Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
lima puluh satu



Awalnya perempuan hamil itu bersenang-senang setelah ia menemukan ide untuk bisa bertemu Rayrin sebelum akhirnya ketegangan mulai melingkupi dirinya ketika ibu mertuanya datang dan ternyata belum melupakan pertemuan dengan tantenya, yang Rita kira adalah ibunya, sebenarnya Akira tak masalah, tapi Marisa sendiri yang mau jika, keberadaan nya tersembunyi, entah kenapa Akira kurang tahu.


"Itu, Marina kan, Akira?" ulang Rita setelah dua kali bertanya tapi hanya kebisuan yang Akira berikan.


"Jawab mama, atau mama jadi menyesal karena telah merubah sikap mama ke kamu." sontak Akira langsung membelalakan matanya, mengibaskan kedua tangannya di depan mertuanya.


"Ma, jangan begitu. Susah payah kita hidup damai seperti ini." melas Akira. Perjuangan sekali ia bisa mendapatkan kasih sayang mertuanya yang keras kepala itu, mertua yang aslinya baik dan penyayang.


"Ya sudah, jujur Akira."


"Tapi memang bukan ibu aku, ma, Akira diam bukan karena dia itu ibu, tapi karena Akira bingung gimana mau jelaskan ke mama kalau itu tante Akira."


Setelahnya, Rita berdiri dari sofa yang ia duduki mengambil tasnya, "Mama gak percaya, mama harus buktikan!" sudah beberapa hari sejak hari itu, Rita hampir tak pernah bisa tidur karena memikirkan Marina yang katanya adalah Marisa.


"Mama mau kemana?"


"Ya ke rumah kamu lah, pasti dia di sana!" lalu mulai berjalan pergi.


"Ma, gak perlu. Untuk apa?!"


Namun, tidak di gubris sama sekali. Akira jadi panik, kalau begitu bagaimana dengan tantenya, pasti akan marah padanya. Ya Tuhan.


Ia mencoba menelepon suaminya, agar menghentikan mamanya, tapi telepon nya sibuk.


Ia takut kalau kedatangan Rita yang tentu pasti tidak baik-baik dengan menuduh Marisa dan menganggap nya sebagai Marina, memicu perdebatan antar keluarga lagi dan segalanya jadi kacau, Mattheo itu juga pasti tidak akan diam saja, bagaimana kalau seperti waktu itu? Menyuruhnya pulang dan bercerai. Ah, tidak!


Keluarganya yang berkonflik kenapa dia dan cintanya yang berkorban?!


***


Dengan langkah tegas, perempuan tua dengan wajah yang tetap cantik itu berjalan mendekati pintu kayu sederhana dan mengetuk nya dengan tegas padahal di sebelahnya ada bel.


Tepat saat pintu itu terbuka, "Wah, pas sekali Marina yang buka!" ujarnya senang dengan senyum manis yang dibuat-buat.


"Dan.. bersama suamiku?" lanjutnya saat melihat lebih ke dalam, lalu menerobos masuk.


Ia menatap nanar keduanya, "Marina dan suami ku? Lagi?"


"Rita, ini bukan seperti yang kamu lihat!" tegas Roy lantas berdiri dari posisinya.


Sedangkan, Marisa hanya mampu menggelengkan kepala.


"Kenapa kamu hidup lagi, Marina?" desis Rita, "Kamu mati saja menyakitiku apalagi hidup?!" bentaknya yang mengundang penghuni lain rumah itu, yaitu Ariana dan anaknya, yang memutuskan hanya mengintip dari balik tirai yang membatasi ruang tamu dan ruang keluarga. Lantas, ia segera menghubungi suaminya untuk menghentikan perang yang mungkin akan segera terjadi.


"Saya bukan, Marina. Saya.. "


"Kamu siapa?! Pacar suami ku? Iya?!" hardik nya memotong pengakuan Marisa.


"Rita cukup! Jangan sebut dia Marina karena dia Marisa dan yang salah adalah dia! Bukan Marina!"


"Apa maksud kamu? Hah?! Bukannya dia memang salah telah membuat aku hidup dengan kamu yang selalu terbayang dengan wajah dia!" tunjuknya pada Marisa.


"Maaf." gumam Marisa menunduk, ia tak mampu dan tak mau melawan, karena kenyataan nya dia salah. Bahkan, Marina jadi ikutan salah karenanya.


"Bahkan dia mengaku kalau dia salah! Marina untuk apa kamu pura-pura mati, hah?! Supaya apa?! Supaya lancar berselingkuh dengan Roy?! iya?" suaranya menggema ke seluruh penjuru ruangan bahkan di ruang keluarga, Ariana menutup telinga Leo kencang agar tak mendengar seruan Rita.


"Rita, kamu ini benar-benar!"


"Apa?!" tantangnya.


"Marina sudah meninggal, jangan hina dia!"


"Mbak, sudah aku bilang, aku Marisa dan aku yang salah, Marina itu cuma korban karena keserakahan aku terhadap suami kamu." jelasnya yang membuat Rita sukses kebingungan selama beberapa saat dan sampai akhirnya ia mengolok Marisa.


"Pintar kamu ya bohongnya." ejek Rita.


"Itu kenyataan mbak, aku.. "


"Bohong!"


"Mbak dengarkan aku... "


"Dasar pembohong!"


Karena kesal pengakuannya terus di potong oleh mulut pedas Rita, dengan terpaksa Marisa menaikkan nada bicara nya.


"Dengar aku, aku Marisa kembarannya Marina dan aku kekasih Roy yang pernah melahirkan anaknya di luar nikah, bukan Marina!" tegasnya dengan susah payah.


"Akira ataupun Mattheo bukan anak haram, mereka sah anak Marina dan Malik!"


"Dasar pembohong!" pekik Rita tak percaya, bagaimana mau percaya nama yang selalu di gumamkan suaminya saat tidur itu Marina bukan Marisa.


"Mas Roy memang mencintai Marina tapi aku mencintai dia, dan Marina orang yang pertama kali bertemu mas Roy, tapi aku yang berdekatan bahkan memiliki hubungan khusus dengannya." jelas Marisa lagi, sedangkan Rita kini diam mematung.


Roy menggapai tangannya, menggerakan tangan yang diam itu, "Rita, aku juga baru tau sekarang, saat aku tidak sengaja melihatnya bersama Mattheo kemarin."


"Maaf, mbak. Dulu, karena serakah aku mengambil keuntungan dengan wajahku yang sangat mirip Marina kembaranku, aku memintanya untuk membiarkan aku memilki mas Roy, karena aku mencintai suamimu lebih dulu. Jadi, aku telah menipu suami mbak, juga. Sebab, itu aku kabur ke luar negeri,tepat saat pernikahan Marina dan saat aku mengandung anak kami." jelasnya lagi dan lagi tanpa ada lagi suara lantang dari Rita.


"Rita dengar, maafkan aku, tapi kamu harus tahu, Fio bukan anak kamu, dia... "


"Berhenti! Aku tidak mau dengar!"


Rita kini menutup kedua telinganya, karena takut kemungkinan lain yang lebih menyakitkan akan ia dengar.


"Anak pertama kita meninggal saat di lahirkan karena dia memang masih belum waktunya lahir dan aku menggantikannya dengan seorang bayi perempuan yang di tinggalkan ibunya, yang ternyata adalah Fio anakku dan Marisa." ujarnya penuh sesal karena tak melihat reaksi sedikit pun dari istrinya. Tentu saja, saat itu ia tahunya, Marisa adalah Marina. Tentu dengan yakin ia membantah tuduhan istrinya tentang Theo, karena Fio lah anaknya dan Marina alias Marisa bukan Theo.


"Papa keterlaluan!" tanpa di duga, Farid muncul dengan Akira dan Mattheo di belakangnya.


Wajahnya, menegang penuh emosi, ayahnya membawa anaknya bersama perempuan lain untuk di urus istrinya? Gila!


"Aku rasa, semuanya bukan salah mama tapi emang papa lah yang terlalu jahat pada mama!" mendengar pembelaan anaknya yang selama ini ia harapkan, perlahan air mata Rita jatuh dengan tangan Akira yang terus merengkuh bahunya.


"Jadi aku merawat anak kalian sebagai anak kesayanganku? Anak perempuan ku satu-satunya, kenapa kamu lakukan ini, Roy?!"


"Aku takut kamu sedih karena kematiannya, jadi aku.. "


"Memberikan luka yang lebih dalam saja untuk aku, begitu? Menurut kamu, kesedihan aku ke hilangan anak pertama ku terlalu ringan sampai-sampai kamu membuat aku merawat anak kalian?!"


"Tante, aku gak tahu kalau kenyataan sangat pahit dan aku sebagai keponakan tante, maaf.. aku malu tante." ungkap Mattheo.


"Maaf, tante menyesal, tante tahu, tante salah oleh karena itu tante pergi, Teo. Tapi, ternyata kamu butuh tante untuk mengetahui beberapa hal."


"Dan tante menutupi hal sebesar ini?Tante bilang bahwa Tuan Roy hanya salah memahami antara ibu dan tante, tapi ternyata?" kecewa itu pasti, Mattheo juga merasa di bohongi, setelah keributan hari itu ia menghubungi Marisa untuk mengetahui seberkas masa lalu.


Marisa bilang, Roy hanya salah menganggap. Tapi, ternyata ada keserakahan tantenya yang membuat hidup adiknya jadi hinaan mertuanya.


Percuma, ia tutup mulut tentang Marisa karena ia sama dengan ikut berbohong.


dah dulu woy capek nulis perdebatnnya mau kasih flashback tapi kok kayanya malah makin panjang ntar cerita ini