Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
39



Ada yang inget gak, aku udah pernah kasih tau nama panjangnya Rayrin belum sih, kalau udah aku ketik di episode mana ada yang inget?


Akira gusar, pokoknya ia belum puas sebelum Farid bilang, "Iya gak apa apa, aku maafin kamu aku gak marah sama kamu." ya pokoknya sebelum kalimat itu terlontar ia masih resah, rasanya makan siang dengan menu favorit nya ini jadi tidak menyenangkan.


Dengan kasar ia mendorong piring yang ada di hadapannya membuat Wisnu yang ada di belakangnya beserta pelayan lain langsung berjengit kaget karena suara geseran piring yang beradu dengan sendok garpu.


"Apa ada yang salah dengan makanannya, Nyonya." Wisnu maju untuk bertanya, sebab siang ini, makan siang tidak di buat oleh Akira, karena Farid akan makan di luar bersama rekan bisnis katanya dan itu sukses membuat Wisnu khawatir takut anak buahnya tidak becus membuat makanan untuk sang majikan.


"Aku gak mau makan!"


"Kami akan menggantikan dengan apa yang anda inginkan."


"Nggak, pokoknya saya gak mau makan!" sentak Akira lalu dengan kasar beranjak dari duduk dan melangkah cepat seperti orang kesetanan.


Wisnu menghela napasnya pelan, entah apa yang salah dengan masakan siang ini atau apa yang salah dengan sang majikan? Dengan perlahan ia memasukkan tangan ke saku jasnya untuk mengambil ponsel dan mengetikkan pesan singkat yang ia kirim pada Tuannya, sebab ia di larang menelepon, Sergio bilang hari ini ada pembahasan penting yang akan Farid lakukan.


Farid menyalami rekan kerjanya dengan sopan, nampak ia berdiri untuk meninggalkan meja yang ia reservasi untuk pertemuan ini di sebuah restoran yang ada dalam hotel berbintang lima.


Tepat saat ia telah memasuki kendaraan dengan Sergio sebagai pengemudinya, sekretarisnya itu menyerahkan ponsel Farid yang memang di titipkan padanya.


"Tuan, ada kabar dari rumah." sambil menyodorkan ponsel Farid.


Farid menghela napas berat saat membaca pesan dari Wisnu, ini masalah kecil. Tapi, memang sudah jadi perintahnya apapun yang terjadi pada Akira saat di rumah harus Wisnu laporkan padanya.


'Entah, kenapa lagi perempuan itu.' pikir Farid.


"Sergio, apa jadwalku beberapa jam ke depan?"


"Tidak ada Tuan, hanya beberapa perlu tanda tangan dan pertimbangan dari anda serta tinjauan pada aplikasi baru yang akan kita luncurkan." sahut Sergio yang rupanya telah hafal pada jadwal Tuannya.


Ya pekerjaan Farid begitu-begitu saja, duduk di depan komputer besarnya dan beberapa sisanya pertemuan di luar.


"Bawa aku pulang!" titahnya.


***


"Apa yang kamu lakukan Akira?" seru Farid saat ia menapaki lantai ruang tengah.


Akira yang kaget langsung menjatuhkan donatnya yang mendarat di atas karpet berbulu, lantas ia langsung memberengut dan tanpa di duga Akira menangis menatap donatnya yang sudah berantakan karena topingnya menempel semua di karpet.


"Itu cuma donat, aku bisa beli lagi di tempat lain untuk kamu." sahut Farid sembari berjalan mendekati sang istri lalu duduk di depan Akira yang terlihat kesal.


"Aku maunya ya di toko itu aja gak mau yang lain terus maunya sekarang bukan besok, tapi tadi di sana cuma satu!"


"Ayolah, ini cuma donat!"


"Kamu tau gak aku lapar, aku gak napsu makan karena kamu masih dingin sama aku, tapi pas aku mulai napsu makan ehh.. kamu--"


"Oke sayang, aku minta maaf, aku gak bermaksud begitu sama kamu tadi pagi sudah aku bilang kan?" ucapnya perlahan berharap Akira akan berhenti merengek dan mengomel.


"Aku mau burger, aku masih lapar." pinta Akira lirih.


"Tidak, bukankah para pelayan sudah masak, kenapa kamu tidak makan?"


"Nggak kepengen, aku pengennya donat, burger, sama es krim oiya aku juga mau nasi padang, udah lama enggak makan mereka." keluhnya.


"Kamu serius mau burger?" tanya Farid meneliti, "Beberapa waktu yang lalu kamu menghabiskan banyak junk food kan?" sukses, membuat Akira membelalakan matanya dan terbatuk tersedak liurnya sendiri.


"E-enggak, kata siapa?" elaknya.


"Memang yang menghabiskan hampir melebihi lima ratus ribu untuk makan di restoran junkfood bersama Fiora itu siapa? Yang mengotori mobil dengan bekas saus dan bungkus burger itu siapa?"


Astaga! Akira hampir lupa bahwa suaminya punya banyak mata, ia menunduk lesu ia makan sangat banyak waktu itu pasti sekarang tidak boleh lagi, padahal ia sangat ingin dan waktunya cocok sekali untuk merajuk.


"Sekali ini saja, ya?" menunjukkan wajah imutnya.


"Es krim dan donat, tidak dengan burger." larang Farid.


"Nasi padang? Aku lagi pengen banget!"


"Oke, nanti aku suruh seseorang, untuk membelinya di restoran." kata Farid bersiap untuk memanggil Wisnu agar menyampaikan perintahnya pada anak buahnya.


"Heh, warung mas bukan restoran, jangan ngadi-ngadi, aku maunya yang biasa aku makan sama temen-temen."


"Hari ini kamu banyak maunya ya." cibir Farid lalu memanggil Wisnu dan memerintahkan untuk membeli keinginan istrinya yang entah bagaimana mendadak sangat menyusahkan.


Pendek aja aku lagi bingung merangkai peristiwa.