
Akira mendudukan dirinya dibangku taman, sudah satu minggu sejak dirinya ketahuan mengandung, selama itu Farid bersikap baik hanya saja, ia merasa canggung dan tak terbiasa dengan semuanya.
Ia bukan menyalahkan kehamilannya, tapi ia merasa terbatasi dengan kehamilannya, ia menjadi sedikit lebih takut dengan suaminya
biar bagaimanapun ini terjadi dengan sangat cepat dan mendadak, tanpa prediksi dan tak pernah ia sangka. Ia merutuki kebodohannya yang tidak menyadari pentingnya pil kontrasepsi dan membuatnya mengandung dalam pernikahan yang masih tidak jelas kondisinya, walaupun Farid sudah memutuskan untuk belajar mencintainya tapi ia justru merasa tak enak hati.
"Nona, ini susunya" ucap Indah menyodorkan segelas susu ibu hamil pada Akira.
"Bi potongin apel dong bawa kesini ya, enak makan dibawah pohon, sama mangga mudanya ya" pinta Akira tersenyum lembut.
"Baik Nona" sahut Indah dan berlalu dari sana.
Setelah menunggu beberapa waktu Indah kembali dengan permintaan Akira.
"Bi, Mangganya mana?"
"Maaf Nona, saya tidak bisa mendapatkan mangga mudanya" sesal Indah.
"Ya sudah gak apa - apa" Sesungguhnya ia ingin menangis karna tidak mendapatkan apa yang ia mau, tapi ia tak mau merengek pada pembantu karna keegoisannya.
Sebenernya bisa saja ia memaksa para maid untuk mencari apa maunya, tapi ia takut jika nantinya Farid tau, pria itu akan marah.
Sedangkan disisi lain Farid merasa tak nyaman dengan kehadiran Rayrin yang terus menerus mendatanginya.
"Farid, kenapa sih akhir - akhir ini kamu sering nolak aku?" protes Rayrin saat Farid menyuruh Gio mengusirnya dari ruangannya.
"Ray,sejak awal aku salah membuka hati aku lagi untuk kamu, aku sudah beristri jadi tolong jangan ganggu aku!" ujarnya datar.
"Aku tau kamu masih belum lupain aku kan, dan dia cuma formalitas aja selama aku gak disini, mama kamu bilang kamu menikah juga karna mama paksa, kalau gak kamu pasti sekarang masih tunggu aku kan?!" cecar Rayrin menggebu - gebu dengan raut wajah penuh emosi.
"Cukup! Jangan pernah muncul dihadapanku lagi kau hampir mencelakai anakku dengan menjatuhkan Akira kemarin sekarang jauh - jauh dari kami!" bentak Farid.
Rayrin mengernyitkan dahinya bingung, berusaha menangkap apa maksud pria dihadapannya.
"Maksud kamu apa? Soal Akira jatuh dia jatuh sendiri terus anak? Anak yang mana?"
Farid diam tak menjawab dan melirik ke arah Gio yang sedari tadi berdiri dibelakang Rayrin untuk memaksanya pergi.
"Nona mengandung, dan jangan Anda pikir Tuan bodoh, kamera cctv menunjukan Anda sengaja menyandung kaki Nona Akira, Anda bisa saya laporkan karna hampir mencelakai calon bayinya" jelas Gio.
Rayrin menatap Farid tidak percaya.
"Ini bohong kan, kamu cuma cinta aku, kamu gak akan mungkin sentuh dia yang gak kamu cinta! Atau bisa saja dia hamil dengan orang lain untuk mengikatmu" ujar Rayrin dengan raut wajah seperti orang kelabakan.
"Tutup mulutmu, bisa - bisanya kau mengatakan hal menjijikan seperti itu!" bentak Farid dengan wajah menegang.
"Nona, sebaiknya Anda segera pergi" ujar Gio sembari menyeret tangan Rayrin, gadis itu terus memberontak namun pembrontakannya terasa percuma, akhirnya Gio sukses menyeretnya keluar.
"Lihat saja apa yang akan aku lakukan, aku akan hancurkan Akira dan bayinya dan segera menjauh dari Farid" ucapnya penuh tekad.
Akira merasa bosan terus - terusan didalam lingkar pagar rumahnya. Farid tidak mengizinkannya pergi bekerja karna lemahnya kandungannya, membuat ia menyerahkan pekerjaan sepenuhnya pada Viara. Tubuhnya terasa lemah untuk beraktivitas, sehingga ia hanya bisa melakukan hal yang itu - itu saja. Mengunjungi taman, menonton tv, rebahan,dan memainkan ponsel. Saat makanpun Farid memerintahkan maid untuk mengantarkan pada Akira.
Sekarang, ia terduduk diranjangnya dengan menatap baju bayi yang sempat ia beli. Mungkinkah saat itu bayinya yang menginginkannya? Ia mengulas senyum tipis mengingatnya.
"Apa benar hadirnya dia diantara kami? Aku jadi bingung dengan diriku sendiri" gumamnya pelan sembari mengelus perut ratanya.
Terdengar suara pintu terbuka dan ternyata itu adalah suaminya, ia tersentak kaget.
"Eh, udah pulang?" tanyanya sambil melihat jam dinding dikamar yang ternyata menunjukan pukul 19.00.
"Sudah makan malam?"
"Belum" jawabnya pelan.
Farid menghela nafasnya dan mendekati istrinya yang terduduk diranjang lalu ikut mendudukan dirinya disamping gadis itu.
"Aku perhatikan akhir - akhir ini kau tidak seperti biasanya, apa terjadi sesuatu?"
"Aku hanya, bingung" sahut Akira sekenanya.
"Bingung?"
"Segalanya terjadi begitu cepat, pernikahan tanpa cinta yang menghasilkan buah, aku takut kau terpaksa baik padaku karna anak ini"
Farid tersenyum miring mendengar penuturan Akira.
"Apa kau tidak menginginkan kehadirannya?"
"Kamu ngomong apa sih, aku terima dia kok, cuma ini terlalu cepat, aku kira aku mengganggu kamu dengan kandunganku, semua ini terlampau jauh mengingat perjanjian awal kita dulu" protes Akira.
"Maksudnya?"
"Jadilah Akira yang berisik seperti biasa, sangat aneh ketika kau diam saja selama seminggu dan sok - sokan lembut dan penurut" cibir Farid.
"Jika kau dan dia menginginkan sesuatu katakan saja, jangan ditahan mengerti?"
"Iya aku mengerti, awas nanti kamu menyesal udah ngomong gitu" cibir Akira.
"Kamu bener gak masalah punya anak dari aku?" tanya Akira harap - harap cemas.
"Kamu kebanyakan nonton sinetron" ledek Farid, membuat wajah Akira langsung cemberut.
"Aku serius!" sentak Akira.
"Iya mau bagaimana memang, kan sudah terjadi" ujar Farid santai.
Akira menundukan kepalanya bukan jawaban aneh seperti itu yang ia harapkan.
"Aku jadi bingung, apa setelah anak ini lahir kamu akan menceraikan aku?" tanya Akira masih dengan wajah menunduk.
"Akira jangan mengujiku dengan bicara macam - macam!" tegas Farid lalu melenggang masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Akira menemui Farid yang kini berada diruang kerjanya sejak tadi padahal jam sudah menunjukan hampir tengah malam. Ia berpikir untuk mengajaknya istirahat dengan dalih meminta izin agar ia boleh pergi keluar, jujur ia khawatir setiap kali pria itu tak kembali ke kamar, namun ia takut untuk bicara bahwa ia khawatir, ia mengetuk pintu dan memasuki ruangan itu dengan perlahan ia masih takut kalau - kalau Farid masih kesal padanya.
"Butuh sesuatu?" tanya Farid tepat setelah Akira masuk ke ruangannya.
Akira mendekat ke kursi dimana suaminya duduk dan berdiri menghadap pria itu.
"Aku mau bicara, kamu balik ke kamar sebentar ya?"
Ah apa - apaan pertanyaan itu tadi, bahkan ia bisa berbicara disini sebab ia sudah menghampiri pria yang mau ia ajak bicara.
Bukannya menjawab Farid malah menarik Akira dalam pangkuannya, memeluknya dan mencoba menghirup aroma gadis itu dalam - dalam, mencoba memastikan apakah ia bisa menemukan ketenangan dalam diri istrinya atau tidak.
"Aroma tubuhmu membuatku tenang dirimu membuat aku nyaman, kenapa aku baru menyadari hal ini?" ucapnya dengan dagunya berada dibahu Akira.
Farid beralih mengelus pipi Akira yang mulai memerah dan menatap mata Akira dalam - dalam.
"Mata ini bahkan menenangkan untuk dipandang, pipimu juga menggemaskan" ucapnya lalu mengelus alis mata Akira.
"K- kamu ngapain sih, aneh" gagap Akira, ia sedikit gugup mendapat perlakuan aneh dari suaminya.
"Aku? Aku mencari cinta dalam dirimu" ucap Farid dengan sangat tenang dan lembut.
"Kok gitu?" bingung Akira.
Farid diam tak menjawab, ia hanya memandang mata coklat jernih dan terang yang terlihat menenangkan, yang tak pernah ia pandang sedalam ini. Ia mencoba menemukan sesuatu didalamnya. Sejak tadi ia diruangan ini merenungkan perasaannya akan Akira yang ia ketahui mencintainya sejak lama, sebab ia sudah terlampau bingung dengan hatinya namun tak juga menemukan jawaban, bayangkan seorang Farid bingung karna seorang wanita yang dulu selalu ia abaikan! Ia hanya pernah jatuh cinta satu kali dan itu menyakiti dirinya.
"Apa selama ini aku telah melewatkan banyak hal?" tanyanya dengan nada penyesalan.
Akira diam mencoba mencerna apa maksud pria itu, sebab tadi ia bertanya sesuatu tapi malah dijawab dengan ucapan - ucapan yang membuat jantungnya tak tenang.
Cup
Farid mengecup bibir mungil tapi seksi milik Akira.
"Manis" ucapnya.
"Kamu kenapa gitu? Ada yang salah?" tanya Akira bingung.
"Ada" jawab Farid singkat.
"Apa? Boleh aku tau?"
"Aku. Aku salah karna tidak menyadari kehadiranmu selama ini" ujarnya tersenyum lirih.
"Jangan bercanda, aku kesini mau ngomong boleh pergi keluar atau nggak, bukannya dikerjai"
"Hish, kamu kira aku bercanda? Yakin orang sedingin aku bisa bercanda?"
Akira menggeleng pelan.
"Mulailah bersamaku, aku tau aku salah dan menyakitimu tapi aku ingin memperbaikinya denganmu, tetaplah bersamaku apapun yang terjadi" ucapnya lalu mendekap erat tubuh Akira.
Dan author gak ngerti ada apa dengan otak Farid dan hati Farid.
Jadi kalian perlu vote,like and comment biar tau kenapa Farid kaya gitu di next chapter.