
Malam adalah waktunya bagi orang-orang untuk istirahat tak terkecuali bagi Akira dan Farid, namun seperti layaknya sepasang suami istri ada sedikit perbincangan diantara pasangan tersebut, seperti yang terjadi saat ini, dengan jahilnya Farid menggoda sang istri dengan apa yang ia lihat melalui cctv.
Membuat wanita itu menggeram dengan wajah gemas yang malah membuat Farid tergelak semakin kencang.
"Ya ampun, istriku lola banget ya, tapi tukang gosip, aduh tukang sayur digosipin" ledeknya sembari memegangi perutnya yang pegal karna tawa.
"Diem!" pekik Akira sebal.
"Kok kebalik ya? Biasanya siapa sih yang jahil?"
"Mana aku tau!" jawab Akira cuek.
"Ada yang kena karma nih" ledek Farid melihat Akira yang kesal karna sekarang wanita itu yang kesal karna terus diledek.
"Diem!" pekiknya semakin nyaring.
"Oke, aku diam tapi ada syaratnya." tawar Farid dengan mengedipkan sebelah matanya, lalu mulai mendekati wajah istrinya.
"Hayoo mau apa!" pekik Akira dengan wajah panik dan tangan yang menahan kepala Farid yang mulai mendekat.
"Kok gitu sih sama suami, tangannya itu singkirkan!" titahnya.
"Nggak mau, bahaya!"
"Udah lama tau, lagian aku gak minta setiap hari Ki.." rengek Farid.
Wait! Barusan Farid? Merengek? Hah? Seriously? batin Akira.
"Minta apaan nih maksudnya?" ucapnya dengan kepala yang mundur demi menghindari Farid.
"Itu.. jangan sok gak tahu, dari awal nikah sampai sekarang bisa dihitung, belum sampai sepuluh kali"
"Hush! Pembicaraan macam apa sih mas itu" ucap Akira sembari meletakan telunjuknya dibibir Farid, yang malah mendapat gigitan kecil dari sang pemilik bibir setelahnya mendapat sapuan lembut dari lidah Farid, membuat Akira bergetar gugup.
Ini bukan malam pertamanya,bukan pertama kali ia disentuh suaminya, tapi selalu saja ia berdebar saat suaminya menyentuh bagian tubuhnya.
"Boleh ya, dosa tau nolak suami" celetuk Farid, Ya Tuhan sejak kapan suamiku jadi manja begini sih, batin Akira.
Tanpa menunggu lama Farid langsung menyambar bibir Akira, menyentuhnya dengan bibirnya, menyalurkan perasaannya yang selama ini tak pernah ia ungkapkan sekalipun. Ia pikir kepastian tanpa kata cinta sudah cukup untuk mengikat wanitanya.
Ingatlah, betapa besar cinta Akira untuk sang suami sampai ia seperti keledai dungu yang dengan mudahnya menerima Farid yang jelas suka plin-plan bahkan sebelumnya untuk membela Akira, pria itu tidak mampu.
Entah sihir apa yang Farid semaikan sampai membuat Akira seperti budak cintanya.
Akira melenguh merasakan sapuan bibir Farid yang menyapu kulit lehernya, semakin turun ke dadanya dan memberikan sentuhan yang membuatnya semakin lemas tak berdaya.
Selanjutnya, hanya suara lenguhan dan erangan yang menguasai ruangan tersebut.
.
.
.
.
Pagi menyapa dengam segala rutinitasnya sebagai seorang istri tapi hari ini ada yang berbeda.
Hari ini waktunya Akira untuk memantau pekerjaan Viara sebagai wakilnya.
Setelah pamit dengan sang suami dan pergi dengan di antar suami juga, akhirnya Akira sampai pada tempat yang sudah sangat di rindukannya.
"Jangan terlalu lelah, ingat kandunganmu" pesan Farid yang dijawab anggukan juga senyuman manis Akira.
Setelah, Farid mengecup kening Akira mesra, Akira segera melenggang menuju tempat kerjanya.
Dengan teliti ia memeriksa kembali data yang diberikan Viara.
"Vi, si Rangga udah gak masukin barang ?"
"Nggak."
"Why? Bahan dia punya bagus-bagus loh"
Akira mengernyit dan melontarkan pertanyaan, "Maksudnya gimana?"
"Sejak lo jarang kesini, Farid suruh sekertarisnya kesini dia suruh gue pindah supplier rempah sesuai dengan pilihan Farid, dan Rangga dihempas!" jelas Viara.
"Serius?!" pekik Akira kaget.
Viara mengangguk yakin, "Gila, gue gak nyangka Farid bisa se posesif itu, secemburu itu sampe nyingkirin Rangga dari pandangan lo, Ra." ucap Viara sambil geleng-geleng kepala.
"Kok dia gak ada omongan apapun ya sama gue?" heran Akira yang hanya dibalas Viara dengan mengedikan bahunya, mengisyaratkan bahwa ia tak mengerti apapun.
"Eh iya, tiga hari yang lalu ada cowok kesini cari lo, Ra" beri tahu Viara.
"Siapa?"
"Nggak tahu, mungkin salah satu cinta masa lalu lo, kaya Farid sama Valen" ucap Viara sambil tertawa meledek.
"Kampret lo Vi, padahal lo yang paling banyak ninggalin kenangan sama cowok-cowok!" gerutunya tak terima.
Setelah selesai dengan urusannya, ia segera keluar dari Home's Food, rencananya hari ini, mereka akan jalan ke pusat perbelanjaan sesuai janji mereka, dengan ditemani Viara.
"Woy, akhirnya nyampe lama bener sih! Lumutan tau gak nunggu dari tadi!" protes Zia.
"Yaudah ih, ayok mulai pencarian kita!" lerai Tina, sebelum adanya perdebatan lebih lanjut.
Akira sibuk mencari-cari dress rumahan yang kiranya akan pantas di pakai saat hamil, dibantu dengan Tina yang memang punya selera yang sama.
"Nih, warna pink bagus deh, imut" usul Tina.
"Masa aku pake pink melulu sih" tolak Akira, karena memang ia dan Tina hobi mengoleksi warna soft pink hingga banyak baju berwarna itu di lemarinya.
"Biru aja noh, lebih adem diliat" tunjuk Zia pada salah satu dress rumahan dengan warna biru langit.
"Okey deh, aku ambil ini aja sama yang hijau muda" putus Akira, lalu mulai melakukan transaksi.
Setelahnya mereka memutuskan mencari tempat makan, setelah berkeliling melihat sepatu, perhiasan,tas dan lain - lain.
"Cari tempat yang terang,adem,deket kaca ya guys biar enak nongkrongnya" usul Viara.
"Siplah" sahut Zia dengan mengacungkan jempolnya.
Akhirnya mereka sampai pada salah satu kafe, dan memilih tempat duduk di dekat jendela yang memperlihatkan suasana luar.
Segera, Zia memanggil pelayan untuk menyebutkan pesanannya.
"Kalian mau apa guys?" tanya Zia, sesaat setelah menyebut pesanannya.
"Chicken katsu deh sama es teh" sebut Viara, "Aku juga, jadi chicken katsu sama es tehnya dua ya mba" timpal Tina.
"Emm, aku spicy chicken deh, pakai nasi ya, terus sama milkshake stroberi" pintanya yang dijawab anggukan dan senyuman khas pelayan.
Lima belas menit mereka menunggu, tapi masih belum siap pesanan mereka.
"Dih, lama bener gue tinggal ke toilet deh pengen pipis" kesal Akira.
"Dasar ibu hamil gak sabaran mana dikit-dikit kebelet pipis lagi" cibir Zia.
"Ya bodo, gue sumpahin lo bakal hamil dalam waktu dekat ini!" pekik Akira sambil menjauh tanpa memperhatikan langkahnya.
Brukk
Sial! Akira menabrak seseorang, "Akira?" ucap orang itu tak menyangka.
"Maaf, saya gak sengaja" ucap Akira tak enak.
"Hey! Kamu lupa sama aku Ra?" tanya orang tersebut yang membuat Akira melihat wajah orang itu dengan seksama.
"Oh.. Astaga kamu.." kaget Akira dengan menutup mulutnya yang menganga dengan kedua tangannya.
Santuy dulu ya guys
Oh yaa boleh beri masukan melalui grup chatku yaaa