Akira's Old Love & Perfect CEO

Akira's Old Love & Perfect CEO
First



"Farid, satu nama yang sudah lama aku tau tapi tak pernah aku indahkan kehadirannya, tapi entah kenapa hari ini nama itu terus terngiang di telingaku, apa iya aku menaruh rasa pada orang yang bahkan sekalipun tak pernah terjangkau olehku, tanpa saling sapa, tanpa canda tawa, tanpa pertemuan berarti dan dia sukses membuat aku membuka hati"


Senyum lelaki itu terulas kala membaca bagian awal lembar diary yang langsung bertuliskan namanya.


Ia membuka lembar demi lembar membacanya dengan senyum dan sedikit tertawa karena isinya.


"Dear Diary,


Hari ini aku memberanikan diri menyatakan perasaanku, sialnya dia tidak memperdulikan hal itu, beraninya dia menolak aku tanpa sepatah katapun."๐Ÿ˜ก


Farid terkekeh melihat emoticon kesal yang di gambar Akira, lalu melanjutkan bacaannya,


" Dear you, My perfect past


Entah kenapa, meski sudah lama aku gak ketemu, aku masih tidak mampu menghapus perasaan aku buat Farid yang jelas - jelas membuat aku malu.


Apa mungkin, perasaan ini perasaan yang tulus?


Jantungku berdebar setiap mengingatnya,


Senyumku tersungging kala melihat fotonya yang aku simpan diam-diam.


Dia benar-benar masa lalu yang sempurna, menjauh tanpa kalimat menyakitkan.


Farid, sudah tiga tahun lebih dan rasa ini masih sama, justru semakin kuat.


Mungkinkah suatu saat kamu akan membalas perasaan yang aku percaya, cintaku saja cukup untuk kita berdua..."


"Sesuka itukah kamu sama aku, sayang.." lirihnya lalu menitikkan air mata haru, akan betapa besarnya perasaan Akira yang sangat besar selama ini dan dengan mudahnya ia ragukan begitu saja.


Lembar terakhir.


"Diary, aku tinggal kamu disini, jangan keluar dari persembunyian ini, kamu rahasia.


Kalau aku bawa terus Farid yang besok mau nikahin aku tau, aku kan malu.


Setelah ini, aku mau beli teman baru buat kamu nanti aku taruh sini kalau lembar dia sudah habis.


Aku lanjut nulis gak di sini lagi, kayanya bakalan pindah ๐Ÿ˜ž


Ya Tuhan, besok aku nikah sama dia,


Walaupun lewat ancaman sih, tapi aku bahagia, setidaknya aku punya kesempatan untuk buat dia tertarik sama aku.


Akhirnya setelah sekian lama, love you so much, Farid Ahmad Danuarta."


"Haha, konyol tapi juga manis, siapa memangnya yang bicara dengan buku seperti ini." cibir Farid terkekeh geli, namun ia terdiam sejenak,


"Itu artinya, di rumah ada lanjutan diary Akira, mungkin aku bisa dapat petunjuk dari situ." ujarnya lalu melangkah keluar dan meninggalkan rumah keluarga Akira, tanpa pamit. Nanti sajalah, ia bisa mengirim pesan.


Farid, menyalakan klakson dengan tergesa-gesa, membuat penjaga rumah kaget dan buru-buru membuka pagar rumah.


Dengan langkah cepat ia memasuki kamarnya, mengobrak-abrik isinya tapi ia belum menemukan apapun.


Saat sedang pusing mencari, ia di ganggu oleh ketukan pintu dengan kasar ia membukanya.


"Apa?!" teriaknya tak suka.


"Maaf tuan, sekertaris Gio mencari anda." ujar Wisnu gemetar takut.


"Suruh masuk!"


Sergio menaiki tangga sambil menggerutu dalam hatinya,


sembari menggaruk kepalanya kasar.


"Tuan, saya mencari anda di rumah nona, tapi ternyata anda malah sudah disini." ujar Gio kesal.


"Terserahku, apa perlumu katakan cepat!" gertak Farid dengan wajah gusar.


"Tuan, saya mengecek kamera keamanan di Home's Food, dan nona sempat kesana dan dari gerakannya ia seperti memohon pada temannya lalu mereka pergi dengan buru-buru"


"Apa kau tidak mendengar percakapan mereka?!"


"Maaf tuan, tidak ada suara yang bisa di dengar dari kamera yang ada di tempat itu."


"Sial!"


"Nona, meninggalkan kartu pemberian anda di ruangan kerjanya, juga surat di sana untuk anda, ia menarik dana pribadinya sebesar seratus juta dan kami belum tau kemana perginya nona Akira.." jelas Sergio dan menyerahkan satu buah blackcard dan juga selembar kertas.


"Cukup, terimakasih untuk hari ini kau boleh beristirahat disini, agar besok aku mudah menemuimu." titah Farid yang di jawab anggukan sopan oleh Gio.


Farid menuju bibir ranjang, ia membuka perlahan lipatan kertas tersebut dengan hati berdebar.


"Farid, mungkin setelah kamu baca ini, aku udah pergi dari sisi kamu.


Bukannya aku berhianat, bukan. Aku sayang, sayang banget sama kamu.


Tapi kamu tau rasanya lelah? Ya, aku lelah, aku lelah mencintai kamu sendirian.


Awalnya, aku yakin dan percaya diri, cintaku saja cukup untuk kebahagiaan kita berdua.


Tapi enggak, setelah sekian lama dan aku mendapatkan kamu di sisi aku.


Tapi, seketika Rayrin hadir, membuat aku waspada dan parahnya kamu lebih condong ke dia.


Kenapa, sekali aja kamu gak lemah berhadapan sama dia?


Segitu besarkah cinta kamu untuk dia, sehingga setelah semua kebahagiaan yang kita lalui kamu malah menuduh aku hamil anak pria lain, setelah perhatian yang kamu berikan sepatah kata cinta pun tak pernah terucap.


Aku lelah, mencoba untuk percaya kamu yang gak seharusnya aku percayai.


Aku mau berhenti jadi orang bodoh, karena cinta ini.


Setelah ini, aku akan serahkan surat perceraian kita melalu Zia.


Terimakasih, untuk segala senyum dan air mata serta luka yang tanpa sadar telah kamu berikan.


Aku mencintaimu, My perfect past and forever be past.


Akira*.


" Kamu masih mampu menulis kata cinta, setelah kamu mengucap benci? Berasal dari mana rasa cinta kamu untuk aku Akira" lirih Farid dengan air mata yang siap meluncur dari pelupuk matanya.


Akira, wanita pertama yang membuatnya kesal, wanita pertama yang mampu membuatnya bingung setengah mati, meski tanpa ia sadari.


Juga, wanita pertama yang membuatnya menangis tersedu-sedan seperti ini.


Bahkan, kepergian Rayrin tidak berhasil membuat air matanya jatuh sebanyak ini.


**Gimana yah menurut kalian part ini?


aku nulisnya dengan sepenuh hati sambil mewek tau gak?!


Kalau gak memuaskan berarti aku gagal๐Ÿ˜ณ**