
Kemunculan Dean meninggalkan rasa tak nyaman di hati Akira. Bukan apa-apa, tapi jelas sekali lelaki itu menghindarinya.
Entah apa salahnya, ia tak tau.
Sejak kemarin Akira lebih banyak diam.
Ia tidak banyak bicara, ada yang mengganjal di hati dan pikirannya.
Akira yang diam berpikir di dalam kamar sejak kepulangan mereka lusa lalu, menjambak rambutnya sendiri. Ia pusing, memikirkan apa salahnya pada lelaki itu.
Ia jadi tak enak andai ia punya kesalahan dan lelaki itu juga tak memaafkan, ia seperti mengangkat beban di atas kepalanya.
Jika seperti ini, ia butuh susu kesukaannya.
Perlahan ia beranjak dari tempat tidurnya, keluar dari kamar dan menuju dapur untuk minta di siapkan susu oleh pembantu.
"Bibi, ambilin susu kasih es batu." ucapnya lantang tapi dengan nada lesu. Ia duduk di sofa dan menyalakan televisi. Gara-gara sahabatnya itu ia jadi malas kemana-mana.
Kerja saja malas!
Sudah lebih dari lima menit, tapi susunya tak kunjung datang dengan langkah tak sabar ia menuju dapur lagi.
"Bi Indah, ngapain aja sih lama banget, bikin kesel aja!"
Indah yang terlihat sedang mengaduk susu terperanjat dan dengan gerakan cepat memasukan sesuatu ke kantung seragam pelayannya.
"Itu kenapa di aduk segala sih, Bi? Kan tinggal di kasih es aja, pantesan lama. Di campurin apa sih kok di aduk segala?"
Seketika, wajah pembantu itu menjadi pucat pasi, "E-enggak, Nyonya, tadi saya lupa kocok susunya, kan sebelum di minum harus di kocok dulu." jawabnya tergagap-gagap.
"Kok jawabnya kaya takut gitu, ya sorry saya marahin abisnya lama bikin kesel." lalu ia mengambil susu yang sudah di tuangkan ke dalam gelas itu dan segera memasukan es batu.
"Tau gitu tadi saya aja yang lakuin, Bi. Besok-besok saya sendiri aja deh."
"Duh, Nyonya muda, jangan, itu kan tugas saya, nanti saya di marah Tuan."
Memang, semakin lama semakin Farid menerapkan peraturan bahwa Akira hanya perlu duduk manis dan biarkan pelayan yang melakukan segalanya,tentu saja, kecuali dalam mengurus Farid, Akira yang akan bertugas.
Akira iya-iya saja, yang penting ia masih boleh memasak untuk suaminya, ia suka saat dimana suaminya menikmati masakannya.
"Makannya, masa cuma nuang susu pake es aja lama." ucapnya judes, sungguh mood nya hari ini sangat buruk.
Ia menonton televisi untuk menghilangkan beban pikirannya, tapi itu justru semakin membuatnya emosi.
"Wisnu!"
lelaki itu dengan tergopoh-gopoh menghampiri majikannya.
"Ada yang bisa saya bantu, Nyonya?"
"Dih panggil nya, Nyonya lagi, Nona aja kaya dulu berasa tua." ketusnya dengan masih memandang layar televisi di depannya.
"Maaf, Nyonya, tapi itu perintah langsung dari Tuan."
"Ah terserah deh ya, ini tv beli dimana sih?"
"Televisi itu adalah salah satu produk elektronik yang di luncurkan Earthechnology, anda bisa lihat ada logo perusahaan di sana."
"Ini buatan suamiku?"
"Lebih tepatnya, tim kreatif perusahaan."
"Tapi, kenapa dia jelek sekali, dari tadi tidak ada acara yang bagus." sewot Akira, tangannya memencet-mencet remote.
"Nyonya, yang di siarkan dalam televisi tentu bukan perusahaan kita yang mengatur, jika acara jelek itu karena perusahaan saluran televisi nya."
Dan karena Dean, Akira jadi terlihat bodoh di depan bawahannya sendiri. Dengan rasa malu bercampur gengsinya yang terluka ia mengusir Wisnu pergi.
"Pergi sana!"
Wisnu hanya mampu mengangguk menyaksikan betapa anehnya majikannya itu.
Mendadak jadi bawel dan sangat berisik.
Sebenarnya, Wisnu tidak terlalu mempermasalahkan bahwa Akira berisik. Biasanya wanita itu akan berisik dan bawel pada suaminya, bukan pada para pelayannya.
Sejak siang hingga malam wanita itu terus saja mengoceh pada para pelayan di rumah itu. Yang menurutnya menjadi sangat lelet.
Lalu ia kembali diam hanya karena, ia sudah menunggu suaminya pulang, tapi lelaki itu belum juga nampak.
Bokongnya sudah panas dua jam duduk di kursi meja makan. Akhirnya, ia menyerah sepertinya suaminya pulang terlambat.
Waktu berjalan hingga menunjukkan pukul sebelas malam, Farid belum juga kembali.
Ia menelepon lelaki itu tapi tidak di angkat juga.
Ia mulai mengantuk, matanya sangat lengket perlahan ia memejamkan matanya, hingga sebelum matanya terpejam rapat, terdengar suara pintu terbuka.
Sontak, ia langsung bangkit dan menghampiri suaminya.
"Mas, kamu kok baru pulang?" rengeknya yang langsung bergelayut di lengan suaminya.
"Banyak pekerjaan yang tertunda sayang, apalagi perusahaan sedang mengembangkan software baru dan menciptakan sebuah gim."
Farid menggiring istrinya menuju ranjang dan membuat wanita itu duduk.
Tangannya bergerak mengelus surai hitam istrinya, "Kamu kangen aku ya?"
"Pede banget." dengan ketus ia menjawab lalu melipat tangannya angkuh.
"Ngaku aja susah, sayangku." bibirnya mengecup pipi Akira lembut.
"Besok jangan pulang telat lagi, aku kesepian tau." bibirnya semakin mencebik.
"Iya, bilang aja kamu gak bisa hidup tanpa aku, ya kan?"
Akira berdecak mendengar suaminya yang sangat percaya diri itu.
"Aku dengar kamu sangat galak dengan para pelayan hari ini, kenapa?" sambung lelaki itu sembari terus mengelus pipi wanita tersayangnya.
"Gak apa-apa kok."
"Masih memikirkan laki-laki itu?"
"Gak!"
"Jangan bohong." matanya menatap mata Akira mengintimidasi. Farid selalu cemburu saat Akira membicarakan Deanno, jelas lelaki itu lebih dulu tau banyak tentang istrinya.
Ia iri, tentu saja.
Meski, Akira miliknya, tidak menghapus kenyataan bahwa Deanno sosok yang cukup berarti untuk istrinya.
Hatinya panas setiap Akira memuji lelaki itu entah secara sengaja atau tak sengaja.
Tiba-tiba, Akira merangsek ke dalam pelukan Farid dan menangis disana.
"Aku gak suka kamu memikirkan lelaki lain, Akira." ujar Farid dingin tak membalas pelukan istrinya, sudut hatinya terasa sakit tahu bahwa istrinya memikirkan lelaki lain.
"Mas, dia sahabat aku, kamu kan tau, aku selalu cerita sama dia, dia paling bisa memahami aku dan sekarang mendadak dia hindarin aku. Kamu masa mau cemburu?" ia mengeluh tanpa tau suaminya mulai emosi dengan kata-kata yang ia lontarkan.
"Mas, dia sering tolongin aku, dia selalu memahami aku dia gak pernah memojokkan aku ketika aku cerita tentang masalahku, dia baik banget sama aku."
"Dan aku tidak?!" Farid menyingkirkan tubuh Akira yang sedang memeluknya, menatapnya tajam dan mencengkram bahunya.
"Mas?"
matanya menatap polos suaminya yang sudah terbakar cemburu.
"Apa jika dia pergi kamu sehampa itu? Lalu apa fungsiku? Apa bagi kamu aku enggak memahami kamu? Aku enggak pantas dengar cerita kamu."
"Mas, bukan gitu maksudnya, aku cuma takut aku bersalah sama dia dan--"
"Apa aku tidak memperlakukan kamu dengan baik?!"
"Sayang, kamu berlebihan, Deanno itu lelaki lajang, jika kamu terus menempel padanya, perempuan akan takut mendekati dia karena mereka kira kamu pacarnya." nadanya mulai merendah, ia merasa seperti tidak seharusnya memarahi Akira yang tidak tau bahwa ia cemburu.
Karena yang wanita itu tau, suaminya tidak akan cemburu karena Dean sahabatnya.
"Tapi, mas ini aneh, dia ga mau sapa aku kemarin kamu liat kan?"
"Terserah, Akira, aku lelah. Aku ada untuk kamu, terserah kalau kamu gak mau anggap aku dan masih mengharapkan sahabat mu itu."
Setelah itu, Farid meninggalkan Akira di kamar sendiri, seperti dulu, lelaki itu akan ke ruang kerjanya.
Ia lelah seharian bekerja lebih dari dua belas jam, sampai rumah ia mengharapkan kehangatan senyum dari istrinya, tapi ia malah mendapat tangisan istrinya karena memikirkan lelaki lain.
Entahlah, otaknya sangat keruh.
Vote dongggg