
Hello buat para readers yang nunggu story FaRa hehe..
Ternyata aku sendiri rindu lanjutin story ini jadi langsung aja deh update lagi
Nggak tahan nggak nulis episode baru untuk story yang kata temen aku mirip sinetron ikan terbang ðŸ˜
Farid semakin merasa bersalah ketika ia menemukan buku harian Akira yang tersimpan di bawah tumpukan pakaian dalam wanita itu.
Cara yang aneh memang, menyimpan buku harian seperti itu, jelas sekali Akira menyembunyikannya dengan sangat baik.
Farid mengingat kembali betapa biadab dirinya yang merenggut paksa kesucian Akira dan membaca betapa sakitnya perasaan Akira yang ia ekspresikan melalui tulisan yang berakhir ungkapkan keikhlasanya mengingat Farid adalah suaminya.
"Ya Tuhan apa dosaku di masa lalu sampai menerima perlakuan seperti ini darinya, aku sadar aku istrinya dan itu adalah kewajibanku, tapi tiada seorang wanitapun di dunia ini yang ingin kesuciannya di renggut paksa tanpa setitik cinta sedikitpun.
Apa aku berlebihan karena manangisi ini, sedang yang mencurinya adalah suamiku sendiri?
Baiklah aku ikhlas, dia suamiku yang aku cintai dan aku impikan selama ini.
Tulisan itu sukses membuat Farid memukul kaca rias dihadapannya dengan genggamannya.
"Brengsek! Aku terlalu brengsek saat itu!" teriaknya kesal dan kembali membuka lembar demi lembar tanpa menghiraukan luka di tangannya.
"Masa lalu Farid kembali, awalnya dia menolak wanita itu tapi entah bagaimana sekarang dia lebih membela Rayrin dibanding aku, yaudah sih ya aku memang hanya istri sementara untuknya, tapi semua itu melukaiku, berusaha kuat dan melawan Rayrin sedangkan hatiku tersayat setiap harinya, sungguh pura-pura kuat dan tangguh dengan segala senyum dan kata kasar yang aku keluarkan semakin membuat dadaku sesak. Untungnya bagiku Farid selalu membela aku di hadapan mamanya yang tidak suka padaku hanya karena seluk beluk kekuargaku. Dan aku suka hal kecil ini."
"Dan ketika segalanya itu terjadi, aku menegurnya dan membela Rayrin sialan itu." lirihnya penuh penyesalan. Tak terasa air matanya menitik jatuh ke atas lembaran kertas buku harian.
"Dear Diary, sudah beberapa minggu sejak aku di nyatakan hamil, aku ulangi lagi aku hamil. Entah aku harus bahagia atau bagaimana, anehnya Farid menerima itu dengan senang hati, aku harap kehadiran si kecil ini, bisa membuat Farid mencintaiku, atau jika tidak, setidaknya aku memiliki kloningan dari Farid setelah kami berpisah nanti. Intinya aku bahagia dan aku ingin merasakannya walau hanya sesaat."
"Aku juga bahagia memiliki kalian, andai aku tidak sebodoh itu." ucapnya penuh penyesalan ia menangis lagi kali ini dengan darah yang memenuhi tangan kirinya ia kembali menatap surat perceraian yang tadi pagi di antarkan oleh Zia ke rumahnya dengan tanda tangan Akira yang sudah tertoreh di kertas itu.
"Aku tidak akan melepaskan kamu, kamu miliku selamanya, dan aku tidak akan menoreh setitik tintapun pada surat perceraian kita." gumamnya lirih namun dengan sorot mata penuh tekad.
***
Dua minggu telah terlewati, Akira hidup berdampingan dengan warga kampung, ia hidup normal selayaknya warga disana.
Juga hidup sederhana, bukan nongkrong di mall ia hanya akan nongkrong di warung sayur Mak Atik yang lumayan jauh dari rumahnya, mengingat rumahnya itu di pinggir pantai jadi untuk sampai ke desa ia harus keluar dari area pantai.
Ia bertetangga dengan para nelayan disana, jadi banyak sekali ikan dan makanan laut dibandingkan sayur mayur.
"Loh mbak Akira ini asalnya dari mana?" tanya Bu Ira selaku salah satu bagian dari ibu-ibu yang suka bergosip ria di warung Mak Atik.
"Saya dari kota bu, sekarang nempatin rumah yang di pinggir pantai sana." jawabnya ramah dengan menunjuk ke arah selatan di mana letak area pantai berada.
"Oalaah... Jadi yang bangun rumah di area tebing itu mbak toh, saya kira siapa, wong yang bener aja beli lahan di atas tebing begitu, nggak takut mbak?" kata Bu Wira.
"Loh ya biar to Bu, orang mbak Akiranya aja seneng tinggal disitu." sahut bu RT menengahi sembari memilah dua ikat sayur kangkung mana yang akan dibeli.
"Ya bu, lagian pemandangannya bagus loh, mampir aja ke rumah saya, saya sendirian hehe." undangnya pada para ibu-ibu yang langsung menoleh antusias.
"Yang bener mbak, aduh saya jadi penasaran, gimana kalau nanti siang kita berkunjung kesana ibu-ibu?" tanya Bu RT yang langsung mendapat persetujuan dari para ibu-ibu.
Biarlah toh Akira biasa ngobrol dengan ibu-ibu juga setiap belanja sayur saat sebelum menikah dengan Farid.
Lagi juga dia kesepian, Viara kembali untuk mengurus usahanya agar tidak terbengkalai.
***
Farid tersenyum puas karena berhasil menemukan keberadaan istrinya.
Ia berhasil melacak ponsel Viara sejak dua minggu lalu, namun ia perlu memastikan tempat tersebut.
"Sergio, aku rasa aku ingin segera menemui istriku sekarang juga." tuturnya sembari memutar balik kursi kebesarannya di ruangan pimpinan perusahaan tersebut.
"Apa anda yakin Tuan, tidakkah ini terlalu cepat?"
"Aku kira juga begitu tapi tidak hanya bertemu aku juga harus meluluhkan hatinya, kau paham maksudku kan." lirihnya dengan wajah putus asa.
"Ya saya mengerti, kalau begitu saya akan segera menyiapkan kepergian anda."
Farid berdiri ragu menatap pintu bercat putih di depannya, ia mengacak rambutnya gusar.
Menarik napas dalam lalu menghembuskannya perlahan ia segera mendorong pintu yang syukurnya tidak di kunci, tanpa mengetuk dan menelaah isi ruangan di dalamnya mencari keberadaan istrinya yang sangat ia rindukan.
Ia berjalan menyusuri isi rumah, persetan dengan kesopanan toh ini rumah istrinya dan ia tidak mau mengalami drama seperti saling mendorong pintu karena Akira tidak mengizinkannya masuk dan berakhir ia di usir lalu ia akan gagal menemui wanitanya.
Pandangannya berhenti pada satu sosok yang sedang sibuk memotong irisan tempe.
Dengan cepat ia meraih tubuh itu dan membawanya dalam pelukannya.
Membuat sang pemilik tubuh kaget bukan main, ia paham siapa yang meraih tubuhnya kini, Farid, suaminya yang juga ia rindukan.
Namun, ia tidak pernah berharap akan kehadiran pria itu sama sekali.
"Akira, sayang..kenapa kamu pergi." bisiknya tepat di telinga Akira.
Akira tersadar dan mendorong tubuh suaminya.
"Ki, akhirnya aku bisa menangkap kamu, jangan kabur lagi aku mohon."
Akira menggeleng pelan,
"Gimana bisa kamu masuk sini?!"
"Pintunya nggak di kunci, lagi juga anak buahku selalu memberi laporan secara mendetail tentang kamu."
Farid menggenggam tangan Akira,
"Ayo kita pulang, aku akan perbaiki semuanya, aku janji." katanya lembut dengan sungguh-sungguh.
"Enggak, surat cerai sudah sampai ke kamu kan? tinggal kamu tanda tangani." katanya melengos dari pandangan Farid.
"Ki, kamu ngomong apa sih, aku minta maaf aku tau aku salah, tapi aku mohon jangan begini." mohonya dengan tatapan sendu mengarah pada Akira.
"Pergi dari sini jangan ganggu aku, lagian bagaimana kamu tau aku disini? Aku gak membuat sesuatu yang bisa kamu lacak."
"Sayang, kamu melupakan siapa aku?"
"Disini gak ada sinyal yang memungkinkan untuk itu."
"Ponsel Viara masih mampu terlacak." kata Farid yang membuat Akira menoleh kaget, bukannya ia selalu mengingatkan Viara untuk mematikan ponsel saat berada disini tapi kenapa masih saja ketahuan.
"Aku menemukan lokasinya yang berada disekitar sini dan aku menyuruh orang kepecayaanku untuk mencarimu dan mereka menemukan keberadaanmu."
"Sialan, aku gak perduli Far, aku benci kamu."
"Aku juga mencintai kamu."
"Farid!" pekik Akira marah juga terkejut, ia mendengar kata cinta yang selama ini ia tunggu-tunggu tapi dengan cara begini?
"Aku mencintai kamu Akira Shafeena Danuarta." ungkapnya dengan tatapan dalam menusuk pandangan Akira yang kini merasakan jantungnya seakan di remas-remas sekaligus berdebar tak karuan karenanya.