
"Aku enggak bohong, aku memang ke Jepang, cuma sebentar, hanya meeting dan aku balik buat kamu." itu penjelasan Farid, jadi tiga hari yang di maksud lelaki itu adalah termasuk jam pulang perginya juga.
Lelaki itu menghabiskan tujuh jam dua puluh menit untuk sampai ke Jepang, lalu enam jam istirahat, empat jam meeting dan langsung kembali tanpa menginap, demi siapa? Akira, tentu saja.
"Masa sih, sesingkat itu?"
Akira mendongak sedikit untuk melihat wajah suaminya. Posisi mereka sekarang ada di atas tempat tidur dengan Farid yang menjadikan lengannya sebagai bantal Akira dan tangan perempuan itu memeluk suaminya.
"Ya memang singkat, aku sengaja bilang tiga hari, padahal gak sampai tiga hari, aku berangkat jam tujuh malam, sampai jam dua pagi, bangun jam enam, satu jam bersiap, terus pertemuan empat jam dan langsung terbang ke Indonesia." jawabnya sedetail mungkin, kalau enggak detail istrinya akan terus bertanya, bisa-bisa mereka tidak tidur semalaman.
Akira nampak menggerakkan jari jemarinya seperti menghitung.
"Oya, memang enggak capek kamunya, asal trabas gitu aja?" tanya wanita itu lagi.
"Demi kamu sayang, demi kamu." katanya gemas memencet hidung Akira.
"Ih jangan di pencet nanti pesek!"
"Gak papa lah, masih tetap cantik pasti."
mengecup pelipis Akira sayang.
"Kamu sekarang sayang sama aku ya? Aku suka, aku seneng." gumam Akira pelan dalam dekapan suaminya.
"Iyalah seneng, istrinya aja kaya kamu gini, langka."
"Hah? Langka gimana?"
"Kamu tuh, cantik, manis, lucu, cerewet tapi lembut, pecicilan tapi pinter masak, apalagi ya?"
"Aku gemesin kan?"
"Kamu seksi, bukan gemesin."
Farid menjawab yang sukses membuat Akira menggigit bahunya.
"Nakal banget si istri aku." ringis Farid menatap bahunya yang telah menepak gigi Akira.
"Ih manis banget kalo kamu ngomongnya gak pakai bahasa baku sama sekali!" tiba-tiba Akira bersorak gembira sambil bertepuk tangan.
"Eh? Kan aku memang selalu bicara gitu ya sama kamu, udah enggak baku lagi." Farid menerawang ke belakang memikirkan pembicaraan-pembicaraan yang telah lalu.
"Tapi kamu kaku banget, yang tadi itu enggak, manis!"
"Ah, aneh kamu, ada-ada aja."
Menarik selimut lebih ke atas dan mendekap Akira lebih erat.
"Ayo tidur."
"Kamu gak mau lagi?"
"Mau apa?"
Farid nampak bingung dengan pertanyaan Akira yang arahnya entah kemana.
"Itu... "
"Apa sih, sayang?" dengan sabar Farid menunggu Akira yang nampak berpikir bersandar di lengannya.
"Itu loh!"
Eh, Akira malah nyolot.
"Itu apa, yang jelas?!"
"Anu, itu yang tadi, ah susah amat!" maki Akira pada dirinya sendiri. Lalu tanpa Farid duga, Akira memajukan wajahnya dan mencium bibirnya, tentu dengan senang hati Farid menerimanya.
'Lucu sekali, jadi dia mau lagi? Hahha.. ' Farid tersenyum di sela ciuman mereka.
'Persetan dengan masalah yang ada, pokoknya hari ini aku harus bahagiakan diri aku sama suami aku, titik gak pake koma!'
****
Rumah Keluarga Danuarta.
Keributan terjadi disana bahkan melibatkan anak sulung mereka.
Sedangkan, Fiora sebagai seorang anak yang tidak tau apapun, hanya bisa mengamati perdebatan kedua orang tuanya. Bahkan dirinya gak mampu menjedanya.
"Pa, Fio baru pulang tiba-tiba kalian ribut sebenarnya kenapa si?"
"Fio, masuk kamar, istirahat ini urusan papa sama mama kamu."
"Enggak, biarin dia disini, biar Fio tau kelakuan papanya yang selalu dia banggakan!" teriak Rita yang membuat perempuan itu mematung memandangi papa dan mamanya bergantian.
Di rumah mereka tidak pernah terjadi keributan sebesar ini, biasanya Roy dan Rita hanya akan berdebat di dalam kamar tanpa sepengetahuan anak-anak.
Tapi, kali ini berbeda, di tambah Rita yang tak mau kalah.
"Kak, papa mama kenapa?" kini seorang lelaki remaja belasan tahun masih dengan seragam sekolahnya melekat lengkap di tubuhnya menghampiri sang kakak.
"Nggak tau, Rel."
Itu Farell, Farellio Danuarta, adik bungsu Farid.
"Pas banget, Farell udah pulang, kita bisa kasih tau anak-anak, seberapa jahat papa mereka ke mamanya."
"Rita kamu jangan keterlaluan, mereka gak perlu di sangkut pautkan!"
"Kamu takut?" wajah wanita itu memerah penuh emosi membara.
"Kamu takut kalau anak-anak tau, papanya punya anak lain di luar nikah?!"
"Arrita Hasandani! Jaga mulut kamu!"
"Pa, maksudnya mama apa?!" kini Farell yang bersuara, Fio masih bingung, hanya Farell yang tak tahan lagi.
"Farell, masuk kamar, Fio juga semua masuk kamar!" titah Roy dengan suara yang menggema memenuhi ruang tamu rumah itu.
"Kita punya saudara lain dari ibu yang beda, gitu?" tanya Farell dengan lantang.
"Jawab, Roy!Jawab pertanyaan anak kamu!" ujar Rita berteriak.
"Kamu gila ya? Farell masuk kamar, sekarang! Fio juga!" mata lelaki itu memastikan kedua anaknya benar-benar menjauh dan kembali menatap istrinya.
"Kamu udah gila, melibatkan anak-anak dalam urusan kita?Kamu udah gak waras, Rita?! Kamu itu punya hati atau enggak? Setelah apa yang kamu lakukan ke Farid dan Akira, dan kamu malah mau menyiksa batin Farell dan Fio juga?"
"Ini semua juga gara-gara kamu!"
"Asal kamu tau, Akira bukan anak aku, bukan! Dia anak Marina dan Malik, kamu cuma salah paham!"
"Ooh.. jadi menantu kesayangan kamu ngadu ke kamu? Iya?!" Rita tersenyum kecut.
"Enggak!"
"Udahlah! Tetap aja kan, Roy, kakaknya Akira itu anak kamu, dalam darahnya mengalir darah Marina, aku jijik darah wanita murahan itu mengalir dalam darah cucuku nanti."
Mereka saling berdebat tanpa perduli dengan suara mereka yang memenuhi rumah. Saling berteriak, saling adu mulut dengan suara keras.
"Dengar! Kamu berusaha membunuh darah daging anakmu sendiri yang juga darah daging kita, kamu bukan manusia. Sekarang, kamu sedang mengulangi hal yang sama, aku rasa kamu gila."
Setelah mengatakan itu, Roy meninggalkan Rita dan melangkah pergi, namun baru sampai ambang pintu ia berhenti dan berbalik sebentar, "Jika kamu tidak menghentikan apa yang kamu lakukan sekarang, kita cerai." dan kembali melangkah meninggalkan rumah.
Meninggalkan istrinya yang menangis dalam amarah, meninggalkan Fiora yang hanya bisa diam dengan kekecewaan dan Farell yang menitikan air mata, setelah mencuri dengar semuanya dari balik pintu kamar.
"Mama jahatin kakak dan kakak ipar? Papa punya anak sama perempuan lain?" itu pertanyaan yang merasuk dalam hati seorang remaja enam belas tahun yang masih amat sangat labil.
Mana pernah Farell menyangka, mamanya yang baik ternyata bisa jahat, papanya yang selalu ia kagumi, ternyata?
Dan lagi, penyebabnya kenapa harus kakaknya sendiri, kakak yang selalu jadi panutannya dan juga kakak iparnya yang baginya baik hati, ya meski mereka jarang bertemu, hanya saat pernikahan dan beberapa kali itu pun tak lama.
'Mungkin karena mama sebenci itu dengan kakak ipar, jadi dia gak mau aku terlalu dekat-dekat, kakak pasti juga takut kalau istrinya kesini dan di sakiti mama'
Eh ini aku gak tau loh ya maap kalo ada yg salah aku si tadi search ya penerbangan dari indo - Jepang tuh 7 jam.
komen aja kalo ada yg tau terus aku salah.
Maklum belom pernah ke Jepang wkwkk.
Suami Kualitas Premium jangan lupak!