
Nampak, bocah lelaki yang sedang memasang wajah kesalnya di depan gerbang sekolah, semua teman-temannya sudah hampir pulang semua tapi orang tuanya tidak kunjung datang.
"Kai belum di jemput?" tanya seorang wanita yang menggandeng anak perempuannya.
Kai hanya menggeleng sebagai jawaban.
"Mama kemana?" tanya wanita itu lagi.
"Nggak tau, biasanya mama gak pernah telat jemput aku."
"Pulang sama tante mau?"
"Kata mama gak boleh pulang sama orang lain kalau mama belum jemput."
"Anak Akira pinter banget." pujinya sambil mengacak rambut halus bocah itu.
"Gak apa-apa kan ini sama tante Zia, yuk pulang sama tante sama Karina juga." lanjut wanita itu yang ternyata adalah Zia.
Kai nampak berpikir, ia bingung mau atau tidak karena sekolah sudah mulai sepi dan mamanya belum datang juga.
Tapi bagaimana kalau pas dia pulang mamanya datang.
"Nanti tante bilang mama kalau Kai ikut Karin." jelas Zia lagi.
"Kai!"
Nampak, Akira jalan terburu-buru menghampiri sang anak.
"Maaf ya nunggu lama ya, sayang?"
ujarnya dengan wajah khawatir.
"Tumben, Ra." celetuk Zia.
"Hmm, tadi lama ngobrol sama Via terus anterin anak-anak tempat kakak, pas di jalan malah agak macet." jelasnya.
"Hey, Karina apa kabar?" sapanya pada bocah itu.
"Baik, aunty. Kan setiap hari kita ketemu, tapi ditanyai terus." celetuk gadis kecil itu yang membuat Akira terkekeh.
"Hush, Karin."
"Lucu banget sih ,Karin." ujar Akira sambil mencubit gemas pipi Karina.
"Jodohin anak kita yuk!" celetuk Akira tiba-tiba.
"Heh, mereka masih sepupu." sanggah Zia.
"Sepupu jauh gapapa kali, Jiii."
"Gimana nih jadinya besanku, sepupu iparku? atau tanteku mertuaku?" canda Zia
lalu mereka tertawa bersama atas kekonyolan mereka sendiri.
...****************...
Di kantor rasanya Farid ingin cepat-cepat pulang saja, ia sering rindu anak-anak dan juga Akira.
Cuma kalau ia tidak profesional, mau makan apa nanti istri dan anaknya?
"Gio!" panggilnya tiba-tiba pada Sergio yang masih bersamanya di ruang meeting, sedangkan meeting baru saja selesai.
"Ada apa, Tuan? Ada yang salah?" tanya Sergio yang masih dalam suasana serius karena baru saja melakukan meeting penting.
Farid menggeleng, "Aku mau bertanya sesuatu." ungkapnya pada sang asisten.
"Apa itu kira-kira, Tuan?"
"Kamu pernah merasa rindu sama Zia dan Karina waktu jam kerja seperti ini?" sedangkan Sergio sedang kebingungan mencerna pertanyaan bosnya yang adalah pertanyaan pribadi dan bukan soal pekerjaan.
"Kenapa tuan bertanya begitu?"
"Tinggal jawab saja apa susahnya sih?!"
Kesal sih, tapi bagaimana lagi Farid bosnya.
"Karena ini pertanyaan pribadi bolehkah saya menjawabnya secara pribadi dan tidak formal?" tanya Sergio memastikan.
Setelah anggukan kepala Farid sudah ia dapatkan, ia bersiap menjawab menarik napas dan, "Sebagai seorang ayah dan suami baru, saya masih sangat bahagia-bahagianya, tentu saya pernah merasa ingin cepat pulang untuk bertemu Karina dan Zia, tapi bukankah saya harus bekerja untuk mereka juga?"
"Jadi menurutmu wajar jika aku merasa begitu?"
"Tentu wajar setiap ayah pasti merasakan itu jika mereka benar-benar sayang pada anak dan istrinya, tapi saya pribadi tidak terlalu sering karena anak saya hanya satu, kadang saya sampai bosan bertemu satu anak, Karina lagi, Karina lagi, hehe.." jawabnya di barengi cengiran.
"Jangan!" cegah Sergio.
"Lebih baik kamu buat adik untuk Karina, banyak anak ternyata menyenangkan." saran Farid sembari meledek tentunya, karena Zia tidak ingin punya anak lagi setelah Karina lahir, berbeda dengan Akira yang sampai sekarang saja masih merengek ingin satu anak perempuan lagi.
Iya kalau lahirnya perempuan, kalau laki-laki?
Sedangkan ia sudah tidak tega melihat istrinya itu kelelahan, tiga anak saja sudah membuat Akira kewalahan apalagi jika empat nantinya?
"Bukankah itu juga melelahkan?" tanya Sergio penasaran, baginya melihat Zia yang sudah kerepotan mengurus Karina yang super aktif saja sudah membuatnya kasihan pada sang istri.
"Hmm iya sih, tapi tidak seburuk itu."
"Anda benar-benar tidak mengasihani istri anda ya, mengurus anak anda?" balas Sergio dengan nada sedikit mengejek.
"Hey kau ya, ingat ini di kantor bukan di acara keluarga kau bukan sepupuku."
"Ingat tadi anda bilang ini pembicaraan non formal." balas Sergio.
"Ingat, aku adukan Zia soal tadi!"
"Jangan!"
Sergio malas sekali jika Zia nantinya akan mengoceh, karena hal sepele itu, sekarang Zia sangat galak semenjak punya anak.
"Ya sudah terimakasih sudah menjawab, coba undur satu pertemuan ku hari ini, aku benar-benar ingin pulang rasanya."
titahnya seenaknya lalu meninggalkan gedung perusahaan tepat saat jam makan siang.
Akira benar-benar tidak menyangka ia yang ingin punya anak banyak, tapi ia sendiri sudah sangat kewalahan membawa tiga anak kemana-mana, tapi itu tidak menyurutkan keinginannya untuk punya satu lagi anak perempuan.
Ya, Akira sangat suka anak perempuan, cita-citanya ingin punya anak perempuan kembar, andai saja Sam perempuan.
"Mama, kita mau kemana?" tanya Kaisar yang sadar bahwa arahnya bukan ke arah pulang.
"Mau ke rumah nenek."
"Kai mau pulang, mama." rajuknya yang duduk di jok depan sedangkan adik-adiknya di belakang, Yura sibuk dengan kue keju yang ada di tangannya sedangkan Sam sibuk menonton kartun dari ponsel Akira.
"Tadi kan udah dari rumah kakak Leo, capekk." keluh anak laki-laki itu.
"Tapi nenek kangen mau ketemu kakak dan adik-adik katanya, gapapa ya kita kesana nanti kan kakak bisa istirahat di rumah nenek, emang kakak gak kangen sama kakek sama nenek?"
"Ah, yaudah deh!"
"Jangan marah gitu dong, nanti enak pasti di rumah nenek di masakin yang enak-enak." bujuk Akira.
"Nggak marah kok." kilah bocah itu.
"Kok nggak mau senyum."
"Keselnya belum ilang." jawab Kaisar yang ternyata suka ngambek sama seperti dirinya.
"Nanti pasti hilang keselnya kalau udah sampai rumah nenek apalagi kan bisa main sama Karina." hibur Akira, karena rumah Zia dan Sergio cukup dekat dengan rumah mertuanya.
Oh iya, anak-anaknya selalu di manjakan oleh mertuanya saat mereka disana, apapun yang anak-anaknya ingin, mertuanya akan langsung memasaknya atau membelikannya.
Walaupun ia kadang takut anaknya jadi manja tapi tidak masalah mungkin jika hanya sesekali dan tidak selalu setiap hari, toh itu hanya bukti kasih sayang nenek pada cucunya.
Apalagi ibu mertuanya itu bilang sebagai balasan karena perasaan bersalahnya pada Akira dan anak Akira yang dulu sempat tidak di inginkan olehnya.
Jadi ia ingin melakukan yang terbaik untuk cucu-cucunya.
Akira bahagia akhirnya mertuanya itu sangat sayang padanya dan anak-anaknya.
Tuhan maha tau dan maha membolak-balikkan hati manusia, itu pasti.
Maaf ya sedikitttt
Author sedang lelah
Sajennya banyakin dong
Dukung aku dengan vote like dan komen yaaa
Terimakasih 💖
Oh ya aku mau kenalin novel baru aku juga