
Awas baper, jangan sampai meleleh uhuk!
Ingat ini chapter ini panjang banget. puas dah kalian.
Moga ngga baper guling-guling gitu lihat ehmz Ayah Aziz luluhin Umi.
Maaf banyak typo's bertebaran dan kesalahan dalam penulisan di bawah ini!
***///~\*
At Singapura 10:30 AM!
Apa yang bisa kulakukan untuk mempertahankan hubungan kita? Satu bulan setengah aku lewati begitu kelam. Tidak ada hari berwarna melainkan hari kelabu. Tidak cahaya rembulan karena cahaya itu padam di telan kegelapan malam. Tidak ada senyuman karena tidak ada alasan tersenyum. Bahkan tidak kehidupan karena hidupku terbawa Istriku.
Di setiap langkah aku hanya bisa mendoakan kebahagiaan mereka, terkhusus kedua anakku. Ya Allah, aku sangat merindukan mereka sepenuh hati. Setiap hari rasanya ingin sekali menghubungi Dek Syafa dan anak-anak. Namun, aku takut sebuah harapan akan hadir. Harapan di mana aku berjuang kembali bersama Istriku.
Hingga tadi pagi aku telepon Dek Syafa untuk pertama kalinya. Aku tidak tahu yang pasti rasanya sangat membahagiakan. Aku seperti mendapat kabar bahagia dari Allah. Antahlah rasanya seperti sangat membahagiakan. Perasaan apa ini?
Air mata luruh deras mendengar suara wanitaku yang sangat aku cintai. Alhamdulillah, setelah satu bulan setengah aku mampu mendengar suaramu, Dek. Aku sangat merindukan kamu Sayangku sampai rasanya ingin pulang mendekap erat. Apa kabar kalian wahai Istri dan anak-anakku? Semoga saja kalian baik-baik saja dalam perlindungan Allah, Aamiin.
Saat Dek Syafa menanyakan kabar? Apa yang ku jawab? Haruskah aku berbicara kabarku sangat buruk tanpa kalian? Aku sangat terpuruk, Dek. Lalu aku sadar ada banyak orang di seberang sana. Maka dari itu aku tega memanggil Istriku dengan panggilan Mbak.
Hatiku terasa ngilu mengingat hubungan kami. Pasti ada Mas Azzam, kenapa aku lupa Dek Syafa sekarang miliknya. Hingga jawaban paling menyakitkan terucap. Jawaban yang sukses membuat hatiku terkoyak tanpa ada yang bisa merekatkan.
Aku tidak sanggup memanggil Istriku dengan panggilan Mbak. Rasanya kelu penuh kesakitan mengingat kata-kata itu. Antahlah sebuah rasa menghancurkan segalanya. Sebuah rasa sukses meleburkan diri sampai titik terendah.
Aku tersenyum kecut mendengar jawaban serta salam penutup dari Istriku. Mas sangat rindu, Dek sampai Mas tidak sanggup menahan luapan ini. Sakitmu adalah sakitku. Mas tahu jawaban Mas sangat menyakiti perasaan Adek. Namun, Mas lebih sakit mengatakan kata-kata itu.
Aku sedang kerja jadinya aku putuskan akan menelepon nanti malam sekalian menjelaskan. Ah, bagaimana kabar anak-anakku? Kenapa aku lupa pasti nanti malam anak-anak sudah tertidur pulas.
Tidak apa, biarkan aku selesaikan masalah bersama, Dek Syafa. Ya Allah ini menyakitkan untuk diriku serta semuanya. Istriku, apa kabar? Pasti Adek begitu marah pada Mas yang tega menyakiti perasaan untuk ke sekian kalinya. Maafkan Mas belum bisa membujuk Adek akibat pekerjaan terlalu banyak.
Aku langsung bergegas untuk rapat bersama klien penting. Saat di koridor aku bertemu pada seseorang yang teramat gila. Aku tersenyum ketika Jasmin, putri komisaris perusahaan ini menyapaku. Bukan tanpa alasan gadis itu datang setiap waktu tanpa bosan. Dengan berani Jasmin berkata menyukaiku. Gila dan berani sekali gadis ini terus muncul ke kantor untuk membawakan makanan. Namun, makanan itu tidak pernah tersentuh olehku.
Maaf gadis manis, cintaku hanya untuk Istriku selamanya. Risiko cowok ganteng setiap langkah banyak yang cinta, klise. Lupakan wanita itu karena tidak penting bagiku. Anggap sampah atau angin lalu karena dia benar-benar mengganggu. Oh ya Allah ternyata mulutku tajam sekali baru tahu, hahahaha.
Masih tidak di percaya, gadis itu sangat gigih mengejar diriku. Bahkan tanpa segan memberikan apa pun termasuk uang. Gadis gila, ingin sekali mengeluarkan mulut tajamku. Tetapi, ingat dia putri Tuan Antonio Ann Douglas yang memberikan aku tempat untuk mengasingkan diri.
Cukup lama meeting kali ini sampai jam makan siang terlewati. Kami sedang membahas proyek besar untuk pembangunan apartemen mewah khusus kalangan kaya. Semua sudah terancang kini waktunya istirahat membeli makanan.
Di tengah koridor Jasmin memberikan makanan untukku. Ya Allah, sabar karena orang sabar tambah tampan. Terpaksa aku terima dengan senyum dingin lalu pergi untuk memberikan pada Adam. Aku tidak akan mau memakan apa pun darinya.
Setiap yang di berikan padaku maka terlempar pada orang lain. Pasalnya, aku hanya ingin makan makanan buatan Istriku bukan wanita lain. Hanya Istriku yang berhak atas diriku. Semua yang ada padaku dari pakaian, cinta, hati dan tubuh serta semua makanan hak Istriku. Semua miliki Istriku walau pun ribuan orang mengantre. Semua cinta atas nama Allah dan cinta serta semuanya hanya untuk Dek Syafa seorang.
Lupakan itu sekarang aku meminta seseorang untuk memesankan makanan khas Indonesia. Di sini ada restoran mewah menyediakan banyak sekali menu khas Negara tetangga. Maka dari itu aku sering makan atau masak sendiri khas Indonesia.
Aku merebahkan diri di sofa seraya tersenyum melihat layar ponsel. Kira-kira kapan ya kami bisa sedekat ini? Aku ingin mendekap kalian sepenuh hati. Ayah rindu Nak, sangat rindu pada Kakak dan Dedek. Ayah rindu atas kalian bahkan tidak ayal membuat Ayah ingin lari.
Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz .... Ayah sangat merindukan kalian. Ayah sangat mencintai kalian karena Allah. Rindu besar ini akan Ayah simpan apik untuk bertahan. Ayah akan melabuhkan segala cinta untuk kalian semua.
Mas sangat mencintai Adek karena Allah. Demi Allah rasa rindu menghunus qalbu, Dek. Mas sangat berharap semoga Adek bahagia bersama anak-anak. Semoga Adek dan Mas Azzam selalu bahagia dalam suka maupun duka. Doa baik akan selalu mengiringi langkah kalian.
Rasanya begitu menyiksa hidup sendiri tanpa celoteh Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz. Rasanya sangat sepi tanpa anak-anakku yang hiperaktif. Ayah sangat merindukan kalian, Nak. Apa kalian rindu Ayah?
Hatiku hancur, jiwaku tidak ada kehidupan selama ini. Pasalnya rasa sakit ini tidak ada obat bertahan. Dek Syafa, apa merasakan apa yang Mas rasakan? Hidupku begitu kelam setelah berpisah dengan kalian.
Yang akan aku lalui adalah hari berat hidup tanpa kalian. Mas akan berjuang demi mempertahankan kehidupan untuk kalian. Semoga kita bahagia di jalan yang di tentukan Allah. Selamat berjuang, Sayangku.
Sampai bertemu lima tahun lagi Kakak Ridwan dan Dedek Mumtaaz. Sampai berjumpa lagi Dek Syafa tersayang. Semoga Allah selalu melimpahkan rahmat-Nya kepada hamba-Nya yang butuh perlindungan.
***///~\*
Tepat setengah sebelas malam Aziz baru selesai mengerjakan tugas kantor. Hari ini pekerjaan begitu menumpuk sampai pusing. Maka lupa waktu dikala hari sudah larut malam. Mata Aziz membulat sempurna saat sadar Khumaira sedang merajuk. Apa anak-anak dan Istrinya sudah tidur?
Aziz memijat pangkal hidung sedikit kasar mengingat di Indonesia sudah malam. Walau masih pukul 21:30 waktu Indonesia bagian barat. Tetapi, dua anaknya sudah tertidur lelap. Lalu Khumaira pasti menghabiskan waktu bersama Azzam. Kalau sudah begini Aziz jadi gemang tanpa kata.
Rasa bimbang merasuki hati Aziz yang kalut. Dengan tangan bergetar akhirnya dia nekat menelepon Khumaira demi menjelaskan kejadian tadi pagi. Tubuh kekarnya terasa bergetar saat panggilan tersambung. Semoga saja Aziz tidak melakukan kesalahan sehingga membuat Khumaira tambah marah.
"Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh," salam Aziz memulai pembicaraan.
"Wa'alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh."
Aziz meringis mendengar nada ketus Khumaira terkesan marah. Dia berusaha keras agar tidak terlihat lemah. Jangan bergetar menerima ke cetusan Istrinya. Mungkin ini usaha keras Aziz untuk membuat Khumaira tenang tidak merajuk.
"Apa kabar?"
"Alhamdulillah, apa ada yang penting jika tidak aku ingin tidur. Mau mengobrol dengan anak-anak besok saja. Mereka tidur!" ketus Khumaira tanpa peduli perasaan Aziz.
Aziz tersenyum mendengar nada ketus Khumaira. Dia tidak mau Istrinya marah karena malam ini khusus untuk mereka berdua. Apa tidak apa-apa mereka mengobrol berdua di kala ada Masnya? Aziz kembali bimbang antara lanjut atau berhenti.
"Maaf," satu kata mewakili semuanya.
"Untuk?"
"Tadi pagi."
"Lupakan, sekarang aku harus tidur."
"Jangan aku mohon bicaralah agar rinduku terobati."
Aziz mengatakan isi hatinya yang sangat merindukan Khumaira. Dia ingin mendengar suara Istrinya agar rasa lelah serta sakit akan kesepian terobati. Semoga saja Istrinya mau mengatakan sesuatu padanya. Aziz ingin Khumaira dan anak-anak hidup bersama kembali. Izinkan ia meraih kebahagiaannya bersama orang-orang yang dicintai.
Di seberang sana Khumaira menangis mendengar perkataan Aziz. Jika boleh jujur ia lebih merindukan Suaminya. Dia ingin Suaminya kembali menemani mereka penuh suka maupun duka. Izinkan dirinya meraih kebahagiaan tanpa terluka untuk kedua kalinya. Khumaira ingin Aziz pulang sehingga mampu melindungi mereka.
"Aku sudah berbicara, katakan kenapa menelepon malam-malam?"
Aziz memejamkan mata mendengar nada bergetar Khumaira. Dia paham sekarang ini Istrinya sedang menangis. Andai dekat pasti ia akan langsung merengkuh Istrinya untuk memberi ketenangan. Kalau sudah begini Aziz tidak tahan lebih lama jauh dari Khumaira.
Dalam keheningan malam Khumaira menangis dalam diam. Dia menangis dalam dekapan malam yang sunyi hanya suara dentingan jam. Pedih pilu itulah yang dirasakan saat ingat waktu dulu. Segala cinta akan Khumaira tahan supaya tahan dari rasa rindu akan Aziz.
"Mas minta maaf soal tadi pagi. Bukan maksud Mas memanggil Adek dengan sebutan Mbak. Rasanya sangat sakit memanggil orang yang sangat kucintai dengan panggilan, Mbak. Maaf lagi-lagi membuat Adek sakit hati. Mas sangat menyesal telah mengatakan kalimat menyakitkan itu. Dek tolong percaya Mas sangat tersiksa akan semua ini. Jangan menangis Mas mohon. Mas sangat mencintai Adek karena Allah dan Mas sangat merindukan Adek."
Khumaira yang mendengar penjelasan Aziz semakin terisak. Dia sangat terharu ingin berlari ke arah Suaminya lalu mengatakan semua. Ia ingin meraung keras dalam dekapan Suaminya. Sungguh Khumaira sangat merindukan Aziz tanpa terbendung. Harusnya dia sadar Suaminya berbicara begitu pasti sangat tertekan. Mungkin emosi Ibu hamil membuat letupan tanpa kendali.
Aziz mengatupkan bibir rapat mendengar isakan Khumaira semakin kencang. Apa perkataannya semakin menyiksa batin Istrinya? Ya Allah, andai bisa ia ingin kembali ke Indonesia segera agar Istrinya tidak menangis. Apa bisa Aziz pulang sekarang meraih Khumaira?
"Adek sangat terluka mendengar kata-kata Mas tadi pagi. Mas menyakiti Adek tanpa tahu betapa sakit hatiku. Mas Aziz gila tidak tahu perasaanku. Adek juga sangat merindukan Mas sampai rasanya ingin menyusul, Mas. Jika Mas benar-benar mencintai Adek maka pulang dengan cepat. Adek akan memaafkan Mas jika besok pulang ke rumah!"
Aziz tersenyum mendengar jawaban Khumaira penuh emosi. Dia tersenyum bahagia Istrinya meluapkan emosi. Jika dekat ia ingin meraup bibir Istrinya penuh perasaan. Demi Allah Aziz akan selalu bersama Khumaira salam suka maupun duka.
Khumaira menutup wajahnya yang bersemu gara-gara perkataannya. Tanpa sadar dia meluapkan emosinya yang membelenggu batin. Dia ingin menutup wajahnya dengan panci. Kalau begini rasanya ia ingin ke pohon toge untuk gantung diri. Khumaira jadi malu sendiri membayangkan Aziz datang.
"Mas akan pulang 5 tahun lagi, kan ada Mas Azzam. Ah lupa apa tidak apa-apa Mas menelepon Adek saat malam begini? Apa Mas Azzam tidak marah? Maaf Mas mengganggu waktu bersama kalian."
Khumaira terdiam bingung mau menjawab bagaimana? Saat teringat Azzam rasanya sangat menyesal telah menyakiti perasaan matan Suaminya. Kini takdir Khumaira ada pada Aziz. Dia akan memberi tahu perihal kehamilannya dan perpisahan dengan Azzam. Janinnya butuh Ayah untuk memberi perlindungan.
"Adek hanya milik Mas Aziz seorang. Tidak ada Mas Azzam karena Adek telah lepas. Kami berpisah, Mas."
Mata tajam berpupil cokelat Aziz membulat sempurna mendengar jawaban Khumaira. Pisah? Berani sekali Azzam menyia-nyiakan pengorbanannya. Apa Masnya tidak sadar bahwa kepergiannya untuk kebahagiaan mereka. Lalu kenapa bisa Masnya melepas Khumaira? Aziz tidak terima semua kepahitan yang dia tempuh satu setengah bulan di bayar sebuah kekecewaan.
"Jelaskan dengan video call!"
Aziz mengalihkan panggilan menjadi Video. Untuk pertama kalinya setelah perpisahan menyakitkan itu ia mampu melihat Khumaira. Dapat di lihat Istrinya menunduk tidak sanggup menatapnya. Rasa kecewa membuat Aziz ingin marah pada keduanya.
Khumaira merasa Suaminya sedang emosi. Dia dengan perlahan menatap Aziz lewat layar ponsel. Jantungnya berdegup kencang melihat Suaminya untuk pertama kali setelah berpisah. Dia ingin mengusap wajah Aziz tanpa terlewati. Kalau begini Khumaira begitu terpuruk ingin bertemu Suaminya.
"Mas, maaf aku dan Mas Azzam sudah berpisah 1 bulan yang lalu."
Aziz tambah sok menerima kenyataan itu. Jadi selama 1 bulan Khumaira dan anak-anak sendirian. Ya Allah, kenapa bisa Azzam menyerah begitu saja tanpa mau berusaha?;Apa Kakaknya tidak memikirkan anak-anak? Ya Allah ingin rasanya Aziz murka pada Azzam dan juga Khumaira. Keterlaluan sekali bahkan mati-matian pergi menanggung kepedihan.
"Kalian sangat mengecewakan! Aku sudah berkorban demi kebahagiaan kalian lalu kenapa berpisah? Apa kalian tahu betapa hancur hidupku? Katakan apa aku tidak boleh emosi?"
"Maaf, Mas."
Hanya maaf yang mampu Khumaira katakan agar membungkam Aziz. Dia tahu seberapa kecewa Suaminya pada mereka. Semoga saja Suaminya tidak melakukan tindakan di luar prediksi. Khumaira selalu berharap semoga Aziz tidak berlarut-larut dalam emosi.
"Ceritakan semua kenapa berpisah!"
Khumaira menghapus air mata secara kasar. Dia kembali menatap layar ponsel dengan pandangan sendu. Mungkin penjelasan ini juga akan menyakiti Aziz. Mau tidak mau Khumaira harus bisa mengatakan semuanya.
"Aku tidak ingin hidup bersama salah satu dari kalian. Aku memutuskan tidak akan hidup bersama Mas Azzam atau Mas Aziz. Aku ingin bebas dari jerat kalian yang selalu membuat rasa sakit dan bingung. Aku ingin bebas tanpa bayangan kalian. Oleh sebab itu kami pisah tanpa ikatan cinta."
Aziz memijat pangkal hidung sedikit kasar. Kalau di pikir keputusan Istrinya sangat bijak tanpa memilih mereka. Mungkin sebentar lagi mereka akan pisah tanpa ikatan cinta. Aziz menunduk untuk kembali berpikir logis memecahkan permasalahan. Pasti Masnya tertekan akan keputusan Khumaira. Kini Khumaira hanya menjadi Istrinya seorang. .
"Itu keputusan bijak, Dek. Dengan tidak memilih kami itu tandanya Adek wanita begitu kuat. Mas salut mendengar keputusan, Adek Syafa. Sekarang hanya tinggal menunggu kita juga akan ...."
"Tidak akan berpisah!"
Aziz terdiam saat Khumaira menyerobot perkataannya. Kenapa bisa begitu? Apa Istrinya mau menyakiti perasaan Azzam? Apa Istrinya ingin hubungan mereka semakin dekat? Apa bisa mereka bahagia di atas penderitaan orang lain? Aziz tidak akan sanggup jikalau ingat Azzam dalam kepedihan.
Khumaira bertekad mengembalikan hubungan sempat retak. Kini saatnya saling membangun rumah tangga dengan lembaran baru. Walau pedih setidaknya ia berharap semoga saja ini takdir terindah. Tidak apa yang jelas Khumaira berharap semoga saja Azzam ikhlaskan Khumaira untuknya.
"Kenapa? Apa Adek ingin kita bahagia di atas penderitaan orang lain?"
"Apa Mas tidak mau kembali demi anak-anak? Adek tidak ingin bahagia di atas penderitaan orang lain terutama, Mas Azzam. Adek sangat ingin berpisah dengan kalian tanpa terjebak belenggu berat. Namun, apa yang harus Adek lakukan jika ada kehidupan baru di rahim, Adek? Apa Adek mampu memisahkan anak ini dari, Mas? Apa Adek sanggup buah hati kita terlantar tanpa kehadiran, Ayahnya? Adek harus bagaimana, Mas?"
Khumaira membiarkan ponselnya tergeletak di karpet. Dia meringkuk pilu seraya menangis tersedu. Pada akhirnya ia mampu mengatakan kehamilannya pada Suaminya. Kini berharap Suaminya cepat pulang. Sungguh Khumaira tidak sabar menunggu kepulangan Aziz agar bisa merengkuh tubuhnya.
Aziz terbelalak tidak percaya mendengar pengakuan Khumaira. Tubuhnya bergetar menahan luapan emosi campur aduk. Istrinya sekarang mengandung anaknya? Benarkah itu yang di dengar? Tolong katakan ini bukan mimpi. Benarkah sekarang ini akan menjadi Ayah kembali? Aziz bergetar hebat ingin mendengar pemberitahuan Syafa-nya.
"Dek jangan menangis Mas mohon. Katakan pada Mas, apa Adek mengandung? Apa pendengaran Mas masih normal? Kenapa rasanya begitu nyata? Dek, apa benar kita akan memiliki anak?"
Khumaira seka air matanya lalu meraih ponsel. Dia tersenyum manis di sertai air mata terharu. Dengan mengangkat ponselnya agak menjauh agar memperlihatkan tumbuh atasnya. Khumaira dengan senyum manis menggerakkan tangannya di atas perutnya. Dua ingin Aziz melihat ada kehidupan baru dalam perutnya.
"Iya, Mas. Sekarang Adek mengandung 6 minggu. Cepat pulang agar kami tidak kesepian. Cepat pulang Ayah, Dedek ingin di usap tangan Ayah. Pastinya anak kita ingin mendapat ciuman Ayahnya. Penantian kita terbayar manis, Mas. Adek hamil anak yang sangat kita harapkan. Alhamdulillah, Allah memberikan Kuasa-Nya agar Adek mengandung kembali. Adek sangat bahagia akhirnya harapan kita terpenuhi."
Khumaira tersenyum lebar memperlihatkan lesung pipi dan deretan gigi rapinya. Dia tersenyum seraya terkekeh geli melihat Aziz menangis tergugu. Ia sangat tahu seberapa bahagia Aziz menerima kabar bahagia ini. Bahkan Suaminya langsung menaruh ponsel dan sangat tahu Aziz melakukan sujud syukur karena keagungan sang Khalik.
Aziz menangis haru mendengar kabar bahagia itu. Dia tidak kuasa melakukan sujud syukur menyambut kedatangan buah hatinya. Bahkan tanpa ragu ia berteriak kegirangan penuh rasa syukur. Dia terus menyeru nama Allah penuh kebahagiaan. Aziz begitu terharu Khumaira mengandung anak kedua mereka.
"Allahu Akbar Walillaahil-Hamd. Alhamdulillah ya Allah, telah memberikan kebahagiaan pada kami. Alhamdulillah ya Allah, telah menurunkan keajaiban pada kami. Ya Allah terima kasih sudah memberikan anugerah terbesar dalam hidup kami. Dek tunggu Mas pulang ... Insya Allah Mas akan pulang besok. Ya Allah Mas begitu bahagia. Allahu akbar ... Allahu Akbar ... Allahu Akbar Walillaahil-Hamd!"
Khumaira hanya mengaguk setuju sembari tersenyum lebar. Dia akan menunggu kedatangan Aziz pulang ke rumah penuh suka cita bersama anak-anak. Sungguh rasanya Khumaira ingin merengkuh Aziz erat seraya menangis penuh kebahagiaan.
Aziz terus menangis sesenggukan penuh haru. Sungguh dia sangat mencintai Khumaira sepenuh hati. Dia sangat bahagia tanpa mampu mengontrol diri. Kebahagiaan Aziz begitu besar sampai tidak peduli apa pun.
"Mas, kami akan menunggu kedatangan, Mas. Adek sangat mencintai Mas karena Allah. Cepat pulang Ayah, Umi dan anak-anak sangat merindukan Ayah. Kami sangat mencintai, Ayah!"
"Tunggu kepulangan, Mas. Mas juga sangat mencintai Adek karena Allah. Bahkan kerinduan Ayah lebih besar dari kalian. Ayah akan segera pulang untuk meraih kebahagiaan kita yang sesungguhnya. Ayah juga sangat mencintai kalian sepenuh hati!"
Aziz dan Khumaira saling melempar senyum haru. Mereka saling menatap penuh cinta dan serat akan pengharapan. Air mata kembali jatuh akan rasa syukur yang Allah berikan. Tidak ayal keduanya saling melempar senyum paling manis. Aziz dan Khumaira berharap semoga saja Allah selalu menyatukan mereka dalam suka maupun duka.
"Mas sangat mencintai, Adek karena Allah!"
"Adek juga sangat mencintai, Mas karena Allah!"
Tawa renyah terdengar membuat Aziz dan Khumaira begitu bahagia. Kini keduanya berharap semoga besok bisa bertemu. Tidak ada hal paling mendebarkan bagi keduanya saat ingat besok akan berjumpa. Enam Minggu berpisah kini keduanya akan berjumpa dalam luapan cinta paling dalam. Aziz dan Khumaira tidak sabar maka dari itu keduanya memutuskan bertahan lama.
***////•\\***
Lima menit kemudian Aziz dan Khumaira masih betah saling memandang. Keduanya begitu merindukan kehangatan. Tidak ayal mereka saling mencurahkan isi hati lewat tatapan. Keduanya begitu merindu penuh cinta seluas samudra. Aziz dan Khumaira terlalu bahagia akan keajaiban yang Allah berikan.
Tidak lama tawa merdu merekah sukses membuat keduanya bahagia. Aziz dan Khumaira sangat bahagia bisa menghabiskan waktu sangat lama. Tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul setengah sebelas malam. Mereka terlalu lama diam dengan mata saling menatap. Kedua insan saling cinta merembet ke pelabuhan harapan. Aziz dan Khumaira begitu cinta sampai rasanya begitu membuncah.
"Dek sudah larut malam, gih tidur."
" Ngga mau tidur mau menatap Mas saja."
"Kasihan Dedek bayi yang ada dalam kandungan, Adek."
"Adek tahu, hanya saja mau bicara lagi sama, Mas. Untuk malam ini kita begadang ya Mas, Adek mohon."
"Baiklah, Mas mau melihat dua jagoan ganteng. Gih tunjukkan wajah anak-anak terganteng. Mas sangat mencintai kalian."
"Baik, Mas. Kami juga sangat mencintai Mas."
Khumaira mengarahkan ponsel untuk menyorot dua anaknya yang asyik tidur berpelukan. Dia tersenyum saya saat Mumtaaz sambil mencari kehangatan dalam dekapan tubuh Ridwan. Anak-anaknya memang tidak bisa tidur jika tidak mendekap tubuhnya atau mendekam tubuh satu sama lain. Khumaira usap pipi gembul Mumtaaz dan Ridwan lalu mencium penuh sayang.
Demi apa pun Khumaira sangat bahagia melihat dua jagoan tampannya tidur nyaman. Lalu ia melihat Aziz berkaca-kaca menatap anak-anak. Ia sangat tahu betapa rindu Suaminya pada anak-anak. Seperti sang Ayah dua anaknya juga sangat rindu. Tidak ayal anak-anak menangis keras jika rindu dan saat Ayah sedang telepon anak-anak tidur.
Aziz mengukir senyum haru melihat dua orang tidur saling merengkuh. Wajah dua anaknya sangat mirip walau di kecil lebih dingin atau bisa dibilang lebih tajam. Sementara wajah anak sulungnya begitu tampan nan teguh. Rindu rasanya mendengar kedua anaknya mengoceh panjang lebar. Rindu sampai Aziz tidak kuasa menahan air mata rindu.
Tidak sabar rasanya menunggu besok di mana Aziz akan pulang. Di malam hari tepatnya besok akan ada pertemuan paling membahagiakan. Demi apa ia sangat menanti hari esok di mana akan berjumpa anak-anak serta Istrinya. Semua terasa manis baginya melihat semuanya. Aziz sangat rindu sampai ingin pulang tanpa menunggu besok.
"Bagaimana Mas sudah terobati kangennya? Kakak dan Dedek juga sangat merindukan, Ayah. Umi juga sangat merindukan Ayah Aziz sepenuh hati."
"Belum terobati sebelum dua anak Mas ini berada dalam dekapan. Ayah sangat rindu anak-anak Umi sampai sesak. Rindu celoteh lucu anak-anak dan rindu saat dua anak Ayah manja. Ayah juga sangat merindukan Umi sepenuh hati."
"Sabar ya, Ayah sayang besok sudah bertemu."
"Hm. Besok kita sudah bisa berkumpul bersama dalam lembaran baru."
"Allahu Akbar, kita bisa bersama dalam naungan baru. Insya Allah, kali ini tidak akan ada yang bisa memisahkan cinta kita."
"Benar sekali, tidak ada yang bisa memisahkan cinta kita."
Aziz tersenyum melihat Syafa tersipu malu akan cinta. Ya Allah, dengan begini ia bisa meraih segala kebahagiaan yang telah tertulis. Tidak ayal kebahagiaan itu membuat dirinya sangat bahagia Atas Kebesaran Allah. Berkat kebesaran Allah kini Aziz bersatu bersama Syafa.
Berkat Syafa-nya mengandung kini Aziz ada takdir kembali. Kini ia sangat bersyukur sekaligus sangat bahagia lantaran datangnya calon buah hati Berkat anak yang dikandung Istrinya kini ia bisa kembali. Aziz bisa bersama Syafa lantaran cahaya sang anak tercinta.
Syafa akan memberitahu anak-anak bahwa Aziz akan pulang. Dua anaknya pasti akan bahagia bisa bertemu sang Ayah. Rasanya tidak sabar menunggu esok di mana sumber kebahagiaan datang meraihnya. Di mana Imam yang sesungguhnya telah hadir atas kehendak Allah. Syafa akan jujur cintanya pada Aziz melebihi cintanya pada diri sendiri.
Memang benar Syafa sangat mencintai Allah dan Rasul-Nya. Namun, untuk cinta pada imam terlampau besar untuk Suaminya. Kini harapannya segera mendekap imamnya dalam mencari keridhoan Allah. Memberikan segala cinta guna meraih Surga-Nya Allah. Syafa berharap Aziz lekas pulang supaya mereka bisa beribadah dengan khusyuk bersama.
"Mas ingin sekali memiliki Putri yang cantik seperti, Adek. Namun, jika Allah memberikan putra Mas akan bahagia. Itu artinya personil narsis tambah lagi dan Mas sebagai Leader ganteng keluar sebagai pemenang."
"Adek juga ingin memiliki putri yang sangat cantik biar Adek ada personil. Um, Kalau putra lagi pasti anak-anak kita tanah senang. Oh iya, apa Mas sudah menyiapkan nama untuk anak kita kalau laki-laki?"
"Hahahaha, Adek bisa saja. Hm."
"Siapa namanya, Mas?"
"Zaviyar, lengkapnya Muhammad Zaviyar Gilbert Alfiansyah. Di panggil Dedek Zavi atau Dedek Zaviyar."
"Masya Allah, indah sekali namanya, Mas. Muhammad Zaviyar Gilbert Alfiansyah itu artinya panjang dan sangat bermakna. Allahu Akbar, makna nama anak kita sangat indah, Mas."
"Hm, artinya sangat panjang penuh harapan dan penyatu kita berdua. Arti dari anak kita yaitu anak laki-laki yang memiliki sikap terpuji, berani, bernyali, tabah dan menepati janji. Dengan kehidupan cerah nan Agung, serta berguna bagi Agama dan Negara, Aamiin."
"Mas, ya Allah rangkaian nama anak-anak yang Mas berikan begitu mulia. Semoga saja anak kita ini mampu tumbuh seperti harapan. Adek sangat bahagia memiliki, Mas."
"Aamiin, Mas juga sangat bahagia."
Inilah sebuah kehidupan yang paling indah bagi Aziz dan Syafa. Mereka sangat senang memiliki ikatan cinta begitu suci nan murni. Cinta atas nama Allah yang memberikan segala cinta berlimpah. Tidak ayal keduanya begitu bahagia menerima semua pemberian sang Khaliq. Aziz dan Khumaira tidak sabar menunggu kedatangan sang buah hati terlahir.
Karena anak yang dikandung Alhasil keduanya bersatu. Walau kini semua harapan terlabuh dengan sejuta cinta. Mereka berharap besok bisa bertemu lalu membesarkan anak-anak penuh suka cita. Tidak sabar rasanya menunggu besok di mana Aziz pulang bisa mendekap erat Syafa, Ridwan dan Mumtaaz. Sementara Khumaira berharap semoga saja Aziz benar-benar pulang lalu berkumpul bersama tanpa terpisah. Aziz dan Khumaira berharap semoga saja Allah memudahkan hari esok, Aamiin.
"*****"`~~~~"*****"
Chapter terpanjang sepanjang sejarah story Ini.
Moga kalian puas dan terharu.
Senang bukan Ayah dan Umi akan bersama?
Maaf ya belum aku edit jadi kalau banyak kesalahan harap maklum.
Salam Cinta untuk besok!