
...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....
...Apa kabar semuanya?...
...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....
.......
.........
.......
Semua orang tertunduk sedih mendengar berita buruk dari Nenek. Keluarga besar Abah Hasyim tertunduk mengingat Nenek yang ada di Iraq. Mereka sedih mendengar berita buruk otomatis memesan tiket pesawat. Semua memutusakan akan berangkat ke Irak secepatnya.
Terutama Aziz karena Nenek adalah seorang paling dicintai. Dulu sewaktu semua orang membedakan dirinya dengan penuh sayang Neneknya selalu memberi kasih sayang. Setiap liburan ia memilih pulang ke Irak demi menemui Nenek. Namun, sudah sangat lama Aziz tidak berkunjung ke Iraq.
Melihat Aziz sedih Khumaira berinisiatif menghibur. Dia dekap Suaminya dari belakang lalu menyandarkan kepala di punggung. Tangan halusnya membelai lembut dada bidang Suaminya. Sampai Khumaira menerima usapan di lengan.
Pada akhirnya Aziz berbalik menghadap Khumaira. Dia dekap Istrinya penuh rasa sedih mengingat masa itu. Ia harap semoga saja Nenek lekas sembuh. Aziz ingin segera datang hari esok, tetapi takut melangkah ke Irak antah kenapa.
"Mas, do'akan Nenek supaya lekas sembuh. Besok kita akan berangkat ke Irak lewat Yogyakarta. Kita ambil baju dan semua keperluan. Jangan sedih kita semua juga mengalami hal sama. Kita senantiasa berharap kepada Allah agar berkenan memberikan kesembuhan pada Nenek. Sekarang jangan sedih, Adek mohon."
"Mas sangat sedih karena Nenek tempat paling tepat mencurahkan segala keluh kesah. Saat dulu Mas merasa sedih akibat terabaikan Nenek adalah orang paling mencintaiku. Nenek begitu mencintaiku begitu juga dengan, Mas. Nenek orang yang senantiasa memberi cinta, kasih sayang luar biasa, rumah dan alasan Mas pulang. Ketimbang pulang ke rumah Mas lebih mengutamakan pulang ke Irak. Mas begitu mencintai Nenek, begitu juga sebaliknya. Mas, sudah sangat lama tidak ke Iraq dan kini mendapat teguran."
"Ya Allah, alangkah besar kisah kalian. Adek terharu, Mas. Kalau begitu ayo wudhu kita baca Al-Qur'an. Tidak baik larut dalam duka karena Nenek begitu membutuhkan doa bukan ratapan duka. Adek mohon ingat perkataan Mas yang bilang bahwa kita tidak boleh larut dalam duka. Saat orang tercinta sakit maka yang harus dilakukan selalu berdoa kepada Allah. Bacakan surah Yasin serta terus berikhtiar. Apa sekarang Mas lupa?"
"Maafkan Mas lupa semua. Terima kasih, Dek sudah mengingatkan Mas. Sungguh Mas lupa akibat kepiluan hati. Sekarang Mas berharap selalu ingat dan mari wudhu."
Setelah mengatakan itu semua Aziz dan Khumaira memutuskan wudhu. Semua berjalan lancar bahkan sampai keduanya memutuskan mengirim Al-fatihah sekaligus Yasin. Baru setelah itu mereka nderes Al-Qur'an. Baik Aziz dan Khumaira terus tadarus Al-Qur'an sampai beberapa ruku'.
Baru setelah itu Aziz dan Khumaira memutuskan untuk berbicara sebelum tidur. Keduanya sudah duduk manis di sofa seraya menatap empat anaknya tidur. Mereka tersenyum melihat empat anak tampan tidur saling mendekap. Rasanya Aziz dan Khumaira punya feeling buruk.
"Mas antah kenapa Adek takut ke Irak."
"Kenapa begitu, Dek?"
"Adek punya feeling kurang mengenakan. Adek merasa akan terjadi badai besar. Kita akan kehilangan orang paling kita sayangi. Apa Mas juga merasakan apa yang Adek rasa?"
"Mas pun punya firasat buruk tentang itu semua. Alhasil Mas sembunyikan semua hal. Mas sangat takut kehilangan maka kita harus selalu meminta kepada Allah."
"Um, semoga firasat buruk itu hanya angin lalu. Namun, setiap apa yang menjadi firasat buruk pasti jadi nyata. Kalau begini bagaimana, Dek?"
"Kita harus bersiap-siap dan terus berdoa kepada Allah memohon perlindungan untuk kita semua. Mas jangan khawatir atas semua ini. Percaya Allah senantiasa bersama orang-orang yang sabar."
"Insya Allah, Dek."
"Adek sangat mencintai Mas karena Allah."
"Mas juga."
"Mas."
"Maaf, Mas masih kepikiran jadi ya gini. Namun, percayalah Mas begitu mencintai Adek karena Allah."
"Adek percaya."
"Hm."
Aziz mendekap Khumaira lumayan erat. Sesekali ia kecup kening Istrinya penuh sayang. Baru setelah itu dirinya merebahkan diri di sofa lalu mendekap Istrinya. Dia memilih tidur di sofa ketimbang di ranjang karena sudah penuh.
Sedangkan Khumaira menyamankan diri dalam dekapan hangat Aziz. Walau tubuhnya terlihat lebih berisi, tetapi Suaminya tetap memperlakukan begitu lembut. Dia sangat senang setidaknya sang Suami sudah tenang. Khumaira memilih menidurkan kepalanya di dada bidang Aziz.
.......***.......
Sedangkan di lain sisi Bibah selalu mengusap rambut putri bungsunya. Dia menunduk untuk mencium kening anaknya. Jujur saja ia merasa bahwasanya waktu tinggal menghitung hari. Bibah merasa takut jikalau badai datang.
"Wahai Istriku tercinta," panggil Khalid seraya mencium pergelangan tangan Bibah.
"Mas," respons Bibah malu-malu.
"Mas senang sekali," ucap Khalid terlihat jelas.
"Kenapa senang, Mas? Apa penyebabnya?" Tanya Bibah sembari membelai pipi Khalid.
"Kita akan segera kembali ke sisi-Nya."
"...."
"Namun, Mas sedih meninggalkan tiga anak kita. Ke tiga anak kita apa bisa meraih segala kebahagiaan? Mas takut sekali jika anak kita kurang kasih sayang."
"Mas."
"Mas sangat tidak sabar ketika Allah memerintahkan malaikat Izrail mencabut nyawa, Mas. Walau antah kapan kita kembali yang jelas Mas merasa begitu dekat. Allah telah memberikan segala kebahagiaan dengan mentakdirkan Adek jadi makmum. Allah juga memberi rezeki luar biasa dengan hadirnya tiga buah hati tercinta kita. Saat bersama kalian hidup terasa damai dan lebih bahagia lagi sebentar lagi alam baru akan segera kita temui. Sungguh Mas sangat mencintai Allah dan Rasulullah Saw. Setiap hembusan napas Mas selalu memimpikan ingin bertemu Rasulullah Saw. Mas ingin berjumpa Rasulullah Saw walau Mas harus ke neraka terlebih dahulu. Mas ingin Adek bersama anak-anak bertemu sang Baginda Rasulullah Saw. Serta bisa bertemu para Ahlul Jannah."
"Mas ...."
"Maaf bicara demikian."
"...."
Bibah menangkup pipi tirus Khalid kemudian menunduk guna memberikan kecupan sayang. Di beli rambut Suaminya kemudian mendongak menatap langit kamar. Dia merasa sedih sekaligus begitu terharu pada sikap Suaminya. Bibah merasa begitu senang bisa memiliki Khalid dalam hidup.
Di saat semua orang takut pada kematian lalu menghalalkan segala cara agar terhindar dari maut, maka Suaminya malah selalu menanti kedatangan maut. Suaminya begitu mencintai Rasulullah Saw, bahkan setiap waktu bersholawat. Suaminya juga setiap hembusan napas senantiasa menyebut nama Allah. Alangkah besar cinta Khalid pada Allah dan Rasul-Nya.
Sedangkan Khalid tersenyum manis melihat respons Bibah. Dia begitu senang bahwa Allah telah memberikan tanda-tanda kecil padanya. Bahkan saat menerima tanda tepat di hari ke empat puluh ia sujud syukur. Khalid memang begitu menantikan saat Allah mengirim malaikat Izrail.
Namun, Khalid juga sedih lantaran sebentar lagi ke tiga anaknya jadi yatim-piatu. Jujur saja setiap doa di sepertiga malam ia menantikan hadirnya maut. Dia meminta kelak jika malaikat Izrail hendak mencabut nyawa maka Istrinya akan ikut bersama. Benar adanya Khalid merasa Bibah akan ikut bersamanya.
"Mas."
"Dalem, Dek."
"Apa Adek sudah pantas mengikuti Mas ke mana saja?"
"Maksudnya?"
"Kita ditakdirkan Allah untuk bersama mungkin juga kembali juga bersama. Namun, saat di akhirat kita tidak bersama. Lalu bagaimana jika Mas lebih dahulu ke Surga-Nya dan Adek begitu lama ke Surga-Nya? Apa Mas akan menunggu kedatangan, Adek?"
"Insya Allah, tetapi percayalah pada Mas jika benar itu terjadi maka Mas akan menunggu di depan pintu Surga-Nya. Mas akan berkumpul bersama para ahlul Jannah lalu bertemu Rasulullah Saw bersama, Adek. Mas tidak akan pergi dari depan pintu sebelum Adek datang. Mas akan meredam rinduku kepada Rasulullah Saw. Mas memang begitu mencintai Rasulullah, tetapi Adek juga Mas cintai. Kita sama-sama mencintai Rasulullah Saw, maka bertemu juga bersama. Semoga anak kita jadi anak-anak Shaleh-Shalihah serta kita bisa berkumpul kembali ke sisi-Nya dalam Surga-Nya. Mas begitu mencintai Adek karena Allah."
"Allahu Akbar Allahu Akbar Allahu Akbar Walillaahil-Hamd Alhamdulillah yaa Rabb atas semua kebesaran telah mentakdirkan hamba pada imam terbaik. Allahu Akbar, alangkah besar kuasa-Nya telah mentakdirkan kami bersama. Adek begitu bahagia mendengar semua penuturan, Mas. Sungguh Adek juga begitu mencintai Mas karena Allah."
"Allahu Akbar."
Khalid dan Bibah saling mendekap erat penuh sayang. Keduanya menikmati kebersamaan penuh sayang. Hanya saja mereka begitu rindu pada dua anaknya yang ada di Tebuireng. Yang jelas besok adalah titik awal semua kebahagiaan. Bibah dan Khalid akan bertemu anak anak lalu membawa ke Irak.
Di mana dan kapan pun jika Allah menghendaki niscaya terjadi. Maka dari itu Khalid dan Bibah senantiasa mempersiapkan diri. Keduanya memang takut kematian serta meninggalkan anak-anak. Namun, mau bagaimana lagi inilah takdir. Bibah dan Khalid hanya bisa meraih segala harapan agar Allah senantiasa memberikan pengampunan.
...Cut....
...Rose ngantuk plus sakit jadi kalau banyak kesalahan dalam penulisan harap maklum....
...Salam cinta Rose....
...Maaf sekali lagi jika banyak kesalahan....
...15_11_20...
...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh. ...