Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
Actually



Tak terasa sudah satu minggu Akira tak sadarkan diri, dan meninggalkan kesedihan juga penyesalan dalam diri Farid, berbeda dengan mamanya juga Rayrin yang justru merasa bahagia dan berharap Akira tak akan pernah sadar kembali.


"Syukurlah, ternyata takdir berpihak padamu sayang, diluar dugaan anak Akira mati tanpa perlu mengotori tangan kita sendiri" sorak mama senang, yang di balas senyuman licik Rayrin.


"Iya mam, syukurnya lagi Farid percaya banget sama aku, aku cuma tunjukin foto rekayasa itu aja, dia langsung percaya." ucapnya girang.


"Ya, mama pikir dia memang masih ada rasa sama kamu, sekarang setelah gak ada anak di antara mereka gak ada alasan Farid buat sama Akira"


"Ya semoga aja mereka buruan berpisah deh mam, Ray udah bosen liat tuh cewek nempelin Farid" ucapnya dengan mencebikan bibirnya.


"Hmm, mama yakin kamu memang jodoh terbaik buat anak mama"


"Siapa bilang?!" sahut seseorang yang muncul dari balik pintu utama.


"Papa? Bukannya di luar negeri?!" pekik mama terkejut.


"Kalian keterlaluan, apalagi kamu ma, kamu sama saja menghancurkan putera kita sendiri!" hardiknya sembari menunjuk mama dengan telunjuknya dengan raut wajah geram.


"Pa, mama itu cuma mau memisahkan anak kita dari wanita yang gak pernah dia harapkan!" elak mama tak terima sembari beranjak dari single sofa yang di dudukinya tadi dan balas menatap papa.


"Apa kamu bilang? Kamu buta sampai tidak melihat kesedihan anak kamu sendiri karena kehilangan calon anaknya dan melihat istrinya tak sadarkan diri?!" papa semakin geram dan menatap tajam terhadap istrinya itu, "Ma, kamu itu seorang ibu harusnya kamu mengerti perasaan Farid, kemana saja kamu ketika dia menderita dan gilanya itu karena kamu!" hardiknya tapi dengan suara yang mulai merendah.


Rayrin yang mengerti situasi pamit pergi dan meninggalkan dua orang paruh baya tersebut yang masih adu tatapan, sebelum akhirnya mama menurunkan tatapannya, takut dengan kemarahan suaminya.


"Mama hanya mau yang terbaik untuk Farid, pa." gumamnya.


"Ya Tuhan, apa selama tiga puluh tahun ini aku menikahi orang yang salah." keluh papa,


"Ingat, Arrita Mariana! Yang ada dalam kandungan wanita yang kau benci itu juga anak puteramu, cucumu sendiri, cucu kita!" pekiknya penuh peringatan lalu meninggalkan mama sendiri di ruang tamu.


Mama termenung, bahkan suaminya sampai menyebut nama lengkapnya, jelas suaminya sangat murka padanya.


Kalau di pikir, ia sangat aneh, mendesak Farid menikah, namun malah menjahati pilihan Farid, yaitu Akira dan berusaha menghancurkan pernikahan anaknya sendiri.


.


.


.


.


Untuk pertama kalinya selama satu minggu, Farid keluar dari zona perawatan Akira, dia menunggu penjelasan dari Gio yang kini duduk di hadapannya di ruang kerjanya.


"Tuan, saya ingin bicara disini, karena saya pikir ini sesuatu yang tidak pantas di bicarakan di rumah sakit." ucap Gio mengawali pembicaraan mereka.


"Jangan banyak basa-basi, aku harus segera kembali." sahut Farid datar.


"Tuan maaf, ada sesuatu yang saya sembunyikan dari anda.." ucap Gio menundukan kepalanya, Farid tersentak kaget mendengar pengakuan dari Gio, sebab sekertarisnya itu tidak pernah menyembunyikan hal sekecil apapun darinya selama ini.


"Apa kau bilang?! Kau sudah bosan hidup Sergio?!" geramnya.


"Maafkan saya tuan, tadinya saya kira ini tidak terlalu penting, tapi sekarang saya perlu mengatakannya."


"Tuan, anda menugaskan saya untuk mengawasi setiap pesan masuk pada ponsel Nona, saya selalu melaporkannya pada anda, tapi ada satu hal, " Gio menjeda kalimatnya sejenak, menelan salivanya lalu kembali berucap, "Saya tidak melaporkan tentang Nona Rayrin yang mengancam bahkan merekayasa hubungan anda dengannya agar Nona Akira cemburu, juga ancaman agar Nona meninggalkan anda, maafkan saya tuan.."


Rahang Farid mengeras tangannya bergerak, mengusap kasar wajahnya, "Sergio kenapa kau menyembunyikan itu?" tanya Farid menahan amarah, ia percaya sekertarisnya ini pasti punya alasan.


"Tuan, karena Nona sama sekali tidak terpengaruh jadi saya diam saja." aku Gio.


"Betapa dia percaya padaku sampai sebegitunya?" ucapnya menahan isakan,


"Tapi, hanya dengan beberapa lembar foto aku langsung murka padanya, padahal Rayrin sudah sejak lama mau memisahkan kami" ucapnya penuh sesal, sekarang dia tau bahwa wanita yang sering di bela olehnya sebenarnya tidak sepantas itu untuk dibela.


"Jika kau melaporkan itu padaku, aku tidak akan semenyesal sekarang Sergio! Bodohnya aku tidak mengerti saat dia marah padaku dan tidak mau bicara, bodohnya aku tidak mengerti perjuangannya mempertahankan aku." ucapnya penuh sesal, ia heran kemana otak cerdas yang ia bangga-banggakan selama ini sampai ia tidak memprediksi hal semacam itu, sepertinya masa lalunya bersama Rayrin terlalu membutakannya.


"Maafkan saya, Tuan."


"Urus wanita itu, jika bukan karena dia aku tidak akan membuat anakku gugur dan Akira tidak akan dalam keadaan koma!" ucapnya dengan mata sarat akan kemarahan.


Secara tidak langsung, semua ini terjadi karena ulah Rayrin.


"Lalu, bagaimana dengan nyonya?" tanya Gio, Farid mengerutkan keningnya heran.


"Maksudnya mama? Kenapa dengan mama, apa dia terlibat?"


"Maaf Tuan, nyonya juga terlibat dan semua foto yang di berikan pada anda adalah rekayasa mereka berdua, kejadian sebenarnya tidak seperti itu, bahkan saya sudah mendatangi dua pria yang ada dalam foto tersebut, mereka telah bersaksi atas apa yang sebenarnya." jelas Gio panjang lebar.


Farid menjambak rambutnya kasar, ia tidak menyangka mama benar-benar mau menghancurkan rumah tangganya yang sama dengan menghancurkan kebahagian anaknya sendiri.


Astaga, Farid lupa mamanya pernah menyuruhnya menggugurkan kandungan Akira, sepertinya otak Farid sudah tidak berfungsi. Bodoh! Sangat bodoh!


"Biarkan papa yang mengurus istrinya." ucap Farid datar dan dibalas anggukan oleh Sergio yang kemudian meninggalkan Farid untuk mengurus Rayrin.


Rayrin kaget dengan apa yang baru saja managernya katakan, semua kontraknya dibatalkan, dipecat dari agensi,dan tidak ada agensi manapun yang mau menampungnya sebagai modelnya, bahkan tidak ada yang menerima pengajuan kontraknya untuk menjadikan dirinya sebagai model iklan, sama sekali.


Ia gusar memikirkan apa yang terjadi saat ini, bagaimana mungkin?! Jika begini apa yang bisa ia banggakan dan andalkan? Karirnya sudah hancur, harta keluarga mana ada? Ayahnya hanya pemilik perusahaan kontraktor yang di ambang kebangkrutan, ibunya masuk dalam kalangan sosialita juga karena pamornya sebagai model papan atas.


Ia kembali pada Farid juga untuk memulihkan perusahaan keluarganya, agar semua kekurangan keluarganya tertutup rapat. Semua demi gengsi.


"Aku harus mendatangi Farid!" tekadnya.


Ia segera menghampiri Farid membelah jalanan kota yang cukup padat.


"Saya mau bertemu Farid!" ucapnya sombong pada dua sekretaris wanita di depan ruangan pimpinan.


"Maaf nona, presdir tidak ada ditempat." sahut salah seorang sekertaris.


"Jangan berani membohongiku!" hardiknya.


"Tidak nona, sudah satu minggu presdir tidak ke perusahaan, beliau di rumah sakit untuk menjaga Nyonya Akira." jelas sekertaris tersebut.


"Jadi benar, selama ini Farid, " ucapnya menggantung lalu dengan cepatnya


Rayrin langsung berlalu tanpa menjawab ucapan sekertaris tadi, menyusul Farid ke rumah sakit.