Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI 2 - Cinta Selamanya!



Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!


***///\*


Aziz mengambil berkas dari Herlambang. Dia mendatangi semua yang perlu di kerjakan. Ia tersenyum tipis penuh arti karena bisnis kali ini akan mendapat uang fantastis. Aziz tidak bisa bayangkan setalah 5 tahun tidak ke luar negeri sekarang akan melakukan perjalanan bisnis 6 Minggu di Malaysia. Kini dirinya akan melakukan performa demi membentangkan perusahaan ini lebih maju lagi.


Herlambang menepuk bahu Aziz penuh bangga. Dia tahu seberapa hebat pria di depannya. Otak genius dengan keahlian penuh membuat ia tidak pernah bisa berhenti memuji Aziz. Walau terkesan sangat aneh namun pria ini begitu multitalenta. Maka dari itu pria ini adalah akses penting Herlambang sekaligus anak baginya.


"Lusa Anda akan ke Malaysia untuk 6 minggu. Saya berharap Anda bisa pulang dengan segala kesuksesan!"


"Aamiin ya Rabb."


Aziz sudah berbicara pada Khumaira perihal pekerjaan dan Jawabanya tidak enak. Khumaira tidak mau dia keluar Negeri sangat lama. Namun, ini benar-benar proyek besar mendatangkan uang miliar-an. Pada akhirnya Khumaira setuju Aziz pergi ke Malaysia cukup lama. Istrinya bilang asal terus mengabari rumah tidak masalah.


Mungkin setelah ini Aziz akan menyimpan rindu pada Khumaira, Ridwan dan Mumtaaz. Pasalnya 6 minggu itu sangatlah lama. Tidak apa hanya sebentar kenapa harus takut berpisah lama? Toh Aziz akan membawa segala kesuksesan dan membawa keluarga kecil liburan ke Abu Dhabi. Membayangkan itu ia tidak sabar melakukan liburan ke sana atau liburan ke Dubai sekalian bertemu teman-temannya dulu.


Di ruangan Aziz menatap kota Yogyakarta dari lantai atas gedung pencakar langit. Dia tersenyum tulus melihat kota istimewa penuh arti. Sungguh ia merasa akan ada badai dalam hubungan mereka. Setiap hari perasaan Aziz begitu kalut memikirkan banyak hal.


"Sebenarnya ada apa? Kenapa hatiku gelisah tidak mau melangkah ke Malaysia? Sebenarnya di sana ada apa? Namun, hatiku juga sangat rindu. Perasaan ini antara takut dan rindu. Sebenarnya ada apa?"


Aziz buru-buru menghapus air matanya tatkala tiba-tiba menangis. Dia merasa jantungnya berdegup sesak sekaligus menggila. Ada perasaan yang sangat meluap akan kerinduan serta luka. Sebenarnya takdir apa yang Allah berikan pada Aziz ke depannya?


Lain sisi tepat di Pakistan terlihat pria sangat tampan sedang bermain bersama anak-anak yatim piatu. Wajah tampan itu begitu meneduhkan untuk di tatap. Wajah rupawan yang mampu menyihir banyak orang menyukai.


Di samping itu ada wanita cantik khas timur tengah tepatnya Pakistan. Wanita ini begitu cantik dengan perawakan kecil mungil dan memiliki tinggi 163 cm. Rambut panjang itu terkepang satu kebetulan hari libur bisa menikmati hari.


"Emran, aku ada pekerjaan penting di Malaysia. Apa kamu mau ikut bersama aku ke sana?"


"Tentu, aku ikut bersama kamu. Aku ingin melihat Negeri Jiran."


"Syukurlah kalau mau ikut. Kamu pasti sangat suka, Emran."


"Insya Allah, pasti suka, Mahira."


Mahira tersenyum teduh pada Emran ketika mendengar jawaban itu. Dia tepuk bahu lebar pria berwajah teduh dengan lembut. Pria yang sangat baik dan sopan menjaga akhlak serta budi pekerti yang baik. Jika boleh jujur Mahira sangat mencintai Emran hanya saja pria itu menolak. Dengan dalih bahwa ada wanita lain yang mengisi relung hati.


Pria itu langsung berlalu untuk bergabung bersama anak-anak yatim-piatu. Senyum teduh menghantar banyak anak berebut berada dalam dekapannya. Tidak ada lagi yang salah pasalnya pria ini sangat cinta anak-anak manis ini.


Emran mengusap rambut tebal anak-anak yatim. Tidak lama suara merdu mengalun indah tatkala ia menyenandungkan Sholawat nabi untuk mereka. Lihat anak-anak ikut bersholawat bersamanya penuh keceriaan. Melihat mereka Emran sangat bahagia mendengar mereka bersenandung bersamanya.


Dia teman Mahira seorang wanita karier penuh bakat. Pria ini tidak memiliki orang tua karena tinggal bersama paman dan bibi. Kedua orangtuanya sudah tiada membuatnya sendiri. Kini hanya ada kebersamaan bersama anak-anak kurang beruntung sepertinya.


Keseharian Emran begitu sederhana. Dia hanya seorang guru Negeri dan pengasuh anak-anak yatim piatu. Dia mengajari mengaji anak-anak agar menjadi anak sukses. Tak ada harapan lain padanya yang penting anak-anak ini mampu menjadi anak Sholeh dan Sholehah. Cukup Emran hanya berpikir membuat anak-anak ini selalu bahagia dengan pendidikan agama Islam serta umum yang memadai.


Bagi Mahira sebuah cinta tidak perlu di utarakan. Cinta tidak perlu di utarakan karena cintanya murni untukmu Emran. Pria tampan yang Mahira lihat di Amerika Serikat. Kini harapannya singkat prianya mau menjadi imam di masa depan.


Emran sendiri tidak tahu kenapa selalu menolak kontak fisik mau pun menyukai wanita, walau itu Mahira. Entah kenapa ia selalu terbayang seorang wanita berhijab segi empat berwarna merah muda menatapnya dari jauh. Wajah manis menggemaskan sellau mengganggu pikiran Emran dikala melihat wanita berkulit putih kemerah-merahan.


Usai melantunkan Sholawat nabi Emran berlalu meninggalkan anak-anak. Dia memilih duduk nyaman di kursi taman. Mata hazel itu menyorot penuh kerinduan. Ada yang kosong dalam hidup, ada apa?


"Beraip-siap, kita akan berangkat besok pagi."


"Ok, kalau begitu aku akan izin dengan Uncle mau ikut dengan kamu ke Malaysia. Setelah itu aku akan mem-packing baju."


"Syukurlah, kamu tahu Emran suaramu sangat merdu. Kenapa tidak mau jadi aktor atau penyanyi?"


"Aku tidak mau, Mahira. Aku mau siap-siap mengajar anak-anak. Permisi."


Mahira mencekal lengan kekar Emran. Dia ingin pria ini jadi Suaminya. Berharap lelaki tampan ini mau menjadi pelipur lara bagi kesendirian. Sungguh Mahira sangat mencintai Emran.


Emran yang memiliki adab tidak mungkin kasar dengan menyentak tangan Mahira. Dia memilih diam biarkan wanita ini melepas sendiri. Cukup sadar wanita ini suka padanya, hanya saja ia tidak suka karena ada wanita lain. yang pasti Emran tidak akan membiarkan Mahira terus berharap padanya.


"Tunggu, Emran. Aku ingin mengatakan sesuatu."


Emran Saeed Khan itulah nama panjangnya. Pria pakistan yang sangat tampan dengan mata teduh. Wajah tampan, kalem dan teduhnya membuat banyak wanita menyukainya. Hanya saja Emran tidak peduli akan rasa mereka.


"Lepas, Mahira ingat kita bukan muhrim."


Buru-buru Mahira melepas cekalannya. Dia menunduk dalam menyembunyikan luka. Setiap kali mengatakan cinta pasti Emran menolak halus. Bukan mau menyerah malah memacu Mahira untuk berjuang demi pria ini.


"Emran, aku cinta kamu. Sudah 3 tahun kita bersama dan berteman. Bisakah kita menikah?"


"Maaf, Mahira aku tidak mau menyakiti hati tulusmu. Hanya saja maaf aku tidak bisa menikah dengan kamu."


Setelah mengatakan itu Emran berlalu meninggalkan Mahira sendiri. Dia tidak tahu ya pasti hatinya hanya untuk wanita itu. Wanita cantik yang sangat ia cintai. Namun, tidak tahu nama serta tempat tinggalnya. Emran hanya berharap semoga saja bisa bertemu wanita dalam bayangannya.


"Aku merasa akan ada hal besar terjadi. Ya Allah, ada apa ini kenapa hatiku begitu merindu dan gelisah. Sebenarnya rencana apa yang engkau berikan ya Allah?"


Emran menatap rembulan dengan pandangan kosong. Setiap hari setelah keluar dari rumah sakit ia akan menatap bulan setiap harinya. Ia merasa ada yang kosong dalam hidup. Tidak ada warna namun Emran yakin Allah berikan takdir yang manis untuknya kelak.


Untuk Mahira sendiri begitu pilu mengingat Emran tidak pernah melihatnya. Padahal tiga tahun terakhir sudah memberikan cinta. Apa yang kurang padanya sehingga prianya tidak bisa melihat? Mahira langsung sadar saat Emran menyukai wanita berhijab dan menjaga aurat, sementara dirinya tidak bisa menggunakan hijab dan berpakaian muslim.


***///\*


Aziz merengkuh Khumaira dari belakang. Dia tumpu dagu di atas bahu sempit Istrinya. Sementara tangannya Sling membelit tubuh sintal Istrinya. Dengan sayang Aziz mengecup pipi tembem khumaira lalu mengigit manja.


Khumaira tersenyum menerima sentuhan Aziz di bahu dan lehernya. Dia tidak habis pikir kenapa Suaminya doyan sekali mesum kelewat batas? Maklum saja mesum secara Suaminya nakal gaya padanya. Khumaira juga sangat mencintai Aziz jadi membiarkan saja saat si Suami nakal.


"Mas, sakit jangan gigit," protes Khumaira.


"Mas gemes lihat pipi gembul Adek. Mas berasa melihat roti siap di gigit."


"Mas samakan pipi Adek dengan roti? Tega kamu Mas."


Khumaira berusaha lepas dari lilitan Aziz. Namun, apa daya tenaganya tidak ada separuh kekuatan Suaminya. Dia hanya memilih diam menikmati kebersamaan mereka. Hingga sebuah kecupan Khumaira terima di sudut bibir tentunya dari Aziz.


Aziz memciumi tengkuk Khumaira sedikit intim. Hingga sebuah suara memecahkan keromantisan mereka. Buru-buru ia melepas diri hingga jarak cukup jauh agar tidak dicurigai. Saat Aziz lihat Khumaira tampak bersemu malu. Lalu dengan sayang melihat Mumtaaz sedang menggendong kucing.


"Ayah, Umi cepat berikan Dedek Mumtaaz Adek baru. Ngga mau tahu pokoknya berikan Dedek baru. Kesal setiap hari di tinggal Kakak di rumah sendiri. Nanti Dedek kecil akan Dedek ajari cara jadi rupawan!"


Khumaira terdiam melihat Mumtaaz berceloteh hari kebersamaan mereka tinggal sedikit lagi. Rasa sesak menguar memikirkan mimpi buruk itu. Semoga saja tidak akan ada badai di antara mereka, Aamiin.


"Dek, dengar apa yang di inginkan Dedek Mumtaaz!" bisik Aziz.


Khumaira merona mendengar bisikan Aziz memberi ajakan intum. Ia mencubit gemas pinggang Suaminya. Dengan malu-malu dia menunduk menyembunyikan semu merah. Khumaira jadi malu sendiri membayangkan itu bersama Aziz.


Aziz terkekeh merasakan respons Khumiara sangat imut. Kalau begini ia jadi mau goda Istrinya sampai bersemu parah. Melihat wajah merah merekah Istrinya sukses membuatnya bahagia. Aziz jadi tidak sabar menggoda iman Khumaira lagi.


"Jangan goda, Adek."


"Siapa yang menggoda? Sayang sekali Adek belum suci jadi tidak bisa melakukan itu."


"Mas, ih jangan nakal."


"Hanya pada, Adek."


"Terus abaikan Dedek ganteng. Umi dan Ayah sama saja ngeselin mengabaikan Dedek!"


"Ulu-ulu, anak ganteng pemarah. Sini Ayah ajak main bareng. Umi, Ayah main dulu sama Dedek ganteng ya. Jangan kangen kata anak sekolahan kangen itu berat. Tetapi, lebih berat jika berat badan naik. Nah, ngga usah kangen karena Mas selalu di hati Adek. Biar Mas yang rindu karena Adek tidak akan sanggup."


Aziz langsung mengecup pipi Khumaira dan berlalu bersama Mumtaaz. Dia berjalan ke arah taman guna bermain bersama si kecil. Dua hari lagi Aziz akan ke Malaysia dan selama itu mungkin rasa rindu mebeludak. Maka dari itu sebelum pergi menghabiskan waktu sepuasnya bersama anak-anak dan Istri.


Mumtaaz tidak maksud apa yang Aziz katakan pada Ibunya. Namun yang ia tangkap mereka sedang saling merayu. Si kecil hanya nengedihkah bahu acuh tentang apa yang di bicarakan ke dua orang tuanya. Asal Mumtaaz senang semua terasa manis.


"Dasar orang tua tidak tahu umur," gumam Mumtaaz.


"Siapa yang Dedek maksud?"


"Ayah," sahut Mumtaaz polos.


Aziz mengerjap menerima perkataan Mumtaaz. Mungkin sikap acuh, dingin, selalu bicara sarkasme dan asal bicara akan menurun sempurna pada Mumtaaz. Memang pepatah benar adanya buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Aziz bangga atau sedih?


Tanpa peduli apa pun Mumtaaz bermain robot-robotan sembari mengoceh imut. Tangan kecil itu terus menggerakan mainanya. Mulut kecil Mumtaaz terus menyerukan kata-kata lucu. Sehingga membuat orangtuanya gemas akan sikap lucunya.


"Ayah, ayo main Ultramen. Robot ini sangat keren tapi keren Dedek. Pokoknya Dedek Mumtaaz nanti akan jadi pria tampan seperti Ayah."


"Itu baru anak Ayah. Semoga saja, Dedek. Ayah menanti saat Dedek besar apa setampan Ayah. Tahu tidak Ayah ini tampan tidak terbantahkan. Ya, pokoknya Dedek ganteng harus jadi seperti, Ayah!"


"Pasti Dedek jauh lebih ganteng dari Ayah."


"Bagus."


Khumaira hanya geleng kepala menertawakan betapa konyol Aziz dan Mumtaaz. Kapan Suaminya sembuh dan membiarkan anak-anak waras? Ya Khumaira akui mereka rupawan tidak terbantahkan


Hanya saja dia juga sangat cantik nan manis. Pokoknya harus punya anak perempuan secepatnya agar punya personil. Khumaira langsung menggeleng saat sadar sikap anehnya ketika ingat narsisnya Suami.


Sementara Aziz dan Mumtaaz saling berbicara banyak hal. Bahkan tidak ayal.si kecil menyeletuk mirip Ayahnya. Kalau begini Aziz benar-benar pusing ketika ingat dulu sewaktu kecil nakalnya kayak.anaknya ini. Pada akhirnya mereka bersama Sling mendumel lucu memberikan segala kasih sayang.


***///\*


Aziz membuat kopi hitam tepat di tengah malam. Dia ada tugas makanya lembur untuk mengerjakan tugas kantor sebelum berangkat ke Malaysia. Dia memgambil kotak rokok yang di berikan temannya. Sudah lama sekali semenjak Azzam meninggal Aziz tidak merokok lagi. Yah, dulu tepatnya lima tahun setelah almarhum pergi ia berhenti merokok.


Kebetulan Khumiara sedang mau minum karena haus. Saat bangun Suaminya tidak ada alhasil beranjak mencari sang Suami. Saat di dapur ia melihat prianya membuat kopi lalu hal mengejutkan terjadi saat Suaminya mengeluarkan rokok. Kalau begini Khumaira ingat masa bujang Aziz pernah tahu si pria merokok.


"Kebisaan buruk, Mas. Jangan terlalu sering mengkonsumsi kopi di tengah malam. Mas tahu kopi itu kurang baik. Jangan terlalu sering minum kopi, Mas. Lalu apa itu di tangan Mas? Buang rokok itu atau Adek tidak mau tidur dengan, Mas!"


Khumaira mengoceh panjang lebar tetapi Aziz hanya memberikan cengiran aneh. Kebiasan buruk Suaminya adalah bangun tengah malam membuat kopi lalu bekerja sampai jam 3. Apa Aziz perokok? Seprtinya bukan pasalnya selama menikah Suaminya tidak pernah merokok. Pernah dulu sekali melihat Aziz merokok waktu awal bertemu.


Aziz meletakan kopi di meja dan membuang kotak rokok di tempat sampah. Ancaman Khumaira lebih menakutkan ketimbang tidak mendapat gaji 1 bulan. Lebih baik buang rokok dari pada jatah terpotong, bahaya. Aziz akan membujuk Khumaira supaya tidak marah padanya.


"Maaf, Mas tadi di kasih rokok. Tapi, Mas tidak akan merokok. Jangan marah, Dek dan soal kopi sepertinya Mas tidak bisa berhenti. Mas terlalu candu kopi hitam tanpa gula. Seperti Adek membuat candu Mas karena semua tentang Adek membuat Mas semakin cinta."


"Awas saja kalau merokok Adek potong jatah, Mas! Jangan terlalu Mas itu tidak baik untuk kesehatan. Mas perayu ulum, sudah Adek mengantuk ingin tidur."


Khumaira hendak beranjak namun Aziz menahan lengannya. Bahkan dengan romantis Suaminya merengkuh posesif pinggulnya. Dia tersipu ketika Aziz mengajak berdansa. Dengan wajah merah merekah khumaira mengalungkan tangan di leher kokoh Suaminya.


Aziz memegang pinggul Khumaira dan tubuhnya bergerak teratur. Dia raih tangan mungil Istrinya untuk melakukan tarian lebih romantis serta sensual. Tangan kekarnya semakin aktif membuat Khumaira bergetar.


Dansa selesai dengan bibir saling memangut mesra. Tangan Khumaira meremas rambut Aziz penuh sayang. Sementara Aziz semakin intim mengerjai khumaira. Namun, terhenti karena ingat Khumaira belum suci.


"Kapan Adek suci?"


"Besok, Mas ... sekarang menunggu apa sudah bersih atau belum."


Aziz tersenyum mesum mendengar jawaban Khumaira. Dengan begitu sebelum ke Malaysia dia akan bercinta sampai puas. Akhirnya hasrat terpenuhi setelah puasa satu Minggu. Sungguh tidak sabar menjamah tubuh sintal Istrinya sampai titik terdalam. Sungguh Aziz tidak kuasa menahan diri untuk melakukan itu bersama Khumiara.


Khumaira hanya menggeleng melihat Aziz terlihat begitu mesum. Namun, apa daya dia sangat cinta jadi apa pun kelakuan Suaminya membuat gemas. Wajah cantik Khumaira bersemu mengingat pergumulan panas mereka nanti. Kalau begini apa boleh buat Aziz akan mendominasi semuanya sampai lelah.


Aziz menarik dagu Khumaira penuh sayang. Dia memiringkan kepala dalam guna mengecup bibir tebal Istrinya. Ciuman panas terjadi tanpa ada kegiatan ranjang. Disaat semua terjadi Aziz tersenyum di sela menjamah tubuh sintal Khumaira walau tidak menuju inti.


"Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Jikalau ada jarak pemisah di antara kita maka cinta Mas tetap kukuh. Mas akan selalu mencintai Adek sepanjang hidup. Ingat, Mas sangat mencintai Adek selamanya."


"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah. Insya Allah cinta Adek juga akan tetap kukuh tanpa tergoyahkan. Adek juga sangat mencintai Mas selamanya."


Aziz tersenyum manis mendengar jawaban Khumaira. Dia rengkuh tubuh mungil Istrinya penuh arti. Ia mengecup berulang kali puncak kepala Istrinya penuh haru. Sungguh Aziz tidak akan sanggup kehilangan Khumaira walau sesaat saja.


Khumaira menciumi bahu Aziz penuh sayang. Suaminya berbeda hari ini entah karena apa? Ia merasa jarak akan segera tercipta di antara mereka. Sungguh berat rasanya membiarkan Suaminya ke Malaysia untuk bisnis. Namun, apa daya Khumiara juga tidak mau egois menahan Aziz tetap tinggal.


Mungkin saja badai besar terjadi yang mengharuskan Khumaira dan Aziz tidak sanggup menerima itu semua. Atau mereka akan tetap kukuh atau mundur jika badai itu datang? Inilah titik di mana akan menjadi suratan takdir.


Semoga saja hubungan mereka kekal abadi, Aamiin.


****////\\****


Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan!


Rose_Crystal_030199