Assalamu'Alaikum Imamku 2!

Assalamu'Alaikum Imamku 2!
AI2 - Kenangan Terindah End!



...Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....


...Asli Rose tidak tidur demi kalian semua....


...Lima Chap Hati ini semoga kalian sangat senang....


...Maaf ya ini pengulangan, tetapi harap kalian tetap suka....


...Maaf banyak typo bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini....


.......***.......


Tiga Tahun Kemudian!


Anak kecil berumur tiga tahun ini mengeliat dalam pelukan kedua orangtuanya. Tepat kemarin bocah aktif ini telah genap berusia tiga tahun. Mendapat banyak hadiah sampai bingung mau dikemanakan. Bocah ganteng bermanik jelaga menatap Ayah dan Uminya dalam.


Zaviyar kecil kebelet pipis sehingga memutuskan turun dari ranjang. Memang dasarnya bocah gembul ia turun berpegangan pada seprai. Dia turun lalu melepas celananya kemudian melangkah menuju kamar mandi. Zaviyar adalah anak cerdas walau masih kecil sudah aktif dan banyak bicara tentu saja banyak pengetahuan.


Perlahan mata Khumaira terbuka saat  Zaviyar terbangun. Dia melihat samping Suaminya masih lelap karena kecapean. Ia putuskan mencium pelipis Suaminya sebelum menyusul anaknya ke kamar mandi. Khumaira begitu senang Zaviyar tumbuh jadi anak cerdas tidak rewel.


Sampai kamar mandi Khumaira melihat Zaviyar pipis. Dia tersenyum manis dikala bocah gembul paling menggemaskan nyengir polos. Ia ambil air untuk membasuh inti putranya. Kemudian ia ambil sabun cair lalu menyabuni tangan kecil putranya. Khumaira tersenyum saja ketika Zaviyar mengajak bicara panjang lebar.


"Umi, nanti Dedek ikut ke pasar, ya."


"Ok, kita ke pasar bersama. Memang Dedek mau beli apa?"


"Um, beli buah apel sama buah pukat. Nanti Dedek beliin butan juga ya, Umi."


"Baik, sekarang kita tidur lagi masih terlalu dini. Mau gendong atau jalan sendiri?"


"Gendong."


"Uluulu, anak ganteng Umi gemesin minta cium."


Tangan kecil Zaviyar mengangkat tangan ke depan berniat minta gendong. Benar saja tubuhnya terangkat ke udara berakhir dalam pelukan Umi. Ia dekap leher Uminya lalu memberikan ciuman manis. Zaviyar senang sekali tentu saja ketika Uminya terus menciumi pipi.


Khumaira tersenyum cerah saat Zaviyar tertawa riang. Sampai kamar ia dudukan si kecil di tepi ranjang. Kemudian dia ambil celana anaknya lalu memakaikan pada buah hati tercinta. Lihat anaknya setelah pakai celana langsung nyempil minta pelukan Ayah. Khumaira gemas sendiri melihat Zaviyar sudah nyempil dalam dekapan Aziz.


Jujur saja Aziz sudah bangun tatkala mendengar suara pintu kamar mandi terbuka. Pastilah anak bungsunya yang bangun pipis atau buang air besar. Tidak berselang lama Istrinya bangun memberikan ciuman sayang di pelipis. Sepeninggal Khumaira mata Aziz terbuka menatap pintu kamar mandi yang terbuka.


Karena tahu Khumaira dan Zaviyar segera kembali sontak Aziz balik tidur. Obrolan kecil terjadi hingga anak bungsunya nyempil dalam pelukannya. Ia yang gemas melingkarkan tangan di tubuh mungil buah cintanya. Lihat si kecil tambah ndusel mencari kehangatan nyaman dalam dekapan. Aziz begitu sayang sehingga menepuk-nepuk pantat Zaviyar biar lekas tidur.


Benar saja selang beberapa saat Zaviyar telah lelap. Dia tersenyum melihat anaknya tengah lelap dalam dekapan. Kini sudah saatnya mesra-mesraan lalu shalat tahajud. Kurang satu jam lagi sepertiga malam sehingga punya waktu bersama wanitanya. Mata coklat cerah itu menatap Istrinya penuh cinta. Hingga Aziz meminta Khumaira sebuah ciuman bibir atau kening.


Khumaira tersadar ketika Aziz telah bangun dan jelas terlihat ketika mendekap tubuh Zaviyar. Hingga tangan kekar Suaminya sibuk menepuk bokong anak tercinta sampai bobok. Selang beberapa menit Suaminya membuka mata lalu hal manis terjadi. Khumaira menunduk guna mencium Aziz tepat di kening lalu mencium pelipis Zaviyar.


"Satu jam lagi sepertiga malam."


"Selagi menunggu sepertiga malam bagaimana kita mengaji, Mas?"


"Habis shalat tahajud mengajinya, Dek."


"Umh, baiklah. Sekarang bagaimana, Ayah?"


"Setengah jam main yuk, Umi. Ayah pingen anu mumpung si ganteng sudah tidur."


"Ayah, mesum jadi pingen nyubit. Nanti kalau bangun bagaimana, Dedek Zavi? Lihat baru beberapa saat Tole bobok."


"Mas jamin tidak mungkin bangun jika tidak keras-keras Umi mendesah."


"Ayah, ya Allah kenapa Suami hamba begitu mesum?"


"Mesum begini cinta banget, 'kan?"


"Alhamdulillah sangat cinta. Ya sudah pindah ke sofa ya takut Dedek Zavi terganggu."


"Alhamdulillah ya Allah dapat juga. Mas sangat mencintai Adek karena Allah."


"Adek juga sangat mencintai Mas karena Allah."


Aziz meletakan bantal dan guling di sisi Zaviyar. Setelah itu mencium kening dan pipi gembul anaknya. Baru setelah itu turun dari ranjang lalu mengitari sisi ranjang demi Istrinya. Senyum manis terukir indah melihat Istrinya juga melakukan hal sama yaitu mencium Zaviyar. Tanpa buang waktu Aziz menarik pelan tangan Khumaira sebelum mengajak bersilaturahmi bibir.


Khumaira tersenyum menerima ciuman lembut Aziz. Dia yang gemas mengalungkan tangan di leher kokoh Suaminya. Tidak berselang lama tubuhnya terangkat di udara. Sudah di pastikan akan terjadi hal panas sebelum sepertiga malam. Khumaira pasrah di bawah dominasi Aziz penuh  cinta dan gairah.


....***....


Sekumpulan anak-anak ganteng di hari weekend memutusakan bermain. Ridwan kebetulan pulang lantaran lebaran haji (anggap saja begitu). Punya libur lima hari oleh sebab itu si sulung pulang ke rumah. Anak paling besar ini sebenarnya tidak mau pulang hanya saja punya firasat buruk alhasil memutusakan pulang. Ridwan merasa akan ada badai besar menerjang keluarganya.


Mumtaaz sendiri tengah main bersama Ridwan. Si ganteng cilik ini terus mengoceh menyalahkan Kakak sulung akibat kalah main rubik. Kakaknya menyelesaikan rubik kurun waktu 50 detik, sedangkan dia buruh 70 detik. Sebel dirinya tidak mampu mengalahkan kelincahan sang Kakak untuk urusan ini. Namun, berkat Ridwan semangat juang kompetitif Mumtaaz terpacu seperti Ayahnya.


Sedangkan Faakhira tengah makan puding bareng Zaviyar. Tangan kecil gadis cilik ini terus mengusap pipi gembul Adiknya saat terkena noda cokelat. Harusnya bibir, tapi ia lebih suka mengusap pipi menggemaskan Adiknya. Jujur saja ia begitu gemas pada si bungsu yang tengah aktif makan puding. Faakhira jadi merasa sesak akibat rasa kurang nyaman menyangkut Zaviyar.


Zaviyar sendiri sudah habis satu mangkuk puding coklat. Hingga ia ambil satu mangkuk rasa coklat campur vanilla. Dia ambil sendok untuk menyuapi satu persatu Kakaknya. Dirinya begitu senang menyuapi tiga Kakaknya yang menggemaskan. Zaviyar juga tidak lupa menyuapi Ayah dan Uminya.


"Yah, mau permen."


"Dedek Zavi mau permen apa?"


"Coklat, Yah. Ayah ... Umi, nanti Dedek ikut puasa, ya."


"Siap anak ganteng, Ayah."


"Memang Dedek Zavi kuat puasa?" Celetuk Mumtaaz masih sibuk memainkan rubik.


"Kakak Mumi, jahat ... tentu saja Dedek kuat puasa. Kak wanwan, bilang ke Kak Mumi jangan goda," rajuk Zaviyar.


"Tentu siap, Ayah!" Kor empat anak manis sambil tersenyum lebar.


"Anak pintar ayo sini peluk!" Seru Aziz sembari membentangkan tangan biar empat anaknya mendekap tubuhnya.


"Peluk Ayah."


Khumaira tersenyum teduh melihat Aziz merengkuh Ridwan, Mumtaaz, Faakhira dan Zaviyar. Dia yang gemas ikut bergabung mendekap anak-anak dan Suaminya. Ia ciumi satu-satu anaknya tersayang lalu memberikan ciuman manis di rahang tegas Suaminya. Antahlah yang jelas Khumaira merasa momen bersama si bungsu makin terkikis.


Sedangkan Aziz memberikan ciuman sayang di pipi Istri dan anak-anaknya. Tidak lupa ia goda satu-satu anaknya biar merajuk manja. Sungguh ia bangga punya anak-anak Shaleh dan Shalehah. Terkhusus merasa bangga bisa punya anak secerdas Zaviyar layaknya Ridwan kecil. Aziz juga merasa pilu akhir-akhir ini teringat di bungsu dan Adik kandung serta ipar. Antahlah firasat buruk terus merajalela sampai memenuhi pikiran.


Ridwan tersenyum berada nyaman dalam dekapan Ayah dan Uminya. Terkhusus tiga Adik kesayangan tengah didekap olehnya. Semua yang ada membuat pilu pikiran yang jelas punya firasat buruk. Terkhusus sebelum pulang ia melihat Bibi dan Pamannya bagai terikuti kabut. Ridwan benci merasakan keesaan peka terhadap sesuatu hal buruk. Sungguh berharap semoga semua baik-baik saja.


Mumtaaz juga tidak lepas menatap Zaviyar tengah tersenyum cerah. Antah kenapa malah air matanya tumpah mengingat firasat buruk itu. Dia berharap bisa terus menatap Adik bungsunya sampai kapan pun. Hanya saja ia sadar takdir berkata lain maka harus terima. Mumtaaz harap semoga saja Zaviyar baik-baik saja sampai akhir hayat, Aamiin.


Untuk Faakhira tidak lepas memberikan ciuman sayang di pipi gembul Zaviyar. Ia usap rambut Adiknya lalu menatap dalam. Dirinya berharap wajah teduh Adiknya akan selalu di lihat penuh sayang. Kini harapan Faakhira hanya satu firasat buruk pada Zaviyar tidak akan terjadi.


Zaviyar sendiri terus ceria dengan keusilan dan sikap menggemaskan yang lain. Dia masih kecil belum peka pada keadaan, tetapi terus menempel tidak mau lepas. Ia senantiasa menempel pada Ayah, Umi dan tiga Kakaknya. Antah kenapa Zaviyar kecil menghabiskan waktu penuh tawa bersama keluarga.


"Dedek FaaFaa, mau puasa full atau setengah hari?" Tanya Khumaira.


"Full, kan Dedek sudah gede jadi harus puasa sehari."


"Masya Allah, anak Umi dan Ayah cerdas sekali. Semoga Dedek FaaFaa kuat ya puasa sehari penuh," nimbrung Aziz.


"Adikku yang terbaik," kor Ridwan dan Mumtaaz.


"Aamiin ya Rabb, Dedek FaaFaa memang cerdas dan sangat cantik kayak, Umi. Dedek FaaFaa, yang tercantik dan yang terbaik, hihihi."


"Dasar gembul, hahaha." Tawa Aziz sekeluarga.


"Dedek Zavi juga cerdas, Ayah, Umi ... Kak!"


"Oh lupa, Dedek cerdas," kekeh Mumtaaz.


"Nyebelin, kak Wan Wan lihat Kak Mumi jahat," adu Zaviyar.


"Biar Kakak cubit Kakak cilik." Ridwan pura-pura mencubit Mumtaaz.


"Yak, sakit. Hentikan Kak, ish nyebelin," Rajuk Mumtaaz pura-pura.


"Iii cengeng," goda Zaviyar sukses dipendeliki Mumtaaz.


"Adik gembul tidak ada akhlak," sungut Mumtaaz.


"Hn. Kakak FaaFaa, mau cubit?" Tanya Zaviyar polos.


"Tidak mau," tolak Faakhira.


"Maulah!" Zaviyar tersenyum polos.


Zaviyar langsung nindih Faakhira lalu mencubit pipi gembul Mbaknya. Dia tertawa riang bisa mencubit gemas pipi gembul Kakak perempuannya. Hingga tubuh gempalnya terguling hingga jadi santapan empuk ketiga kakaknya. Zaviyar tertawa riang digelitik lalu di ciumi oleh Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira.


Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira tertawa riang bisa menggelitik serta menciumi Zaviyar. Mereka sangat senang bermain heboh sampai rumah bising akibat suara teriakan, tawa dan rengekan. Mereka begitu heboh sampai banyak suara menggema lucu. Ridwan, Mumtaaz dan Faakhira begitu mencintai Zaviyar oleh sebab itu sangat senang mendengar tawa si bungsu.


Aziz dan Khumaira saling merangkul menyaksikan anak-anak begitu bahagia menerima semua ini. Akhirnya kebahagiaan senantiasa ada walau pasti ada rintangan. Senyum manis itu merekah melihat empat anak rupawan bercanda gurau bersama. Aziz dan Khumaira akhirnya memutuskan ikut bermain penuh tawa.


Pada akhirnya keluarga kecil ini tersenyum sangat cerah memperlihatkan deretan gigi. Mereka tertawa riang menikmati kebersamaan sebelum badai. Kini hanya ada tawa haru serta segala kebahagiaan bersama. Aziz dan Khumaira serta empat anak tercinta begitu bahagia.


"Ayah dan Umi sangat mencintai kalian."


"Kami juga sangat mencintai Ayah dan Umi.


Pada akhirnya mereka berpelukan penuh sayang. Walau masih banyak momen terindah setidaknya ini adalah paling membahagiakan untuk mereka. Jujur saja kenangan terindah mereka tidak terhingga sehingga membuat siapa saja jatuh hati.


Inilah kisah penuh hikmah dan tentunya begitu banyak cinta. Walau begitu banyak rintangan mereka senantiasa berikhtiar, sabar, ikhlas, bertawakal serta terus berbuat kebaikan.


...Flashback kenangan terindah End!...


Dan pada akhirnya kenangan itu membuat Aziz sekeluarga menangis memilukan. Mereka rindu Dedek Zavi antah berada di mana. Mereka tidak tahu anak manis itu ada di mana.


Dan mereka juga telah berusaha ikhlas, tetapi saat sendiri maka menangis dalam diam. Terlebih sewaktu shalat sepertiga malam maka Aziz sekeluarga terus menangis.


Kenanga terindah yang akan selalu teringat sepanjang masa.


...Cut....


Asli aku begitu ngantuk. Jika lima Chap kurang ngena atau kurang gregetan harap maklum.


...Rose telah berusaha crazy update walau cuma lima. Itu pun ambil chap yabg lalu....


...Sekali lagi maafkan Rose....


...Maaf Rose benar-benar ngantuk, jika semua amburadul harap maklum....


...Sekali lagi maafkan Rose....


...Salam cinta Rose....


...30*11*20...


...Wassalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh....