. Mereka merasa sebuah tragedi akan terjadi. Sebenarnya apa yang terjadi di setengah bulan nanti? Entahlah yang pasti akan ada tragedi paling menyakitkan terjadi.
Ridwan mengatupkan bibir rapat tidak berani membuka suara. Dia memilih mencubit gemas pipi gembul Mumtaaz. Mata besar itu berkaca-kaca mengingat Abinya yang telah tiada. Rasa sakit menghantam si kecil jika harus kehilangan kedua orang tuanya. Tidak mau Ridwan ingin di aduh sampai besar tidak mau kehilangan.
Keheningan terjadi, tetapi Mumtaaz memecah dengan celoteh lucu. Apa daya ia sangat ingin diajak bicara walau tidak tahu maksudnya. Pada akhirnya keluarga kecil Aziz tersenyum bersama lalu tidur bersama menikmati hari. Biarkan saja hari ini terasa teduh tanpa ada penghalang.
*.*.*.*
Khumaira mengajak Mumtaaz dan Ridwan mengajar seperti biasa. Putra sulung sekolah dan si kecil jadi pusat perhatian anak-anak taman kanak-kanak. Sementara Aziz di rumah hendak melakukan fisioterapi.
Aziz menutup pintu rumah hendak ke garansi mobil. Ia membuka garansi dan hendak memasuki mobil, tetapi ada ya salah soalnya ada bayangan. Ia sadar ada yang salah sepertinya ini waktu yang tepat bergerak.
Dengan cepat seseorang itu memukul bahu Aziz, sebelum korban sempat menegok. Dia tersenyum iblis tatkala melihat Aziz tersungkur menahan sakit. Dia akan menjalankan perintah membawa Aziz ke markas.
Aziz melihat orang menggunakan penutup wajah tanpa arti. Dia meringis ngilu merasa sakit pasalnya pukulan itu cukup fatal. Dengan cepat dia tendang orang itu dan kabur tetapi kakinya di jegal membuat tersungkur. Aziz meringis ngilu sedikit merasakan pedih dan nyeri pada tulang bahu dan lengan.
Karena muak berlama-lama, orang itu menyuntik bius pada Aziz. Benar saja pria itu kehilangan kesadaran. Tawa iblis menguar mengerikan saat tahu Aziz sudah terjatuh. Dia berhasil melumpuhkan pria ini dalam hitungan menit.
"Kamu akan mati, Aziz. Aku datang setengah bulan lebih cepat. Kita lihat apa Khumaira tega melihat kamu mati di tanganku?" kelakar Wisnu.
"Bos, kita apakan orang ini?" tanya salah satu dari mereka.
"Bawa dia ke mobil, kita sekap dia di rumahku. Lagian Sarah sedang liburan di tempat Kakeknya."
Mereka menggotong tubuh tidak berdaya Aziz menuju van yang ada di gerbang rumah Aziz. Mereka bersyukur warga tidak ada yang lihat dengan begini rencana berhasil.
Tahukah kalian ada seorang yang melihat perbuatan keji mereka. Orang itu tidak lain adalah Romli. Dia tadi hendak main ingin menjenguk sahabatnya. Namun, hal tidak terduga terjadi saat Aziz di gotong beberapa orang. Romli bersembunyi sebelum ada yang tahu keberadaannya.
Romli memfoto mereka dan langsung bergegas ke kantor polisi untuk mencari bantuan. Tubuhnya bergetar ketakutan mengingat sahabatnya dalam bahaya. Ini semua salahnya, andai saja tidak termakan hasutan mungkin Aziz tidak begini.
Demi apa pun Romli bertekad membongkar kedok busuk Wisnu. Dia akan mengakui kesalahan pada Polisi dan Herlambang. Semua kebenaran akan terbukti, tetapi Romli harus menyelamatkan Aziz terlebih dahulu.
Sesampainya di kantor Polisi, Romli bergegas menemui Kapolri. Dia bergetar ketakutan akan nasib Aziz rintangan Wisnu. Tidak boleh lemah Romli harus segera bertindak.
"Ada apa, Bapak kemari? Apa Anda mengajukan laporan kejahatan?" tanya inspektur polisi.
Romli menghembus napas berat untuk memulai dari awal. Dia tidak akan takut mendekam dalam jeruji besi. Asal dosanya pada Aziz dapat di maafkan walau sesaat. Demi kebaikan sahabatnya Romli akan berjuang demi Aziz.
"Saya Muhammad Romli ingin membuat laporan tentang kejahatan Wisnu Bagas Aditama serta mengakui kejahatan saya. Saya adalah orang yang telah memfitnah Pak Aziz dalam kasus korupsi di perusahaan, Pak Herlambang. Saya menjebak dirinya agar terlihat menggelapkan uang. Saya melakukan itu atas dasar hasutan dan iming-iming jabatan. Saya termakan hasutan Pak Wisnu agar menghancurkan karir Aziz. Saya melakukan itu atas konspirasi Wisnu ...,
... tetapi, saya sangat menyesal melakukan itu ketika Pak Wisnu berencana membunuh Pak Aziz dalam sabotase kecelakaan beberapa bulan lalu. Saya sok berat saat orang itu melakukan kejahatan di luar nalar. Tolong maafkan saya telah melakukan ini. Untuk terakhir, ini saya punya bukti kalau Pak Aziz dalam bahaya. Beberapa menit lalu Wisnu dan anak buahnya menculik sahabat saya, Aziz. Psikopat itu ingin mengambil Istri Pak Aziz, dan lebih bahaya lagi Wisnu akan membunuh Aziz ...,
... tolong selamatkan Aziz dari Wisnu, Pak. Saya juga mohon maaf jangan tangkap saya dulu sebelum membebaskan sahabat saya dari Wisnu. Saya juga mau minta maaf pada Pak Herlambang terlebih dahulu. Saya mohon izinkan saya ikut bersama kalian menolong Aziz dan memenjarakan, Wisnu. Saya siap di hukum seumur hidup atas perbuatan keji saya yang tega menghancurkan karir, Pak Aziz. Saya ikhlas dan siap mendekam di penjara setelah memastikan sahabat saya Aziz selamat. Tolong izinkan saya mengatakan kebenaran itu pada, Mbak Khumaira. Lalu kita berangkat menyelamatkan, Aziz ...,
... saya tahu persembunyiannya pria gila itu. Maka dari itu sebelum saya mendekam di sini, izinkan saya ikut menolong sahabat saya. Tolong bantu saya menyelamatkan dia. Apa pun asal sahabat saya bebas maka lakukan. Demi Allah tolong selamatkan Pak Aziz dari Wisnu. Saya tida takut akan mendekam di sini seumur hidup asal sahabat saya bebas. Saya ikhlas berada di sini jikalau memang mendekam di penjara selamanya. Tolong lakukan keadilan untuk sahabat saya."
Romli akhirnya memberi pernyataan pada Polisi. Dia tidak takut mendapat konsekuensi berat. Asal Aziz selamat maka ia sangat bahagia. Dia sangat lega akhirnya pengakuan dosa terucap. Cukup senang akhirnya Romli mampu menjadi pribadi seperti semula.
Semoga saja Romli tidak terlambat.menolong Aziz dari cengkeraman Wisnu. Jika sampai sahabatnya kenapa-napa yakinlah Romli akan berubah jadi monster. Demi apa pun itu Romli akan jadi iblis jika sampai Aziz kenapa-napa rintangan Wisnu.
Inspektur polisi dan Kapolri tercengang mendengar pernyataan Romli. Bahkan semua perkataan itu terasa murni. Mereka cukup salut orang mengakui kejahatan dan berniat menolong temannya.
Para polisi menatap Romli tidak percaya. Bahkan penjahat rela menyerahkan diri tanpa persiapan. Penjahat mengatakan kejujuran dan ikhlas mendekam di penjara. Lucu, tetapi sakit patut menjadi panutan bagi mereka.
"Terima kasih atas pernyataan, Anda. Baiklah kita akan menolong Pak Aziz dengan segera. Anda boleh ikut bersama kita membatu membebaskan, Pak Aziz."
"Terima kasih banyak, Pak. Tetapi, jangan berkerumun pasalnya Wisnu sangat licik. Kita akan datang menyelamatkan mereka setelah Wisnu mengakui kejahatan. Pak berikan saya CCTV yang ada suara audionya. Saya akan jelaskan strategi kita menyelamatkan, Aziz. Biar saya datang menemui Istri, Aziz dan merencanakan strategi. Soalnya Wisnu akan membuat kesepakatan dengan, Dik Khumaira. Pasti Wisnu menelepon Khumaira agar datang untuk mengancam. Setelah Khumaira pergi menemui penjahat itu, kita akan datang setelah Wisnu mengakui kejahatannya."
Para polisi tersenyum menerima usulan Arta strategi Romli. Semoga saja mereka tepat waktu menyelamatkan Aziz dari pria bengis itu. Semoga mereka dapat mengganjar Wisnu dengan setimpal. Kini tugas berat menanti menangkap penjahat memiliki sikap Psychopath.
Romli tersenyum teduh mendengar jawaban polisi. Cukup bahagia strategi ini dipakai menjebak Wisnu. Hanya saja bisakah tepat waktu agar sahabatnya aman? Romli akan berjuang keras agar Aziz aman dan mereka menyelamatkan tepat waktu.
*,*,*,*
Khumaira tersenyum teduh melihat Aziz meneleponnya. Apa Suaminya begitu rindu padanya? Dia sangat bahagia Aziz menelepom di kala pikirannya kalut. Semoga saja Suaminya makan dengan benar saat sedang melakukan fisioterapi. Khumaira tadi lupa tidak membuat bekal untuk Aziz.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Mas."
"Wa'alaikumssalam Warahmatullahi Wabarakatuh, Dik Maira."
Deg
Jantung khumaira langsung berdetak keras mendengar suara orang yang sangat di hindari. Tubuhnya bergetar ketakutan pasalnya orang itu menelepon dari ponsel Suaminya. Apa Suaminya sedang berada di dekat pria gila itu? Khumaira takut jika hal buruk terjadi pada Aziz.
"Di mana, Suamiku?"
Khumaira menitikan air mata pilu memikirkan hal negatif. Dia bergetar menahan ketakutan saat tawa iblis terdengar nyaring. Dia harus bagaimana? Jangan bilang Aziz? Ya Allah, lindungi Suaminya dari psychopath itu.
"Dia masih hidup. Ini dia juga masih pingsan. Tadi aku memukul tubuh belakangnya dan menyuntik bius. Aku berubah pikiran, Maira. Datang ke rumahku di Sleman dan saksikan kematian Aziz jika kamu pilih dia. Jika kamu pilih aku maka Aziz pulang dengan selamat. Aku kirim alamat rumahku, sampai jumpa Sayangku."
Panggilan terputus membuat Khumaira merosot ke bawah. Dia menangis tanpa peduli sekitar. Hingga sebuah pelukan hangat Khumaira dapat dari Ridwan dan Mumtaaz.
Ridwan dan Mumtaaz saling merengkuh Khumaira. Mereka seolah tahu duka Ibunya. Dua anak tampan ini saling memberi kekuatan agar Khumaira bangkit.
Khumaira langsung merengkuh erat mereka sembari menciumi wajah rupawan Ridwan dan Mumtaaz. Dia tergugu tidak mampu menahan sakit hatinya. Rasa panik melingkupi hati Khumaira ketika sadar Aziz dalam bahaya.
"Tunggu Adek menyelamatkan, Mas. Tidak akan kubiarkan Wisnu menyentuh, Mas. Jangan takut Adek akan datang untuk melindungi, Mas. Ya Allah yang Maha Penyayang, tolong lindungi Suami hamba dari orang jahat itu. Tolong lindungi Masku agar baik-baik saja. Ya Allah, tolong beri kekuatan agar saya mampu menyelamatkan Masku. Aamiin," batin Khumaira.
Khumaira terus merapal doa pada Allah agar Aziz baik-baik saja. Dirasa cukup ia menelepon keluarganya agar mau datang ke rumah untuk menjaga Ridwan dan Mumtaaz selagi pergi menyusul Suaminya. Pasti Allah selalu bersamanya dalam ketakutan. Pasti Allah memberi perlindungan untuk mereka, Aamiin.
Wanita beranak dua ini yakin Allah akan membuka jalan untuk menyelamatkan Suaminya. Khumaira akan datang menyelematkan Aziz dari sekapan Wisnu. Atas nama Allah ia akan memilih Aziz apa pun yang terjadi. Jika hati berkorban Khumaira rela asal Aziz baik-baik saja.
0.*.*.*.*.0
Haduh, aku emosi sama Wisnu.
Asli emosi jiwa, tahan jangan ngumpat.
Percaya ending konflik ini begitu indah karena Dek Syafa akan jujur perasaannya pada Mas Aziz.
Lalu Wisnu dapat ganjaran setimpal, jangan khawatir.