Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
lima puluh empat



Apa sih kebahagiaan menurut Rayrin?


Untuk saat ini Rayrin hanya ingin bisa bahagia terlepas dari semua masa lalu kelam yang pernah dirinya ciptakan.


Oke, Rayrin sudah cukup, karier hancur, di benci banyak orang dan sekarang?


Cintanya terhalang, anaknya ingin di ambil.


'Ya Tuhan, aku tahu engkau maha pengampun, ampuni aku dan sudahi semuanya, aku mau bahagia.' ucapnya pada Tuhan sembari menatap langit gelap di atasnya.


Malam itu seperti mewakili keadaannya.


Gelap, sunyi, dingin entah kapan pagi datang, lalu sinar menyapa menerangi kegelapan dalam hidupnya, memberi kehangatan pada dirinya. Ia hidup terpencil dan itu sangat mengerikan.


Hari akan terus sama, setelah ini ia akan tidur lalu mendapati dirinya sendirian dalam rumah sederhana ini, lalu membersihkan rumah, memasak, ah sebelum memasak ia akan berbelanja dan siap di gunjing orang.


Sekarang sudah pagi, tapi pagi buta.


Dingin masih menyertai, suhu memang masih rendah, mengingat ini di pinggiran kota bukan di pusat kota tentu kehidupan disini mirip seperti di kampung. Ia akan menunggu pedagang sayur lewat daripada harus ke warung dan mendengarkan para ibu-ibu berbisik melirik padanya, bahkan sebelum ia sampai sana.


"Anaknya bunda, mau makan ikan ya?" ia merubah panggilan anaknya padanya, karena jika memanggil dirinya mama, ia jadi ingat pada mamanya yang sangat pengatur mengabaikan keinginan anaknya, ia tidak mau jadi seperti mamanya, jadi ia mengubah sebutan bunda untuk dirinya, lebih penuh kasih.


Dengan mengelus perut besar itu, Rayrin keluar pagar dan kebetulan langsung mendapati pedagang sayur yang baru saja lewat. Baguslah, setidaknya ia tidak akan menerima gunjingan karena belum ada ibu-ibu lain.


Ia segera memilih apa yang mau ia beli, membayarnya lalu kembali dan mengolahnya.


Setelahnya, ia bersiap makan baru tangan itu menyentuh sendok, gerakannya terhenti mendadak, "Papa, eh ayah kamu lagi apa sekarang ya, kamu kangen gak sama dia?" memangnya pada siapa lagi Rayrin akan bicara kalau bukan pada anaknya.


"Sehat-sehat ya kamu di dalam sana, setelah kamu lahir bunda bakal bawa kamu pergi yang jauh, biar bunda bisa tetap sama kamu. Bunda juga akan berusaha agar ayah ikut kita." lirihnya entah yakin atau tidak, Rayrin memang licik tapi itu dulu, Rayrin sekarang tetaplah seorang gadis polos seperti bertahun-tahun lalu, ia tidak yakin apa dirinya mampu membawa Kris pergi.


Saat ia baru saja ingin menyendokan makanannya, "Siapa sih, mengganggu saja." ia jadi kesal karena sejak kemarin dirinya sudah mengidam-idamkan makan ikan sambal tomat, tapi malah gagal karena sepertinya Bu Kades berkunjung.


Ia berjalan secepatnya yang ia bisa membuka pintu dan, " Apa kabar, Rayrin?" Rayrin terkesiap melihat siapa yang datang, astaga bagaimana bisa?!


**


"Jadi darimana kamu tahu aku disini dan apa tujuan kamu?" tanya Rayrin to the point, setelah ia mempersilahkan Akira duduk di salah satu kursi yang ada di ruang tamunya.


"Aku telepon Kris." jawab perempuan di depannya, " Kris? Dia jawab telepon kamu? Bagaimana keadaannya?!" serbu Rayrin setelah telinganya mendengar nama cintanya.


Bahu Rayrin yang sempat terangkat kini turun dan lesu, "Aku kira.. emm kamu mau apa kemari."


"Mau main sama kamu."


"Farid akan marah, jangan cari masalah aku sudah tidak mau berhubungan dengan kalian lagi." sinis Rayrin, dirinya sungguh tidak mau berurusan dengan Danuarta lagi.


"Farid gak akan marah kalau dia gak tau kan, ini juga maunya anak aku." Rayrin mengernyitkan dahinya aneh.


"Masa mengidam sudah lewat seharusnya, aku gak percaya itu keinginan bayi." Rayrin masih tetap dingin pada Akira.


"Sumpah! Ini maunya baby, cuma kali ini papanya gak mau turutin jadi aku diam-diam."


Rayrin tersenyum kecut mendengar kalimat Akira barusan. Tersirat bahwa, pasti Akira bahagia suaminya di sampingnya saat Akira dalam fase mengidam, atau fase sulit lainnya saat hamil, sedangkan dirinya? Kadang ia ingin nasi goreng buatan Kris, tapi orangnya tak ada.


"Jelas, Farid gak akan mau melemparkan anak dan istrinya ke dalam bahaya bernama Rayrin!" balasnya sinis dan dingin, padahal sedari tadi Akira menjawab dan bicara dengan nada yang ringan dan santai.


"Nggak, aku yakin kamu udah gak jahat, buktinya anak aku mau ketemu dan main sama kamu." cecar Akira ngeyel.


"Kalau tiba-tiba aku dorong kamu sampai jatuh gimana?"


"Nggak mungkin, bahkan untuk buat aku keguguran saja, kamu enggak berani pakai tangan kamu langsung, aku tau kamu masih punya perasaan. " sangkal Akira.


"Tahu dari mana kamu? Sok tau banget, penjahat kaya aku gak punya perasaan Akira!"


"Kalau kamu nggak punya perasaan, harusnya kamu biasa aja waktu aku sebut nama Kris. Tapi nggak, kamu langsung bereaksi, kenapa? Karna kamu punya hati dan hati kamu, kamu taruh pada Kris, sehingga... Emm ya intinya kamu itu sebenarnya baik!"


Rayrin sebenarnya ingin sekali tertawa, kenapa Akira sangat lucu dan aneh begini sih?!


Bicara serius tapi tidak di selesaikan, apa dia tidak bisa merangkai katanya?


"Ayo main sama kami, siapa tahu nanti saat lahir anak kita berteman."


"Iya, jika anakku tidak di culik kakeknya." lirih Rayrin memandang kosong ke arah jendela.


"Hah? Maksud kamu, kamu mau di pisahkan dari anak kamu gitu?!" kejut Akira berlebihan sampai membuat Rayrin ingin menutup telinga.


Rayrin mengangguk, "Kris di kurung karena dia di jodohkan." Rayrin tersenyum miris, "Aku kena karma, Akira." ucap Rayrin kemudian membuat Akira tertegun.