
Akira tak percaya dengan apa yang ia dengar saat ini, " Benar Akira, aku kan sudah bilang sebelumnya, aku ikut ambil bagian, maaf aku mohon maafkan aku, aku menyesal."
"Kak jangan bohong, nggak lucu bercandaan kamu, lagian dari mana kamu kenal sama Rayrin? Rayrin juga pasti bohong kan, tentang kamu itu bohong!" sentak Akira dengan isakan tangisnya yang mulai Deanno dengar dan sukses membuat hatinya tersayat.
"Itu benar Akira, aku di ajak kerja sama dan karena aku cinta sama kamu, aku mau. Aku lama menahan rasa ini ke kamu jadi aku, khilaf, aku minta maaf."
"Haha.. bohong jangan di pelihara deh kak."
"Terserah kamu, aku udah ngaku, aku minta maaf, aku harap kamu mau memaafkan." kemudian telepon pun berakhir.
Akira menjatuhkan ponselnya tak percaya, air matanya ikut jatuh.
"Jadi, Deanno itu suka sama aku, ternyata.. " ia kini bahkan tak mampu melanjutkan dugaannya lagi.
Ia menangis sejadinya menyesalkan suatu hal, "Kenapa semua orang di sekelilingku jahat? Dan kenapa itu terjadi saat aku bersama Farid, apa salah kalau aku ingin bahagia bersama pria yang aku impikan?!"
***
"Keluar!" titah seorang lelaki bertubuh besar di ikuti dengan gerombolannya yang mengenakan pakaian serba hitam, namun rapih dengan kemeja dan celana bahan.
"Siapa mereka, kenapa menghadang kita?" Deanno hanya bisa menggeleng sebab ia pun tak tau.
"Keluar atau mobil ini kami hancurkan!" ancam pria itu lagi.
Dengan terpaksa Kris dan Deanno keluar dari mobil.
"Apa mau kalian, kalian mau merampok?!"
tantang Kris.
Pria tadi tersenyum meremehkan, "Enak saja, untuk apa kami merampok kalau Tuan kami bisa memberikan lebih dari uang yang ada dalam dompetmu."
"Apa mau kalian?!" bentak Deanno.
"Ikut kami!"
"Untuk apa?"
"Halah banyak omong, bawa mereka berdua!" teriak pria tadi pada anak buahnya agar menangkap Deanno dan Kris yang tak bisa berkutik karena kalah jumlah dan kekuatan.
Mereka di bawa ke sebuah rumah mewah yang jauh dari keramaian penduduk, membuat Kris merasa aneh.
"Lepaskan aku!" berontak nya, saat ia di seret paksa ke dalam bangunan megah itu.
"Tidak akan sebelum Tuan kami mendapatkan apa yang beliau mau, lebih baik kau diam atau.." pria berkepala botak itu mengisyaratkan dengan membuat gerakan tangan di dekat lehernya.
"Kami dapatkan mereka, Tuan." lapor pria berbadan besar yang jadi pemimpin gerombolan tadi, Kris dan Deanno di lempar tepat di bawah kaki Farid yang sedang menghadap jendela kaca rumah itu.
Perlahan, ia berbalik dan menatap keduanya penuh amarah, "Kamu beruntung sekali ya bisa lepas dari cengkramanku padahal kamu bersalah sejak lama." ucapnya pada Deanno yang lebih dulu menatap pria yang berdiri di depannya.
"Maaf, maafkan saya Tuan saya tidak bermaksud." tukas Deanno dengan nada kepanikan yang jelas di setiap getar suaranya.
"Maaf? Apa kamu bisa mengembalikan anak kami yang tiada? Secara tidak langsung bukan aku, tapi kamulah yang menjadi penyebab istriku keguguran dan kabur dariku!" teriak Farid tepat di depan wajah lelaki itu yang kini sedang menundukkan kepalanya takut.
"Tapi apa salah saya kalau anda tidak percaya pada kesetiaan istri anda yang telah lama mencintai anda?" gumam Deanno menahan kesal dan,
Bugh!
Satu pukulan mendarat pada rahang kokoh Deanno, "Brengsek!" kemudian ia memukul Kris yang ada di sebelah Deanno.
"Apa salahku, apa salah istriku? Dia menganggap mu sahabat, dia bahkan percaya penuh padamu, tapi apa yang kamu lakukan dengan Rayrin, hah?!"
"Akira tidak pernah salah, aku hanya... aku mencintainya dan ingin memilikinya." jawabnya berani.
"Kurang ajar!" lagi-lagi pukulan mendarat di wajah Deanno, bahkan kini darah mengalir dari sudut bibirnya.
"Dan, Kris! Memangnya, apa yang pernah Akira lakukan padamu, hah? Aku tau dari Indah dan aku paham, kamu di tipu oleh Rayrin, jadi baiklah aku tidak akan terlalu mempermasalahkan dirimu. Tapi, " Farid tetap memukul Kris hingga darah mengalir dari hidungnya.
"Kenapa kalian berdua bodoh dan mau jadi alat perempuan siluman itu hah?!"
"Ngomong-ngomong, anda juga bodoh lebih membela dan percaya pada Rayrin dari pada istri sendiri." remeh Deanno yang mulai tak terima.
"Beraninya kamu!" Farid memukuli lelaki itu tanpa ampun sampai seluruh wajahnya di penuhi lebam.
"Tuan, hentikan sepupu saya bisa mati, saya mohon!" pinta Kris, dengan kasar Farid menghempaskan tubuh Deanno yang sudah lemah tak berdaya.
"Kris, aku memaafkan mu karena kamu hanyalah orang yang terperdaya oleh wanita itu karena cinta, aku tidak akan melaporkan mu kamu bisa bekerja dengan tenang di rumah sakitmu, tapi laki-laki ini, " menunjuk Deanno yang mulai bangkit dengan susah payah.
Farid tersenyum remeh, " Kamu juga pernah salah, ingat!"
"Untuk itu aku minta maaf, maafkan dia juga ia sama terperdayanya juga."
"Tapi ia tidak di tipu seperti dirimu, dia masih punya akal untuk berpikir saat itu ia tau segalanya,beda dengan dirimu yang hanya tau kebaikan Rayrin saja!" teriak Farid menunjuk ke arah Deanno yang berusaha berdiri di bantu oleh Kris.
"Aku pastikan tidak akan ada perusahaan teknologi manapun yang mau menerima dirinya!"
"Maafkan aku." ucap Deanno lagi dengan susah payah, sudut bibirnya robek dan bibirnya pecah, perih.
"Biarkan dia ikut bersamaku ke Jepang, aku jamin dia tidak akan mendekati istri anda."
"Baik, awasi dia dengan benar, atau aku akan melakukan lebih dari ini, mungkin dengan membuat butik ibunya gulung tikar?"
Deanno melotot kaget, ia ingin memukul Farid rasanya tapi ia sudah tak bertenaga.
"Jangan bawa-bawa keluargaku!"
"Maka jangan sampai dirimu mendekati keluargaku." finalnya lalu melangkah keluar dari rumah itu, "Bawa mereka ke bandara lempar mereka ke Jepang!" titahnya para anak buahnya langsung memapah Deanno di ikuti dengan Kris berjalan sembari mengusap hidungnya.
Sampai rumah, Farid menemukan Akira yang duduk di ranjangnya dengan tatapan kosong.
"Belum tidur? Ini sudah larut malam." tanyanya sembari mengendurkan dasinya.
"Nunggu kamu." cicit Akira, Farid menjatuhkan dirinya di sebelah Akira mengusap belakang kepala istrinya dengan sayang.
"Aku kepengen nangis di pelukan kamu." rengek Akira yang langsung membuat Farid menatapnya bingung.
"Kamu dari mana aja sih?!" ucapnya bersungut-sungut, "Masa tadi Deanno bilang--"
"Cowok itu udah beres di tanganku, jangan bahas dia di depanku lagi." sahut Farid dingin.
"Beres? Kamu apain dia, emang dia salah apa?"
Farid mengernyit mendengar pertanyaan sang istri.
"Salah apa? Sayang, kalau bukan karena dia hari itu tidak akan terjadi, anak kita pasti sudah lahir!" nada suaranya meninggi, sadar membuat Akira ketakutan ia langsung mendekap tubuh wanitanya yang makin kurus saja.
"Jangan jadi jahat, mas kamu nakutin aku, kamu gak bunuh dia kan?"
"Aku cuma pukul dia terus aku buang." jawabnya cuek.
"Mas, kamu kok jahat banget!" sentak nya memukul dada suaminya.
"Tck, dia masih hidup jangan berlebihan, selanjutnya aku akan kirim Rayrin dan, " ia menjeda kata-katanya membuang napasnya pelan, " Dan juga mama ke penjara." sambungnya.
"Mas?"
"Apa lagi, aku mau mandi!"
baru saja ia bergerak Akira langsung memeluknya sangat erat.
"Kamu jangan laporkan mama dong dia kan mama kamu, jangan ya pokoknya jangan, mas aku juga kecewa berat aku juga ingin marah, tapi mas, pikirkan Farell, sama kak Fio dan keluarga kita?"
"Papa juga setuju. Farell dan Fiora pasti setuju."
"Mas, keluarga kamu bisa renggang mas kamu jangan egois aku juga sama sakitnya sama kamu kok mas." dengan kasar Farid melepaskan tangan Akira dari dirinya dan berdiri dengan tegap menatap istrinya yang masih terduduk di ranjang.
"Egois kamu bilang?! Aku hanya mau melindungi istriku, itu saja! Responmu seolah tidak menghargai usahaku sebagai suamimu! Kamu ini tanggung jawabku Akira! Apa kata kakakmu nanti kalau aku tidak bisa memberi perlindungan padamu?! bentak Farid yang lalu melenggang masuk ke kamar mandi melucuti pakaiannya dan menempatkan dirinya di bawah shower.
Memikirkan,ucapan Mattheo yang mendadak masuk di pikirannya saja langsung membuat ia meradang, bisa gila dirinya kalau Mattheo membawa Akira pulang ke rumahnya hanya karena ia tidak memberi keadilan itu pada Akira.
Jadi, tadi siang Mattheo menelepon dan mengancam Farid, jika Farid tidak bisa bertindak adil antara Akira dan mamanya, ia akan membawa Akira pulang.
Farid menggeram frustasi,
Ia hanya ingin melindungi Akira saja, ia hanya ingin memberi pelajaran pada mereka yang menyakiti istrinya tapi kenapa respon Akira seperti itu, membela Deanno dan mamanya.
"Aku bukan tidak sayang dengan mama, tapi ini tentang keadilan.Tapi kata-katanya seolah aku anak durhaka yang egois! Bisa saja mama melakukan hal lainnya lagi, kenapa Akira tidak memikirkan itu, kenapa Akira bodoh?!" ia meninju tembok kamar mandi tanpa perduli tangannya akan sakit.
Udah dulu ya semoga suka
komen yaa vote yaa