Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
empat puluh empat



Hadehh sumpah ya, mager banget nulis judul part, jadi cuma di nomerin deh, intinya mah ini lanjutan Baby's Series dari story ini, yang sampe saat ini gue tuh gak srek sama judulnya, __kepanjangan.... 😫


Rasanya pun pengen ganti cover,. gak masok gitu lho keknya covernya gak fresh, terlalu B aja.


Sore ini Akira dan Farid bersiap untuk menghadiri acara resmi perusahaan, yang akan di adakan saat malam tiba, sebab Earthechnology kini tidak lagi hanya sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Perusahaan, Farid merambah ke bidang properti juga saat ini, menuruti permintaan ayahnya menjadikan dirinya pewaris, sehingga dengan terpaksa ia ikut menaungi perusahaan Danuarta yang memiliki banyak properti.


Jangan terlalu memikirkan Fiora sebagai anak pertama keluarga Danuarta, gadis itu sudah mendapat jatahnya dari sang ibu. Namun, ia kini fokus merintis karier menjadi perancang busana, sebab pamannya masih memegang kendali utama, yang tentu pemegang utama nya adalah Agra, sepupu dari pihak ibu.


"Ayo sayang, atau kita akan telat." protes Farid pada Akira yang sangat lama bersiap. Sedangkan, Akira dengan buru-buru memoles lipstik di bibirnya.


"Aku udah rapih belum sih?" tanya Akira sekali lagi, sebab ia sudah tanya berkali-kali.


"Sudah sayang."


"Yang benar?!" desaknya sembari memperhatikan gaun panjang berwarna silver yang melekat di tubuhnya.


"Iya!" jawab Farid gemas sendiri.


"Nanti gimana kalau jelek, masa istri pimpinan dua perusahaan jadi jelek, eh gak dua ya? Itu mau di satukan kan perusahaannya?" tanyanya sedikit meragu.


Farid bergerak mendekati istrinya, menangkup wajah dengan pipi yang semakin tembam karena kehamilan itu dan menatap dengan kasih, "Cantik, kamu selalu cantik, sekarang kita pergi?"


Yang di balas anggukan Akira yang mulai luluh dan menurut. Padahal tadi ia sangat ribut, ia bingung pakaian apa yang cocok ia kenakan dengan perut besar begini.


Kehamilan membuat Akira jadi orang paling ribet di rumah ini.


***


Kris, dengan ragu membelokkan mobilnya ke arah jalan dimana ia pernah tinggal bersama wanita tercintanya. Niat awal, ke Indonesia hanya akan memenuhi undangan Farid dalam acara peresmian penyatuan dua perusahaan.


Ia malah tergoda untuk menilik, apakah wanitanya yang telah ia tinggalkan masih di sana atau tidak?


"Apa mungkin penipu yang tidak menghargai cintaku akan tetap disini?" tanyanya pada dirinya sendiri dengan senyum kecut menghiasi wajah tampannya.


Ia berhenti agak jauh dari pagar rumah sederhana itu, sambil sesekali mengecek jam di tangannya, takut-takut ia akan terlambat datang di acara penting tersebut, tentu penting, sekarang dirinya bahkan menjadi salah satu pemegang saham dan Farid adalah salah satu penyumbang dana di rumah sakitnya yang ada di Jepang. Hubungan keduanya sangat baik.


Setelah lima belas menit berlalu, ia berencana menyalakan mesin mobilnya dan pergi dari sana, ia tak melihat tanda-tanda kehidupan di sana. Namun, niatnya tak terlaksana kala matanya menangkap punggung wanita yang ia kenal, sangat ia kenal, bahkan ia sering mendekap nya.


Punggung yang sedikit bergetar dan bergerak cepat seiring kakinya yang melangkah cepat memasuki halaman rumah dengan beberapa kantung belanjaan di tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya tampak menutup mulut.


"Apa kamu menangis? Tapi untuk apa?"


Saat, ia memastikan Rayrin masuk dan menutup pagar kayu itu, Kris keluar dari mobilnya, ingin melihat apakah wanita itu benar-benar masuk dan tinggal di rumah mereka.


"Kamu bahkan terlihat lebih berisi, kamu bahagia tanpa aku ya?" lagi-lagi Kris hanya bertanya-tanya tanpa orang yang ia harapkan menjawab.


"Mas, ngapain di situ cari siapa?" tanya salah satu ibu-ibu yang kebetulan lewat bersama dengan kedua teman lainnya.


Jelas itu membuat Kris kaget, ia baru saja mau mengintip, eh langsung di tanya, rasanya seperti maling yang ketahuan mencuri.


Melihat Kris yang agak kebingungan, ibu yang lain ikut bicara, "Mas, kenal sama mbak yang tinggal di situ, biasanya sih mbak itu gak pernah terima tamu, waktu itu saya kesini aja gak di bukain pintunya."


"Iya, malu mungkin. Mending mas pulang aja, percuma gak akan di kasih masuk, sombong orangnya." sahut ibu yang lainnya.


"Kok bisa begitu ya ibu-ibu?"


"Malu kali mas, kan--" baru ibu yang satunya mau bicara.


"Eh, mas kan calon suaminya si mbak yang tinggal disini ya? Kemana saja mas?!" tanya sinis seorang perempuan paruh baya dengan kerudung merah muda yang Kris kenali sebagai istrinya kepala desa.


"Lho, Bu Kades kenal sama mas ini?"


Wajar jika warga disini tidak kenal Kris kecuali kepala desa dan istrinya, karena ia tidak pernah nampak di komplek sini. Dirinya dan Rayrin selalu di dalam rumah, keluar menggunakan mobil, kembali menggunakan mobil sampai masuk halaman.


"Ya kenal lah ibu-ibu, mas ini calon suaminya mbak Rayrin yang tinggal disini! Heh, mas!" tunjuk nya ke wajah Kris.


"Mas, itu jangan mau enaknya saja! Dulu gayanya cariin rumah buat mbak Rayrin, sekarang pas sudah hamil di tinggalin, ngakunya sama saya dan suami saya calon suami mbak Rayrin, kok calon istrinya hamil di tinggal pergi!" cibir Bu Kades.


"Kasian, Mas! Dia jadi cemoohan warga setiap hari, karena hamil di luar nikah. Jadi laki-laki gak bertanggungjawab!" sewot Bu Kades yang di ikuti anggukan ketiga ibu-ibu tadi. Bu Kades yang notabene nya tau bahwa Rayrin tidak seperti yang warga tuduhkan, merasa kesal sendiri pada Kris. Ia tentu kasihan dengan Rayrin yang harus hidup sendiri tanpa tanggung jawab seorang lelaki dengan cemoohan yang tidak benar.


"Oalah mas-mas, tadinya saya jijik sama mbak Rayrin, saya kira dia itu cewek panggilan yang hamil di luar nikah, ternyata korban toh." nyinyiran ibu-ibu yang membuat kepala Kris mau pecah rasanya, ia bahkan tidak di izinkan bicara.


"Bu, Rayrin hamil?"


"Lho, kok dia nanya, gimana sih mas. Astagfirullah mas-mas, mas ini..... " Bu Kades terus mengoceh tanpa mau Kris dengar lagi dan tanpa perduli lagi dengan teriakan ibu-ibu nyinyir itu ia memasuki pagar rumah sederhana itu.


Sakit, Rayrin tak sanggup lagi rasanya.


Sudah lima bulan ini ia selalu mendengar cemoohan para warga, kalau bisa ia ingin berdiam diri di dalam rumah, tapi nanti ia dan anaknya mau makan apa?


Untuk makan sehari-hari, Rayrin masih punya tabungan yang cukup sampai melahirkan, tapi untuk makan ia perlu membelinya di luar kan?


Kadang ia berpikir, tidak apa telinganya panas mendengar bisik-bisik warga sekitar saat melihatnya berlalu-lalang di jalan saat ke warung atau membeli sayuran.


Yang penting ia bisa memberi nutrisi pada bayinya.


Mungkin saat perutnya masih rata ia masih mendapat keramahan dari warga, namun salahnya adalah, ia mengatakan bahwa ia wanita lajang yang tinggal sendirian, hingga ketika perutnya membesar dan warga menyadarinya seketika itu dunianya berubah.


Ia menyentuh perutnya yang merasakan tendangan bayinya, ia semakin kencang menangis, "Jangan dengar kata orang sayang, papa kamu jelas, namanya Kris." sambil mengusap perutnya.


Ia sakit hati, sore ini ia mendengar, ada warga yang bilang bahwa dirinya wanita panggilan dan ayah bayinya tidak jelas, oleh karena itu ia hamil sendirian tanpa suami. Julukan wanita yang hamil di luar nikah saja sudah membuat relung hatinya sesak, tapi ini?


Sungguh rasanya ia ingin mati saja, " Tapi mama harus hidup, buat anak mama. Kita harus kuat sayang, meski papa pergi tinggalin kita. Maafin mama, udah buat papa pergi."


***


"Nunggu siapa, mas?" tanya Akira pada Farid yang nampak celingukan kesana kemari.


"Kris."


"Berarti Dean-"


"Jangan harap!"


Padahal tadinya Akira kira, Deanno juga di undang oleh Farid, ternyata...


"Sebelum cowok itu menikah, aku gak akan pernah maafkan dia." lanjut Farid.


"Kok begitu?" tanya Akira dengan alis yang hampir menyatu karena ekspresi bingung yang ia tunjukan.


"Selama dia belum menikah, dia bisa terus berusaha rebut kamu dari aku." jawabnya datar.


"Hmmm... jadi suamiku cemburu." goda Akira yang di tanggapi Farid dengan lirikan kesal.


"Kamu duduk disini saja, jangan terlalu capek, nanti aku panggilkan Fiora buat temani kamu, aku mau menemui rekan bisnis dari perusahaan papa dulu." karena ia juga harus mengenal lebih dekat siapa saja yang menjadi rekan bisnis papanya yang nantinya akan jadi rekan bisnisnya juga.


Duduk disini saja sampai acara inti di mulai? Pasti Akira bosan!


Tapi ada benarnya juga sih, perut besarnya itu akan membuatnya lelah jika ia terlalu banyak begerak.