
Terlalu banyak manusia di sekitar Akira dalam masa lalunya, gadis biasa yang terlalu banyak berkelana- Cinta Masa Lalu.
"Kamu...?" Akira menunjuk pria di hadapannya dengan wajah bingung.
"Bima Juna Reynaldi" lantang pria tersebut dengan senyum percaya diri.
"Hah?" Akira nampak mengamatinya lamat-lamat, " Ah..iya Rey?" lanjutnya.
"Syukurlah masih ingat" lega pria itu.
"Emm iya, lama gak ketemu jadi lupa" sahutnya gugup, bagaimana tidak gugup jika yang ada di hadapannya itu cinta monyetnya dulu sebelum bersama Valen, hanya saja saat pria itu menyatakan perasaannya, Akira tidak menggubris karena dulu ia takut berpacaran.
"Gimana kabar kamu? Bisa kita ngobrol?" tanya pria yang dua tahun lebih muda darinya, ya lebih muda, bayangkan anak sekolah dasar kelas enam, menyatakan cinta pada gadis kelas dua sekolah menengah pertama.
"Sorry Rey, bukan gak mau, tapi ada teman aku disana, aku balik lagi deh ya" pamitnya.
Sial! Nggak jadi ke toilet gara-gara itu orang, kenapa bisa ketemu sih! rutuknya dalam hati.
"Tunggu!" panggilnya sembari mencekal pergelangan tangan Akira.
"Lain kali bisa ketemu, boleh minta nomor kamu?" Akira tertegun bingung, namun segera tersadar saat pria itu merampas ponselnya, mengetikan nomornya lalu meneleponnya melalu ponsel Akira, sehingga membuatnya mendapatkan nomor wanita itu.
"Kok kamu lancang?!" ucapnya datar.
"Abisnya kamu kebanyakan mikir"
"Bodo amatlah!" ketusnya lalu pergi meninggalkan Rey, yang mengulas senyum tipis.
"Nanti aku hubungi!" teriaknya yang diabaikan oleh Akira.
.
.
.
.
Akira memotong cabai dengan pikiran entah kemana, namun jelas ia masih memikirkan tentang Rey,Bima,Juna. Ia mengulas senyum tipis mengingat pria itu punya nama tiga orang sekaligus yang di gabung menjadi namanya.
Hush.. apaan sih jangan mikirin orang lain dong otak! rutuknya lalu menggelengkan kepalanya seakan menolak pikirannya.
Ia mengusap wajahnya gusar dan langsung merasakan perih dimatanya, "Aw, sial pedih!"
Ia mengibaskan tangannya ke depan wajah berharap itu bisa mengurangi perih di matanya. Ia berusaha mencari washtafel dengan mata terpejam. Ia merasakan ada yang menuntunnya.
"Kok bisa gitu Ki, kamu mikirin apa sih sampai lupa tangan kamu abis pegang cabe" cerocos Farid yang mendadak sudah ada di tempat kejadian.
Sebenarnya, Farid sudah kembali sejak tadi hanya saja ia memilih diam dan memperhatikan wanitanya, sebab tumben Akira tidak menyadari kepulangannya.
"Dari tadi, tapi kamu nggak nyadar"
"Iya ya, aku gak tau kamu pulang" ucapnya sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal, ini gara-gara ia memikirkan seorang pria yang seharusnya tidak penting, Bima Juna Reynaldi.
Bukan karena ia juga menyukai pria itu, hanya saja entah kenapa ia merasa terancam akan kehadiran pria itu secara mendadak begini.
"Mikirin apa sih?" tanya Farid curiga.
"Nggak kok, gak mikirin apa-apa!"
"Tentang Rayrin,"
"Hah enggak! Serius enggak!"
"Kamu sembunyikan sesuatu!" celetuk Farid.
"Nggak, sama sekali kok mas, swear" ucapnya sambil menunjukan dua jarinya.
"Ra, jangan lupa si-"
"Aku ngga lupa siapa suami aku, pimpinan perusahaan teknologi" potongnya dengan mengalungkan kedua tangannya di leher suaminya, lalu mengecup pipi pria itu.
"Wahh..udah berani ngerayu ya, tapi asal kamu tau, tanpa kamu cerita aku pasti tahu masalah kamu, tapi kalau kamu pilih gak mau cerita, yaudah berarti kamu gak anggap aku sebagai suami kamu" cerocos Farid, membuat Akira sedikit terdiam kaku, seperti maling yang ketahuan mencuri.
"Ih kamu baperan ya sekarang haha" seloroh Akira mencoba mencairkan suasana, agar pembicaraan tadi teralihkan,
"Yaudah, aku mau masak dulu untuk makan malam, oke" ucapnya yang dibalas anggukan lemah dari Farid.
Sementara itu, Farid menuju ruang kerjanya menyalakan laptopnya untuk melanjutkan pekerjaan, tapi ia masih terkurung dalam praduganya.
"Sebenarnya, Akira itu anggap aku apa?!" kesalnya, lalu memukul meja kerjanya.
"Kenapa dia tidak pernah mencari kebenaran tentang ku dan Rayrin, apa dia tidak ada sedikitpun rasa cemburu? Katanya dia mencintaiku apa cintanya telah memudar?! Ah, sial, sial, sial! Cinta memang merepotkan!" gerutunya.
Ia menyambar ponselnya, mencari nomor Gio dan mendialnya untuk melakukan panggilan suara, "Sergio, aku ingin pengawasan yang lebih ketat dalam gerak-gerik istriku, cari tau siapa yang dia temui hari ini dan hari selanjutnya!" titahnya pada Gio diseberang sana, dan langsung memutuskan sambungan setelah mendengar jawaban singkat bawahannya.
Ia tadi mendengar bahwa Akira bertemu seorang pria, tapi karena kabar tersebut dari Rayrin ia tidak memperdulikan, ia mulai tidak tenang saat melihat sikap Akira yang tidak fokus.
Ya, sepeka itu dia sekarang terhadap Akira, sedikit perbedaan saja membuatnya curiga.
Apalagi, Akira benar-benar seperti terlalu larut dalam pikirannya, sampai sebegitunya.
Dari, Akira memotong cabai sambil melamun, lalu tersenyum tipis, menggeleng kepala pelan, hingga mengusap wajah ia memperhatikan segalanya. Ada yang beda, dan itu karena sesuatu yang kembali hadir, dan lagi, itu adalah dari masa lalu.
Nggak jelas ya? Kalau iya besok author revisi lagi, karena ini capek dan maksa update, sometime cerita ini pasti bakal ada revisi