
Menata hati tak semudah menata cita-cita, lebih sulit dari menata seluruh buku di perpustakaan.
Mungkin selama ini ia bersikap biasa saja tapi tak seorang pun tau, jantungnya selalu berdebar keras kala bersama Akira.
Jantungnya ikut berdenyut nyeri kala wanita itu mengungkapkan kesedihannya.
Jiwanya ikut merasa senang kala Akira gembira.
Namun, ada satu hal yang membuatnya senang dan sakit sekaligus.
Yakni, ketika Akira keluar dari masa lalunya dan menemukan lelaki bernama Farid.
Ia senang Akira keluar dari masa lalu, tapi ia kecewa karena artinya selamanya ia hanya sahabat tanpa kesempatan untuk yang lebih.
Bertahun-tahun, ia selalu mendengar keluh kesah Akira, pencapaian Akira yang membuat gadis itu senang dan dirinya ikut bangga.
Deanno Aryawijaya.
Sosoknya tidak pernah menonjol dalam kisah hidup Akira Shafeena Malik.
Tapi, perannya besar untuk wanita itu.
Bahkan, meski mereka sempat tak saling bertemu dia tahun pun!
Setelahnya, mereka akan tetap akrab.
Nyatanya, pertemuan saat di warung bakso adalah keajaiban baginya.
Karena sebelum itu mereka sempat saling diam karena kesibukan karier masing-masing.
Ia bukan lelaki sesempurna Farid yang selalu jadi cita-cita Akira.
Ia hanya lelaki sederhana yang berkompetensi, mencoba mengepakkan sayapanya ke penjuru dunia untuk sukses.
Saat lelaki bernama Valen meninggalkan Akira, ia yang mendengar keluh kesahnya.
Ketika, seluruh keluarga menyalahkan Akira, ia yang selalu jadi pendengar yang baik.
Sekalipun, ia tak pernah mengatakan hal-hal yang malah membuat Akira jadi tertekan.
Ia selalu bisa menenangkan Akira dengan caranya.
Meski begitu, dirinya tak pernah nampak di permukaan, karena ia tak mau membuat Akira seperti memilih.
Jika ia selalu berada di sisi Akira, temannya yang lain selalu malu untuk bersama Akira, karena Deanno adalah lawan jenis mereka terlebih ia adalah kakak kelas mereka tadinya.
Teman Akira sangat pemalu, berbeda dengan Akira yang ekspresif, percaya diri dan ambisius.
Deanno tak mau egois, bahkan saat ini meski hanya sekali ia egois.
Ia hanya akan membuat hidup wanita pujaannya tak nyaman!
Ia benci itu!
Apa setelah kamu pergi, kamu bahagia? Akira bahagia? Ingat, aku masih disini dia tak akan pernah bahagia dan salah satu sebab dirinya tak bahagia adalah kamu
Dean, terimakasih berkat bantuan kamu semua tidak hancur begitu saja, Akira tidak bahagia begitu saja, Akira trauma untuk kembali mengandung dan kamu ingatkan? Kamu turut ambil bagian dalam permainan itu.
Deanno membanting ponselnya yang baru saja menampilkan pesan dari nomor tak dikenal yang ia pastikan adalah Rayrin.
Memangnya siapa lagi?
Wanita licik itu terus-terusan meneror nya setelah kariernya di hancurkan Farid, sedangkan dirinya tetap aman sentosa.
Entah, bagaimana wanita licik itu mengetahui nomor ponsel barunya.
Awalnya, ia hanya melakukan hal sederhana, hanya memotret kebersamaan Rayrin dan Farid yang telah di siasati oleh wanita itu.
Hanya itu!
Akira keguguran karena Rayrin sendiri dirinya tak terlibat!
Itu yang selalu ia sugesti pada dirinya.
Tapi, akhirnya ia juga ingat ia yang juga memotret momen Akira dan lelaki lain yang di manfaatkan Rayrin untuk membuat Farid murka dan membuat Akira kehilangan bayinya.
"Hal itu terlihat sederhana bukan? Tapi mungkin aku meninggalkan luka yang dalam untuk Akira." ia bergumam sembari menatap foto Akira yang telah terbingkai rapi di meja kerjanya.
"Tapi, kamu Akira, kamu masih bisa memikirkan untuk mencari aku." ucapnya lagi, ia tentu tau Akira mencarinya, Orang-orang yang wanita itu tanyai untuk menemukan dirinya, yang mengatakan padanya, bahwa sahabat yang ia cintai, mencari keberadaannya.
Menjadi wakil kepala bagian perencanaan dari salah satu perusahaan yang memproduksi makanan instant, bukan jalan yang ia mau.
Tapi setidaknya, ia bisa menghindari Akira.
Akira yang tidak tahu menahu bahwa sahabatnya sendiri juga lah penyebab penderitaannya sekarang.
Deanno tidak siap, tak akan pernah siap melihat reaksi Akira jika tahu semuanya.
Tapi, takdir berkata lain besok dirinya terpaksa kembali ke rumah orang tuanya, untuk menghadiri pernikahan kakaknya.
Ia yakin, sebagai sahabatnya yang telah di kenal oleh semua keluarganya, Akira pasti di undang.
Jika ia menghindar, apa pantas tidak menghadiri pernikahan kakak sendiri?
Ia mengenalkan Akira ke keluarganya, tapi Akira tak pernah melakukan hal sebaliknya.
Ia tersenyum kecut mengingat hal itu.
Tapi ia ingat, Akira selalu bilang, "Aku takut kakak aku marah aku terlalu deket sama cowok, aku juga gak mau kamu gak nyaman nantinya karena keluarga ku gak sehangat keluarga mu, mereka semua dingin kaya es."
Senyumnya terpatri, mengingat bagaimana Akira bicara saat itu, wajahnya cemberut, bibirnya mengrucut lucu, pipinya menggembung karena mengunyah paksa satu potong roti yang ia telan bulat-bulat.
Sangat menggemaskan dan ia hanya bisa mengenang saja saat-saat seperti itu.
Saat yang tidak pernah datang sesering itu, meski mereka dekat, pertemuan tidak sesering yang orang kira.
Hanya beberapa kali jika perlu, selebihnya ternyata Akira lebih nyaman bercerita melalui chatting.
Namun, gadis remaja yang ceria itu pintar berbicara, ia cepat akrab dengan ibu dan kakak perempuan nya.
Bahkan ibunya berharap, Akira lah calon menantunya kelak.
Kakaknya bahkan dirinya berharap demikian, agar Akira menjadi anggota keluarga mereka.
Namun, harapan akan tetap menjadi harapan.
***
Di waktu yang sama Farid gemas-gemas kesal, karena Akira terus mengganggu dirinya bekerja hanya untuk hal yang tak penting.
Yaitu, membicarakan Zia dan Gio yang ia pergoki berciuman di ruangan Zia saat dirinya nyelonong masuk bermaksud mau curhat.
"Mas dengerin aku!"
"Aku masih kerja sayang, aku bisa lupa apa yang mau aku ketikan jika kamu begini terus."
Kakinya menghentak tak sabaran karena,
Farid hanya diam dengan jarinya yang mengetik dengan cepat di atas keyboard.
"Sayang, tolong beri aku sepuluh menit aku harus melakukan pemrograman pada aplikasi baru yang aku buat." pinta Farid dengan tenang namun tetap tegas.
Akhirnya, Akira duduk tenang di kursinya.
Farid memang jenius, tidak sampai sepuluh menit, "Selesai! Sekarang kamu boleh bicara." ucapnya sembari menjalankan mousenya untuk mengklik shutdown.
"Udah gak mood. Kamu kerja aja lagi." sahut Akira datar.
"Yaah.. komputernya udah aku matikan sayang." jawab Farid pura-pura menyesal.
"Tck! Suruh siapa di matiin, jadi kalo enggak di matiin kamu beneran balik kerja lagi?! Kamu gak mau dengerin aku cerita? Iya sih, cerita aku emang gak sepenting pekerjaan kamu." serang Akira bertubi-tubi, yang di akhiri nada lesu di akhir kalimat.
Farid hanya tersenyum melihat ekspresi manis Akira saat mengoceh.
"Lagian kamu, harusnya kan komputer gak perlu di matiin, kamu harus selalu kerja pakai itu kan?!" ucapnya judes.
"Kamu masih pms ya?"
"Udah selesai kali dari kemarin." jawabnya ketus.
"Oh udah? Jadi kamu bohongin aku?"
"Eh eh bukan gitu!" ia megibaskan kedua tangannya kedepan, 'Duh kelepasan, ini mulut gak bisa di ajak kompromi.'
"Aku itu, lupa, iya lupa kalau udah selesai."
"Aku kecewa sama kamu." mendadak aura wajah Farid berubah dingin. Akira sangat takut kalau suaminya mulai begitu.
"Mas, aku gak bermaksud,"
"Kamu bosan aku sentuh? Padahal kamu juga keenakan." mendadak juga ekspresi Farid menjadi jahil dengan alis yang naik turun menggoda Akira.
"Mas! Kamu bikin aku takut! Aku gak temen kamu lagi ya!" jeritnya tak terima karena merasa di kerjai.
"Aku kan memang bukan teman kamu, sayang." sahut Farid masih dengan binar mata dan senyum yang meledek istrinya.
"Yaudah tadi mau cerita apa? Jangan marah sayang, aku cuma bercanda." Ia mulai membujuk tentu karena Akira kembali merajuk dengan wajahnya yang cemberut.
"Nanti aku traktir makan sepuasnya deh, apapun yang kamu mau."
Sontak, matanya kembali berbinar sempurna.
"Yes! Beneran ya, sama kamu juga ikut?!"
"Iyaa sayang, udah marahnya? Sekarang cerita."
Rasanya sudah seperti memiliki seorang putri saja, tapi Farid suka memanjakan Akira dengan uangnya dan semua yang istrinya suka.
Istrinya, tidak pernah meminta rumah, tanah, perhiasan, bagian harga, mobil atau villa.
Cukup, ia traktir makan dan belanja, semua beres!
Uangnya hanya akan habis untuk belanja bahan makanan yang digunakan untuk eksperimen istrinya.
Akira berjalan mendekati suaminya dan berdiri di samping suaminya yang terpaksa menghadap ke samping untuk melihat Akira.
"Mas, kamu tahu tadi pagi waktu aku mau ketemu Zia, aku gak sengaja liat ada Gio, mereka ciuman!" ceritanya antusias seperti ibu-ibu komplek yang suka bergosip di warung sayur.
"Penggosip." ejek Farid jahil sambil menyingkirkan barang-barangnya ke arah samping meja.
"Ih mas serius ini berita hot!"
"Oke, pantes tadi Gio terlambat." sahut Farid pura-pura menanggapi.
"Yang ikhlas dong mas kalau naggepin istrinya ngomong, ini tentang Zia loh sepupu kamu sama sekretaris kamu!"
"Iya sayang, lalu apalagi?" tanyanya lalu bergerak menarik pinggang istrinya mendudukannya di atas meja.
Sekarang, mereka berhadapan, lehernya tidak akan pegal terus menerus menghadap ke samping.
"Kamu mikir hal yang sama gak kaya aku?" tanya Akira tanpa menghiraukan Farid yang kini menenggelamkan wajahnya di perutnya. Memeluknya posesif.
"Hmm?"
"Mereka pasti pacaran diam-diam, Zia itu nyebelin kaya kamu, sok misterius, pasti dia sengaja gak kasih tau aku!"
"Yaa sayang." jawab Farid seadanya yang malah sibuk menikmati nyamannya menjadikan istrinya bantal.
"Mas... gak asik kamu! Kamu tidur ya? Mas?!"
Dengan perlahan lelaki itu mengangkat tubuh istrinya dari atas meja, membawanya ke rest room yang memang ia sediakan di ruang kerjanya.
"Loh, mas? Kok aku di gendong kamu mah, aku masih mau cerita."
Farid masih tidak menanggapi.
Lalu merebahkan tubuh mereka di atas ranjang.
"Mas, tanggepin dulu." rengeknya.
"Itu urusan mereka sayang, sekarang lebih baik temani aku tidur, aku lelah."
Ia tak bohong, ia sungguh-sungguh lelah, ia terus memeras otaknya sejak pembuatan gim baru di rencanakan.
Mendengar cerita istrinya, bukan antusias ia jadi mengantuk apalagi tadi sangat nyaman meletakan kepalanya di perut istrinya.
"Tapi mas.. ".
Farid memposisikan kepalanya di depan perut rata istrinya dan memeluknya erat.
"Tidur atau aku buat kamu enggak tidur sama sekali sampai nanti malam." ancam Farid yang berhasil membuat Akira bungkam.
Farid hanya membatin, ternyata seberisik ini istrinya itu. Ia agak kaget, ia kira Akira telah berubah, karna selama jadi istrinya Akira begitu biasa, berisik tapi tidak seheboh saat remaja.
Justru, terlihat kalem dan baik, walaupun hanya di rumah.
Ya, jadi Akira saat sekolah itu sangat berisik bersama geng anehnya yang kesemuanya pemalu dan bersikap dingin, namun penggosip dan sangat berisik juga.
Aneh kan?
Itu salah satu alasan ia malas melirik cewek penggosip ulung di sekolahnya.
Ia suka ketenangan tapi Akira itu sangat berisik.
Capek gue ngeluh terus!
Thanks buat yang bertahan sampai di akhir kata episode ini.
Lubyuuu guys... 😘