
Akira masih terjaga padahal jam menunjukan pukul 23.45 menuju tengah malam, ia merasa gelisah matanya terus mengerjap gelisah, sesekali ia memandangi sang suami yang telah tertidur lelap. Sungguh, Rayrin benar - benar mengusik hidupnya, atau ia sendiri yang membuat hidupnya terusik dengan bersedia menikahi Farid dan menerima perjanjian pernikahan yang kini tak lagi berguna karna kandungannya?
Kandungannya? Ya, bayinya ia mengelus perutnya yang mulai sedikit membuncit.
Baiklah, demi dia aku harus percaya dan bertahan dengan Farid, ini hanya masalah makan siang saja kan, bisa saja memang Rayrin yang mengada - ada ucapnya membatin lalu menatap wajah suaminya dengan penuh arti, tak lama ia ikut terlelap dalam kesunyian malam.
Akira mengerjapkan matanya pelan menyesuaikan pandangannya yang terasa silau karna sinar matahari yang menerobos jendela kamarnya yang terbuka. Ia menengok ke sampingnya, ternyata suaminya sudah terbangun lebih dulu. Ia segera beranjak dari tidurnya dan mendudukan dirinya dibibir ranjang, meregangkan tubuhnya disana.
Tiba - tiba suara ponsel menganggu aktivitasnya itu, ia menengok ke arah nakas yang menimbulkan bunyi akibat getaran ponselnya. Tanpa nama, mungkinkah Rayrin yang mengiriminya pesan lagi?
Dan tepat! Setelah ia membuka isi pesan tersebut lagi dan lagi berisi foto dan ocehan menyebalkan wanita penyihir itu.
Selamat pagi Akira, bagaimana tidurmu nyenyak? Atau kau pusing memikirkan suamimu yang masih mencintaiku, hm? Terimalah kejutan dariku pagi ini!
Begitulah isi pesan Rayrin dengan disusul foto wanita itu yang sedang berpelukan dengan Farid. Dadanya terasa sesak melihat itu, jadi apa suaminya telah berbohong? Itu jelas foto ditempat yang sama dengan kemarin, mungkinkah Farid telah sampai hati menipu perasaan Akira.
Dirinya sudah jatuh dalam cinta pria itu, dan jatuh lebih dalam lagi ketika pria itu menaruh perhatian padanya, tapi apa ini? Rasa kecewa menghantam jiwanya. Ingatkan lagi bahwa meskipun Farid bersikap baik, sekalipun ia belum menyatakan cinta atau bahkan mengatakan bahwa dia menyayangi Akira.
Akira segera menghapus air matanya yang sedang mengalir deras setelah ia mendengar derap langkah seseorang dibelakangnya.
"Hey, sudah bangun?" tanya Farid pada Akira yang duduk membelakanginya, ia memutari ranjang dan menghampiri Akira yang diam tidak menjawab pertanyaannya.
"Kenapa diam? Ada yang sakit lagi?"
Akira hanya menggeleng dan menundukan kepalanya.
"Sayang, kamu kena-"
"Aku mau mandi" sela Akira lalu meninggalkan Farid yang terlihat bingung dengan sikap acuh Akira. Mungkin bawaan bayi, begitu pikirnya.
.
.
.
Telah terhitung dua hari Akira bersikap acuh padahal biasanya wanita itu sangat berisik, entah itu banyak bertanya hal yang tidak penting, sibuk membujuk rayu Farid untuk bisa pergi, atau ribut didapur bersama para pembantunya yang tidak memasak sesuai kemauannya.
Ia masih menyambut kepulangan suaminya, menyendokan makanan ke piring suaminya, memakaikan jas kerja suaminya, tapi semua itu dilakukannya tanpa senyum yang biasa Farid dapatkan dari istrinya itu.
Akira benar - benar diam tanpa ekspresi, tidak mau berbicara, saat Farid mengajaknya bicara ia akan mengalihkan pembicaraan itu, beralasan ia lelah, ingin tidur, dan yang lainnya.
Jelas itu menjadi keheranan tersendiri bagi Farid, bahkan bekal yang istrinya berikan saja dimasak oleh Indah dan Astuti, Akira bilang ia mual jika mencium bau masakan.
Farid sungguh merasa seperti kehilangan Akira, meskipun Akira berada dihadapannya, ia seperti kehilangan jiwanya, seperti hanya raga Akira yang ada dihadapan pria itu.
Saat ini, Farid memutuskan untuk tidak pergi ke kantor ia harus menanyakan sebab Akira bersikap seperti itu.
Farid menghampiri Akira yang sedang duduk dibangku taman, lalu ikut duduk disebelahnya.
"Hey, kenapa sih diam terus?"
"..."
"Ra, kamu udah dua hari diemin aku, kamu kenapa sayang?"
"..."
Farid menyentuh dagu Akira dan membuat wajah wanita itu yang sedari tadi hanya menatap lurus ke arah deretan bunga memandang dirinya. Akira mengalihkan pandangannya dari Farid.
"Kamu kenapa sih? Kamu bosen ya mau keluar? Okey aku izinin tapi jangan diem kaya gini aku kan takut" ujar Farid yang berhasil mendapat perhatian dari Akira.
"Serius?"
"Akhirnya, kebuka juga mulut kamu" ucap Farid lega dan mengecup bibir Akira, tapi dengan cepat Akira langsubg mendorong tubuh Farid menjauh, ia masih malas berdekatan dengan suaminya, mengingat tubuh itu telah digunakan untuk memeluk wanita lain. Ia sungguh tak rela dirinya menerima bekas pelukan Rayrin.
"Jangan gitu, kamu bener izinin aku keluar kan?" tanya Akira datar.
"Iya, yang penting kamu gak begini, terlalu stres gak baik untuk dia" ucap Farid sembari mengelus perut Akira, tapi Akira segera menepisnya. Ia tidak boleh membiarkan lelaki itu terus mempermainkan dirinya. Memberi banyak perhatian, tapi hatinya milik perempuan lain. Tidak boleh!
"Aku gak stres, cuma lagi males!" ketus Akira lalu beranjak meninggalkan Farid.
Ia membuka kulkas dan mengambil sekotak susu stroberi kesukaannya,menusuknya dengan sedotan,dan menyedotnya sampai habis karna masih kesal.
"Ih jadi mau makan yang pedes pedes deh!"
"Iya, Nona ada yang anda butuhkan?"
"Bi, mau tolongin aku?"
"Iya Nona, katakan saja tugas saya kan memang mematuhi perintah Anda"
"Bi, tolong beliin seblak ditempat langganan aku ya, yang pedes pake banget sama jangan lupa bubble tea stroberi" ucapnya dengan menyodorkan uang senilai lima puluh ribu pada wanita itu.
"Tapi, apa tidak apa - apa, Tuan tidak akan marah?"
"Tadi, bibi bilang tugas bibi nurut sama aku, sekarang malah takut sama Farid, yaudah kalau gak mau aku sendiri yang beli!" ucap Akira pura - pura merajuk.
"Pergi saja, turuti kemauan istriku" ucap Farid yang tiba - tiba muncul.
"Baik Tuan, Saya permisi"
Akira tersenyum puas bisa mendapatkan apa yang ia inginkan,jelas selain dia keluar dari rumah ini ia tidak akan bisa makan makanan itu sama sekali, ingat kan bagaimana Farid tidak membiarkan mie instan bersarang didapur rumahnya?
Akira melahap makanannya dengan semangat, ia bahkan tersenyum saat memakannya.
"Pelan - pelan Ra, nanti tersedak,sakit, itu kan pedas" ucap Farid lembut.
"Emm, aku mau lagi tapi yang gak terlalu pedas, terus isinya lebih banyak, belikan lagi ya?"
"Loh itu kan porsinya udah besar, jangan banyak-banyak Ra, gak sehat itu"
Akira langsung menekuk wajahnya mendengar larangan Farid.
"Oke, nanti aku suruh Indah beli lagi" ujar Farid menyerah, ia tak mau mood Akira kembali buruk lagi, ia tidak tahan di diamkan oleh Akira dan kehilangan senyum lembut dari istrinya yang telah membuatnya terbiasa medapatkannya.
Farid kira, ia sudah berhasil membujuk istrinya tapi ternyata ia salah, setelah Akira menyelesaikan makannya, wanita itu kembali mendiaminya sampai malam tiba wanita itu tetap bersikap acuh.
"Akira, kamu kenapa lagi si?"
"Kamu ngapain si nanya terus, aku kan udah bilang aku males ngomong sama kamu, terus lepasin tangan kamu jangan peluk - peluk!"
protes Akira sambil mengenyahkan lengan suaminya yang memeluk dirinya dari belakang.
"Ra, please jang-"
"Aku mau tidur, diem dong"
Farid mendengus kasar ia mendudukan dirinya dan mencoba membalikan tubuh Akira agar berbaring menghadapnya
"Akira, jangan menguji kesabaranku, sebenarnya apa mau kamu? Kamu kan bisa bicara tidak merajuk seperti anak kecil begini?!" ucapnya dengan nada yang mulai meninggi.
Akira mengerutkan dahinya menatap Farid dengan napas memburu karna kaget.
"Apa yang salah denganku? Aku memperhatikanmu dan anak kita, aku sengaja tidak masuk kerja agar bisa membujukmu tapi kau tetap seperti ini!"
Akira terhenyak, ia sadar Farid mulai menggunakan kata 'kau' bukan 'kamu' yang terdengar lebih akrab, itu artinya pria itu telah kehilangan kendalinya.
"Ak- aku " Akira gugup ia takut dengan Farid apabila pria itu marah, Akira selalu takut dengan seseorang yang marah dan bersuara dengan nada tinggi, ia mengeluarkan air matanya dan mulai menangis.
"A- aku cuma k-kesal sama kamu, aku b-benci kamu! Kamu jahat!" ucap Akira sesenggukan.
Farid terdiam mencerna kalimat Akira, apa istrinya baru mengatakannya jahat? Tapi apa yang dia lakukan, bukankah selama ini ia bersikap sangat baik dan mau memulai semua dari awal bersama wanita itu? Bahkan ia sudah menaruh hatinya pada Akira.
Akira menutup wajahnya dengan selimut ia tak mau terlihat menangis sesenggukan dihadapan Farid.
Farid menyerah ia tak ingin memaksa Akira agar memberi penjelasan padanya secara rinci mengingat istrinya itu menangis karna takut dengan kemarahannya tadi.
Apa terjadi sesuatu? Atau ada yang membuat Akira salah paham padaku? Tapi apa? Atau mungkin mama? Apa mama kemari saat aku pergi?
Seingatnya, Akira selalu berada dirumah dan saat keluar juga ia jauh dari dirinya, tentu ia tak mungkin melihat sesuatu yang bisa membuatnya salah paham, begitulah isi pikiran Farid.
Jangan lupa, selesai membaca langsung klik like dan ketikan komentar kalian
Setelah itu vote ya, agar author semakin yakin untuk pantas melanjutkan karya ini
Terimakasih😊🌻