Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
38



Sudah satu minggu, Farid mengabaikan dirinya, suaminya hanya akan berinteraksi dengannya saat di kamar itupun sekedarnya saja, saat lelaki itu meminta haknya atau mencari dasinya yang tidak di temukan olehnya.


Sisanya, Farid sungguh datar beda dengan biasanya, Akira mulai merasa mungkin memang dia yang salah yang tidak menghargai usaha sang suami, tapi kan ini bukan tentang Deanno saja tapi juga mamanya sendiri.


"Mas, mau lauk yang mana?" tanyanya sambil memegang sendok bersiap mengambil lauk.


"Terserah kamu." dan itu tanggapan Farid.


"Yaudah aku ambilin ikan ya?"


"Hmm." singkat dan sukses membuat selera makan Akira lenyap pagi ini.


Akira menyamai langkah suaminya yang lebar dengan agak susah ia ingin bicara sebentar tapi entah kenapa suaminya seperti menghindari.


"Mas Farid, tunggu!" teriaknya saat langkah Farid hampir menapaki ambang pintu, seketika itu juga Farid berhenti membuat Akira hampir menabrak punggung lebar suaminya.


".... "


"Kalau cuma diam, aku tinggal kerja, jangan buang waktu!" ketus Farid.


"Mas, maaf!" ucap Akira sebelum lelaki itu pergi dari hadapannya.


"Kenapa?"


"Aku minta maaf kalau sikap aku kaya gitu, kamu pasti marah karena itu kan, tapi aku cuma gak mau kamu penjarain mama kamu sendiri." ucapnya lirih.


"Aku gak marah, aku hanya kesal."


"Mas, sama aja marah sama kesal.. " lirih nya lagi tanpa mau menatap mata suaminya yang memang sedang tak bersahabat.


Farid menghela napasnya berat.


"Ini masih pagi, malas aku berdebat tentang itu, aku harus kerja." ia melangkah keluar baru selangkah, sampai ia merasa pelukan Akira yang membuatnya berhenti.


"Jangan marah dong, mas, aku sedih kalau kamu marah." Akira mendekap punggung tegap itu, sekejap kemudian air matanya lolos.


Perlahan, Farid menyentuh kedua tangan yang sedang mendekapnya, menariknya hingga pemiliknya ikut ia tarik ke depan dan ia peluk dari depan.


"Aku enggak marah, aku hanya kesal." ulang Farid dengan dagu yang ia taruh di atas kepala Akira sesekali menciumi bau rambut wanita itu yang manis seperti permen rasa buah.


"Tapi kamu diemin aku." kali ini ada is akan kecil dalam suaranya.


"Aku bingung."


"Tadi kesal, sekarang bingung yang bener mana?" Akira mendongak menatap sang suami masih dalam posisi berpelukan tanpa perduli para penjaga rumah, Sergio dan supir yang menunggu agar Tuannya segera naik mobil.


Farid mengedarkan pandangannya ke segala arah, "Udah ya, aku harus kerja." ucapnya saat menyadari matahari semakin naik.


"Aku ikut ya?"


"Jangan, aku ada rapat penting kamu akan bosan nanti sendirian di ruanganku."


"Tapi kamu maafin aku kan?"


"Aku gak pernah marah sama kamu." katanya sambil mengurai pelukan mereka dan benar-benar berangkat bekerja.


"Gio, bagaimana menurutmu?" tanya Farid saat mereka berdua sudah dalam perjalanan.


"Apa yang bagaimana Tuan?"


"Sejak pacaran kau tidak kompeten ya? Bukannya tadi kau menonton kami, ha?!"


"Jadi begini, seminggu yang lalu kami berdebat karena aku, ah bukan aku tapi karena kakaknya Akira! Sialan!" umpatnya.


"Ada apa dengan kakak Nyonya muda, Tuan?"


"Mas Teo bilang, kalau aku tidak memberikan keadilan pada adiknya, dia akan memisahkan kami secara paksa, karena kau tau sendiri mama sudah banyak kali mencoba menyakiti adiknya itu dan saat sampai rumah kau tau? Akira minta aku untuk mengampuni Deanno dan mama agar tidak di laporkan polisi!"


"Dan anda memarahi Nyonya, karena pikiran anda sedang kacau?" tebak Sergio.


"Ya, aku juga jadi kesal padanya aku mengabaikan dia, karena aku malas kalau dia malah nantinya merengek untuk hal yang sama, sedangkan aku tak mau berpisah darinya!" kini tangannya meremas rambutnya sendiri dengan gemas.


"Kalau begitu anda jangan mengabaikan Nyonya, bukannya tadi dia minta maaf, kalau saya tidak salah dengar."


"Akira itu kalau sudah di manja, pasti berani merengek, aku malas jika ia merengek hal yang sama, Gio!" sentak Farid.


"Memang anda mau menjebloskan Nyonya besar ke penjara?" tanya Sergio hati-hati.


"Mau tidak mau!"


"Tapi kesalahan Nyonya besar tidak separah membunuh kan, mungkin anda bisa bernegosiasi dengan kakak ipar anda."


"Ah benar, mungkin aku harus negosiasi dengan Mas Teo." katanya sambil mengusap kasar wajahnya.


Sedangkan, di dalam rumah sederhana itu ada Rayrin yang terdiam di pojokan kamar.


Bagaimana nasibnya? Hamil di luar nikah tanpa keluarga, tanpa kekasih yang bertanggung jawab, ia akan di cemooh oleh tetangga saat kandungannya membesar nanti.


Di sisi lain, ia juga tidak ingin menggugurkan kandungannya, benih cinta dari orang yang sangat mencintai dirinya, baginya janinnya adalah sisa cinta yang ia punya di dunia ini.


"Sakit, kenapa hidupku sesulit dan sesakit ini?" gumamnya dengan wajah yang di hiasi rambut yang menempel dengan air mata dan keringatnya.


"Nurut mama papa untuk hanya menyukai Farid, terus harus jadi anak yang berhasil dan terkenal agar perusahaan keluarga ikut terkenal, yang justru itu bukannya baik malah berakibat buruk seperti ini, bukan cuma di cap jahat, aku juga jadi orang gila yang hamil di luar nikah! Dan gak ada satupun dari mereka berdua yang mau tolong aku."


"Aku di buang." gumamnya dengan tangis pilu.


Rayrin, dia gadis yang di besarkan dalam keluarga terpandang, tata krama nya terjaga, ia di didik dengan sangat baik, saking baiknya ia di tuntun agar hanya bisa menyukai satu lelaki saja, Farid dari keluarga Danuarta, pemilik saham terbesar di perusahaan keluarganya.


Dan itulah kenapa seorang Rayrin sangat terobsesi pada Farid. Karena dengan menentang apa yang telah di atur, itu akan menjadikan dirinya seperti gadis nakal yang tidak tau aturan. Menurut adalah hal yang harus ia lakukan. Ia bisa melakukan apapun asal itu adalah usaha untuk mendapatkan Farid dan meninggikan nama keluarga.


Nama keluarga, Kris bukan yang keluarganya inginkan, keluarganya ingin pengusaha seperti keluarga Danuarta, bukan seperti keluarga Kris yang bergelut di bidang kesehatan, jadilah orang tuanya menentang saat tau jika ia berpacaran dengan Kris.


"Bukannya dapat yang lebih dari Farid, malah dapat yang di bawahnya!" begitu kata sang papa saat tau ia berpacaran dengan Kris. Bahkan sang papa mengatakan itu tepat di hadapan Kris.


"Nggak papa, walaupun seluruh dunia menentang, aku akan berusaha yang terbaik untuk selalu ada buat kamu." dan itu kata Kris kala mereka keluar dari kediaman orang tua Rayrin.


"Kris, aku kangen. Maafin aku, aku buta sama perasaan aku sendiri, sebenarnya aku cinta sama kamu dari dulu, tapi karena ego dan obsesiku, aku selalu berpikir kamu cuma bonekaku."


pikirannya melayang pada saat di mana lelaki itu selalu mendekap nya saat menangis, menenangkan dirinya saat marah, memberikan nya cokelat saat murung.


Kris paling tau, kalau Rayrin murung pasti karena habis bicara pada mamanya.


"Kris, kamu yang paling ngerti aku, cuma kamu! Balik sama aku, Kris.." isaknya lagi, ia bicara sendiri tanpa ada yang menjawab ucapanya tanpa ada yang membalas kata-katanya.


Padahal, dulu selalu ia yang tak membalas saat Kris berkata jika lelaki itu rindu.


Benar kan kata orang, penyesalan datangnya selalu belakangan.


Hatiku sakit lho setiap ngetik bagiannya mbak Rayrin kalean gak kasian apa sama dia? hiksrot


Ada yang ingat gak, aku udah pernah kasih tau nama. panjang Rayrin apa belum, kalau udah di episode mana aku ketiknya, kasih tau dong, aku lupaa