Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
S2 : Baby 5



Update season kedua pembaca pada gak exited lagi ya 😟😪.


Yaudah gapapa aku up buat kalean yang setia nunggu Farid dan Akira hadir setiap dua hari sekali kalau gak ada halangan hehe...


Kemarin tu mau up, eh laptopnya aneh kursornya jalan sendiri 😫


Mungkin ngambek karna gak pernah aku ajak jalan-jalan.


Kesabaran seorang Farid Danuarta kembali di uji, setelah kemarin ia harus bersabar karena tidak bisa menanyakan lebih lanjut tentang kenapa istrinya itu membeli pil penunda kehamilan.


Sekarang, ia harus sabar lagi menghadapi rengekan Akira yang ingin mereka berlibur ke Bandung, katanya gadis itu ingin menghirup udara segar di sana.


Bukannya ia tak mau, tapi bulan ini dan berikutnya masihlah bulan produktif belum waktunya untuk berlibur lebih lama.


"Kamu ajak aku honeymoon kedua, tapi masa cuma satu hari? Sekarang hari sabtu terus minggu malam pulang?"


"Ya kita kan bisa ke pantai terdekat atau--"


"Bosen ah, kan kamu gitu, honeymoon macem apa cuma sehari dua hari? Aku aja bisa ninggalin Home's Food, masa kamu enggak, seminggu aja." ucapnya setengah kesal setengah membujuk suaminya.


"Sayang, perusahaan butuh aku untuk terus stay disana." ujar Farid lembut berharap istrinya akan mengerti.


Akira hanya melirik suaminya sekilas lalu kembali menatap taman yang ada di bawahnya yang terlihat indah jika di lihat dari teras atas di sabtu sore seperti ini.


Namun, di tengah emosinya, taman itu tampak tak terlihat lagi.


"Gimana kalau bulan depan?"


"Tuh kan!!" sentak Akira sambil menghentakkan kaki kanannya pada lantai marmer abu-abu muda di bawahnya.


"Terus, ngapain ajak aku liburan bareng kamu dan gak izinin aku liburan sama mereka? Kamu aneh tau gak?!" ucapnya emosional, ia kesal sekali suaminya tidak memberi izin tapi juga tidak menuruti maunya, padahal Farid bilang sendiri, kemanapun yang Akira mau.


Matanya mulai berkaca-kaca, tak terasa air mata memenuhi pelupuk matanya dan meluncur begitu saja.


"Kok nangis sih, Ki?"


"Aku sebel sama kamu, katanya kamu tadi pagi kemanapun aku mau, tapi sekarang udah beda lagi, bilang aja kamu larang aku main sama mereka kan? Aku gak boleh temenan sama mereka? Iya?" cerocos wanita itu dengan bibir bergetar menahan agar tanginya tidak menjadi-jadi.


"Enggak gitu juga, sayang.. "


"Terus apa?! Lagian apa gunanya Sergio? Apa gunanya wakil kamu?"


"Mereka punya tugasnya masing-masing, sayang... Oke, kita ke Bandung, aku akan tangani pekerjaan dari jauh melalui e-mail nanti." putus pria itu berharap Akira akan berhenti mencecarnya dan tidak menangis lagi.


"Beneran?!" pekik Akira dengan mata berbinar menatap mata suaminya, tapi tak lama binar itu meredup.


"Alah, nanti kamu di sana sibuk sama kerjaan, inget honeymoon pertama kita? Cuma aku yang nikmati, kamu sibuk kerja."


Astaga, Farid bingung harus bagaimana, begini salah begitu juga salah.


"Oke, karena ini permintaan kamu, aku akan kasih waktu sepenuhnya buat kamu, tapi enggak sampai satu minggu, hanya empat atau lima hari."


Akira masih saja dongkol, ia maunya satu minggu, tapi sebagai seorang istri ia juga tidak boleh egois.


Dengan terpaksa, "Yaudah, gakpapa. Aku sayang kamu." ucapnya sambil memeluk Farid.


Ia harus menghargai suaminya yang memutar otak agar bisa menuruti maunya bagaimana pun caranya.


"Aku lebih sayang kamu." balas Farid penuh perasaan, menggiring istrinya masuk kembali ke kamar karena langit mulai gelap.


***


Esoknya, pukul delapan pagi mereka bersiap berangkat berlibur seperti apa mau Akira.


Dalam perjalanan menuju Bandung, Farid sibuk dengan ponselnya, membiarkan Akira fokus mencari tempat wisata yang ingin ia kunjungi, ia sudah membayangkan indahnya kawah putih, perkebunan teh dan farm house yang ia lihat di internet.


"Sayang, nanti kita harus banyak main ke tempat wisata dan jelajah kuliner, jangan kaya di Maldives. Tempatnya luar biasa tapi kamu biasa aja." katanya merajuk bersandar di pundak suaminya, mengintip layar ponsel Farid.


"Iya sayang, yang penting kamu senang." jawab Farid sekenanya dengan masih tetap menatap layar ponselnya.


"Banyak banget ya urusan kamu?" tanya Akira tak enak, sebab saat ia mengintip tadi, Farid dan Gio sedang berbalas pesan tentang beberapa jadwal kegiatan yang harus di tunda.


Bahkan, sekarang suaminya sedang mengirimkan sebuah e-mail.


Akira jadi tidak enak.


"Nggak kok." jawab Farid pelan dengan nada yang menenangkan.


"Maaf ya, aku maksa." ucap Akira penuh sesal menundukkan pandangannya.


"Tidak apa, aku sendiri juga yang ajak kamu duluan kan?" pria itu tersenyum lembut memindahkan ponselnya ke tangan kiri lalu mengusak rambut Akira dengan tangan kanannya.


Ia memasukan ponselnya ke dalam saku kemeja navy polosnya.


Lalu, menyentuh dagu Akira agar wanitanya itu mau menatap dirinya.


"Lihat sini." tapi Akira masih memandang ke arah bawah.


"Hey, kamu labil banget emosinya kaya ibu hamil, apa lagi hamil?"


"Tck." Akira berdecak dan menatap Farid garang.


Cup


"Farid, gak sopan ada Pak sopir!"


Mang Ujang, hanya tersenyum kaku, saat merasa dirinya yang di maksud Nyonya nya.


"Mang Ujang, maklum kok kita kan masih muda." jawab Farid meledek.


"Kamu nih."


"Kamu labil, dikit marah, dikit sedih, dikit lagi nangis, ntar nyesel, ntar--"


"Ih awas ya, gak ada jatah buat suami yang suka ledekin istrinya."


"Ah gak yakin, pasti ntar kamu luluh juga di pelukan aku, kamu kan gitu." sahut Farid percaya diri, bergerser merapatkan dirinya dan diri Akira.


"Kamu kok jadi suka ngeledek sih, dulu juga dingin kaya es!"


"Esnya udah cair, soalnya ada sinar yang terang dan hangat melelehkan nya, dan itu kamu."


"Alah ngardus aja terusin."


Farid tertawa renyah mendengar balasan kata istrinya yang menurutnya sangat bawel itu.


Iya bawel, sedikit-sedikit ngomel, tapi tak apa, justru ia semakin suka.


Sebab, di rumah mereka yang besar yang hanya ada mereka berdua dan beberapa pelayan.


Suara omelan Akira, meramaikan dan menghidupkan suasana.


Jadi ia sekarang mulai suka meledek atau tidak menuruti peringatan Akira agar omelan wanita itu semakin menjadi-jadi.


Contohnya, Akira memperingati agar tidak sembarangan mencium atau memeluk di dalam rumah,karena masih ada Wisnu dan yang lain, tapi ia jawab dengan santai bahwa itu rumahnya sendiri suka-suka Farid lah.


Tentu, itu membuat Akira jengkel dan ngeromet panjang kali lebar.


Mereka telah sampai di G*H Universal Hotel, tentu atas kemauan Akira.


Kalau maunya Farid ya di tempat yang berbintang enam yang jauh lebih mewah seperti L*xury Hotel atau yang lain lah.


Demi, Akira yang ingin menikmati hotel bergaya Eropa Timur dan menikmati Lembang dari situ, oke lah, Farid rela mengalah.


Akira bahkan merengek agar suaminya harus menyewa kamar di lantai paling tinggi agar ia bisa menikmati pemandangan disana.


"Sayang, aku kan udah turutin semua mau kamu." ucap Farid saat mereka tiba di kamar hotel.


"Terus?"


"Ya gantian dong." rajuk Farid, yang sekarang bukan seperti keajaiban bagi Akira lagi, sekarang Farid merajuk adalah hal biasa baginya, apalagi jika meminta haknya sebagai seorang suami.


Merajuk sudah jadi andalannya dan menjadi kegemarannya, mungkin(?)


"Gantian apa ih, gak jelas." sahut Akira yang sudah menggelepar di atas ranjang besar bersprei putih.


Farid menyusul Akira, duduk di bibir ranjang, mencondongkan tubuhnya pada istrinya yang sedang berbaring.


Meletakkan kedua tangannya di kedua sisi Akira, mengurung wanita itu di bawahnya.


Segera, Akira mendorong dada bidang suaminya.


"Minggir, risih tau, aku mau mandi nih." alibinya, yang mulai sadar apa maksud suaminya.


"Sayang, kan aku udah sering bilang, semakin kamu dorong dada aku, semakin aku gak bisa tahan untuk terkam kamu." ucap Farid serius, menatap tubuh istrinya yang terbaring di bawah kuasanya.


"Itu, itu, nanti ya kan baru sampe sekarang juga masih siang, aku pegel banget berjam-jam di mobil, gerah juga mau mandi."


Farid diam, tak menjawab, menatap wanitanya dalam-dalam, entah kenapa ia sangat berhasrat pada istrinya saat ini.


Tidak apa kan? Toh Akira istri sahnya dan ini adalah honeymoon kedua mereka.


Akira yang melihat celah langsung merosot ke bawah untuk keluar dari kurungan suaminya.


"Dadaaa sayang, Akira yang manis mau mandi." ucapnya senang karena telah berhasil keluar dari kurungan Farid, saat Farid mulai bergerak meraihnya, ia langsung lari ke arah kamar mandi.


Asal kalian tahu, Farid hanya mengurung dengan tangannya, kakinya masih menapak lantai dan tubuhnya hanya duduk di samping ranjang.


'Sial, aku meninggalkan celah." umpatnya dalam hati.


Ia tertawa kecil saat melihat istrinya sudah berlari meninggalkannya menuju kamar mandi sembari mengatainya dan tertawa terbahak-bahak.


"Istri nakal, awas saja nanti malam." teriaknya sebelum Akira benar-benar menutup pintu kamar mandi dan menjulurkan lidah mengejeknya.


Ia hanya tertawa sumbang setelahnya, oh Akira nya yang manis, beruntung ia masih bisa memilikinya dan tidak menukarnya dengan Rayrin gila itu.


Kalau tidak, pasti ia sekarang tidak akan merasakan perasaan seindah ini meskipun sedang di ejek oleh istrinya sendiri.


"Akan aku buat kamu melahirkan bayiku setelah ini." Farid bertekad kuat, lagi pula apa tujuannya bulan madu kalau bukan membuat anak.


Ia jadi tertawa sendiri.


Dirinya sudah tak sabar, memiliki Farid junior yang sangat mirip dengannya dan Akira mini yang secerewet istrinya itu.